Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - SAH JADI NYONYA CEO
Aku melihat lagi angka di map hitam itu.
Rp500.000.000.
Aku sampai menghitung jumlah nolnya dua kali untuk memastikan mataku tidak salah lihat. Selama ini angka sebesar itu paling cuma lewat di drama Korea, biasanya ketika tokoh utama melempar uang ke meja sambil berkata, "Ambil uang ini dan tinggalkan anak saya."
Bedanya, kali ini aku yang mungkin akan mengambil uangnya.
Di kepalaku, uang itu langsung berubah menjadi hal-hal yang jauh lebih nyata. Tunggakan kos dua juta seratus ribu rupiah. UKT empat juta yang sebentar lagi bisa membuat akses kuliahku diblokir. Biaya hidup, obat Ibu, dan mungkin sedikit uang untuk memperbaiki atap rumah kos yang bocor setiap kali hujan.
Lima ratus juta bisa membuat hidup kami bernapas lebih lega untuk waktu yang cukup lama.
Lalu muncul satu pikiran kecil yang seharusnya tidak perlu ada.
Rio.
Aku membayangkan wajahnya kalau tahu aku benar-benar menikah dengan Damian. Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin membuat dia menyesal. Sedikit saja. Oke, mungkin agak banyak.
Aku buru-buru menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu. Aku tidak mau mengambil keputusan sebesar ini hanya untuk membalas sakit hati kepada seseorang yang bahkan tidak berani mengakui perasaanku di depan teman-temannya.
Aku kembali membaca halaman terakhir.
"Kalau aku tanda tangan, aku benar-benar nggak harus tidur sama Bapak?" tanyaku hati-hati.
Damian yang sejak tadi membaca dokumen mengangkat alis. "Baca catatan di bawah."
Aku menunduk dan mencari bagian yang dia maksud.
Tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan kedua belah pihak.
Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Napas yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar.
"Saya membutuhkan istri di atas kertas," kata Damian tenang. "Bukan berarti saya berhak menentukan apa yang boleh kamu lakukan terhadap tubuh kamu sendiri."
"Jadi kalau aku nggak nyaman, aku boleh menolak? Termasuk kalau ada acara keluarga yang mengharuskan kita bersikap mesra?"
"Kita bicarakan batasannya sebelum acara berlangsung. Saya tidak akan memaksa kamu melakukan sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman."
Aku mengangguk pelan. Setidaknya, ada satu hal yang mulai terasa jelas. Pernikahan ini mungkin rumit, tetapi aku masih punya hak atas diriku sendiri.
Damian kemudian melirik tas bulukku yang di dalamnya ada sweater krem yang kemarin kulem pakai lem warung.
"Kenapa lihat sweater aku?" tanyaku.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Bapak barusan lihat."
"Saya cuma memastikan pemiliknya masih belum bisa membedakan parfum dengan pewangi pakaian."
Aku menatapnya tidak percaya. Jahat.
Aku hampir tersinggung, tetapi akhirnya malah tertawa kecil. "Bapak kalau menghina orang selalu sesopan ini?"
"Saya sedang berusaha menjaga suasana tetap kondusif."
"Kalau begitu, usaha Bapak gagal."
Kali ini Damian benar-benar tersenyum tipis. Aneh. Percakapan kecil itu justru membuatku sedikit lebih santai. Setidaknya, dia tidak berpura-pura menjadi pangeran tampan yang mendadak jatuh cinta kepada gadis miskin hanya karena melihatnya menangis di tengah hujan.
Dia punya alasan sendiri. Aku juga punya alasan sendiri. Dan mungkin itu jauh lebih aman daripada berpura-pura bahwa kami sedang jatuh cinta.
Aku kembali melihat halaman terakhir. Ada dua kolom tanda tangan. Satu sudah terisi.
Damian Aditya Pratama. Tulisan tangannya besar, rapi, dan terlihat seperti pemiliknya tidak pernah salah mengambil keputusan.
Kolom satunya masih kosong. Lili Saraswati.
Tanganku mulai dingin. Satu tanda tangan memang terlihat sederhana. Namun, setelah tinta menempel di kertas, hidupku mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Aku menarik napas panjang, lalu mengambil pulpen.
Cret.
Tulisanku kecil, agak miring, dan sedikit gemetar. Lili Saraswati.
Selesai. Aku tidak merasa lega. Tidak juga bahagia. Rasanya malah seperti baru saja melompat dari tempat tinggi tanpa tahu apakah di bawah ada kolam atau aspal.
Damian mengambil map hitam itu dan memeriksa tanda tanganku. "Sudah?"
Aku mengangguk. "Sudah."
Dia menutup map, kemudian berkata, "Mobil sudah menunggu. Kita harus berangkat."
Aku mengerutkan dahi. "Ke mana?"
"Ke KUA. Saya sudah menghubungi petugasnya. Kita periksa dokumen dulu. Kalau tidak bisa hari ini, kita jadwalkan ulang."
Aku akhirnya diam. Setidaknya dia masih masuk akal.
Kami menuju basement. Sebuah Alphard hitam sudah menunggu. Aku masuk sambil memeluk tas lusuhku dan duduk sejauh mungkin dari Damian, bukan karena takut, tetapi karena butuh ruang untuk memahami kenyataan bahwa beberapa jam lalu aku masih anak magang yang pusing mengerjakan Excel sambil menghitung sisa uang makan, sekarang aku sedang menuju KUA bersama bosku sendiri.
Tidak lama kemudian, kami sampai di gedung KUA. Seorang perempuan berjilbab marun berdiri menunggu di depan pintu.
"Damian." "Mama."
Aku ikut turun dan buru-buru menyalaminya. "Selamat sore, Tante."
Dia tersenyum hangat, tidak menghakimi. "Panggil Mama saja kalau kamu sudah nyaman." Dia kemudian memberikan sebuah paper bag kepadaku. "Ini untuk kamu. Ganti dulu kalau kamu mau. Tapi jangan merasa harus memakainya."
Aku membuka sedikit paper bag itu. Sebuah dress putih. Mataku langsung menangkap label harganya. Rp2.900.000. Aku buru-buru menutupnya lagi. "Mahal banget, Ma."
Mama tertawa kecil. "Anggap saja pinjaman kalau itu membuat kamu lebih nyaman."
Aku masuk ke toilet dan berganti pakaian. Dress itu pas di tubuhku. Saat keluar, Mama langsung tersenyum. "Cantik." Namun, kemudian pandangan Damian turun ke kakiku. Ke sepatu lamaku yang bagian solnya pernah kulem pakai Aibon dari warung dekat kos.
Aku langsung membela diri. "Masih bisa dipakai, Pak."
"Saya tidak bilang tidak bisa." Sopir kemudian memberikan sebuah kotak sepatu putih. "Coba ini. Saya minta sopir membelinya tadi."
Aku mencobanya. Pas. Saat aku sedang membetulkan bagian belakang sepatu, Damian tiba-tiba berjongkok di depanku dan merapikannya. Aku langsung diam. "Sudah. Lebih nyaman?" "Iya."
Mama hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, aku malah semakin bingung. Bosku yang biasanya bicara seperlunya baru saja berjongkok untuk membetulkan sepatuku. Kami bahkan belum resmi menikah.
Aku duduk sambil memeluk tas lusuh di pangkuan. Baru sekarang aku sadar bahwa aku belum benar-benar memahami semua hal yang akan terjadi setelah ini.
"Ma, kalau aku masih punya pertanyaan tentang kontraknya, boleh bertanya?" "Tentu. Jangan diam. Kamu berhak tahu apa yang kamu setujui."
Kalimat itu sederhana, tetapi membuatku sedikit lebih tenang. Lima ratus juta memang bisa menyelesaikan banyak masalah. Tapi ternyata uang sebanyak itu tidak bisa menjawab semuanya.
Aku melihat sepatu baru di kakiku, lalu melihat tas lusuh yang masih kupeluk. Dua benda yang terasa berasal dari dua kehidupan berbeda.
Aku menarik napas panjang. Kalau pernikahan ini benar-benar terjadi, aku tidak mau menjadi boneka yang cuma mengikuti keputusan Damian. Aku memang butuh uang. Aku memang ingin keluar dari hidup yang selama ini terasa sempit. Tapi aku juga ingin tetap menjadi diriku sendiri.
Aku masih Lili Saraswati. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.