NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

benci jadi cinta ( bab 12) awal kebahagiaan

Pagi pertama di rumah setelah pulang dari rumah sakit terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan, tidak ada tatapan dingin atau kata-kata yang menusuk. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar terasa lebih hangat, udara pagi terasa lebih segar, dan setiap sudut rumah yang dulu terasa asing kini mulai terasa seperti tempat yang seharusnya ia tinggali — rumah yang sesungguhnya.

Yuna terbangun perlahan. Sinar matahari menyentuh wajahnya lembut. Saat ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah Marco yang sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya belakangan ini. Tangannya sedang membelai rambut Yuna dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seakan ia adalah benda paling berharga di dunia yang bisa hancur jika disentuh terlalu kuat.

"Kamu sudah bangun?" tanya Yuna, suaranya masih sedikit serak namun penuh kehangatan. Ia tersenyum melihat wajah lelaki yang kini menjadi seluruh dunianya itu.

Marco mengangguk, mencium keningnya perlahan. "Sudah cukup lama. Aku suka melihatmu tidur. Wajahmu terasa damai, dan aku tahu... kamu benar-benar di sini. Di sisiku. Bukan mimpi."

Yuna tertawa pelan, meraih tangan kekarnya dan menggenggamnya erat. "Ini bukan mimpi, Marco. Aku di sini. Bersamamu. Dan aku tidak akan ke mana-mana."

Sarapan pagi itu adalah sarapan pertama mereka yang benar-benar terasa seperti suami istri yang bahagia. Marco menyiapkan semuanya sendiri — kopi, roti, buah, dan sup hangat yang dibuatnya dengan bimbingan koki rumah. Tentu saja hasilnya tidak sempurna, ada yang sedikit terlalu asin, ada yang kurang manis, tapi saat Yuna memakannya dengan senyum lebar di wajahnya, rasanya seperti hidangan paling lezat di dunia.

"Enak?" tanya Marco cemas, melihat Yuna terus tersenyum sambil menyuap.

"Sangat enak. Terutama karena ini dibuat oleh tanganmu," jawab Yuna jujur, matanya berbinar tulus. "Terima kasih, Sayang."

Panggilan itu — Sayang — membuat jantung Marco berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia yang dulu tidak pernah peduli pada siapa pun, yang hidupnya hanya tentang kekuasaan dan kekuatan, kini merasa seluruh dunianya berputar pada satu nama saja:yuna

Setelah sarapan, Marco mengajak Yuna berjalan-jalan di halaman belakang yang luas dan indah — tempat yang dulu tak pernah ia kunjungi, karena ia merasa tidak ada gunanya menikmati keindahan sendirian. Kini, berjalan beriringan dengan Yuna di sampingnya, melihat wanita itu tersenyum memandangi bunga-bunga yang bermekaran, hatinya terasa penuh sekali.

"Aku tidak tahu kita punya tempat yang seindah ini," ucap Yuna kagum, menyentuh kelopak bunga mawar yang segar dan harum.

"Dulu tempat ini sepi. Tidak ada yang merawatnya. Sama seperti hatiku sebelum kamu datang," bisik Marco pelan di telinganya, lalu tersenyum saat Yuna menoleh padanya dengan pipi yang sedikit memerah. "Mulai sekarang, kita akan merawatnya bersama-sama. Seperti kita merawat hidup kita."

Siang harinya, Yona dan Jisoo datang berkunjung. Mereka membawa kue buatan sendiri dan beberapa film favorit Yuna. Tawa mereka memenuhi ruang tengah rumah yang dulu sunyi senyap. Marco awalnya merasa canggung — ia tidak terbiasa dengan keramaian dan canda tawa seperti ini — tapi saat melihat Yuna tertawa lepas, matanya berbinar cerah, ia menyadari bahwa kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaannya juga.

Dia bahkan ikut duduk bersama mereka, mendengarkan cerita-cerita mereka, tertawa pelan saat mendengar lelucon konyol, dan sesekali menawari mereka minuman dengan senyum yang ramah namun tetap sopan. Yona dan Jisoo saling bertukar pandang — mereka tahu, perubahan pada Marco bukanlah hal yang sementara. Dia benar-benar berubah, dan Yuna adalah alasannya.

Saat sore tiba, langit berwarna jingga keunguan yang sangat indah. Mereka berdua duduk di beranda depan, menikmati angin sore yang sejuk. Marco menyelimuti bahu Yuna dengan selimut tipis, lalu melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya. Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Marco, merasa begitu aman dan dicintai.

"Marco..." panggil Yuna pelan.

"Ya, Sayang?"

"Dulu aku takut sekali denganmu. Aku pikir kamu adalah orang yang paling kejam dan tidak punya hati di dunia ini," aku Yuna dengan jujur, namun tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku bahkan tidak membayangkan kita bisa duduk seperti ini, berbagi kebahagiaan bersama."

Marco menghela napas pelan, mencium puncak kepalanya. "Aku juga pernah berpikir bahwa aku tidak butuh siapa pun. Bahwa cinta hanya akan membuatku lemah. Tapi kamu mengajarkanku, Yuna... bahwa memiliki seseorang yang bisa kamu pulang ke pelukannya setiap hari adalah anugerah terindah yang ada di dunia ini. Kamu bukan sekadar istri bagiku. Kamu adalah rumahku. Seluruh duniaku."

Dia memutar tubuh Yuna perlahan hingga mereka saling berhadapan. Dia menatap mata istrinya dalam-dalam, dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan janji setia yang mendalam.

"Masih ada hari-hari yang mungkin sulit di depan sana. Musuhku belum hilang sepenuhnya. Bahaya mungkin masih mengintai di kegelapan. Tapi aku berjanji padamu, setiap hari ke depan akan lebih baik dari hari kemarin. Aku akan melindungi mu dengan nyawaku sendiri jika harus. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Tidak ada yang akan memisahkan kita. Selama aku hidup, kamulah ratu di hatiku, dan kamulah satu-satunya wanita yang akan kucintai sampai napas terakhirku."

Yuna tersenyum haru, air mata bahagia menetes di pipinya. Dia melingkarkan lengannya di leher Marco, memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi selamanya.

"Aku juga mencintaimu, Marco. Terima kasih sudah berubah. Terima kasih sudah mencintaiku. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Karena dari sekarang, aku bukan hanya istrimu... aku juga pelindung hatimu, sama seperti kau pelindung hidupku."

Saat matahari benar-benar terbenam dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam yang jernih, mereka berdua masih duduk di sana — dalam pelukan satu sama lain, menikmati kehangatan yang baru saja mereka temukan. Kebahagiaan mereka baru saja dimulai. Perjalanan panjang masih menanti. Tapi selama tangan mereka saling menggenggam, selama hati mereka saling menjaga... tidak ada yang mustahil.

Mereka telah melewati kebencian yang dalam, menghadapi kematian yang nyaris memisahkan, dan akhirnya... menemukan cahaya di ujung terowongan yang gelap.

Ini hanyalah awal. Awal dari kebahagiaan yang sejati.

BERSAMBUNG....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!