PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Jujur
Axel menatap layar ponselnya.
Gue mau ngomong sesuatu sama lo.
Empat kata itu sudah diketiknya tiga kali. Tiga kali pula ia menghapusnya sebelum sempat menekan tombol kirim.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu membuka buku sketsa yang tergeletak di sampingnya.
Gambar rumah dengan jendela lebar memenuhi halaman pertama. Di belakangnya ada taman kecil, sementara ruang keluarga dirancang agar cahaya matahari bisa masuk sampai sore.
Axel mengamati gambar itu tanpa benar-benar melihatnya.
Akhir-akhir ini, ia punya kebiasaan baru yang menyebalkan: memikirkan Nadine ketika tidak ada alasan untuk melakukannya.
Ia ingin tahu apakah gadis itu sudah menyelesaikan surat motivasi beasiswanya. Ia ingin mendengar pendapatnya tentang gambar-gambar yang selama ini hanya ia simpan sendiri. Bahkan, ia mulai mengingat hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting, seperti cara Nadine mengetuk ujung pena ketika sedang berpikir.
Tidak satu pun dari hal tersebut tercantum dalam kontrak mereka.
Dan justru itulah masalahnya.
Axel mengambil ponselnya lagi, membuka percakapan dengan Nadine, lalu menutupnya tanpa mengirim apa-apa.
Ia belum tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya tanpa membuat hubungan mereka menjadi sesuatu yang harus diputuskan Nadine sekarang juga.
Untuk pertama kalinya, ia takut pertanyaan sederhana darinya bisa terdengar seperti tuntutan.
---
Pagi berikutnya, Nadine baru saja duduk di kelas XII-2 ketika Axel menghampiri mejanya.
“Surat motivasi lo sudah selesai?”
Nadine mengangkat wajah dari mapnya.
“Hampir. Tinggal gue periksa sekali lagi.”
“Kalau mau, gue bisa bantu.”
Nadine memandangnya dengan curiga.
“Lo bisa memeriksa surat motivasi?”
“Gue bisa baca.”
“Wah. Kemampuan yang luar biasa untuk seseorang yang dulu pernah ketahuan tidur saat pelajaran.”
“Itu fitnah.”
“Gue duduk dua meja dari lo.”
“Berarti lo saksi yang tidak netral.”
Nadine terkekeh kecil sebelum kembali memasukkan dokumennya ke map.
“Makasih, tapi Raka sudah membantu memeriksa strukturnya. Sekarang gue mau baca ulang sendiri.”
“Oke.”
Axel tidak mengajukan pertanyaan tambahan. Ia juga tidak menyinggung Raka.
Ia hanya mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya.
Nadine memperhatikan sekilas.
Biasanya, Axel akan mencari cara untuk memperpanjang percakapan. Kali ini, ia benar-benar membiarkan jawabannya menjadi akhir.
Nadine seharusnya merasa lega. Bukankah ia selalu meminta Axel menghormati keputusannya?
Namun, entah mengapa, ia justru bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dikatakan laki-laki itu tadi.
Ia segera mengalihkan perhatian pada dokumen beasiswanya.
Jangan mencari-cari arti dari hal kecil, Nadine.
Mereka masih terikat kontrak. Ia tidak ingin kenyamanan yang mulai tumbuh di antara mereka membuatnya lupa pada tujuan yang sudah diperjuangkannya sejak awal.
---
Saat istirahat, Nadine pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi tambahan mengenai program studi yang ingin ia ambil.
Ia sedang mencatat persyaratan beasiswa ketika Axel muncul di depan meja.
“Gue boleh duduk?”
Nadine menunjuk kursi di seberangnya.
“Silakan.”
Axel duduk sambil meletakkan sebuah buku bersampul hitam di meja.
Nadine melirik buku itu.
“Buku apa?”
“Bukan buku pelajaran.”
“Terus kenapa dibawa ke sekolah?”
Axel membuka sampulnya.
“Karena gue mau menunjukkan sesuatu.”
Nadine menggeser catatannya sedikit agar bisa melihat halaman yang dibuka Axel.
Di sana terdapat sketsa sebuah rumah. Garis-garisnya rapi, dengan jendela lebar, ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan, dan taman kecil di bagian belakang.
Nadine membungkuk sedikit untuk mengamati gambar itu.
“Lo yang bikin?”
“Iya.”
“Bagus.”
Axel mengangkat alis.
“Cuma bagus?”
“Lo mau gue kasih piagam?”
“Setidaknya kritik yang membangun.”
Nadine menarik buku itu sedikit mendekat.
“Kalau ini rumah sungguhan, ruang makannya mungkin terlalu sempit kalau ada banyak orang. Terus, jendela di sisi ini bakal bikin ruangan terang, tapi lo harus memikirkan privasi kalau rumahnya dekat jalan.”
Axel menatapnya.
Nadine berhenti membalik halaman.
“Kenapa?”
“Gue nggak menyangka lo bakal benar-benar memperhatikan.”
“Lo yang menunjukkan gambarnya.”
“Orang biasanya cuma bilang bagus supaya percakapannya selesai.”
“Kalau begitu, jangan tunjukkan gambar ke orang yang cuma ingin mengakhiri percakapan.”
Axel tertawa pelan.
“Catatan diterima.”
Nadine memperhatikan halaman berikutnya. Ada beberapa rancangan rumah lain, sebagian belum selesai. Salah satunya bahkan hanya berupa denah sederhana dengan beberapa garis yang dicoret dan digambar ulang.
“Lo suka arsitektur sejak kapan?” tanyanya.
“Sudah lama.”
“Kenapa baru sekarang serius memikirkannya?”
Axel menyandarkan punggung ke kursi.
“Karena selama ini gue lebih sibuk memikirkan hal-hal yang ingin bokap gue hentikan daripada memikirkan apa yang sebenarnya gue mau.”
Nadine menutup buku catatannya.
“Kalau lo memang mau kuliah arsitektur, cari tahu kampus dan persyaratannya. Bikin rencana. Jangan cuma menunggu sampai bokap lo bertanya.”
“Lo selalu punya daftar pekerjaan buat gue.”
“Karena lo selalu punya alasan buat menunda.”
“Gue mulai menyesal menunjukkan buku ini.”
“Belum terlambat untuk menariknya kembali.”
Axel tersenyum, lalu menatap gambar rumah yang terbuka di antara mereka.
“Gue suka merancang rumah yang bikin orang nyaman berada di dalamnya,” katanya. “Bukan karena rumahnya mewah. Tapi karena orang yang tinggal di sana nggak harus terus berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.”
Nadine terdiam sesaat.
Ia tidak tahu apakah Axel sedang membicarakan rumah, keluarganya, atau dirinya sendiri.
Mungkin ketiganya.
“Kalau begitu, lo harus belajar mendengarkan orang yang bakal tinggal di dalamnya,” jawab Nadine. “Jangan sampai rumahnya sesuai keinginan lo, tapi orang lain justru merasa nggak punya tempat.”
Axel mengalihkan pandangan dari gambar itu ke wajah Nadine.
“Gue sedang belajar.”
“Bagus.”
“Dan gue punya satu pertanyaan.”
“Apa?”
Axel hampir mengatakan bahwa ia mulai menyukai Nadine.
Kalimat itu sudah berada di ujung lidahnya. Ia hanya perlu mengucapkannya, lalu membiarkan Nadine memutuskan apa yang ingin ia lakukan dengan pengakuan tersebut.
Namun, ia teringat kontrak yang masih berlaku dan semua alasan yang membuat Nadine harus berhati-hati.
Ia tidak ingin gadis itu bertanya-tanya apakah sikapnya selama ini merupakan bagian dari kesepakatan atau sesuatu yang sungguh-sungguh.
Akhirnya, Axel menarik napas.
“Gue senang bisa ngobrol sama lo begini.”
Nadine menatapnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi nada suaranya membuat Nadine tidak langsung menjawab.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena gue bisa menunjukkan sesuatu yang gue suka tanpa harus berpura-pura peduli sama pendapat orang.”
Nadine menunduk, memperhatikan gambar rumah itu sekali lagi.
“Gue juga senang melihat sisi lo yang ini.”
Axel tidak bergerak.
Nadine baru menyadari betapa jujur kalimatnya terdengar setelah ia mengucapkannya.
Ia cepat-cepat menambahkan, “Maksud gue, setidaknya sekarang gue tahu lo punya kegiatan lain selain bikin orang kesal.”
“Gue punya banyak bakat.”
“Sayangnya, yang paling kelihatan justru yang terakhir.”
Axel tertawa.
Nadine ikut tersenyum, tetapi kali ini ia tidak langsung mengalihkan pandangan.
Ada sesuatu yang berbeda ketika mereka berbicara tanpa harus memikirkan bagaimana hubungan itu akan terlihat di mata orang lain.
Tidak ada teman yang mengamati. Tidak ada acara keluarga. Tidak ada alasan untuk berpura-pura lebih dekat daripada yang sebenarnya.
Hanya ada dua orang yang mulai mengenal sisi satu sama lain yang selama ini tidak mereka tunjukkan kepada banyak orang.
Dan bagi Nadine, kenyamanan itu justru terasa berbahaya.
Ia tahu dirinya bisa mulai menyukai seseorang tanpa merencanakannya. Yang belum ia ketahui adalah apakah perasaan itu akan tetap terasa baik ketika masa kontrak berakhir dan mereka harus menghadapi kenyataan bahwa masa depan yang mereka inginkan mungkin berbeda.
“Lo kenapa?” tanya Axel.
Nadine tersadar.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Lo tiba-tiba diam.”
“Gue sedang berpikir.”
“Bahaya.”
Nadine menendang ringan kaki kursinya.
“Pergi sana.”
Axel berdiri sambil memasukkan buku sketsanya ke tas.
“Oke. Gue nggak ganggu.”
“Xel.”
Ia berbalik.
Nadine menunjuk buku yang baru saja disimpannya.
“Kalau lo serius soal arsitektur, jangan berhenti menggambar cuma karena bokap lo belum setuju.”
Axel menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk.
“Gue ingat.”
Kali ini, Nadine tidak menambahkan nasihat lain.
Ia kembali membuka catatannya, sementara Axel meninggalkan perpustakaan dengan perasaan yang lebih rumit daripada saat ia datang.
Ia belum mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
Namun, ia mulai memahami bahwa perasaan itu tidak akan hilang hanya karena ia memilih diam.
---
Sore harinya, Nadine kembali bekerja di tempat fotokopi Pak Udin.
Pelanggan datang silih berganti. Ia menggandakan dokumen, menyusun kertas, dan mencatat pesanan yang harus diselesaikan sebelum toko tutup.
Ketika suasana mulai sepi, ponselnya bergetar.
Axel: Gue baru ingat belum bilang makasih.
Nadine: Buat apa?
Axel: Sudah mau lihat sketsa gue.
Nadine: Lo sendiri yang menunjukkan.
Axel: Tetap saja.
Nadine tersenyum kecil.
Nadine: Sama-sama. Tapi kalau nanti lo jadi arsitek, jangan minta gue membayar mahal buat memberi kritik.
Axel: Gue kasih diskon khusus.
Nadine: Nggak perlu. Gue lebih suka gratis.
Axel: Tega banget sama calon arsitek sukses.
Nadine tertawa pelan sebelum meletakkan ponselnya ketika pelanggan masuk.
Percakapan itu tidak penting. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji, dan tidak ada perubahan dalam isi kontrak mereka.
Tetapi setelah menyelesaikan pesanan, Nadine kembali memikirkan buku sketsa Axel.
Ia menyukai cara laki-laki itu berbicara tentang sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Ada ketulusan yang tidak sering ia lihat ketika Axel sedang berhadapan dengan ayahnya atau berusaha mempertahankan kendali dalam suatu situasi.
Ia juga menyukai kenyataan bahwa Axel tidak memintanya menyelesaikan masalah itu untuknya.
Namun, Nadine tidak ingin membiarkan perasaan nyaman membuatnya melupakan hal yang paling penting.
Ia tetap ingin melanjutkan pendidikan di luar kota.
Ia tetap ingin membangun masa depannya sendiri.
Dan jika suatu hari perasaannya terhadap Axel tumbuh lebih jauh, ia ingin memastikan bahwa keputusan itu benar-benar miliknya.
Bukan karena kontrak. Bukan karena uang yang telah digunakan untuk membantu pengobatan ibunya. Bukan karena takut mengecewakan seseorang yang mulai ia pedulikan.
Nadine kembali bekerja.
Untuk sekarang, ia belum perlu menjawab pertanyaan yang bahkan belum diajukan.
---
Malam itu, Axel duduk di meja belajarnya dengan buku sketsa terbuka.
Ia menatap gambar rumah yang tadi diperlihatkannya kepada Nadine. Ada beberapa catatan baru di pinggir halaman, termasuk saran tentang ruang makan dan privasi jendela.
Ia tidak menghapus catatan itu.
Sebaliknya, ia mulai menggambar ulang bagian yang menurut Nadine perlu diperbaiki.
Ponselnya menyala.
Axel: Makasih sudah mau dengerin gue hari ini.
Balasan Nadine datang beberapa menit kemudian.
Nadine: Sama-sama. Lo nggak perlu berterima kasih setiap kali kita ngobrol biasa.
Axel mengetik balasan.
Axel: Gue tahu. Gue cuma mau bilang.
Nadine: Ya sudah. Diterima.
Axel meletakkan ponselnya.
Ia ingin mengirim satu pesan lagi. Ingin mengatakan bahwa percakapan mereka bukan lagi sesuatu yang ia lakukan demi kontrak. Ingin mengatakan bahwa ia mulai menantikan hal-hal sederhana yang melibatkan Nadine, bahkan ketika tidak ada yang perlu mereka pura-purakan.
Namun, ia tidak mengirimkannya.
Bukan karena ia malu mengakui perasaannya sendiri, melainkan karena ia belum tahu bagaimana mengungkapkannya tanpa membuat Nadine merasa harus memberikan jawaban.
Axel kembali menatap gambar rumahnya.
Ia bisa merancang ruangan, mengubah ukuran jendela, dan memindahkan pintu sampai semuanya sesuai dengan rencana. Ia bisa membuat garis-garis yang jelas untuk menentukan di mana sesuatu seharusnya berada.
Tetapi perasaan tidak bekerja seperti itu.
Ia tidak bisa membuat aturan agar Nadine jatuh cinta kepadanya. Ia tidak bisa menambahkan klausul baru ke dalam kontrak, lalu berharap gadis itu memilih untuk tinggal.
Jika suatu hari Nadine benar-benar menjadi miliknya dalam arti yang mereka sepakati bersama, keputusan itu harus datang dari Nadine sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Axel menyadari sesuatu yang membuatnya takut sekaligus lega.
Ia bisa membuat Nadine berpura-pura menjadi pacarnya selama sembilan puluh hari. Namun, ia tidak bisa menyusun kontrak untuk membuat Nadine benar-benar jatuh cinta kepadanya.