Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 22
“Mau apa kamu, Janti?!” hardiknya menggeram, berusaha menerka, namun kinerja otak terlalu lambat sehingga gagal membaca niat terselubung istri pertama.
Sepasang alis hitam itu naik turun, senyum sudut bibir naik ke pipi. Dalam sekali gerakan, daun pintu terbuka sedikit, lalu ditarik lagi hingga dari luar dapat melihat jelas ke dalam sana.
Arjanti pura-pura terkejut. Rambutnya disampirkan ke sebelah kanan.
“Kalian habis ngapain?!” Wanita cantik berlipstik merah, rambut panjang tergerai, memakai dress ketat itu terperanjat. Saila terbelalak ketika melihat kulit tulang selangka menonjol dipenuhi bercak merah.
Amarahnya langsung naik sampai ubun-ubun kepala. “Dasar perempuan gatel! Pasti kamu godain mas Herlan, kan? Ngaku!”
Teriakannya memancing rasa penasaran Darti dan juga Astuti. Kedua wanita tersebut kompak mendekat ke sumber suara.
“Saila, apa yang kamu lihat —” kalimatnya dipotong istri pertama.
Arjanti bersedekap tangan, membiarkan penampilannya bak wanita penggoda. “Kalau istri sah dilabeli gatal disaat dia bermesraan dengan suaminya sendiri, lantas wanita yang bersedia menikah dengan pria telah beristri pantas disebut apa?”
Sindiran keras itu menambah bara api dalam hati Saila. “Aku bukan perempuan seperti itu!”
“Seperti itu bagaimana yang kamu maksud, Saila? Tolong lebih jelas lagi. Soalnya kalimat ambigu. Atau aku kasih contoh biar memudahkan menyingkat banyaknya label cocok tersemat untukmu?” ucapnya seraya memainkan alis sebelah kiri.
“Wanita baik-baik takkan mau masuk ke dalam rumah tangga wanita lain, dengan alasan apapun itu, kecuali memiliki maksud terselubung,” lanjutnya tanpa meninggikan suara.
Saila menuding tepat di wajah menyebalkan Arjanti. “Jangan fitnah kamu! Dirimu pasti irikan sama kehamilanku. Baru sebulan menjadi seorang istri sudah berhasil memberi keturunan untuk mas Herlan, sementara perempuan dinikahi 4 tahun lamanya, cuma ngasih malu yang membuat keluarga Doko jadi bahan olok-olokan.”
Darti puas sekali melihat menantu keduanya menyerang Janti lewat kalimat tajam, menghujam.
Herlan berusaha menengahi dengan cara maju ke depan, baru saja hendak membujuk kedua istrinya, Arjanti menambah ketegangan suasana sudah panas ini.
Dia bergeser dan bersandar pada dinding kamar, gayanya masih sama, santai. Suara tenang, namun tidak dengan pancaran mata meremehkan. “Iri sama wanita yang cuma bisa hamil, tapi enggan membesarkan darah dagingnya, maaf, gak minat sama sekali.”
“Jangan keterlaluan, Janti!” hardik pria sudah berdiri di samping istri muda.
Yang dibentak sempat terhenyak, namun hanya sebentar saja. Sorot mata Janti mendingin menusuk netra pria kehilangan wibawa di matanya.
“Entah itu cinta atau nafsu semata, yang jelas sudah berhasil menutup akal sehatmu sehingga berpikir gak lagi memakai logika, Mas,” ujarnya dingin dengan tatapan mata menusuk nyaris tak berkedip.
Herlan termangu, ingin membantah namun tak diberi kesempatan.
“Kamu, Mama dan Papamu, dibutakan oleh keinginan punya cucu tanpa mau menyelidiki masa lalu calon pilihan kalian. Benar Saila pernah punya anak dan terbukti subur bukan mandul, namun dia tak pantas menjadi orang tua terlebih menyandang gelar mulia sebagai seorang ibu. Sebab apa?” Janti berdiri tegak, tak lagi bersandar pada dinding.
“Naluri keibuannya mati! Tega menelantarkan bayi masih butuh minum asi. Wanita seperti itu yang kalian puji setinggi langit, lucu sekali,” lanjutnya berani.
“Jangan asal nuduh kamu!” Saila tidak terima, suaranya gemetaran dan air mata berlomba-lomba keluar. “Kamu gak ngerti rasanya dipisahkan dari darah daging sendiri dikarenakan dirimu mandul! Mana paham hancurnya hati seorang ibu dipisahkan dari anaknya!”
Janti pun membalas, tapi tidak dengan berteriak apalagi menangis. “Dipisahkan? Gak salah? Putrimu baru berumur satu tahun di saat perceraianmu dengan mantan suami terdahulu. Secara hukum, anak dibawah usia 12 tahun ditetapkan ikut Ibu.”
“Itu kalau mantan suaminya gak mempersulit, tahu diri. Lah ini, mantannya Saila adalah pria gila, siapa yang berani melawannya?!” Darti yang dasarnya keras kepala, dan membenci Arjanti, bersikeras membela menantu kedua.
“Lebih aneh lagi kalau orang gila diberi kuasa merawat anak terlebih masih bayi! Apa jadinya dia nanti?” tanyanya balik.
Darti pun terdiam, otaknya mulai berfungsi untuk memproses informasi.
“Kamu gak berhak menyudutkan wanita yang trauma akibat ditinggal selingkuh, bersuamikan pria tukang judi, Janti!” Saila membela diri, tangisnya bertambah kencang.
“Belum genap satu tahun perceraian, kamu sudah menikah lagi, malah bersuamikan pria telah beristri, dan bersedia dipoligami, tinggal satu atap dengan wanita lain, itu yang kamu maksud trauma, iya?” Janti terang-terangan menyindir.
Saila merasa tersudut, tangisnya bukan lagi karena akting melainkan amarah dan rasa takut.
Janti maju mengikis jarak sampai berdiri tepat di depan Saila. “Kalau memang benar mantan suamimu doyan selingkuh, dan seorang penjudi, maka pihak pengadilan gak mungkin memberikan hak asuh anak jatuh ke tangannya.”
Ia terkekeh ketika melirik ke bawah pada kaki Saila mundur sedikit. “Ingat, Saila! Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, dan kebohongan serta keburukan suatu hari nanti pasti terungkap tanpa perlu dicari tahu kalau memang sudah waktunya bakalan tersibak.”
“Auchh … Mas kepalaku pusing.” Saila terhuyung. Jemari bergetar itu menekan pelipis.
“Saila!” Darti histeris. “Pegangi dia, jangan sampai jatuh nanti cucuku kenapa-napa!”
“Dia cuma akting!” cegah Arjanti.
“Cukup, Janti!” Herlan yang panik, mendorong tubuh kurus istri pertama sampai kehilangan keseimbangan.
Bugh!
Arjanti terjatuh. Bokongnya menghantam lantai. Tak ada yang mempedulikan, semua orang sibuk membantu Saila, menenangkan wanita menangis sesenggukan itu.
Saila dibopong, lalu didudukan pada sofa empuk dekat area tangga. Kemudian Herlan melangkah lebar, menarik tangan Janti yang baru saja berhasil berdiri.
Keseimbangannya belum kokoh, dan dia terhempas menghantam dinding. Punggung membentur tembok keras. Suara rintihan pelan keluar dari bibir menahan sakit.
Tak ada rasa kasihan, Herlan menjambak rambut belakang Janti hingga wajahnya mendongak. “Kalau terjadi hal buruk ke Saila, terlebih bayi kami, kamu bakalan tau akibatnya, Janti!”
Matanya memerah melototi netra yang mati-matian menahan sakit, enggan menangis. “Selama ini aku terlalu memanjakanmu, makanya dirimu menjadi istri gak tau diri, pembangkang.”
“Cukup, Herlan!” Kakinya menendang tulang kering pria yang menatap nyalang.
Herlan mundur dikarenakan rasa terkejut sekaligus sakit, jambakannya otomatis terlepas.
“Selama sebulan ini, puluhan kali sudah kamu meninggikan suara ketika berbicara denganku. Dari menegur, menyindir, menghardik, dan terakhir hampir menampar, sekarang menjambak. Semua itu aku hitung untuk mengurangi nilai sekaligus rasa hormat. Jangan kira aku diam lantas menerima begitu saja, tidak!” volume suaranya menurun drastis nyaris mendesis.
Herlan langsung menurunkan nada suara dan mengubah cara menatap. Tak lagi sengit. “Mas cuma mau membimbing kamu supaya tidak lepas kendali dikarenakan oleh rasa iri, berakhir kalah sebab dikuasai amarah.”
Janti memutar malas bola matanya, lalu mendengus muak. “Membimbing atau membungkam?”
.
.
Bersambung.