Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi yang berbeda
Pagi itu di asrama atau lebih tepatnya di apartemen kecil yang disediakan sekolah untuk murid beasiswa khusus seperti Mitsuki sang remaja pucat itu sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia tidak butuh alarm. Jam biologisnya sudah diatur oleh Orochimaru untuk bangun tepat saat kelembapan udara berubah.
Di kelas, suasana sedang riuh. Hari ini adalah sesi konsultasi mengenai kostum dan "Gimmick" pahlawan.
"Mitsuki-kun!" Ashido Mina menghampiri mejanya dengan energi yang meluap-luap. "Aku baru sadar, kostummu itu... agak terlalu 'ninja klasik' ya? Kenapa tidak pakai sesuatu yang lebih mencolok? Seperti laser, atau mungkin warna neon!"
Mitsuki menatap Mina, lalu melihat ke bawah pada tangannya. "Warna neon akan mempermudah musuh menentukan titik pusat massaku dalam kegelapan. Itu sama saja dengan meminta untuk dipanah."
Mina mengerjapkan mata. "Tapi... pahlawan kan harus terlihat! Kita harus memberi harapan pada orang-orang!"
"Harapan tidak akan berguna jika pahlawannya mati di detik pertama penyergapan," jawab Mitsuki lembut. Ia kemudian tersenyum tipis. "Tapi aku menghargai seleramu, Ashido-san. Kulit merah mudamu adalah distraksi visual yang sangat bagus untuk lawan."
Mina tertawa canggung, tidak yakin apakah itu pujian atau analisis taktis.
Latihan Ketangkasan: Gym Gamma
Aizawa membawa mereka ke Gym Gamma untuk latihan bebas. Tujuannya sederhana: melewati rintangan bergerak tanpa menggunakan serangan penghancur.
"Ingat," kata Aizawa. "Tidak semua situasi bisa diselesaikan dengan ledakan atau api. Terkadang, mobilitas adalah kunci keselamatan."
Satu per satu murid mencoba. Sero menggunakan selotipnya untuk berayun. Bakugo meledakkan tangannya untuk terbang rendah. Saat giliran Mitsuki, ia tidak segera berlari. Ia berdiri diam, menutup matanya sejenak.
"Apa yang dia lakukan?" bisik Kaminari.
Mitsuki sedang melakukan sensing. Meskipun energi alam di dunia ini tipis, ia tetap bisa merasakan getaran udara dari mesin-mesin rintangan tersebut. Begitu ia membuka mata, ia bergerak.
Ia tidak melompat tinggi. Ia berlari secara horizontal di dinding samping, kakinya seolah menempel secara permanen. Saat sebuah balok raksasa akan menghantamnya, tubuh Mitsuki meliuk dengan cara yang mustahil bagi manusia biasa tulang belakangnya seolah berubah menjadi karet, meloloskan diri dari celah yang hanya selebar beberapa sentimeter.
"Gila! Dia seperti tidak punya tulang!" seru Kirishima.
Mitsuki sampai di garis finis tanpa mengeluarkan suara napas sedikit pun. Ia menoleh ke arah Aizawa yang sedang mencatat sesuatu di papan klipnya.
"Mitsuki," panggil Aizawa. "Kemampuan elastisitasmu itu... apakah ada batasnya?"
"Tergantung berapa banyak energi yang ingin saya buang, Sensei," jawab Mitsuki jujur. "Jika saya hanya memanjangkan lengan, itu mudah. Tapi jika saya harus mengubah seluruh struktur seluler untuk menjadi cair, itu butuh konsentrasi lebih."
Aizawa menyipitkan mata. "Cair?"
"Itu hanya metafora," kilah Mitsuki dengan wajah polos yang sangat meyakinkan.
Diskusi di Bus Menuju USJ
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya untuk latihan penyelamatan di fasilitas USJ (Unforeseen Simulation Joint). Seluruh kelas berada di dalam bus sekolah.
Ini adalah momen klasik di mana para murid mulai akrab.
"Aku selalu mengatakan apa yang ada di pikiranku," ucap Tsuyu Asui sambil menatap Midoriya. "Quirk-mu itu mirip sekali dengan All Might."
Izuku langsung panik, wajahnya memerah. "E-eh?! Benarkah? Aku tidak... maksudku..."
"Tapi All Might tidak terluka saat menggunakannya," potong Kirishima. "Ngomong-ngomong, kalau bicara soal Quirk yang keren, Mitsuki dan Todoroki adalah puncaknya di kelas kita."
Todoroki yang duduk di pojok hanya diam, namun telinganya tampak menyimak.
"Mitsuki-chan," panggil Tsuyu. "Quirk-mu itu sebenarnya apa? Kau bisa memanjangkan tangan, kau sangat cepat, dan tempo hari kau mengeluarkan angin dari mulutmu. Apakah itu Quirk tipe Multi-Function?"
Seluruh bus mendadak sepi. Semua orang penasaran dengan misteri di balik remaja berambut pucat ini.
Mitsuki menatap Tsuyu, lalu menatap teman-temannya yang lain. "Ayahku... dia melakukan banyak hal agar aku bisa beradaptasi di lingkungan apa pun," jawab Mitsuki hati-hati. "Jika kalian butuh label, kalian bisa menyebutnya 'Somatic Evolution'. Tubuhku merespons apa yang dibutuhkan oleh situasi."
"Wah, itu terdengar seperti eksperimen sains tingkat tinggi!" seru Kaminari. "Ayahmu pasti ilmuwan hebat!"
"Dia memang sangat... berdedikasi pada penelitiannya," ucap Mitsuki. Ada nada aneh dalam suaranya yang hanya bisa ditangkap oleh Izuku nada antara rasa hormat dan kesedihan yang tersembunyi.
Kedatangan di USJ
Bus berhenti di depan gedung raksasa berbentuk kubah. Di sana, pahlawan penyelamat Thirteen sudah menunggu. Mereka masuk ke dalam, melihat berbagai zona bencana: zona banjir, zona kebakaran, zona reruntuhan.
"Luar biasa..." gumam Izuku, matanya berbinar melihat fasilitas tersebut.
Namun, di saat pahlawan Thirteen sedang menjelaskan tentang bahaya Quirk yang bisa membunuh, Mitsuki tiba-tiba berhenti mendengarkan. Ia melangkah maju, melewati barisan teman-temannya.
"Ada yang salah," bisik Mitsuki.
"Mitsuki? Ada apa?" tanya Iida.
Mitsuki tidak menjawab. Ia melihat ke arah air mancur di tengah plaza. Udara di sana mulai terdistorsi. Sebuah lubang hitam kecil muncul, perlahan melebar menjadi kabut ungu gelap yang pekat.
Aizawa segera menyadari perubahan itu. "Jangan bergerak! Thirteen, lindungi murid-murid!"
Dari dalam kabut itu, muncullah tangan-tangan pucat, diikuti oleh seorang pria dengan banyak tangan di tubuhnya dan seekor makhluk raksasa dengan otak yang terekspos.
"Pahlawan... Simbol Perdamaian... tidak ada di sini?" suara Shigaraki Tomura terdengar serak dan kecewa. "Padahal kami sudah bersusah payah membawa 'hadiah' untuknya."
Murid-murid ketakutan. Beberapa mulai gemetar. Namun Mitsuki justru melangkah maju satu langkah lagi, tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang di punggungnya.
"Instingmu tajam, Nak," ucap Aizawa tanpa menoleh ke arah Mitsuki. "Tapi ini bukan latihan. Mundur sekarang."
Mitsuki menatap Shigaraki, lalu beralih ke makhluk raksasa bernama Nomu itu. Ia merasakan sesuatu yang sangat familiar dari Nomu. Energi yang dipaksakan, tubuh yang dimodifikasi, dan ketiadaan jiwa di matanya.
"Makhluk itu..." gumam Mitsuki, matanya berubah menjadi sedikit lebih tajam, pupilnya menyempit seperti ular. "Dia dibuat sama sepertiku... tapi tanpa kehendak."
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, Mitsuki merasakan kemarahan yang tenang. Kemarahan seorang "manusia buatan" yang melihat penghinaan terhadap kehidupan.
"Izuku," panggil Mitsuki pelan.
"Y-ya?" Izuku menoleh, terkejut melihat aura Mitsuki yang berubah total.
"Tetaplah di belakangku. Ular-ular ini... sepertinya butuh dibersihkan."
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen