"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 | KEBOHONGAN DI BALIK KEBUTAAN
Empat hari sejak kepergian Austin ke Vietnam, hari-hari Aleeza terasa amat panjang dan melelahkan. Namun, alih-alih menikmati ketenangannya, sebuah desakan aneh di dalam dada memaksa Aleeza untuk segera mengakhiri sandiwaranya dengan sang billionaire.
Sebelum berita kepulangan Austin dari Barcelona tiba setelah pria itu menggunakan nama Julian sebagai tameng dan alasan untuk mendekatinya Aleeza bertekad untuk memutuskan segalanya. Ia tidak mau lagi terikat dalam permainan gila Austin Vanderbilt.
Dengan langkah tergesa-gesa, Aleeza tiba di gerbang vila tempat Julian tinggal. Ia datang lebih cepat dari biasanya karena rasa gelisah yang teramat sangat menggerogoti hatinya.
Bagaimana jika Julian tahu tentang berita skandal Austin di Vietnam? Bagaimana jika Julian merasa dikhianati? batin Aleeza cemas.
Dengan tangan bergetar, Aleeza menekan kombinasi angka pintu utama vila dan melangkah masuk.
"Nona Aleeza " Sapaan penuh kepanikan dari seorang pelayan wanita menghentikan langkah Aleeza di selasar dekat kamar Julian. Wajah pelayan itu tampak pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.
"Ada apa? Di mana Julian? Apa dia baik-baik saja?" selidik Aleeza bertubi-tubi dengan nada cemas, tak sabar menunggu jawaban.
Tanpa memedulikan sang pelayan, Aleeza langsung berlari menyusuri lorong panjang menuju sayap barat vila yang mengarah langsung ke area kolam renang pribadi.
Napas Aleeza terengah-engah.
Namun, tepat saat ia tiba di ambang pintu kaca besar yang menghadap ke kolam renang, langkah kaki Aleeza mendadak berhenti total. Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika.
Air mata Aleeza tumpah tanpa bisa dicegah, menetes membasahi telapak tangannya sendiri yang membekap mulutnya yang ternganga ngeri.
Tida ini tidak mungkin! batin Aleeza histeris.
Bukankah beberapa waktu lalu Julian divonis buta permanen? Bukankah pria itu selalu meraba-raba dinding dan mengeluhkan dunianya yang gelap?
Tapi apa yang dilihat matanya sekarang?!
Di sana, di dalam air jernih kolam renang, Julian tampak berenang dengan sangat tenang, lincah, dan sempurna. Pria itu sama sekali tidak buta! Tubuhnya sehat, gerakannya terarah, dan ia sama sekali tidak menunjukkan gejala cacat penglihatan sedikit pun!
"Sejak kapan ?" gumam Aleeza gemetar dengan suara parau nan hancur.
Pelayan wanita yang tadi mencoba menghentikannya kini menyusul berdiri di belakang Aleeza, menunduk ketakutan.
" Sejak kapan, huh?!" bentak Aleeza histeris pada sang pelayan, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya.
Dengan suara terbata-bata penuh ketakutan, pelayan itu menjawab, "S-Sepuluh bulan yang lalu, Nona Aleeza,"
Sepuluh bulan yang lalu? Artinya, Julian bahkan sudah sembuh total sejak satu bulan pascakecelakaan naas itu!
Seketika itu juga, gelombang amarah, rasa bersalah yang selama ini menghantam batinnya, serta pengkhianatan yang amat telak menghancurkan pertahanan Aleeza berkeping-keping.
Selama berbulan-bulan, ia telah menyiksa dirinya sendiri dengan rasa bersalah yang mendalam, mengorbankan kebebasannya, dan membiarkan dirinya diperas oleh Austin Vanderbilt hanya demi merawat seorang pria yang ternyata sengaja membohonginya seumur hidup!
"Jangan pernah bilang pada siapa pun kalau aku datang ke sini Paham?!" ancam Aleeza dengan tatapan mata tajam mematikan pada sang pelayan.
Pelayan itu mengangguk ketakutan.
Aleeza berbalik, melangkah pergi meninggalkan vila tersebut dengan air mata penyesalan dan kebencian yang membakar dadanya.
Sial! Aku dibohongi! Aku dikhianati! teriak Aleeza histeris di dalam hatinya yang hancur lebur.
▪️▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!