Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.
Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.
Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.
Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondangan
*****
"Katanya punya pacar, kok kondangan sendirian? Udah diputusin, ya?"
Aku hanya mampu merespon sindiran dari Lina dengan tersenyum masam. Kemudian mendengkus saat ibu hamil ini mengangkat tangan suaminya yang menggenggam tangannya. Kalau saja ia sedang tidak hamil besar begitu, sudah pasti bakalan aku tarik rambut pendeknya yang disanggul kecil ini.
Ck. Dasar kacang lupa dengan kulitnya. Dia pikir siapa juga yang bisa bikin dirinya, bisa dinikahi suaminya yang sekarang menjadi kepala editor majalah fashion ini. Kalau bukan atas kerja kerasku mencomblangkan mereka, mana bisa mereka bersatu dan menunggu kehadiran bayi mereka. Yang ada, mereka menunggu takdir untuk segera dipertemukan.
"Tolong ya, Mas Editor, mulut istrinya sering-sering dikasih perhatian. Biar nggak harus cari hiburan dengan nambah dosa," kataku pada Mas Fauzan, suami Lina.
Kening Mas Fauzan langsung mengerut saat mendengar perkataanku, bahkan dengan polosnya dia malah bertanya bagaimana caranya. Membuatku tersenyum kecil dan sangat ingin menepuk dahiku sendiri saking gemasnya. Sementara Lina langsung menghempaskan genggaman tangan suaminya dengan kesal.
"Astaga, Mas! Qilla itu cuma godain kita, bercandain kamu, ya jangan kamu tanggepin gitu-gitu amat kenapa sih?" ujar Lina kesal.
Sementara aku hanya tertawa kecil.
"Ya, mana aku tahu kalau Aqilla bercanda," kata Mas Fauzan tanpa beban.
"Astaghfirullah, La, laki siapa ini?" desah Lina sambil mengepalkan tangannya gemas.
Aku hanya terkikik sembari mengangkat bahuku pura-pura tak tahu.
"Jadi, aku nggak diakuin nih? Oke. Berarti bulan ini nggak harus ditransfer, ya?" ujar Mas Fauzan dengan wajah datarnya, tidak ada raut wajah kesal atau pun marah. Tapi tetap saja membuat Lina panik.
"Eh, kok gitu sih, Mas, kan aku cuma bercanda."
"Aku juga bercanda," balas Mas Fauzan masih dengan ekspresi datarnya tadi.
Lina menerjapkan bulu mata palsunya beberapa kali, sembari menahan nafasnya beberapa detik lalu mengangguk pelan. Dan berbisik kepadaku.
"Anjir! Bercanda aja bikin hampir jantungan, La. Gimana kalau beneran?" bisik Lina sembari menarik-narik ujung kebaya kutubaruku.
Aku tersenyum dan ikut berbisik, "Mungkin beneran kena serangan jantungan sih," candaku yang membuatku langsung mendapat pukulan ringan di pundak kiriku.
"Astagfirullah, La! Mulutnya itu lho, mbokyo ra butohe mangap ngono! Amit-amit jabang bayi," ucap Lina sambil mengelus-ngelus perut besarnya.
Aku hanya tertawa senang kemudian memilih mengajaknya untuk segera masuk ke dalam rumah si pemilik hajat. Panas juga kali, kalau berdiri di parkiran siang-siang gini. Belum juga foto-foto, masa make up udah luntur aja. Kan nggak lucu.
"Ngerumpinya dilanjut di dalem aja, yuk! Di sini panas," ajakku yang langsung diangguki oleh Lina.
Aku merasakan getaran ponselku yang berada di clutch bag-ku, saat kami baru saja melangkah. Dengan gerakan spontan aku menghentikan langkah kakiku, kemudian merogoh ke dalam clutch bag-ku untuk mengeluarkan ponselku dari sana.
"Siapa?" tanya Lina yang kini ikut menghentikan langkah kakinya.
"Monik," jawabku pendek.
Monik.A.H:
Tungguin!
Papanya Killa lagi dinas.
Gue sendiri😢
Monik.A.H:
Udah otewe kok.
Monik.A.H:
Nggak nyampe sejam sampai situ.
Janji.
Monik.A.H:
Kejebak macet😭😭
Monik.A.H:
Send a pict
"Lah, malah ditinggal chatting sendiri. Kaki udah pegel, La. Astagfirullah!"
Aku langsung mengangkat wajahku dan menoleh ke arah Lina yang kini sudah dengan ekspresi tak bersahabatnya. Membuatku meringis secara reflek, kemudian beralih menatap Mas Fauzan yang tepat berada di sebelahnya.
"Mas, istri kamu ajak masuk dulu sana, daripada di sini ngomel-ngomel mulu."
"Hei!" teriak Lina memprotesku.
Aku tertawa kecil sembari menunjukkan layar ponselku yang menampilkan room chat-nya Monik.
"Ibu auditor minta ditungguin. Kalian duluan aja! Aku nunggu Monik dulu."
"Sama aja, La, mending bareng kita. Seenggaknya kamu nggak harus nunggu."
Aku mengerutkan dahi tak paham. "Maksudnya?"
"Ya, intinya kamu mau masuk sekarang bareng aku atau nanti bareng Monik pun, sama-sama nggak ada pasangannya kan?"
"Sok tahu! Orang Mas Hasan lagi dinas jadi Monik datengnya sendirian aja. Udah sana, mending kalian duluan! Katanya abis ini mau ikut senam hamil?"
Sambil mengerucutkan bibirnya kesal, Lina menggandeng lengan Mas Fauzan, "Ya udah, kita duluan," ucapnya sebelum meninggalkanku.
Aku hanya mengangguk mempersilahkan keduanya. Kemudian memilih untuk mencari tempat berteduh. Dan untungnya tak jauh dari tempat aku memarkirkan mobil, aku bisa melihat pos ronda yang tampak nyaman untuk menunggu monik.
"Duh! Panas banget sih cuaca hari ini, si Monik juga kemana ini, katanya udah otewe, kok nggak nyampe-nyampe. Bisa-bisa keburu luntur ini make-up," gerutuku sembari mengipasi wajahku menggunakan telapak tangan. Kalau tahu bakalan lama gini kan mending aku nunggu di mobil. Adem.
"Nih! Lumayan buat ngadem dikit."
Aku langsung menoleh saat mendengar suara seorang pria yang sedikit familiar di telingaku, wajahnya pun juga nggak asing, ia sedang menyodorkan sebotol air mineral dingin untukku. Dengan sebelah alis terangkat, aku coba mengingat siapa pria ini.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku ragu.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk. Membuat keningku makin berkerut. Dalam hati aku hanya mampu bertanya-tanya dan mencoba mengingatnya, namun hasilnya nihil.
"Pram's Bakkery & Mini Cafe," ucap pria itu dengan santainya.
Namun mampu membuat kedua bola mataku membulat sempurna. Tunggu! Pram's Bakkery & Mini Cafe? Itu berarti dia....
"Kamu!" tunjukku sambil berdiri secara spontan.
"Iya, ini saya. Kita bertemu kembali," ucapnya dengan nada usil. Bahkan ia ikut berdiri dan sebelah matanya pun mengedip genit ke arahku, membuatku ingin muntah saja.
"Ngomong-ngomong kamu jauh lebih cantik kalau pake kebaya gini. Lebih anggun," bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu kudukku tiba-tiba meremang.
Astaga. Kenapa dia tiba-tiba sudah di depanku begini. Kok bisa gitu lho?
"Ini," ujarnya kemudian. Kembali menyodorkan air mineralnya untukku. "Ambil aja!" lanjutnya saat mendapati responku yang hanya diam saja. Ia bahkan meletakkan botol air mineral itu di tangan kananku. "Tenang. Airnya aman kok, tanpa pelet atau guna-guna ataupun sianida. Dan bebas diminum kapan saja."
Aku tercengang.
"Ah, sepertinya saya harus masuk duluan. Sampai bertemu lagi," ucapnya yang langsung meninggalkanku begitu saja.
Orang gila!
Siapa juga yang mau bertemu dengan pria aneh begitu.
Ck. Muka sih boleh aja ganteng, tapi kelakuan. Aneh.
"Siapa tadi?" tanya Monik yang dengan tak sopannya merebut air mineralku dan meneguknya hingga setengah, "Ah, seger," desahnya lega. Kemudian mengembalikan botolnya kepadaku. "Siapa tadi?" ulangnya kemudian.
"Enggak tahu. Enggak kenal."
Aku memilih berbohong karena malas menjelaskan. Toh, aku juga nggak terlalu kenal dengan Kakak Arisha itu. Nggak penting juga untuk dikenal.
"Inget, udah ada Kenzo, jangan kasih harapan buat anak orang."
Aku menaikkan alisku tak paham.
"Itu maksudnya apa ya, Ibuk? Tolong dijelaskan! Bisa?"
"Males. Ayo, langsung masuk aja!" ajak Monik kemudian. Yang langsung ku angguki dengan setuju.
Tbc,
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti