NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Berani Dulu

"Bukan cuma untuk itu," kata Anala.

Dia mengambil kancing manset dari tangan Damar, memasukkannya kembali ke kotak beludru, dan menutup kotak itu dengan bunyi klik kecil. Lalu dia meletakkannya di saku kemeja Damar yang robek, tepat di atas jantungnya, dan menepuknya dua kali.

"Kamu tahu apa yang dulu sering dibilang nenekku?"

"Soal monyet?"

Sudut bibir perempuan itu naik. "Soal yang lain." Dia menyandarkan punggungnya ke pintu mobil, menghadap Damar, lututnya ditekuk di atas jok. "Orang yang berani duluan, dia yang duluan menikmati dunia."

Damar menunggu.

"Cinta juga," lanjutnya.

Di luar, cahaya sore sudah berubah menjadi abu-abu kebiruan. Pohon-pohon karet berdiri berbaris di kedua sisi mobil, batangnya bergaris-garis bekas sadapan, dan di antara mereka kabut tipis mulai turun. Di dalam mobil, bau antiseptik masih tertinggal, bercampur bau tanah dan keringat.

"Jadi aku berani duluan," kata Anala. "Aku datang. Aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di hutan ini. Aku tetap datang."

"Bagaimana kamu tahu aku di mana?"

Pertanyaan itu sudah dua hari tertahan di tenggorokannya. Di lereng itu, dia meneriakkannya. Sekarang dia menanyakannya dengan pelan, dan dia sendiri tidak tahu jawaban mana yang lebih dia takutkan.

Anala menatapnya seperti menatap anak kecil yang menanyakan kenapa langit biru.

"Kamu sendiri yang menyalakan berbagi lokasi di Puncak," katanya. "Kamu kirim titik merah ke nomorku, lalu kamu lupa mematikannya. Aku juga tidak mematikan punyaku." Dia mengangkat alis. "Titikmu berhenti di tengah hutan, di luar jalan. Tidak bergerak sama sekali. Aku tinggal mengikutinya."

Damar terdiam.

Berbagi lokasi. Ikon titik biru kecil di pojok layar yang dia lihat setiap hari selama seminggu di Batam, setiap kali dia membuka ponsel untuk mencari titik perempuan itu. Dia tidak pernah berpikir bahwa di ujung yang lain, perempuan itu juga sedang melihat titiknya.

Di lereng itu dia mendorongnya ke lumpur karena pertanyaan yang jawabannya ada di saku celananya sendiri.

"Kenapa datang?" tanyanya akhirnya.

"Karena kalau aku tidak datang, aku tidak akan pernah tahu." Dia mengangkat bahu. Gerakan kecil, santai, seperti sedang membicarakan cuaca. "Dan aku mau bertaruh denganmu."

"Taruhan apa?"

Dia mencondongkan tubuh sedikit. Matanya, dalam cahaya yang semakin redup itu, terlihat lebih gelap dari biasanya.

"Aku taruhan," katanya pelan, "suatu hari kamu yang duluan jatuh cinta padaku."

Damar menatapnya.

Dua tahun dia mengenal perempuan ini. Dua tahun dia melihatnya meletakkan obat tetes mata di sudut kanan meja setiap pagi, mendengarnya membacakan jadwal dengan suara yang tidak pernah naik atau turun, menyaksikannya menghancurkan orang di ruang rapat dengan senyum yang sopan. Dua tahun dia mencoba membaca wajah itu dan tidak pernah berhasil.

Dan sekarang, di dalam mobil yang tenggelam di lumpur, dengan luka peluru yang belum dua hari dijahit di rusuknya, perempuan itu bertaruh soal cinta.

"Kalau kamu kalah?" tanyanya.

"Aku tidak akan kalah."

"Kalau kamu menang, kamu dapat apa?"

Anala tersenyum. Senyum yang tidak bisa dia baca. "Nanti aku pikirkan."

***

Ponselnya mati. Damar tahu itu tanpa harus melihat. Dia juga tahu bahwa ponsel itu masih ada di saku kiri celananya, di posisi yang sama seperti ketika dia jatuh dari lereng. Tidak ada yang mencoba mengisinya. Tidak ada yang mencoba membukanya.

Dia tahu itu karena dia memperhatikan.

Sebagian dirinya, bagian yang dilatih oleh lima belas hari di ruang bawah tanah dan hampir dua puluh tahun sesudahnya, tidak pernah berhenti memperhatikan. Bahkan dalam demam. Bahkan ketika perempuan itu menyeka lehernya dengan handuk basah dan dia hampir menangis karena tidak ada orang yang pernah melakukan itu untuknya.

Perempuan itu pergi siang tadi. Dia mendengar pintu ditutup dengan sangat pelan. Dia menunggu. Empat puluh menit. Empat puluh menit yang terasa seperti lima belas hari. Dan ketika dia mulai percaya bahwa dia sudah ditinggalkan, seperti yang selalu terjadi, pintu itu terbuka lagi dan perempuan itu masuk dengan roti dan air dan kaki yang lecet.

Dia menatap kaki itu sekarang. Sepatu kantor bertumit rendah, kulitnya sudah rusak oleh lumpur. Ada darah kering di pergelangan kakinya, di tempat tali sepatu menggesek.

"Anala."

"Hm?"

"Kamu benar-benar bisa kupercaya?"

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dia menatap Damar lama, dengan cara yang membuat Damar ingin menarik pertanyaannya kembali.

Lalu dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Damar. Ibu jarinya mengusap tulang pipinya, seperti di lereng Puncak.

"Tentu," katanya.

Damar menariknya mendekat.

Rusuknya protes. Dia mengabaikannya. Bibir perempuan itu hangat dan sedikit pecah-pecah karena kehausan, dan dia menciumnya pelan, sangat pelan, seolah perempuan itu bisa pecah kalau dia terlalu keras. Anala melingkarkan lengannya di leher Damar dengan hati-hati, menjauhkan tubuhnya dari sisi kanan, dari luka yang baru dia jahit sendiri.

Mereka berhenti karena Damar meringis.

"Jangan," kata Anala di bibirnya. "Jahitannya bisa lepas."

"Biarkan."

"Aku yang menjahitnya. Aku tidak mau mengulang." Dia menempelkan dahinya di dahi Damar. Napasnya hangat. "Diam saja. Begini saja."

Mereka diam begitu saja. Dahi menempel dahi. Lengan perempuan itu di lehernya, tangan Damar di punggungnya. Di luar, kabut semakin tebal dan langit semakin gelap, dan untuk beberapa saat dunia hanya seluas mobil sewaan yang tenggelam di lumpur itu.

"Aku mau percaya padamu," kata Damar pelan.

Dia tidak tahu kenapa dia mengatakannya. Itu bukan kalimat yang pernah dia ucapkan kepada siapa pun, bahkan kepada Reza.

Anala tidak menjawab. Tapi lengannya di leher Damar mengerat, sedikit saja.

***

Letupan pertama memecah kaca belakang.

Damar menarik Anala ke bawah, menindihnya di antara jok depan dan jok belakang. Pecahan kaca berhamburan di atas punggungnya. Letupan kedua menghantam pintu. Ketiga, entah di mana.

"Dari kanan," bisik Anala di bawahnya. "Dari arah jalan."

"Pintu kiri. Sekarang."

Dia membuka pintu kiri dengan kakinya. Mereka merangkak keluar, ke tanah yang becek, ke balik bayangan mobil. Dari arah jalan tanah di belakang mereka, terdengar suara-suara. Laki-laki. Tiga, mungkin empat. Lampu senter menyorot-nyorot di antara batang-batang pohon.

Anala meraih tangannya. Jari-jari mereka bertaut.

"Lari," katanya.

Mereka lari.

Ke dalam kebun karet, menjauhi jalan tanah, di antara batang-batang pohon yang semuanya terlihat sama dalam gelap. Mata Damar hampir tidak berguna. Dunia di sekitarnya hanya bayangan abu-abu dan hitam, tanpa pinggiran, tanpa kedalaman. Dia tidak bisa melihat akar di bawah kakinya. Dia tidak bisa melihat dahan yang menggantung.

Tapi dia bisa merasakan tangan itu. Tangan kecil dengan plester di ujung jarinya, yang menariknya ke kiri, ke kanan, merunduk, melangkah tinggi.

Sekali kakinya tersangkut akar dan dia jatuh berlutut. Anala berhenti. Dia tidak menarik-narik, tidak berteriak. Dia hanya berjongkok, menyelipkan bahunya di bawah lengan Damar seperti di lereng itu, dan mengangkatnya berdiri dengan satu dorongan dari kakinya yang lecet.

"Satu, dua," bisiknya. "Jalan."

Jahitan di rusuknya terasa seperti terbakar. Dia merasakan sesuatu yang hangat merembes di bawah kemejanya. Dia menggigit gerahamnya dan terus berlari.

"Kamu berdarah lagi," kata Anala tanpa menoleh.

"Aku tahu."

"Kalau kamu mati di sini, semua kerjaku kemarin sia-sia." Napasnya terengah-engah, tapi suaranya masih bisa terdengar kesal. "Laki-laki tiga puluh dua itu lagi ranum-ranumnya. Jangan mati dulu."

Damar tertawa. Di tengah hutan, dengan peluru yang mengejar mereka dan darah yang mengalir di pinggangnya, dia tertawa, dan tawanya itu membuat rusuknya menjerit lebih keras.

"Diam," desis Anala. "Mereka bisa dengar."

Dia menariknya ke balik sebuah pohon karet tua yang batangnya lebih besar dari yang lain. Mereka merapat ke kulit kayu yang kasar dan basah. Napas mereka sendiri terdengar sangat keras.

Langkah kaki. Mendekat. Ranting patah. Cahaya senter menyapu batang-batang pohon di sebelah kiri mereka, lalu berhenti.

Seseorang berbicara. Suaranya dekat sekali, mungkin hanya sepuluh meter di balik pohon.

"Bang Gilang, mereka ke sana?"

Damar membeku.

Dan tangan di genggamannya, tangan kecil dengan plester di ujung jarinya, mengerat. Sangat erat. Sampai dia bisa merasakan denyut nadi perempuan itu di telapak tangannya, cepat dan keras, seperti burung yang terperangkap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!