NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Gerbang Air Mata

​Fajar belum sepenuhnya pecah. Langit masih berwarna ungu kelabu, menyelimuti Sekte Jian-Gi-Tu-Bo dalam kesunyian yang mencekam.

Di depan gerbang utama yang megah, empat bayangan berdiri membeku.

Tidak ada suara tawa, tidak ada gurauan. Udara pagi itu terasa berat, seolah alam pun enggan melepas kepergian sang pelindung.

​Jian Yi berdiri dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin gunung.

Di punggungnya, pedang berkarat itu terikat erat, ditutupi kain hitam untuk menyembunyikan kehadirannya.

Namun, aura yang memancar dari tubuh Jian Yi tidak bisa disembunyikan; itu adalah aura tajam seorang Grand Master yang siap menebas apa pun.

​Coi Gi melangkah maju, matanya merah karena kurang tidur.

Ia mencoba tersenyum, namun bibirnya bergetar. "Kau benar-benar harus pergi sekarang, Yi? Setidaknya tunggulah sampai matahari tinggi. Kami sudah menyiapkan bekal yang banyak."

​Jian Yi menggeleng pelan. Ia menepuk pundak Coi Gi, merasakan otot sahabatnya yang kini jauh lebih keras berkat latihan intensif mereka.

"Semakin lama aku di sini, semakin besar bahaya yang mengintai kalian. Aku adalah pusat badai, Coi Gi. Aku harus membawa badai ini menjauh dari rumah kita."

​Shi Tuzhu dan Gi Jibo berdiri di belakang, menundukkan kepala. Para kekasih mereka juga hadir, berdiri di kejauhan dengan tatapan sedih dan hormat.

Mereka tahu bahwa pria yang berdiri di depan mereka bukanlah lagi bocah pengemis yang dulu berbagi sepotong ubi, melainkan seorang legenda yang sedang menempuh jalan berdarah.

​"Jian Yi," suara Gi Jibo yang biasanya datar kini terdengar serak. "Jika... jika kau merasa dunia di luar sana terlalu kejam, ingatlah bahwa gerbang ini akan selalu terbuka untukmu. Tidak peduli kau menjadi dewa atau iblis, kau tetap saudara kami."

​Mendengar itu, pertahanan Jian Yi hampir runtuh.

Selama sepuluh tahun hidup di jalanan dan tujuh tahun berlatih dalam kesendirian, hanya mereka bertigalah yang menjadi jangkar kemanusiaannya.

​"Jaga diri kalian baik-baik," kata Jian Yi, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Pelajari buku yang kuberikan. Jaga sekte ini. Dan yang paling penting... hiduplah dengan bahagia bersama mereka. Biar aku yang mengurus kotoran yang tersisa."

​"Ke mana tujuan pertamamu, Yi?" tanya Shi Tuzhu.

​Mata Jian Yi seketika berubah sedingin es. Aura membunuh yang sangat pekat meledak dalam sekejap, membuat suhu di sekitar gerbang turun drastis.

"Keluarga Yuan. Mereka mengirim pembunuh untuk menyentuh kalian. Itu adalah dosa yang tidak akan dimaafkan oleh langit maupun bumi. Sebelum aku benar-benar mengembara jauh, aku akan memastikan nama 'Yuan' terhapus dari sejarah kekaisaran ini."

​Ketiga sahabatnya terkesiap. Menghadapi satu atau dua pembunuh adalah satu hal, tetapi mendatangi markas besar salah satu keluarga terkuat di kekaisaran untuk melakukan pembantaian adalah hal yang gila.

Namun, mereka melihat keyakinan di mata Jian Yi. Itu bukan kesombongan, melainkan janji kematian yang mutlak.

​Jian Yi berbalik, memunggungi teman-temannya. Ia tidak berani menoleh lagi, takut jika ia melihat wajah mereka sekali lagi, ia tidak akan tega untuk melangkah.

​"Jangan ikuti aku. Tetaplah di sini dan jadilah kuat." perintah Jian Yi.

​Ia mulai melangkah menjauh, menuruni tangga batu sekte yang panjang.

Coi Gi tiba-tiba berteriak dengan suara yang pecah karena tangis, "JIAN YI! JANGAN BERANI-BERANI MATI, BODOH! KAU HARUS KEMBALI UNTUK MELIHAT ANAK-ANAK KAMI NANTI!"

​Jian Yi mengangkat tangannya tinggi-tanpa menoleh, sebuah isyarat perpisahan yang sunyi.

​"Kau sudah siap, Bocah?" suara si Pedang Tua bergema di batinnya. "Darah yang akan tumpah hari ini tidak akan sedikit. Keluarga Yuan memiliki ribuan prajurit dan mungkin beberapa pendekar tua di ranah Master yang bersembunyi."

​"Ribuan atau jutaan tidak ada bedanya," jawab Jian Yi dalam hati, langkahnya semakin cepat hingga bayangannya mulai kabur. "Siapa pun yang mengancam persaudaraan ini, hanya punya satu takdir: kehancuran."

​Jian Yi melesat seperti anak panah hitam yang dilepaskan dari busurnya, menuju jantung kota di mana kediaman Keluarga Yuan berdiri tegak dengan kemunafikan mereka.

Di belakangnya, di atas bukit, tiga sahabatnya berdiri membeku, menatap jalan setapak yang kini kosong, menyadari bahwa mulai hari ini, dunia persilatan akan gemetar mendengar nama sahabat mereka.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!