NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Pertemuan di Antara Halaman

Minggu-minggu berlalu dan cerita itu ternyata nggak cuma sekadar tulisan yang dibaca orang lalu dilupakan begitu aja. Setiap hari ada aja pesan baru yang masuk, dari orang-orang dengan cerita mereka masing-masing. Ada yang cerita soal hubungan yang hampir putus tapi akhirnya diperbaiki karena cerita kita bikin mereka sadar betapa berharganya seseorang yang masih ada di sisi. Ada anak yang minta maaf ke ayahnya karena selama ini terlalu keras kepala. Ada nenek yang bilang dia membacanya berulang kali karena mengingatkannya pada suaminya yang sudah pergi sepuluh tahun lalu. Rasanya aneh banget. Aku cuma cewek biasa yang menulis karena rindu, tapi tulisan itu ternyata jadi jembatan buat begitu banyak hati. Aku nggak pernah menyangka hal sederhana kayak menuliskan kembali kenanganku sama Bima bisa berarti sejauh itu buat orang lain. Dulu aku pikir cerita ini cuma milik kita berdua, sesuatu yang terlalu pribadi buat dibagikan. Tapi ternyata kebaikan itu memang begitu kan? Semakin kamu bagi, semakin dia tumbuh dan sampai ke tempat yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

Suatu sore ada pesan yang bikin aku berhenti lama di tempatku duduk. Pengirimnya nggak pakai nama asli, cuma tanda yang bikin aku terkejut. Tanda itu sama persis dengan yang Bima selalu pakai di akhir setiap pesannya — gambar bunga kecil dengan tiga kelopak. Jantungku berdebar kencang. Aku tatap layar ponselku lama banget, takut kalau aku salah lihat atau terlalu berharap. Tapi tidak, gambarnya sama persis, bentuknya, letaknya, semuanya. Tanganku gemetar pelan pas aku membuka pesannya. Tulisan di dalamnya sederhana tapi langsung bikin mataku terasa panas.

"Halo Aurora. Aku bukan Bima, tapi aku kenal tulisannya sangat baik. Aku ibunya."

Napasku tertahan. Aku nggak pernah tahu Bima punya keluarga yang tinggal di kota yang sama. Dia jarang cerita soal rumah, aku kira dia sendirian atau keluarganya tinggal jauh. Aku langsung balas pesannya, meminta maaf kalau ceritaku menyentuh hal yang seharusnya tidak aku ketahui, kalau aku terlalu lancang menuliskan hidup seseorang tanpa izin keluarganya. Tapi balasannya datang cepat, lembut dan menenangkan, persis kayak cara Bima bicara.

"Jangan minta maaf nak. Justru terima kasih. Bertahun-tahun aku tidak tahu ke mana dia pergi setiap sore. Dia selalu keluar rumah dengan senyum, lalu pulang dengan wajah yang lebih ringan seolah beban beratnya berkurang sedikit. Aku bertanya-tanya siapa yang dia temui, apa yang membuat matanya bersinar lagi di hari-hari yang seharusnya paling gelap buat dia. Sekarang aku tahu. Terima kasih sudah menjadi alasan senyumnya. Boleh aku menemuimu? Ada yang ingin aku sampaikan secara langsung."

Kita sepakat bertemu di kedai kopi yang biasa aku kunjungi, tempat yang tenang dan tidak terlalu ramai, dekat dengan taman tempat kita dulu sering duduk. Hari itu aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati, hampir satu jam sebelumnya. Aku duduk di meja pojok dekat jendela, tanganku saling genggam di atas meja, jantungku berdebar kencang. Aku nggak tahu harus bereaksi bagaimana. Aku takut harus melihat kesedihan mendalam di wajah orang tua yang kehilangan anaknya. Aku takut aku bakal menangis dan nggak bisa berhenti. Aku takut aku nggak punya kata-kata yang cukup baik untuk menyapanya. Tapi di sisi lain, ada rasa hangat yang muncul. Akhirnya aku bisa tahu lebih banyak soal dia, dari orang yang paling mencintainya di dunia ini.

Saat dia masuk ke ruangan, aku langsung tahu itu dia. Matanya. Matanya persis sama dengan Bima — bentuknya, caranya menatap, kelembutan di balik tatapannya. Dia berjalan pelan ke arahku, mengenakan baju sederhana berwarna lembut, rambutnya rapi disanggul, dan di tangannya ada tas kecil yang terlihat sudah lama dia pakai. Dia berhenti di depan mejaku, menatapku sebentar, lalu tersenyum hangat yang langsung bikin aku merasa tenang.

"Kamu Aurora ya?" suaranya lembut banget, persis seperti yang aku duga.

Aku berdiri dengan agak canggung, menyambut uluran tangannya. "Iya tante. Maaf aku datang duluan, aku terlalu bersemangat sekaligus gugup..."

Dia tertawa pelan, suara tawanya juga mengingatkan aku pada Bima. "Tidak apa-apa nak. Aku juga gugup. Sudah lama aku tidak bertemu seseorang yang begitu berarti bagi anakku."

Kita duduk berhadapan, diam sebentar sambil menatap satu sama lain. Dia menatapku lama sekali, matanya menyapu wajahku seolah dia sedang mencocokkan sesuatu dengan foto yang pernah dia lihat berkali-kali. Ada rasa haru yang bikin tenggorokanku terasa sesak.

"Dia pernah mengirim foto kamu ke aku," katanya tiba-tiba sambil mengeluarkan ponselnya. Di layar ada foto yang diambil dari agak jauh, aku sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku, tidak sadar ada yang memperhatikanku dari balik pohon. "Dia kirim ini sore pertama setelah kalian bertemu. Dia tulis: Ibu, aku menemukannya. Dia orang yang membuat aku merasa hidup lagi. Terima kasih sudah mengizinkan aku menemukannya."

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Jadi selama ini dia juga berbagi cerita tentang kita dengan ibunya. Aku kira dia menyembunyikan semuanya sendirian, ternyata ada satu orang yang dia percaya untuk berbagi sedikit beban hatinya. Rasanya aku bukan satu-satunya yang dia sayang, tapi aku merasa diterima ke dalam kehidupannya yang lebih luas dari yang aku tahu.

"Dia jarang cerita banyak tante. Dia cuma bilang dia sedang berjalan menuju seseorang. Dia bilang itu perjalanan terpenting dalam hidupnya. Dia nggak pernah kasih tahu detailnya, cuma bilang waktunya belum tepat. Aku pikir dia mau cerita sendiri kalau sudah siap," ucapku pelan sambil menyeka air mataku.

Ibunya mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi dia tetap tersenyum. "Itu memang caranya. Dia selalu menyimpan hal-hal berharga sampai dia yakin waktunya sudah benar. Dia takut kalau dia cerita terlalu cepat, sesuatu yang indah itu akan hilang begitu saja. Sejak dia sakit, dia sering bilang bahwa dia ingin melakukan satu hal yang benar-benar miliknya, sesuatu yang bukan tentang rasa sakit atau obat-obatan. Pertemuan dengan kamu adalah hal itu untuknya. Kamu bukan sekadar teman biasa Aurora. Kamu adalah harapannya, alasan dia bangun setiap pagi dan bertahan sedikit lagi."

Sore itu kita ngobrol sangat lama. Kita pesan minuman hangat dan duduk sampai matahari mulai turun perlahan. Ibunya cerita masa kecil Bima — dia anak yang pendiam tapi hatinya luas banget, selalu menolong hewan terluka yang dia temukan di jalan, selalu berbagi bekal makan siangnya dengan teman yang kurang mampu, jarang minta sesuatu untuk dirinya sendiri. Kalau ada yang minta bantu, dia yang pertama datang tanpa diminta. Dia cerita bagaimana Bima menyembunyikan rasa sakitnya, bagaimana dia tetap tersenyum setiap pagi meski tubuhnya semakin hari semakin lemah, bagaimana dia bersikeras keluar rumah setiap sore dengan alasan mau jalan-jalan padahal dia sedang berjuang untuk tetap berdiri tegak.

Lalu dia cerita hal yang bikin aku terdiam lama banget. "38.000 langkah itu bukan sekadar angka yang dia buat-buat nak. Itu perhitungan yang dia lakukan sendiri. Dokter bilang dia mungkin hanya punya beberapa bulan saja waktu pertama kali dirawat. Dia menghitung setiap hari yang dia lewati sebagai satu langkah. Setiap hari yang dia masih bisa bernapas, berjalan, melihat langit, itu satu langkah lebih dekat ke tujuannya. Dia tidak bilang 'aku sisa beberapa bulan lagi'. Dia bilang 'aku masih punya ribuan langkah yang harus aku tempuh'. Dan kamu adalah tujuan akhirnya. Bukan tempat, bukan benda, tapi kamu."

Air mataku mengalir deras di pipiku. Jadi selama ini aku salah paham soal angka itu. Aku pikir itu jarak atau waktu pertemuan kita. Ternyata itu sisa hidupnya yang dia ubah jadi perjalanan menuju aku. Dia mengubah penderitaan yang seharusnya menakutkan menjadi sesuatu yang penuh harapan. Dia tidak menunggu kematiannya datang. Dia berjalan menuju kehidupan yang membuatnya merasa utuh. Itu hal paling berani yang pernah aku dengar.

Saat langit mulai berubah warna menjadi keunguan, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak kayu kecil yang permukaannya diukir tangan, polos tapi rapi banget. Di tutupnya terukir tulisan sederhana yang langsung aku kenal tulisannya: Langkah Terakhirku, Awal Ceritamu.

"Dia menyiapkan ini jauh sebelum hari itu nak. Dia bilang kalau suatu hari dia belum sampai tepat waktu, tolong berikan ini ke kamu. Dia menyuruhku memberikannya kepada orang yang membuatnya tersenyum paling lebar sebelum dia pergi. Aku tidak tahu isinya, dia menyimpannya sendiri dan menyuruhku tidak membukanya. Katanya pesan ini khusus untuk kamu saja."

Dia menyodorkan kotak itu dengan kedua tangannya. Aku terima dengan hati yang berdebar, kedua tanganku gemetar memegangnya. Rasanya berat, bukan karena kayunya, tapi karena makna di dalamnya.

"Tante... kenapa dia begitu baik padaku? Kita baru kenal sebentar saja," tanyaku pelan, suaraku pecah.

Ibunya tersenyum, meraih tanganku yang sedang memegang kotak itu. "Karena baginya, kamu bukan pertemuan yang sebentar. Kamu adalah rumah yang dia cari seumur hidupnya. Dia mungkin hanya sebentar di sisimu, tapi dia tinggal di hatimu selamanya. Dan dia memang sampai di sana kan? Di hatimu. Di sanalah dia tinggal sekarang, dan di sanalah dia akan selalu hidup."

Kita berpelukan saat berpisah, pelukan yang hangat dan tulus, persis kayak pelukan seseorang yang benar-benar mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Saat dia berjalan pergi, aku berdiri sendirian di depan kedai itu, memegang kotak kayu itu erat di dadaku. Angin sore meniup rambutku pelan, dan untuk pertama kalinya sejak dia pergi, aku nggak merasa sendirian. Aku punya cerita Bima yang lebih lengkap sekarang. Aku punya ibunya yang menyambutku seperti anaknya sendiri. Aku punya kotak pesan terakhirnya yang sedang menunggu aku.

Aku nggak langsung membukanya sore itu. Aku bawa pulang, taruh di meja belajarku di sebelah buku sketsa dan kotak peninggalannya yang dulu sudah aku buka. Ketiganya berdampingan, seolah bagian-bagian dari satu cerita utuh yang perlahan sedang kuselesaikan. Aku tahu aku belum siap membukanya sekarang. Ada perasaan campur aduk yang belum bisa aku rapikan. Tapi aku tahu, saat aku siap, di dalamnya bukan kesedihan yang menungguku. Itu pesan terpentingnya, yang dia simpan khusus untuk aku bawa melangkah ke masa depan.

Malam itu aku duduk dekat jendela, melihat langit bertabur bintang yang terang banget malam ini.

"Bima," bisikku pelan ke arah jendela yang terbuka sedikit. "Ibumu luar biasa banget. Kamu mewarisi kebaikanmu dari dia ya. Makasih udah percaya sama aku sampai sejauh ini. Makasih udah membuat semuanya dengan begitu indah. Aku jaga kotak ini baik-baik sampai aku siap. Tenang aja di sana. Semua baik-baik saja di sini. Kita baik-baik saja."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!