Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 30
Miranda melangkah meninggalkan rumah keluarga Sukmana dengan dada terasa berat.
Angin malam menyentuh wajahnya, tetapi tidak mampu mendinginkan perasaannya.
Sepuluh tahun hidupnya seakan dibuang begitu saja tanpa sisa penghargaan.
“Mengharap cinta dari kalian hanya membuatku menderita,” ucap Miranda lirih.
Tangannya menggenggam setir mobil dengan sangat erat hingga buku jarinya memucat.
Ia melajukan mobil menuju apartemen milik Nabil yang selama ini menjadi tempat aman.
Lampu jalan berderet seperti garis panjang di sepanjang perjalanan Miranda.
Di kepalanya berputar semua hinaan yang pernah ia terima bertahun tahun.
Miranda berusaha menahan air mata agar tidak kembali jatuh sia sia.
Tak lama kemudian ponselnya berdering memecah keheningan dalam mobil.
Nama Karman Wijaya tertera jelas di layar ponsel milik Miranda.
Ia memasang earphone agar tetap fokus menyetir di jalan yang cukup ramai.
“Ya, Pak,” ucap Miranda dengan suara berusaha terdengar tenang dan wajar.
“Hari ini kamu ketemu Pak Lutfi, ya,” ujar Karman dari seberang sana.
“Baik, Pak,” jawab Miranda singkat tanpa banyak pertanyaan tambahan.
“Miranda,” panggil Karman dengan nada sedikit ragu dan berhati hati.
“Aku bisa saja membatalkan proyek dengan keluarga Sanjaya kalau kamu mau.”
Miranda terdiam sejenak mendengar tawaran yang cukup menggiurkan itu.
“Tidak usah, Pak, lanjutkan saja,” jawab Miranda dengan nada mantap.
“Banyak karyawan yang bergantung pada proyek itu untuk kehidupan mereka.”
“Kecuali mereka tidak membayar karyawan dengan baik, barulah Bapak bertindak.”
Karman tertawa kecil mendengar jawaban yang menurutnya sangat dewasa itu.
“Baiklah, anak nakal, kamu memang selalu berbeda dari yang lain,” ucapnya.
“Kalau ada waktu berkunjunglah padaku, banyak orang ingin bertemu denganmu.”
Miranda menghela napas pelan sambil tetap menatap jalan di depannya.
“Sebenarnya apa yang Bapak inginkan dariku,” tanya Miranda dengan lugas.
Ia memang tidak suka berbasa basi dalam urusan pekerjaan dan bisnis.
“Kamu benar benar anak yang lugas tanpa basa basi,” jawab Karman jujur.
“Aku ingin racikan ramuan dari kamu, itu sangat layak untuk dipasarkan.”
Karman mengatakannya tanpa sungkan seolah sudah lama menunggu kesempatan.
“Baiklah, kita selesaikan satu per satu masalahku lebih dulu, Pak,” ujar Miranda.
“Setelah semuanya tenang barulah kita membahas soal kerja sama itu.”
“Baiklah kalau begitu, Nak, Bapak akan menunggu kabar darimu,” jawab Karman.
Miranda memahami dunia bisnis selalu penuh dengan kepentingan tersembunyi.
Namun selama ini Karman selalu bersikap adil dan menguntungkan kedua pihak.
Karena itu Miranda masih menaruh sedikit rasa percaya kepadanya.
Mobil Miranda akhirnya tiba di depan sebuah gedung mewah berlantai empat.
Gedung itu adalah kantor Pengacara Lutfi yang sangat terkenal di kota.
Namanya sering disebut sebagai pengacara handal dalam memenangkan berbagai kasus.
Miranda memarkirkan kendaraannya dengan rapi di area parkir khusus tamu.
Ia melangkah turun dari mobil sambil merapikan pakaian yang dikenakannya.
Wajahnya kembali berubah dingin seolah semua luka tadi telah ia simpan.
Tanpa Miranda sadari Rizki dan Saras juga memasuki gedung yang sama.
“Bukankah itu Miranda,” ucap Saras sambil melirik ke arah pintu lobi.
Rizki mendongak dan matanya langsung menyipit penuh rasa kesal.
“Benar, kenapa wanita serakah itu ada di sini,” gumam Rizki sinis.
“Apakah dia juga akan memakai jasa Pak Lutfi untuk melawan kita.”
Saras tersenyum tipis seolah sebuah rencana sedang tumbuh di kepalanya.
“Tenanglah, Sayang, aku punya sebuah ide yang sangat bagus,” bisik Saras.
Ia mendekat ke telinga Rizki lalu membisikkan rencana licik tersebut.
Rizki tampak tersenyum ceria mendengar skenario yang disusun Saras.
Bisikan itu berakhir dengan ciuman singkat yang penuh gairah berlebihan.
“Sudah, nanti ada yang melihat kita di sini,” ucap Saras sambil menjauh.
“Iya, iya,” jawab Rizki sambil merapikan dasinya yang sedikit berantakan.
“Kamu memang mau menikah dengan Nadia,” tanya Saras tiba tiba curiga.
“Ah, Nadia sama saja seperti Miranda,” jawab Rizki dengan nada meremehkan.
“Dia hanya dimanfaatkan ayah untuk memperluas jaringan bisnis keluarga.”
Sementara itu Miranda masih menunggu di lobi gedung dengan tenang.
Ia memainkan ponsel barunya tanpa memperhatikan orang di sekelilingnya.
Wajahnya terlihat datar seolah tidak memiliki beban apa pun lagi.
Saat Miranda sedang asyik dengan ponselnya, dua lelaki lusuh masuk gedung.
Salah satu pria bertubuh tinggi langsung menunjuk ke arah Miranda.
“Itu dia orangnya,” ucap pria tinggi dengan suara keras penuh emosi.
Pria berambut putih mendekat lalu bersimpuh tepat di depan Miranda.
“Nona, tolong kembalikan uang saya, uang itu sangat berarti bagiku,” ucapnya.
Wajah pria itu tampak memelas seperti orang yang benar benar menderita.
“Ayah, kenapa ayah memohon pada dia,” bentak pria tinggi tersebut.
“Dia itu penipu besar yang sudah merampas uang banyak orang kecil.”
Tatapannya penuh intimidasi seolah ingin membuat Miranda ketakutan.
Entah sejak kapan beberapa cameramen sudah berdiri mengelilingi mereka.
Kamera kamera mengarah langsung ke wajah Miranda tanpa rasa sopan.
Situasi lobi yang tenang berubah menjadi seperti panggung pengadilan umum.
Pria tinggi itu mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera depan.
“Teman teman, ini adalah wanita penipu investasi bodong,” teriaknya lantang.
“Siapa pun yang merasa tertipu silakan datang ke gedung ini sekarang.”
Ia terus melangkah mendekati Miranda sambil menyorotkan kamera ke wajahnya.
“Ini saya arahkan lebih dekat agar semua orang mengenali pelaku utama.”
Hampir saja ujung ponsel itu mengenai kepala Miranda yang masih diam.
Dalam hitungan detik Miranda meraih tangan lelaki itu dengan cepat.
Ia memelintirnya hingga terdengar suara retakan yang cukup mengerikan.
“Argh,” pria itu menjerit kesakitan sambil memegangi tangannya sendiri.
Belum sempat pria itu melakukan perlawanan, tinju Miranda sudah melayang.
Pukulannya menghantam mulut pria tersebut hingga darah langsung mengucur.
Pria itu terhuyung dan tidak mampu lagi mengeluarkan kata kata.
Pria berambut putih hendak mendekat untuk menolong anaknya tersebut.
Miranda meraih ponsel pria kurus lalu melemparkannya dengan keras.
Ponsel itu mengenai kepala pria berambut putih hingga menimbulkan luka.
“Darah, darah,” teriak pria tua itu dengan suara histeris dan ketakutan.
Beberapa petugas keamanan hendak mendekat untuk melerai keributan tersebut.
Namun langkah mereka terhenti saat melihat sosok Nabil di pintu lobi.
Tatapan Nabil sangat tajam dan membuat para security ragu bertindak.
Miranda kembali meraih ponsel lelaki kurus yang jatuh di lantai.
Ia menginjak injak ponsel itu hingga layar dan mesinnya hancur total.
Pria kurus hanya bisa menatap dengan hati menjerit tanpa suara.
“Sial, katanya hanya wanita rumah tangga, kenapa jago berkelahi,” umpatnya.
Darah terus mengalir dari bibirnya yang robek akibat pukulan tadi.
Nabil memberi isyarat pada petugas keamanan untuk mengendalikan situasi.
Pandangannya lalu mengarah pada para cameramen yang masih merekam diam diam.
“Kalian sudah melanggar aturan gedung ini,” ucap pria bersafari hitam.
“Di sini tidak boleh membuat kekacauan atau mengambil video tanpa izin.”
“Jika kalian menyebarkan rekaman itu, kalian akan berhadapan dengan Pak Lutfi.”
Mendengar nama tersebut para cameramen langsung tampak ketakutan.
Security segera menghalau para cameramen agar keluar dari area gedung.
Mereka dipaksa menghapus beberapa rekaman yang sempat tersimpan di kamera.
Lobi perlahan kembali tenang meski ketegangan masih terasa di udara.
Di dalam mobil, Saras dan Rizki menyaksikan kejadian itu dengan puas.
“Sepertinya misi kita berhasil, Miranda pasti sedang dipermalukan,” ujar Saras.
“Kalau Lutfi mau membelanya berarti dia pengacara yang sangat bodoh.”
“Sudah, Sayang, ayo kita masuk dan nikmati penderitaan Miranda,” jawab Rizki.
Mereka berdua turun dari mobil dengan langkah penuh percaya diri.
Rizki sempat bertanya pada cameramen yang baru saja diusir keluar.
“Bagaimana, apakah beritanya menarik,” tanya Rizki penuh harap licik.
“Menarik sekali, ini pasti akan viral di mana mana,” jawab salah satu wartawan.
Mendengar itu Saras semakin yakin rencananya berjalan sempurna.
Mereka masuk ke dalam gedung dengan senyum kemenangan di wajah.
Beberapa petugas kebersihan tampak sedang mengepel sisa noda di lantai.
Rizki dan Saras menoleh ke arah tempat Miranda terakhir kali terlihat.
Namun pemandangan yang mereka lihat jauh dari bayangan sebelumnya.
Miranda duduk tenang sambil memainkan ponsel dengan segelas minuman dingin.
Tidak ada wajah tertekan ataupun tanda tanda baru saja dipermalukan.
“Kenapa Miranda baik baik saja, Saras,” tanya Rizki dengan wajah bingung.
Saras langsung muram dan mengepalkan tangannya menahan amarah besar.
“Sial, mereka tidak becus mengurus gadis bodoh itu,” umpat Saras geram.
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄