NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Nama di balik Igauan

Biasanya, Zora hanya menganggap gangguan Mira sebagai angin lalu. Namun, hari ini segalanya berubah. Suara rendah Dimas yang mengigau semalam terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Meski ucapan itu tidak jelas, getaran di suara suaminya cukup untuk merobek ketenangan Zora hingga sore ini.

Di tengah riuhnya salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bandung, Zora justru merasa sunyi. Pikirannya tertinggal di kamar tidur mereka, pada igauan yang menghantui.

"Sayang, beli ini saja. Bagus, kan?" Suara Dimas memecah lamunan. Pria itu menunjuk sebuah boks bayi berwarna merah muda yang tampak mewah.

Dimas sengaja mengajaknya ke sini, katanya ingin memilih kado untuk Kanaya secara langsung daripada sekadar klik di aplikasi belanja. Sekalian jalan-jalan, dalihnya. Namun bagi Zora, setiap langkah di mal ini terasa seperti beban.

"Oh, boleh, Mas. Kelihatannya cocok untuk Sasa," balas Zora berusaha sealami mungkin, meski senyumnya tidak sampai ke mata.

Gerakan tangan Dimas yang sedang memeriksa tekstur boks itu terhenti. Ia menoleh. "Kamu sudah tahu nama anak Kanaya?"

Zora mengangguk pelan. "Sudah. Kemarin Kanaya memberitahuku."

"Ya sudah, beli yang ini saja." Dimas memutuskan cepat, lalu beralih ke kasir.

Setelah selesai berbelanja, Dimas tidak langsung mengajak pulang. Ia menarik lembut tangan Zora menuju sebuah restoran mewah. Awalnya Zora menolak halus; pikirannya yang penuh dengan igauan semalam membuatnya ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Namun, bujukan manis Dimas akhirnya meruntuhkan pertahanannya.

"Kamu harus coba ini, Sayang. Rasanya juara," ucap Dimas. Ia memotong sepotong daging wagyu dengan presisi, lalu menyodorkannya ke depan bibir Zora.

Zora menerima suapan itu. Lembutnya daging yang lumer di mulut sedikit mengalihkan kegelisahannya. "Eum, kamu benar. Ini enak sekali, Mas."

"Ini menu favoritku setiap kali makan di sini," balas Dimas sembari memamerkan senyum terbaiknya.

Zora menatap suaminya lekat. "Seleramu memang selalu bagus, Mas."

"Tapi jujur saja," Dimas meletakkan alat makannya, menatap Zora dengan tatapan yang jauh lebih dalam. "Meski daging ini mahal, aku jauh lebih suka masakan di rumah Uwa. Walaupun sederhana, rasanya jauh lebih menenangkan."

Mendengar penuturan itu, pertahanan Zora runtuh. Matanya mendadak panas dan berkaca-kaca. Ia tak menyangka pria sesempurna Dimas bisa menghargai kesederhanaan hidupnya sedalam itu. Dan hal itu membuat hatinya menghangat

Tawa renyah mereka baru saja mereda saat tiba-tiba serombongan orang masuk ke area restoran. Langkah kaki yang percaya diri dan aroma parfum mahal seketika memenuhi udara di sekitar meja mereka.

"Dimas? Wah, benar kamu!" seru seorang pria dengan kemeja slim-fit yang tampak sangat berkelas.

Dimas mendongak, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang menyenangkan. "Hendra? Siska? Kalian di sini?"

Zora seketika mematung. Di hadapannya kini berdiri tiga pria dan dua wanita yang memancarkan aura berbeda,tipikal kaum elit yang terbiasa dengan kemewahan. Mereka adalah teman-teman kuliah Dimas. Obrolan pun pecah seketika, mengalir deras tentang masa-masa remaja mereka, tentang liburan ke luar negeri, dan proyek-proyek bisnis yang nilainya membuat telinga Zora berdenging.

Zora menunduk, mendadak merasa sangat kecil. Ia merasa seperti debu di tengah kilau berlian. Pakaian yang dikenakannya, cara bicaranya, bahkan pengetahuannya terasa sangat tidak relevan dengan dunia mereka. Ia hanya bisa terdiam, tersenyum kaku saat sesekali mereka meliriknya tanpa benar-benar mengajak bicara.

Namun, di tengah rasa rendah diri yang menghimpit itu, Zora merasakan sebuah kehangatan yang tiba-tiba.

Di bawah meja, tanpa diketahui siapa pun, tangan besar Dimas bergerak mencari jemari Zora. Pria itu menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jari,sebuah gerakan menenangkan yang seolah berkata, 'Jangan takut, aku di sini.'

Zora tersentak kecil, namun hatinya seketika menghangat. Meski ia tak mengerti satu pun topik pembicaraan tentang masa lalu suaminya yang gemerlap, genggaman tangan itu sudah cukup baginya. Dimas tidak malu memilikinya. Dimas tidak membiarkannya tenggelam sendirian.

Rasa bangga dan haru membuncah di dada Zora. Baginya, satu sentuhan rahasia dari Dimas jauh lebih berharga daripada semua cerita mewah teman-temannya.

Siska, wanita dengan riasan bold dan tas branded yang menggantung di lengannya, menyesap kopinya perlahan. Matanya yang tajam menatap Zora dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu beralih pada Dimas dengan senyum miring yang sulit diartikan.

"Ngomong-ngomong, Dim, istrimu ini... sangat 'natural', ya?" Siska menekankan kata natural dengan nada yang terdengar seperti penghinaan terselubung. "Beda sekali dengan selera kamu yang dulu. Ingat tidak, waktu kita masih sering kumpul sama Wulan?"

Mendengar nama itu, genggaman tangan Dimas di bawah meja yang tadinya menenangkan, tiba-tiba menegang. Zora bisa merasakan jemari suaminya sedikit bergetar sebelum akhirnya terlepas.

"Siska, itu masa lalu. Tidak perlu dibahas," suara Dimas mendadak berat, suasananya berubah dingin seketika.

"Ups, sorry! Habisnya, aku jadi teringat Wulan saja. Dia kan style-nya high-fashion banget, kontras sekali kalau dibandingin sama yang sekarang," lanjut Siska tanpa dosa, seolah sedang memuji padahal sedang menabur garam di atas luka.

Zora terdiam, namun otaknya mulai bekerja cepat. Ia menangkap perubahan raut wajah Dimas yang biasanya tenang kini tampak gelisah. Nama itu... Wulan.

Seketika, potongan-potongan ingatan semalam berputar di benaknya. Igauan Dimas yang tidak jelas, suara serak suaminya yang menyebut cinta dengan penuh kerinduan saat terlelap... semuanya mulai terasa masuk akal.

Zora mencengkeram roknya kuat-kuat di bawah meja. Sebuah lubang besar seolah menganga di hatinya.

'Wulan?' batin Zora perih. 'Apakah wanita yang Mas Dimas mimpikan semalam adalah Wulan? Apakah Mas Dimas masih mencintai wanita itu?

Zora menatap profil samping suaminya, mencari kebenaran di sana, namun ia hanya menemukan dinding rahasia yang semakin kokoh.

Bebeerapa jam kemudian,

Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih dingin daripada embusan AC yang menerpa wajah. Bandung malam itu diguyur hujan gerimis, menambah kesan kelabu pada keheningan di antara mereka. Dimas fokus pada kemudi, namun tatapannya kosong, seolah raganya ada di sana tapi pikirannya tertinggal pada nama yang diucapkan Siska tadi.

Zora meremas jemarinya sendiri. Kehangatan genggaman tangan Dimas di restoran tadi kini menguap tak berbekas. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya, ia menoleh pelan.

"Mas..." panggil Zora lirih.

"Ya, Sayang?" Jawab Dimas, tanpa menoleh. Singkat dan datar.

"Tadi... Siska menyebut nama Wulan. Sepertinya dia teman yang sangat spesial bagi kalian dulu?" Zora berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia menyelipkan nada penasaran yang wajar, meski hatinya sedang bergemuruh hebat.

Cengkeraman tangan Dimas pada setir tampak menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia terdiam beberapa detik sebelum membuang napas berat.

"Hanya teman lama, Zora. Siska memang suka melebih-lebihkan sesuatu. Tidak perlu dipikirkan," jawab Dimas tanpa ekspresi.

Zora menelan ludah yang terasa pahit. "Hanya teman? Tapi reaksimu tadi...

"Bisakah kita tidak membahas hal tidak penting seperti itu sekarang?"

Zora tertegun. Kalimat itu seperti tamparan halus yang mendarat telak di wajahnya. Dimas tidak pernah membentaknya, tapi nada bicara yang barusan... itu adalah pembatasan. Sebuah tembok tinggi yang sengaja dibangun Dimas agar Zora tidak melangkah lebih jauh.

Zora memalingkan wajah ke arah jendela, menatap butiran air yang merayap di kaca. Ia teringat kembali igauan Dimas semalam. Nama yang dibisikkan dengan penuh kerinduan itu kini memiliki wajah. Wulan.

Jika memang tidak penting, mengapa Dimas harus menghindar? Jika memang hanya masa lalu, mengapa namanya dibawa hingga ke alam bawah sadar?

Satu hal yang Zora tahu pasti malam ini: ada sebuah ruangan di hati suaminya yang terkunci rapat, dan ia tidak memiliki kuncinya.

Bersambung...

Jangan lupa like,koment dan juga vote ya

1
Marini Suhendar
Kanaya Kah...
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!