NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Hukuman untuk sebuah prasangka

Tanpa aba-aba, Zora menghambur ke pelukan Dimas, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Dimas sempat terhenyak,tubuhnya kaku sesaat karena serangan mendadak itu,sebelum akhirnya seulas senyum lega terkembang. Ia balas merengkuh Zora dengan protektif. Sungguh, dunia Dimas terasa baru saja diputar balik seratus delapan puluh derajat, seperti menaiki roller coaster tanpa pengaman yang akhirnya mendarat di tempat yang tenang.

Dimas melonggarkan pelukan, tangannya beralih menangkup dagu Zora. Ia menatap lekat manik mata istrinya yang masih basah. Perlahan, Dimas mendekatkan wajahnya. Napas mereka memburu, beradu dalam jarak yang kian menipis. Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, saat dunia seolah hanya milik berdua...

"Tante... susuku mana?"

Suara cempreng itu memecah keheningan bak petir di siang bolong. Safira sudah berdiri tegak di ambang pintu yang sedikit terbuka, menatap keduanya dengan wajah polos tanpa dosa.

Zora dan Dimas tersentak hebat. Mereka refleks melompat mundur dan saling melepaskan diri seolah baru saja tersengat listrik. Zora berpura-pura sibuk merapikan tatanan rambutnya yang tidak berantakan, sementara Dimas berdeham keras sambil membetulkan letak kerah kemejanya yang lusuh.

"Fira... kok tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Dimas dengan nada yang dipaksakan tenang, meski jantungnya masih berpacu karena kaget.

Safira mengerutkan dahi, tangan kecilnya memegang perut. "Sudah ketuk, tapi Papa tidak dengar. Papa lagi apa sama Tante Zora? Kok nempel-nempel?"

Zora mendadak merasa wajahnya jauh lebih panas daripada kompor di dapur. Ia segera menyambar kotak susu di atas nakas dengan gerakan kikuk.

"Ah, ini... ini susunya sudah ketemu! Ayo, Safira, kita ke dapur ya. Tante buatkan sekarang," ujar Zora setengah berlari menghampiri Safira, berusaha menghindari tatapan intens Dimas yang kini berubah menjadi tatapan "protes" karena momennya diganggu.

Dimas hanya bisa memijat pangkal hidungnya, menarik napas panjang untuk meredam rasa gemas yang tertunda. "Sabar, Dimas... sabar. Tungu nanti malam." gumamnya pelan sambil menatap punggung kedua wanita itu yang menjauh.

Suasana dapur pagi itu benar-benar berubah.Mereka duduk mengelilingi meja makan kayu itu, tampak seperti sebuah keluarga kecil yang utuh.

Di sela suapan, Dimas akhirnya membuka tabir yang selama ini menghimpit dada Zora. Ia menceritakan sosok Wulan dan pria lain yang berbagi nama dengannya.

"Jadi dulu aku dan Wulan memang sempat dekat, Sayang. Tapi hanya sebatas itu saja. Karena apa? Karena dia lebih dulu kepincut sahabat laknat yang mempunyai nama yang sama itu," ucap Dimas dengan kekehan hambar, mencoba mencairkan sisa kecanggungan.

Zora mendengarkan dengan saksama, sesekali melirik Safira yang asyik mengunyah telur omelette-nya.

"Saking dekatnya kami suami istri itu sering sekali menitipkan Safira padaku. Makanya, anak ini menempel padaku seperti perangko," lanjut Dimas menjelaskan.

Zora mengerutkan dahi kecil. "Tapi kenapa kemarin Mbak Wulan tidak cerita apa-apa, Mas?"

"Dia terlalu terburu-buru karena suaminya sudah menunggu di bandara. Ada urusan mendadak di luar kota. Safira mungkin akan tinggal di sini selama tiga hari ke depan. Kamu... tidak keberatan, kan?" tanya Dimas hati-hati, menatap manik mata istrinya dengan penuh harap.

Zora menggeleng pelan, seulas senyum tulus akhirnya terbit. "Tentu saja tidak, Mas."

Dimas menghela napas lega, lalu sedikit memajukan tubuhnya ke arah meja. "Dan aku yakin, kamu juga melihat fotoku bersama Wulan saat menemukan akta itu, kan?"

Zora tersentak, lalu mengangguk pelan dengan wajah yang kembali merona karena malu.

"Foto itu tidak ada artinya apa-apa, Zora. Itu hanya kenangan masa lalu sebagai sahabat. Tolong, jangan lagi berasumsi yang aneh-aneh ya? Hatiku ini tidak seluas samudra, isinya cuma ada kamu. Kalau kamu tutup pintunya, aku mau pulang ke mana lagi?"

Rumah yang tadinya tegang berubah menjadi ruang penuh tawa. Zora yang awalnya merasa canggung, mulai luluh melihat tingkah Safira.

"Tante, wajah Papa lucu ya kalau lagi makan belepotan?" celetuk Safira sambil menunjuk Dimas yang memang sengaja bertingkah konyol demi mencairkan suasana.

Zora tertawa kecil, lalu dengan lembut mengusap sudut bibir Safira yang terkena saus. "Iya, Papamu memang kadang seperti anak kecil. Mau tambah telur lagi?"

Safira mengangguk semangat. Zora merasakan kehangatan yang asing namun menyenangkan menjalar di hatinya. Ternyata, menerima kehadiran Safira tidak sesulit yang ia bayangkan. Prasangka yang sempat membatu di hatinya kini mencair sepenuhnya.

Sepanjang hari , Zora dan Safira asyik bermain bersama. Zora menguncir rambut gadis kecil itu, sementara Dimas memperhatikan mereka dari kejauhan dengan senyum yang tak luntur. Baginya, pemandangan itu adalah definisi bahagia yang paling nyata.

Malam pun tiba. Setelah Safira terlelap di kamar tamu, sunyi kembali menyelimuti rumah. Namun kali ini, sunyinya terasa berbeda,ada aliran listrik yang tak terlihat di antara Zora dan Dimas.

Zora baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama satin tipis berwarna maroon. Ia terkejut melihat Dimas sudah duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, menunggunya dengan tatapan intens.

"Safira sudah tidur?" tanya Dimas, suaranya kini rendah dan serak, sangat berbeda dari suaranya saat bercanda tadi siang.

Zora mengangguk pelan, jemarinya meremas handuk dengan gugup. "Sudah, Mas."

Dimas berdiri, melangkah perlahan mendekati Zora. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman jantung bagi Zora. Dimas berhenti tepat di depan istrinya, aroma sabun dan maskulin yang pekat menguar dari tubuhnya.

"Ingat tentang hukuman ketiga yang kukatakan tadi pagi?" Dimas menyelipkan beberapa helai rambut Zora ke belakang telinga, jemarinya sengaja menyentuh kulit leher Zora, membuat wanita itu merinding.

Zora menunduk, tak berani menatap mata Dimas yang seolah ingin menelannya bulat-bulat. "Mas... aku kan sudah minta maaf."

"Minta maaf itu di mulut, Zora. Tapi hatiku butuh ganti rugi atas semua kecurigaanmu kemarin," bisik Dimas, tangannya kini melingkar di pinggang Zora, menariknya mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.

Dimas menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya ke telinga Zora. "Hukumanmu adalah... kau tidak boleh memejamkan mata malam ini sampai aku memaafkanmu. Dan percayalah, aku punya banyak cara untuk menunda kata maaf itu."

Zora bisa merasakan napas hangat Dimas menerpa lehernya. Ia mendongak, dan saat itulah ia menemukan tatapan Dimas yang begitu dalam, penuh kerinduan dan kepemilikan.

"Siap menerima hukumanmu, Nyonya Rahardian?"

Zora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberanikan diri melingkarkan lengannya di leher Dimas, sebuah jawaban bisu yang membuat senyum kemenangan muncul di bibir suaminya itu sebelum ia menyatukan tautan mereka dalam kehangatan malam yang panjang.

"Sayang,aku punya kejutan untukmu."ucap Dimas disela-sela aktifitas mereka.

"Apa Mas?"

"Besok kamu akan tahu.."

Bersambung...

Malu kan Zora, punya prasangka buruk seperti itu.Untung Dimas grecep jelasin.Kira-kira Dimas punya kejutan apa ya untuk Zora? Tunggu bab selanjutnya

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!