NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

006

006

Aksa

Meskipun suka, tetap saja, sahabat tidak berhak cemburu ataupun bersikap seperti pacar.

....

Aksa. Cowok itu sedari tadi hanya menatap ke arah Aleta yang duduk tepat di depannya. Tak sedikit pun pandangannya terlepas dari cewek itu, bahkan ia rela mengabaikan Pak Markus yang sedang memberi penjelasan di depan.

"Tumben tuh anak telat. Ada apa, ya?" batinnya bertanya-tanya.

"Sa, menurut lo kalau ketemu sama doi yang berdebar jantung apa hati?" tanya Doni teman sebangku Aksa.

"Kok lo tanya gitu?" Aksa menaikan alis kirinya.

"Jelas dong yang bakalan berdebar itu jantung," kata Aksa sambil menatap ke arah Aleta.

"Oh, lo pernah ngerasain?" Doni mulai kepo dengan apa yang Aksa rasakan.

"Pernah, setiap hari bahkan setiap malam," jawab Aksa menopang dagunya masih dengan menatap Aleta.

Doni merasa ada yang aneh dengan tatapan Aksa. Masa sih Aksa menatap Pak Markus sampai terpesona gitu? Karena penasaran Doni ia mengikuti arah pandang Aksa.

Doni mencondongkan badannya ke Aksa, tapi masih tetap memandang depan.

"Lo suka sama Aleta?" bisiknya pelan, sangat pelan. Namun berhasil membuat Aksa gelagapan bahkan mukanya memerah.

"A-apaan sih, Don!" elak Aksa dengan jantung berdegup cepat, takut Aleta mendengarnya.

Memang sih Aleta sudah tau karena pengakuannya tadi malam, tapi tetap saja ia merasa deg-degan kalau sampai semua orang tahu. Ia tak mau persahabatannya dengan Aleta sampai hancur.

" Gue 'kan cuma tanya," jawab Doni polos.

"Ya gak ngawur gitu juga." desis Aksa sambil melotot tajam.

"Lah, lo kenapa sih, Sa?"

Doni kembali bingung. Tadi Aksa berbicara biasa saja, sekarang anak itu mendesis seperti takut ketahuan.

"Diam. Perhatiin aja Pak Markus," kata Aksa yang kembali menatap depan. Bukan Pak Markus, tapi Aleta.

....

"Aleta!" panggil Aksa saat Pak Markus telah keluar kelas.

Aleta langsung membalikan badan menatap Aksa dengan kening berkerut.

"Kenapa telat?" tanya Aksa penasaran.

"Tadi ada urusan OSIS bentar," jawab Aleta tersenyum tipis menutupi kegugupannya setiap mengingat kejadian tadi.

"Masa sih pagi-pagi gini OSIS ada urusan?"

"Ngeyel!" Aleta menoyor kepala Aksa pelan. Wajah cewek itu langsung nerima merah.

"Kan cuma nanya." Aksa memanyunkan bibirnya lucu.

"Iya deh, iya."

"Kantin yuk?" ajak Aleta semangat.

Aksa mengusap tengkuknya yang tidak gatal, ia sudah ada janji dengan Elvan dan teman-teman lainnya untuk kumpul di rooftop sekolah untuk rapat turnamen bebas.

"Em ... Sorry ya, Ta. Gue ada janji sama Elvan dan yang lain," jawab Aksa dengan nada penuh penyesalan. Yayaya, dia kan suka bahkan sayang sama Aleta, pasti sangat disayangkan jika menolak ajakan makan bersama seperti sekarang.

Aleta sedikit kecewa dengan penolakan Aksa. Jujur ia rindu Aksa yang dulu. Aksa yang sebelum mengenal voli dan juga Elvan. Ia sangat merindukan sahabatnya yang selalu ada di mana pun dan kapan pun ia berada.

"Ya udah deh. Gue sama Raina ya. Bye," ucap Aleta langsung beranjak dari tempat duduk.

......

Aksa berjalan dengan tergesa-gesa menuju rooftop sekolah. Pasalnya ia sudah terlambat 5 menit dari waktu yang telah disepakati semalam.

Cowok itu sudah menaiki tangga hampir sampai ke pintu masuk rooftop, tapi langkahnya terpaksa terhenti saat mendengar suara Elvan dari belakangnya.

"Terlambat?" tanya Elvan dengan nada dingin.

Aksa memutar badannya seratus delapan puluh derajat menghadap Elvan. Cowok di depannya ini berdiri sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mengunyah permen karet dengan santainya. Jujur saja Aksa takut kalau sampai Elvan marah kepadanya.

"Kenapa terlambat? Lima menit," kata Elvan lagi. Cowok itu tak pernah suka jika ada anggotanya yang terlambat, ya walaupun dirinya sering terlambat sih.

"Pak Markus keluarnya telat, Van," jawab Aksa santai. Sebenarnya jantung miliknya sudah berdegup cepat takut Elvan mengetahui kebohongannya.

"Oke, cepet masuk."

Aksa melewati pintu rooftop diikuti oleh Elvan. Mereka menuju ruangan seperti gudang yang berada tepat di sebelah kiri pintu.

Di dalam ruangan sudah berjejer rapi sembilan anggota mereka. Ah, iya geng mereka tak pernah diberi nama, hanya ada susunan pengurus dan juga ketua.

Aksa memilih duduk di dekat Gavin karena memang benar di sanalah tempat ia duduk. Sedangkan Elvan mengambil duduk di tempat paling ujung tengah menghadap semua anggota. Di sebelah kanan dan kiri Elvan ada Gavin dan juga Rio yang saling berhadapan.

"Oke kita mulai. Jadi buat minggu depan kita ditantang buat turnamen voli sama anak SMA Cempaka Raya. Mereka minta kita tanding di GOR kampus Pelita deket sama SMA kita," ucap Elvan penuh wibawa kepada anggotanya.

"Dan buat lo Vin, lo atur seluruh peralatan yang diperlukan. Aksa lo bantu Gavin," kata Elvan yang diangguki keduanya.

Elvan menoleh ke kiri tepat ke arah Rio. "Yo, lo atur perbekalan terutama minum jangan sampai kurang kaya waktu tanding kemarin. Jek, lo bantu Rio."

Rio dan Jeksa mengangguk serempak.

Selanjutnya Elvan menghadap ke depan lagi, memperhatikan seluruh anggotanya.

"Kali ini tim inti bakalan ada gue, Gavin, Aksa, Bram, Rio, sama Roy. Buat yang lain jadi cadangan. Dan giliran jaga lapak konsumsi lo, Jek." Elvan mulai memberi komando sambil menunjuk setiap orang yang ia sebut.

"Nah buat acara selanjutnya. Kita ada turnamen senjata sama anak SMA Mekar. Mereka kemarin udah celakain Boy."

Kali ini Elvan membahas mengenai aksi tawuran yang keenam kalinya selama mereka kelas sebelas. Di sini dia lebih suka menyebutnya dengan turnamen senjata daripada kata tawuran. Tak hanya bersebelas, tapi mereka akan mengajak beberapa geng sekolah yang berbeda untuk kegiatannya itu.

Masalahnya hanya sepele. Hanya karena Boy yang tak sengaja kena amuk anak Mekar yang sedang tawuran dengan anak Bangkit. Boy sendiri sebenarnya tidak masalah, toh hanya luka lebab di pipi kanan saja.

"Bos, kita gak perlu-"

"Perlu! Ini bahkan sangat-sangat perlu!" bentak Elvan memotong ucapan Boy.

"Jangan lupa bawa senjata masing-masing. Dan lo Sa, kali ini lo gak boleh bolos. Kasih alasan ke nyokap lo supaya lo bisa keluar!" ucap Elvan tajam kepada Aksa.

"Van, gue tapi gak jamin."

"Lo niat gak si, Sa? Kita itu harus kompak. Masa setiap ada aksi tawur atau balapan liar lo selalu gak ikut? Lo lupa selama setahun ini lo cuma ikut kumpul malam delapan belas kali."

"Elvan bener, Sa. Usahain ikutlah, toh kemampuan bela diri lo itu bagus. Sabuk hitam masa gak mau keluar?" Kali ini Gavin angkat bicara sebelum Elvan tambah emosi karena memang Aksa selalu saja ada alasan untuk tidak mengikuti kegiatan malam.

"Oke, gue usahain," jawab Aksa mengalah. Untuk kali ini ia harus merelakan malamnya dengan Aleta. Ini penting, demi teman-teman.

.......

Bugh.

Aleta jatuh tersungkur akibat tersandung kaki Bela.

"Wow, lihat girls ada prinsses cekula terjatuh nih," kata Bela yang di balas sorakan beberapa siswi penggemar Elvan.

Aleta masih berusaha berdiri. Lututnya sedikit lecet dan ada bekas membiru di situ. Ya, dia terbentur cukup keras saat terjatuh.

"Uluh-uluh, lihat nih kakinya memar uhhh," ejek Anita dengan menunjuk memar di lutut Aleta.

Aleta langsung melotot garang tak terima. Baru saja ia akan membalas, namun cekalan lembut di bahunya membuatnya mengurungkan niat.

"Aksa, lepas!" perintah Aleta lembut, namun dibalas gelengan tegas oleh Aksa.

Cowok itu sudah berdiri dengan mata menatap tajam ke arah Bela dan beberapa fans Elvan. Ia tak terima jika Aleta sampai tersakiti sedikit saja akibat ulah mereka. Jika kalian bertanya di mana Raina, jawabannya dia ada di kantin. Tadinya Aleta bersama Raina menuju kantin, tapi karena ada yang tertinggal Aleta menyuruh Raina untuk duluan ke sana.

Tiba-tiba cekalan lembut di bahu Aleta berubah menjadi cengkraman yang cukup erat karena tangan Aksa yang terbebas sudah mengepal membuat buku-buku jarinya memutih.

"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Aksa tajam penuh penekanan kepada seluruh orang di sana.

Bela, Anita, dan beberapa orang disana hanya mampu tertunduk takut. Sedangkan Aleta, cewek itu justru melotot tajam merasakan sakit di bahunya. Tanpa pikir panjang Aleta memukul kepala Aksa.

Plak.

Pukulannya tidak terlalu keras karena cewek itu hanya ingin Aksa melepaskan cengkramannya itu.

"Napa sih, Ta?" tanya Aksa gemas kepada Aleta. Cewek itu mau di bantu malah memukul kepalanya sesuka hati.

"Sakit!" kata Aleta sambil menunjuk bahunya yang dicengkeram Aksa.

Aksa hanya menyengir lebar lalu melepaskan cengkramannya, berganti menjadi rangkulan lembut. Tetapi cowok itu kembali menajam tepat ke arah Bela.

"Lo apain Aleta?" tanya Aksa tajam.

Belum sempat Bela menjawab, Elvan sudah lebih dulu memasuki kerumunan itu, membuat Aksa sesegera mungkin melepas rangkulan di pundak Aleta.

"Ngapain sih ribut-ribut?" tanya Elvan dengan tampang tanpa dosa, padahal dia adalah sumber dari segala sumber masalah ini.

"Eh ... Elvan!" sapa Bela dan Anita berbarengan.

"Jadi?" Elvan menaikan alis kirinya tanda memastikan.

"Fans fanatik lo bully dia," ucap Aksa menunjuk Aleta.

"Aleta?" tanya Elvan memastikan yang dijawab dengan anggukan singkat Aksa.

"Lihat, lututnya memar dan sedikit lecet." Aksa mengambil posisi jongkok sambil menunjuk lutut Aleta yang terluka.

Elvan memicingkan mata, memastikan keadaan Aleta. Benar saja, di sekitar lutut Aleta ada memar dengan lecet di bagian tengahnya yang mengeluarkan sedikit darah. Tanpa ditanyavpun dia tau siapa yang melakukan ini kepada cewek itu. Sudah pasti Bela dan kawan-kawannya.

"Ikut gue!" ucap Elvan menarik Aleta keluar kerumunan, meninggalkan Aksa yang tak bisa melakukan apa-apa jika Elvan sudah bertindak. Dirinya kalah, dia sadar dia hanya sahabat Aleta tidak lebih.

Aksa memilih pergi ke arah berlawanan dengan Aleta dan juga Elvan membawa denyut nyeri di dadanya. Ia tak ingin hatinya yang sakit karena cemburu justru membuat retaknya hubungan mereka.

....

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!