Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 - Dasar Anak Tak Tahu Balas Jasa
Seorang kurir paket muda memalingkan wajah dan menutup hidungnya rapat-rapat saat melewati gang peternakan di ujung desa, sementara Puspita melangkah masuk tanpa mempedulikannya sedikit pun. Bau yang menempel di udara memang berat, campuran pakan, lumpur, dan sesuatu yang lebih basi lagi, tetapi gadis itu berjalan seolah bau itu hanya masalah angin yang berubah arah.
Di samping peternakan berdiri satu-satunya rumah di kawasan itu, rumah tanah yang tidak pernah direnovasi sejak puluhan tahun lalu. Di desa yang sebagian besar rumahnya sudah berganti menjadi rumah panggung kayu dan tembok bata, rumah seperti ini menandakan kemiskinan yang benar-benar tertinggal. Pak Karta, warga pemandu yang menuntun mereka dari pematang tadi, tidak berhenti di depan rumah itu. Ia malah berbelok dan membawa Puspita serta Yusuf masuk ke peternakan.
"Mengapa kita dibawa ke sana?" Yusuf bertanya sambil mempercepat langkahnya. "Bukannya rumah anak Bu Ratmi di sebelah kandang ini?"
Puspita tidak menanggapi pertanyaan Yusuf. Ia menoleh ke pemandu di depannya sambil mengerutkan dahi karena baunya makin pekat. "Pak Karta, bukankah kita mau ke rumahnya?"
Pak Karta tertawa kecil, lalu berdeham. "Oh, Nona tidak tahu ya. Anak Bu Ratmi itu bajingan, menantunya juga bajingan. Setelah rumah ibunya roboh, pasangan itu tidak mau membangunkan yang baru, malah menitipkan ibu sendiri di kandang babi." Ia menunjuk pintu kayu yang sudah lapuk di depan mereka. "Karena itu kubawa ke sini. Kalau mau cari orangnya, memang paling mudah lewat kandang."
Ketika mereka berdiri di depan pintu kandang, tidak terdengar suara manusia sama sekali. "Mengapa sepi begini? Sepertinya mereka semua keluar desa hari ini," gumam Pak Karta.
Puspita maju selangkah, mendorong daun pintu yang berderit itu, lalu melangkah masuk tanpa menunggu izin. Yusuf menyusul di belakangnya, dan begitu masuk, rasa mual langsung memaksa ia menekan dadanya sendiri. Puspita hanya mengerutkan dahi sesaat, lalu wajahnya kembali datar seperti air kolam yang tidak tertiup angin.
Dinding semen rendah membagi kandang menjadi delapan sekat yang rapi. Di setiap sekat berbentuk persegi itu terbaring dua ekor babi gemuk, miring dengan perut ke atas, sesekali mendengkur pendek saat ada suara langkah. Tidak ada yang aneh bagi seekor hewan, tetapi ada satu kalimat yang berputar di kepala Puspita dan tidak mau pergi. Manusia bisa dikurung di tempat seperti ini.
Di sudut sekat paling ujung, tempat yang paling jauh dari pintu, ada tumpukan selimut tua di atas jerami setebal tangan, sebatang bangku reot, dan tidak ada satu pun kasur yang layak disebut tempat tidur. Jerami itu sendiri sudah hitam dan padat, seperti sudah dipakai bertahun-tahun tanpa pernah diganti. Pemiliknya sudah tidak ada di situ, dan selimut itu hanya menyisakan lekuk tubuh yang lama.
Pak Karta mengetuk-ngetuk pagar sekat. "Bu Ratmi! Ada yang menjenguk!" Panggilannya hanya dibalas oleh gerak malas seekor babi yang memiringkan badan.
\=\=\=\=
Perjalanan tadi berjalan di balik kedok calon pembeli. Sejak menapaki jalan desa, Puspita sudah mengaku pada warga bahwa ia ingin membeli beberapa ekor babi dari kandang koperasi desa yang kini dikelola oleh seorang bernama Warno, dan Pak Karta dengan senang hati membawanya meninjau kandang tanpa mencurigai apa pun. Di balik anyaman keranjang ikan yang kini dipikul Puspita, ponselnya sudah merekam sejak daun pintu kandang terbuka.
Tiba-tiba sebuah teriakan memecah kesunyian dari arah balik kandang.
"Pak Karta! Telepon polisi! Warno mau mengubur ibunya sendiri! Dia bilang tidak sanggup lagi membiayai!"
Seorang pria paruh baya berlari menghampiri mereka dengan cangkul yang masih tergenggam di tangan. Wajahnya memerah, napasnya terengah-engah, dan matanya melotot seperti melihat sesuatu yang tidak bisa ia percaya dengan akal sehatnya.
Pak Karta mengumpat keras. "Astaga, anak haram! Dia pelihara puluhan babi, untungnya besar tahun ini, bagaimana bisa tidak sanggup menanggung ibunya sendiri! Dasar anak durhaka!"
Ia berbalik hendak berlari keluar peternakan, lalu tiba-tiba berhenti di depan pintu. Ia menoleh kembali pada Puspita dengan wajah yang baru tersadar. "Warno itu anak Bu Ratmi, Nona!"
Wajah Puspita berubah sedikit, matanya yang tadi tenang mendadak menjadi dingin seperti baja yang baru ditempa. "Antar aku ke sana," perintahnya singkat.
Kedua pria itu sudah terlanjur berlari karena urusan ibu hendak dikubur hidup-hidup lebih penting daripada urusan tamu asing. Puspita dan Yusuf menyusul dari belakang, sementara Yusuf sudah menekan nomor polisi di ponselnya sambil berlari, melaporkan lokasi dan kejadian dengan kalimat yang terpotong-potong.
Di perjalanan, pria paruh baya yang berlari di depan menjelaskan, suaranya masih gemetar. "Warno sudah menyiapkan liang kubur sendiri di ladang pinggir desa. Tempatnya sepi, tidak ada yang lewat. Aku kebetulan sedang mencangkul di petak sebelahnya, mereka tidak melihatku, tetapi aku dengar semuanya."
"Pak, siapa lagi yang ada di sana selain Warno?" Yusuf menyusul sambil memasukkan ponsel ke saku.
"Siapa lagi, menantunya yang keji itu!" pria itu mendecak. "Kira-kira menantulah yang menghasut. Ibu tinggal di kandang babi saja sudah, menantu masih bilang ibu itu hanya membuang-buang hasil desa setiap hari."
Dua pria yang membajak ladang sepanjang hidup mereka memang berlari sangat cepat, tetapi ketika mereka menoleh ke belakang untuk memastikan tamu asing itu tidak ketinggalan, yang mereka lihat justru wajah Puspita yang pucat dingin menggelap di bawah terik siang. Gadis itu berlari tanpa mengeluh, sepatunya menghentak tanah ladang dengan langkah yang terukur.
"Nona, kamu..." pria paruh baya itu hendak berkata sesuatu, tetapi matanya bertemu tatapan mata Puspita yang dalam dan tidak berkedip, dan kata-katanya mendadak macet di tenggorokan. Siang bolong seperti melihat hantu, dan dadanya terasa kosong sejenak.
\=\=\=\=
Di kejauhan terlihat dua sosok di bibir liang kubur yang sudah separuh terbuka itu, yaitu seorang pria berbadan besar yang memegang cangkul dengan kedua tangan, dan seorang wanita kurus yang bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun sambil memindahkan tanah galian dengan sekop kecil. Keduanya bekerja cepat, seolah takut ada yang datang sebelum pekerjaan mereka selesai.
"Warno! Kamu sedang apa? Dasar bajingan!"
Teriakan Pak Karta yang tiba di lokasi lebih dulu membuyarkan kekakuan itu. Dua pria itu langsung menerjang pria yang sedang berlutut di sisi liang kubur dengan cangkul di tangan, dan mereka langsung beradu mulut dengan Warno yang membela diri tanpa jeda.
Puspita berhenti beberapa langkah dari kerumunan. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tenang, mengarahkan kamera ke liang kubur yang sudah separuh terbuka itu, lalu memotret dari beberapa sudut tanpa buru-buru. Ia ingin memastikan pasangan suami istri ini nanti mendekam di balik jeruji besi, dan untuk itu, bukti tidak boleh kurang satu pun.
Di antara tanah yang baru digali itu, sebagian besar tubuh nenek tua sudah terkubur. Hanya wajah kotor yang masih tersisa di permukaan, dengan mata yang terpejam rapat dan bibir yang tidak berhenti bergetar, seolah pemiliknya sedang berjuang melawan dingin yang merayap dari dalam tanah.