Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
Eca yang masih kesal pada theo dengan cepat ia menginjak kaki theo untuk melepaskan diri, ia pun menarik tangan alex untuk segera pergi meninggalkan theo dan berjalan menuju ke parkiran mobil milik alex
"Terserah lo mau ngomong apa, gue males ngeladenin lo"
"Kalau lo cuman mau main-main sama gue jangan harap lo bisa, silahkan lo main-aja sama cewek-cewek yang suka sama lo"
"Lagian lo seperti nggak ada kerjaan banget ngatur-ngatur gue" ketus eca sembari berjalan meninggalkan theo
Rasa ngilu di ujung sepatu botnya memicu desisan tajam dari bibir theo. Namun, rasa sakit fisik itu kalah telak dibanding hantaman telak pada egonya saat menyaksikan tangan mungil itu justru menggandeng jemari pria lain tanpa ragu.
Pemandangan tautan tangan itu membakar habis kewarasannya, mengoyak topeng tenang yang berusaha ia pertahankan sejak tadi.
"Sialan,"
umpat theo lirih, suaranya tercekat di tenggorokan yang mengering.
Ia tidak membiarkan rasa nyeri menahannya. Mengabaikan denyut di kakinya, pemuda jangkung itu membuang tas jinjing di tangannya sembarangan ke aspal, lalu melangkah lebar mengejar dua figur yang menuju area parkir.
Tangannya yang terkepal rapat bergetar hebat menahan badai emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—campuran amarah, cemburu buta, dan kepanikan aneh akan kehilangan kendali.
"Berhenti di situ, Eca!"
seru theo lantang, membelah hiruk-pikuk pelataran rumah sakit. Langkahnya kian cepat hingga bayangan tingginya menyalip langkah mereka berdua.
"Lo pikir lo bisa lari gitu aja setelah berani nantang gue?"
Alex yg sedari tadi diam kini mulai menghadang di depan eca,ia melapangkan dada untuk melindungi eca tepat di belakangnya dia menyuruh eca untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan eca segera masuk ke dalam mobilnya.
Darah theo berdesir hebat saat pintu mobil itu terbanting menutup, mengurung sosok perawat yang sengaja menghindar darinya. Rintangan fisik dari pria berseragam medis di hadapannya terasa seperti penghinaan terbuka terhadap dominasinya.
Urat leher theo menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, siap melampiaskan amarah yang mendidih di rongga dada.
Alih-alih mundur, theo justru memangkas jarak, menatap lelaki di depannya dengan kilatan buas penuh intimidasi. Rahangnya mengeras saat suaranya meluncur dingin, berat, dan berbahaya.
"Minggir sebelum gue bikin lo menyesal ikut campur,"
desis theo tanpa sedikit pun menurunkan pandangan. Telapak tangannya menghantam kap mobil dengan suara berdebam keras, sengaja memberi peringatan nyata bagi siapa pun yang berada di dalam kabin kendaraan itu.
"Urusan gue sama dia belum kelar. Lo nggak punya urusan buat sok jadi pahlawan di depan gue."
Napas theo memburu tak beraturan, sorot matanya yang gelap kini beralih menembus kaca mobil yang tertutup rapat, menuntut pertanggungjawaban dari keberanian gadis itu melarikan diri darinya.
Tanpa banyak bicara alex hanya mengatakan sedikit peringatan untuk theo
"lo hanya bocah kemarin sore" sambil menunjuk
Tepat di dada theo
setelah mengatakan itu alex langsung masuk mobil dan pergi bersama eca meninggalkan theo yang masih berdiri di luar mobil.
Cemoohan bernada meremehkan itu menusuk gendang telinga Theo laksana belati tumpul.
Egonya terkoyak hebat saat lampu belakang kendaraan itu perlahan membaur di tengah arus jalan raya petang. Hawa panas menjalari tengkuknya, menyulut amarah liar yang menyesakkan dada. Bukan sekadar rasa terhina karena dipandang sebelah mata oleh orang asing, melainkan ketidakberdayaan getir saat menyaksikan gadis itu memilih berpaling tanpa menoleh sedikit pun.
"Bocah?"
gumam Theo rendah, tawa sinis tanpa humor lolos dari bibirnya yang bergetar.
Napas pemuda itu memburu kasar. Ditatapnya aspal tempat jejak ban mobil itu tertinggal, sebelum matanya menangkap tas merah muda yang teronggok kotor di dekat kakinya. Dengan satu gerakan cepat penuh gejolak batin, ia memungut benda itu dan mencengkeramnya erat.
Theo berbalik menuju motor besarnya, menaiki jok dengan gerakan tergesa. Helm ia pasang tanpa peduli sekeliling yang menatap heran. Seringai dingin terbit di rahangnya yang mengetat.
"Lo pikir lo bisa kabur segampang itu dari gue, Eca?"
bisiknya berbahaya seraya memacu mesin hingga meraung membelah senja, bersiap mengejar ke mana pun roda itu bergulir.
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊