Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Yang Menelpon? 08.
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden abu-abu terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk kelopak mata Novia.
Gadis itu mengerang lirih. Kepalanya terasa seberat batu kali, dan tenggorokannya sekering padang pasir.
Namun, hal pertama yang disadari oleh seluruh indra perabanya adalah rasa hangat yang luar biasa nyaman.
Dia tidak lagi berada di lantai semen yang dingin. Punggungnya tenggelam di atas kasur yang empuk, dan tubuhnya dibalut bed cover tebal yang menyebarkan aroma maskulin berbaur wangi air hujan yang familier.
Novia membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar ini bukan langit-langit gudang sekolah, melainkan kamar di unit apartemen minimalis yang tiga bulan terakhir ini mengikat kebebasannya.
Ingatan semalam mendadak berputar cepat seperti roll film yang diputar paksa. Kegelapan, kepanikan yang mencekik, pintu yang rusak, hingga... pelukan hangat yang mendekapnya di tengah badai.
Novia tersentak. Dia langsung memeriksa pakaiannya. Dia sudah berganti pakaian piyama tidur, kaus kakinya yang basah sudah berganti dengan sepasang kaus kaki bulu tebal berwarna merah muda—miliknya yang biasa tersimpan di lemari.
"Reyhan..." bisik Novia, suaranya parau nyaris hilang.
Tepat saat nama itu meluncur dari bibirnya, sebuah aroma gurih yang menenangkan menguar masuk dari arah dapur.
Bau bawang putih yang ditumis dan kaldu ayam hangat. Indranya tidak bisa berbohong; seseorang sedang memasak.
Dan di apartemen rahasia ini, tidak ada orang lain selain cowok egois yang menyandang status sebagai suaminya secara hukum itu.
Novia menyibak selimut. Kakinya yang masih lemas dipaksa menapak ke lantai. Dia berjalan berpegangan pada dinding, melangkah sepelan mungkin menuju ruang tengah yang menyatu dengan dapur bersih.
Di sana, di balik meja bar yang membatasi dapur, sosok tegap itu ada. Reyhan.
Cowok itu sudah rapi dengan kemeja putih kasual yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menonjol saat dia mengaduk sesuatu di dalam panci kecil. Rambut hitamnya yang semalam basah kuyup kini sudah kering, jatuh dengan alami di dahinya, menghilangkan kesan kaku yang biasa dia tunjukkan di sekolah.
Dia sedang membuat bubur ayam. Sebuah pemandangan yang begitu domestik, begitu nyata, hingga membuat jantung Novia berdenyut aneh.
Bagaimana mungkin cowok yang kemarin memperlakukannya seperti musuh, kini berdiri di sana, memasak untuknya dengan raut wajah yang tampak... lelah? Lingkaran hitam samar di bawah mata Reyhan menjadi bukti bahwa cowok itu mungkin tidak tidur semalaman.
Novia hendak melangkah maju untuk memaki cowok itu atas kejadian semalam, menuntut keadilan mengapa Reyhan setega itu mengurungnya.
Namun, langkahnya terhenti saat Reyhan tiba-tiba mematikan kompor, mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja, dan berjalan menjauh menuju balkon kaca yang tertutup.
Reyhan menggeser tombol hijau. Dia mendekatkan ponsel itu ke telinga.
Novia yang berdiri di dekat koridor kamar bisa melihat profil samping wajah Reyhan dengan jelas melalui kaca pembatas.
Dan apa yang dia lihat selanjutnya membuat seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku.
Ekspresi Reyhan berubah total.
Topeng datar, dingin, dan angkuh yang selalu menjadi tameng cowok itu di depan semua orang—termasuk di depan Novia—luruh begitu saja.
Sudut bibir Reyhan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat tulus.
Tatapan matanya yang biasa setajam elang melunak, memancarkan binar kehangatan yang belum pernah Novia lihat seumur hidupnya.
"Iya, ini aku," ucap Reyhan.
Suara bariton itu terdengar melalui celah pintu balkon yang sedikit terbuka.
Nadanya begitu lembut, begitu rendah, seolah dia sedang berbicara dengan sesuatu yang paling berharga dan rapuh di dunia ini.
Nada suara yang mustahil akan pernah Reyhan gunakan saat berbicara pada Novia.
"Kamu sudah sarapan? Jangan lupa minum obatmu, ya. Di sini semalam hujan lebat, aku cuma khawatir kamu kedinginan di sana," lanjut Reyhan. Cowok itu terkekeh pelan, sebuah kekehan pendek yang terdengar sangat protektif sekaligus penuh kerinduan. "Aku tahu kamu kuat. Tapi tetap saja, aku nggak bisa kalau nggak mikirin kamu."
Novia terpaku di tempatnya berdiri. Jemarinya yang mencengkeram sudut dinding perlahan mengencang hingga kukunya memutih.
Dada sebelah kirinya yang semalam sesak karena trauma, kini kembali terasa nyeri karena alasan yang sama sekali berbeda. Rasa sakit yang asing, yang datang tanpa permisi.
Siapa perempuan di seberang telepon itu?
Selama dua hari pernikahan paksa ini, Reyhan menekankan bahwa pernikahan mereka hanyalah wasiat keluarga, transaksi bisnis antar keluarga dan kewajiban hitam di atas putih.
Reyhan selalu bersikap seperti robot tanpa hati. Namun mendengarnya berbicara dengan nada selembut itu pada wanita lain, membuat Novia sadar akan satu kenyataan pahit yang menampar logikanya.
Reyhan bukan robot tanpa perasaan. Reyhan punya hati, punya cinta, dan punya kelembutan yang luar biasa besar.
Hanya saja, semua perasaan itu... bukan diciptakan untuk Novia.
"Aku usahakan datang akhir pekan ini, ya? Tunggu aku," ucap Reyhan lagi, sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon dengan helaan napas panjang yang terdengar berat namun penuh kerelaan.
Reyhan membalikkan badannya, hendak kembali ke dapur.
Saat itulah, mata elangnya langsung berbenturan dengan sepasang mata cokelat milik Novia yang berdiri membeku di kegelapan koridor kamar.
Senyum lembut di wajah Reyhan lenyap seketika. Dalam hitungan detik, topeng es yang kokoh itu kembali terpasang sempurna di wajahnya. Pandangan matanya kembali datar, dingin, dan tak teraba, seolah pria lembut di balkon beberapa detik lalu hanyalah ilusi optik yang diciptakan oleh sisa trauma Novia.
Reyhan berjalan melewati pintu kaca, meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja bar, lalu menatap Novia tanpa ekspresi.
"Sudah bangun?" tanya Reyhan dingin, nadanya kembali datar seperti biasa. "Kalau sudah, duduk di meja makan. Habiskan bubur lo, setelah itu kita perlu bicara soal pembagian tugas kita di rumah ini."
Novia mengepalkan tangannya di balik piyama. Dia menatap suaminya itu dengan tatapan terluka yang berusaha dia samarkan dengan kemarahan. Rasa penasaran dan sesak di dadanya bergolak menjadi satu, siap meledak kapan saja.
......................
...****************...
Tbc,