NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di sana, ketiganya menemukan sebuah gubuk tua dengan kepulan asap hitam keluar dari cerobongnya. Suara dentingan palu yang menghantam besi terdengar berirama.

Seorang pria bertubuh kekar, dengan dada bidang yang berkeringat, sedang menempa sepotong besi merah membara. Matanya tertutup kain putih, namun gerakannya sangat presisi.

Inilah A-Khiong, si pandai besi buta.

Liang Shan mendekat dan menjura. "Selamat sore, Paman A-Khiong. Aku datang membawa salam dari Senior Si Tua Napas Besi."

A-Khiong menghentikan hantamannya. Ia menoleh ke arah suara Liang Shan, meskipun matanya tidak bisa melihat, tapi pria itu mengendus udara, lalu mengerutkan kening.

"Bau darah ..., bau racun ..., dan bau baja yang haus jiwa," gumam A-Khiong dengan suara berat. "Si Tua Pemabuk itu selalu mengirimkan masalah kepadaku."

A-Khiong meletakkan palunya. Lalu bertanya lagi, "Dia bilang kau ingin menajamkan jarum? Tapi aku melihat kau membawa golok raksasa. Pendekar macam apa yang tidak bisa membedakan jarum dan golok?"

Liang Shan tersenyum pahit. "Maksud Senior, mungkin adalah menajamkan tekadku, Paman."

"Tekad? Hmm! Kata-kata manis tidak laku di bengkelku," A-Khiong berjalan menuju sebuah peti besar dan mengeluarkan sebuah balok besi hitam yang beratnya setidaknya seratus kati.

"Jika kau ingin aku membantumu bertemu dengan orang-orang Perguruan Bulan Sabit, kau harus menghancurkan balok besi ini dengan satu tebasan tangan kosong. Tapi ingat, kau tidak boleh menggunakan tenaga dalam yang bersifat merusak, melainkan tenaga dalam yang bersifat menembus."

Liang Shan menatap balok besi itu. Ini adalah ujian hawa sakti yang sangat berat. Jika ia menggunakan tenaga kasar, balok itu hanya akan terpental.

Jadi, dia harus menyalurkan energinya hingga ke inti atom besi tersebut.

Han Xiang menatap Liang Shan dengan cemas. "Liang Shan, kau sedang terluka ..."

"Jangan khawatir, Xiang-er. Ini adalah bagian dari perjalananku," ujar Liang Shan sambil maju ke depan balok besi.

Setelah itu, dia memejamkan mata dan mencoba menyatukan hawa dingin dari racun di tubuhnya dengan hawa panas dari amarahnya, menciptakan sebuah keseimbangan baru di tengah telapak tangannya.

"Kekuatan yang sesungguhnya bukan berasal dari otot yang besar atau pedang yang tajam, melainkan dari kemampuan pikiran untuk memerintah energi alam mengalir sesuai kehendak."

Liang Shan menarik napas panjang. Tiba-tiba, telapak tangannya bergerak pelan, seolah menyentuh permukaan air.

Suaranya sangat pelan. Tidak ada ledakan. Namun, sesaat kemudian, retakan halus muncul di tengah balok besi itu, dan tiba-tiba balok tersebut terbelah dua dengan potongan yang sangat halus, seolah dipotong oleh pisau dewa.

A-Khiong terdiam. Ia meraba permukaan besi yang terbelah itu dengan ujung jarinya. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang kasar.

"Luar biasa. Tenaga sakti yang sangat murni, namun dipadukan dengan hawa dingin yang mengerikan. Rupanya kau memang putra Liang Qi."

A-Khiong akhirnya setuju untuk mengantar mereka. Ia membawa ketiganya ke sebuah bukit di belakang kota yang dikenal sebagai Bukit Rembulan.

Di puncaknya, berdiri sebuah kompleks bangunan yang arsitekturnya menyerupai bulan sabit yang melengkung.

Di gerbang depan, dua orang murid berpakaian biru muda dengan senjata sabit perak di pinggang mereka segera menghadang.

"Berhenti! Siapa kalian berani menginjakkan kaki di tanah suci Perguruan Bulan Sabit?"

A-Khiong maju. Lalu berkata, "Katakan pada Ketua Thian san, bahwa Pembawa Pesan Besi datang bersama pewaris Golok Sunyi."

Mendengar nama "Golok Sunyi", kedua murid itu terperanjat. Mereka segera memberikan hormat dan salah satunya berlari masuk untuk melapor.

Tak lama kemudian, mereka dipersilakan masuk. Di dalam aula utama yang luas, duduk seorang pria paruh baya yang tampak sangat terpelajar.

Dia sedang membaca sebuah gulungan kitab. Inilah Raja Pedang Bulan, sang Ketua Perguruan Bulan Sabit!

Thian san mendongak. Sorot matanya sangat tenang, namun Liang Shan merasakan sebuah tekanan mental yang luar biasa besar, seolah-olah ia sedang menatap seekor elang yang siap menyambar dari ketinggian langit.

"Liang Shan," suara Thian-san tenang namun menggema. "Kau datang mencari 'Hati Singa' untuk menyatukan kembali sejarah keluargamu. Namun, apakah kau tahu bahwa pusaka itu dijaga bukan untuk diberikan kepada sembarang orang, melainkan untuk diberikan kepada mereka yang sudah 'mati'?"

Liang Shan mengernyit. "Mati?"

"Ya. Mati terhadap ambisi pribadi. Mati terhadap dendam yang buta. Dan mati terhadap rasa takut," ujar Thian san lalu berdiri. "Pecahan keempat ini tertanam di dalam patung Singa Emas di puncak menara kami. Untuk mengambilnya, kau harus melewati 'Lorong Seribu Sabit'. Jika kau selamat, pusaka itu milikmu. Jika kau gagal, makammu akan menjadi bagian dari bukit ini."

Liang Shan menatap Han Xiang dan Yue Niang. Ia melihat kekhawatiran di mata mereka, namun juga melihat dukungan yang tak tergoyahkan.

"Aku akan melakukannya," ucap Liang Shan tegas.

Liang Shan kemudian memasuki sebuah lorong gelap yang panjangnya sekitar seratus meter. Begitu melangkah masuk, mekanisme rahasia di dalam dinding mulai bergerak.

Ratusan bilah sabit perak keluar dari dinding, lantai, dan langit-langit, bergerak berputar dengan kecepatan yang luar biasa.

Ini adalah jebakan mekanis tingkat tinggi yang menggabungkan ilmu matematika dan bela diri.

Liang Shan menghunus Golok Sunyi. Ia harus bergerak seirama dengan putaran sabit-sabit itu.

Baju Liang Shan mulai robek di beberapa tempat. Luka-luka kecil mulai muncul di lengannya. Namun, di tengah kepungan sabit itu, ia justru merasakan sebuah ketenangan yang aneh.

Pemuda tersebut mulai melihat pola gerakan sabit-sabit itu—mereka tidak menyerang secara acak, melainkan mengikuti siklus peredaran bulan.

Ia mulai menari dengan sebuah tarian maut. Goloknya tidak lagi menangkis secara kasar, melainkan mengikuti aliran angin yang diciptakan oleh sabit-sabit itu.

Di ujung lorong, sebuah patung singa emas berdiri megah. Liang Shan melompat, menghindari tiga sabit terakhir yang menyilang, dan mendarat tepat di depan patung itu. Ia meletakkan telapak tangannya di dada singa tersebut.

Lalu, dada patung singa itu terbuka dan mengungkapkan sebuah serpihan permata berwarna kuning keemasan yang memancarkan energi keberanian yang sangat kuat.

Serpihan Hati Singa!

Begitu Liang Shan menyentuh serpihan itu, sebuah penglihatan muncul di benaknya. Ia melihat wajah seorang pria yang sangat mirip dengannya ayahnya yang sedang tersenyum.

Tetapi di belakang ayahnya, ada sesosok bayangan berpakaian kaisar yang memegang belati berlumuran darah.

"Pengkhianatan itu dimulai dari dalam kamar tidur Kaisar sendiri," bisik Liang Shan.

Setelah berhasil mendapatkan pecahan permata tersebut, Liang Shan keluar dari lorong dengan tubuh penuh luka, namun matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Han Xiang segera berlari dan memeluknya. "Kau berhasil! Kau berhasil!"

Ketua Thian san mendekat. Ia mengangguk dengan rasa hormat yang baru.

"Kau telah membuktikan dirimu, Liang Shan. Hati Singa kini bersamamu. Namun, ketahuilah bahwa dengan bersatunya empat pecahan, keberadaanmu kini akan terdeteksi oleh 'Darah Naga' di pusat istana. Musuh tidak akan lagi menunggu di bayang-bayang. Mereka akan datang kepadamu seperti banjir bandang."

Thian san kemudian memberikan sebuah kotak kecil berisi obat langka. "Gunakan ini untuk memperkuat jantungmu. Perjalanan menuju pecahan terakhir adalah perjalanan menuju sarang naga. Kau butuh lebih dari sekedar ilmu silat untuk bisa menang."

Liang Shan menerima kotak itu. Ia menatap ke arah utara, ke arah istana kekaisaran yang megah namun penuh dengan bangkai kebenaran.

"Satu pecahan lagi," gumam Liang Shan. "Dan saat itulah, semua darah yang tertumpah akan menuntut balas."

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!