NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembukaan Renewal

Udara di Galeri Nasional malam itu beraroma anggur, parfum halus, dan harapan. Langit-langit tinggi diterangi oleh lampu sorot yang menciptakan pulau-pulau cahaya dramatis di atas setiap karya.

Suara gemuruh percakapan para tamu—seniman, kolektor, kurator, pengamat seni—bercampur dengan alunan musik jazz instrumental yang mengalun lembut.

Di tengah ruang pamer utama, di bawah sebuah sorotan yang paling terang, tergantung karya pusat Amara: sebuah panel tekstil raksasa berjudul "Stitches".

Dari kejauhan, ia terlihat seperti sebuah lukisan abstrak yang monokrom dan kaku. Tapi dari dekat, terlihat ribuan jahitan tangan, beberapa rapi dan tersembunyi, lainnya kasar, sengaja dibiarkan terlihat, bahkan ada beberapa benang yang sengaja dibiarkan menggantung—sebuah metafora yang terasa begitu personal bagi Amara.

Amara sendiri berdiri di samping karya itu, jantungnya berdebar kencang meski wajahnya tenang. Dia mengenakan gaun panjang hitam dari kain crepe yang jatuh sempurna, dengan satu bahu terbuka.

Perhiasannya sederhana: anting-anting perak bentuk garis dan sebuah gelang dengan liontin berbentuk pecahan kaca yang menyatu. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai sengaja dibiarkan terlepas.

Dia terlihat elegan, percaya diri, namun ada sebuah kerapuhan yang tertahan di balik senyumnya yang sempurna. Ini adalah malam pengakuan atas perjalanannya, sekaligus sebuah pameran diri yang terasa begitu telanjang.

“Karya ini luar biasa, Amara,” kata seorang kolektor tua dengan kacamata tebal.

“Teksturnya… seperti bisa menceritakan kisah sendiri.”

“Terima kasih, Pak Bambang. Itu yang saya harapkan,” jawab Amara, suaranya sedikit serak karena telah terlalu banyak berbicara.

Di sudut matanya, dia melihat Sari melambai-lambaikan tangan dengan semangat dari balik kerumunan, memberi isyarat jempol. Sari, dengan jumpsuit merahnya yang mencolok, adalah cheerleader sekaligus PR-nya yang paling vokal malam ini.

Kemudian, kerumunan di dekat pintu masuk sedikit berpisah. Dan di sana, mereka masuk.

Rafa, dengan kemeja biru navy dan blazer tweed, terlihat lebih santai dari biasanya.

Di tangannya, dia membawa seikat bunga lili putih dan calla lily yang elegan. Dan di sampingnya, berdiri Luna. Putri kecil mereka, berusia 11 tahun, mengenakan dress biru muda dengan sepatu flat hitam, rambutnya dikepang rapi. Matanya berbinar-binar melihat kerumunan dan cahaya. Tapi saat melihat karya ibunya yang besar, mulutnya menganga takjub.

Sesuatu mengencang di dada Amara. Ini pertama kalinya Rafa datang ke acara publiknya dengan Luna. Sebuah penampilan sebagai keluarga, meski sudah tidak lagi utuh. Dia menarik napas dalam.

Rafa memandang sekeliling, matanya mencari. Saat bertemu pandangan Amara, dia tersenyum kecil, sebuah senyum hangat yang tidak dibuat-buat. Dia menuntun Luna melewati kerumunan.

“Selamat, Amara,” ucap Rafa saat mereka sudah berhadapan. Suaranya terdengar tulus, menghangatkan udara galeri yang ber-AC. “Ini untukmu.” Dia menyodorkan bunga.

“Terima kasih,” jawab Amara, menerima bunga itu. Aromanya harum. “Terima kasih sudah datang.”

Luna langsung memeluk pinggang Amara.

“Ma, karyanya gede banget! Bagus sekali! Itu benang yang keliatan kayak rambut putri yang terurai ya?”

Amara tertawa, membungkuk mencium kepala putrinya. “Bisa dibilang begitu, Sayang. Senang kamu suka.”

“Papa bilang ini tentang keberanian,” lanjut Luna, memandang Rafa lalu kembali ke Amara. “Benar nggak, Ma?”

Pertanyaan itu menggantung. Rafa menatap Amara, memberi ruang padanya untuk menjawab.

“Iya,” jawab Amara, suaranya pelan namun jelas. “Tentang keberanian untuk memperbaiki sesuatu yang rusak, dan tidak takut menunjukkan bekas perbaikannya.”

Rafa mengangguk pelan, matanya sejenak menyapu karya "Stitches", seolah memahami setiap jahitan metaforis di sana. “Luna bilang dia mau kasih sesuatu,” ujarnya, mengalihkan perhatian.

Luna dengan serius mengeluarkan sebuah kartu dari tas kecilnya. Kartu buatan tangan dari kertas karton, dihiasi dengan gambar keluarga: tiga figur, dengan rumah di belakang, dan matahari yang tersenyum.

Tapi yang menarik, ada garis putus-putus yang membentang di antara figur yang lebih besar, dan figur yang kecil berada tepat di tengah-tengah, memegang tangan keduanya. Di bawahnya, tulisan tangan Luna: Untuk Mama. Selamat Pameran. Aku cinta kamu dan Papa.

Air mata langsung menggenang di mata Amara. Dia berjongkok, memeluk Luna erat-erat. “Terima kasih, sayangku. Ini adalah hadiah terindah.”

“Aku bikin di rumah Papa. Papa bantu pilih warnanya,” bisik Luna.

Amara menengadah, memandang Rafa. Ada rasa terima kasih yang dalam di sana, untuk kedewasaannya, untuk dukungan tak terucap ini. “Terima kasih,” gumamnya lagi, kali ini untuk Rafa.

Rafa hanya mengangguk, lalu meletakkan tangan di pundak Luna. “Kita lihat karya yang lain, yuk? Biar Mama urus tamu-tamunya.”

Saat mereka berjalan pergi, Luna di antara mereka, tangan masing-masing memegang tangan Luna, Amara merasakan sebuah kedamaian yang aneh.

Mereka bukan lagi pasangan. Tapi di malam ini, di ruang yang dipenuhi oleh buah perjuangan dan penyembuhan dirinya, mereka terlihat seperti sebuah tim. Sebuah tim parenting yang solid.

Tak lama setelah mereka pergi, Anton, kurator utama pameran, menghampiri dengan seorang pria. Pria itu mungkin seusianya, atau sedikit lebih muda.

Tingginya hampir sama dengan Rafa, berambut ikal hitam yang dirawat dengan baik, berkacamata bundar dengan lensa tipis. Dia mengenakan setelan linen warna khaki yang sedikit berkerut dengan sengaja, kaos hitam polos, dan sepatu boots kulit coklat.

Penampilannya scream seniman/kurator—santai namun penuh perhatian pada detail. Matanya yang tajam di balik kacamata sudah memindai ruangan, dan sekarang tertuju padanya.

“Amara, izinkan saya memperkenalkan,” kata Anton dengan nada bangga. “Edo Wijaya. Dia adalah kurator independen, baru saja pulang dari residensi panjang di Berlin. Dia juga mengelola ruang seni ‘Selasar’ di Pasar Santa.”

Edo mengulurkan tangannya. Senyumnya hangat, langsung, tidak dibuat-buat.

“Karya-karyamu menghentikan langkah saya sejak saya masuk, Bu Amara. Atau, boleh saya panggil Amara? ‘Bu’ terdengar terlalu kaku untuk energi yang terpancar dari karya ini.”

Amara tersenyum, menjabat tangannya. Genggamannya kuat, hangat. “Silakan, Edo. Terima kasih atas apresiasinya.”

“Ini bukan basa-basi,” potong Edo, matanya bersinar antusias. Dia menunjuk ke arah "Stitches". “Yang ini terutama.

Banyak seniman bekerja dengan tekstil, tetapi yang ini… memiliki sebuah narasi yang sangat intim dan sebuah ketegangan yang brilian antara control dan release.

Jahitan yang rapi di sini—” dia menunjuk ke bagian tengah, “—berlawanan dengan kekacauan benang yang sengaja dibiarkan di sini. Ini seperti sebuah pengakuan bahwa penyembuhan itu tidak pernah benar-benar rapi. Benar?”

Dia menatap Amara, bukan sebagai pengamat yang jauh, tapi sebagai seseorang yang ingin memahami. Pertanyaannya mengejutkan Amara. Banyak yang memuji teknik atau estetika, tapi jarang yang langsung menangkap emosi utamanya.

“Anda… tepat sekali,” akui Amara, merasa sedikit terbuka. “Itu memang yang ingin saya sampaikan. Bahwa keindahan bisa ditemukan dalam proses perbaikan itu sendiri, bahkan dalam ketidaksempurnaannya.”

Edo mengangguk-angguk, senyumnya semakin lebar. “Dan palet warna terbatas ini—abu-abu, putih, hitam, dengan sentuhan warna kulit—ini pilihan yang berani. Ini memaksa penonton untuk fokus pada tekstur dan bentuk, bukan pada distraksi warna. Ini tentang esensi.”

Mereka berbincang lebih lama. Edo bukan hanya pujian kosong. Dia bertanya tentang proses: jenis kain apa, mengapa memilih jahitan tangan bukan mesin, berapa lama pengerjaannya.

Percakapan mereka mengalir, dari teknik ke filosofi, ke dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Amara menemukan dirinya nyaman, bahkan bersemangat.

Ini adalah percakapan yang tidak pernah bisa dia lakukan dengan Rafa dulu. Rafa akan mengangguk, bilang “bagus”, tapi tidak akan pernah menyelam sedalam ini.

Dari sudut matanya, Amara melihat Rafa dan Luna sedang melihat sebuah instalasi video di sisi lain ruangan. Rafa sedang berjongkok, menjelaskan sesuatu pada Luna. Sebuah gambaran ayah yang baik.

Lalu, pandangan Rafa melayang, bertemu dengan pandangannya. Dia melihat Amara sedang asyik berbicara dengan Edo. Ada ekspresi sekilas di wajah Rafa—sebuah pengakuan, sebuah perasaan “oh, jadi itu dunianya yang sebenarnya” dan sedikit kecemburuan—sebelum dia kembali fokus pada Luna.

“Saya sedang mengkurasi sebuah pameran kelompok bertema ‘Memory & Material’ untuk enam bulan ke depan,” ujar Edo tiba-tiba, menarik perhatian Amara kembali.

“Dan saya merasa karya-karyamu, dengan pendalaman tentang fragmentasi dan rekonsiliasi melalui material tekstil, akan sangat cocok. Apakah Anda terbuka untuk kolaborasi? Mungkin menciptakan sebuah karya baru yang lebih eksperimental?”

Tawaran itu menggantung. Anton, di samping Edo, tersenyum puas seolah sudah memperkirakan hal ini.

“Saya… tentu tertarik,” jawab Amara, berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat. “Bisa saya tahu lebih detail?”

“Tentu! Bukan malam ini,” Edo tertawa. “Ini malam untuk merayakan pencapaianmu. Tapi bagaimana kalau kita ngopi minggu depan? Saya bisa datang ke studiomu, lihat proses kreatifmu lebih dekat.”

“Itu ide yang bagus,” sahut Amara. Mereka bertukar kartu nama. Kartu Edo sederhana, hanya nama, email, dan handle Instagram-nya.

Pembicaraan mereka terhenti saat lebih banyak tamu mendatangi Amara untuk memberi selamat. Edo mengangguk hormat,

“Sampai jumpa minggu depan, Amara. Sekali lagi, selamat. Ini adalah awal yang luar biasa.”

Saat Edo pergi, Anton membisikkan, “Dia yang terbaik di generasinya. Jika dia tertarik, artinya kamu ada di jalur yang benar.”

Malam itu berlanjut dengan gemilang. Karya Amara terjual tiga, termasuk sebuah sketsa studi kecil. Media mewawancarainya. Dia merasa seperti berada di dalam mimpi.

Saat acara hampir berakhir, dan tamu mulai berkurang, Amara menemukan Rafa dan Luna lagi di dekat pintu keluar. Luna sudah terlihat mengantuk, bersandar pada Rafa.

“Sekali lagi, selamat, Amara,” kata Rafa. “Kau luar biasa.”

“Terima kasih untuk bunganya… dan untuk Luna,” jawab Amara.

“Dia ngantuk. Aku bawa dia pulang dulu.”

“Iya. Hati-hati.” Amara mencium kening Luna yang sudah setengah tidur. “Tidur nyenyak, sayang. Besok cerita ke Mama ya.”

Rafa mengangguk. Saat hendak pergi, dia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Dia… kurator tadi, kelihatan serius membicarakan karyamu.”

“Edo. Iya. Dia menawarkan kolaborasi.”

Rafa tersenyum, senyum yang sedikit lebih dalam kali ini, penuh dengan penerimaan, namun memiliki dua makna.

“Bagus. Kau pantas dapat itu.” Lalu, dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti untuk dirinya sendiri, dia menambahkan, “Senang melihatmu bersinar di duniamu sendiri, Mara. Benar-benar senang.”

Kemudian dia pergi, menggendong Luna yang sudah tertidur.

Amara berdiri sendirian di tengah galeri yang mulai sepi, memandangi bunga lili putih di tangannya, lalu menatap karya besarnya yang tergantung dengan bangga.

Malam ini, dia menerima tiga hal: pengakuan profesional, kemungkinan kolaborasi baru yang menarik, dan sebuah penegasan dari mantan suaminya bahwa perpisahan mereka telah membawanya ke tempat di mana dia seharusnya berada.

Saat petugas galeri mulai mematikan beberapa lampu, Amara berjalan keluar. Udara malam Jakarta menerpanya. Dia tidak merasa lelah.

Dia merasa… terisi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak hanya mendesain untuk bertahan hidup atau membuktikan sesuatu.

Dia mendesain untuk bercerita. Dan dunia, melalui Edo, melalui Anton, melalui senyuman Luna, melalui anggukan Rafa, tampaknya siap mendengarkan.

Perjalanan “Fragments & Wholeness”-nya mungkin belum benar-benar selesai. Tapi malam ini, terasa seperti sebuah bab yang indah dan penuh harapan telah benar-benar dimulai.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!