NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

...Brak!...

...Prang!...

Suara hantaman keras menggema di dalam apartemen mewah berukuran luas yang terletak di jantung kota. Meja kopi berbahan kaca tempered pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam yang berserakan di atas lantai marmer.

Lampu lantai antik, vas bunga porselen mahal, hingga bingkai foto berukuran besar dilempar dengan sekuat tenaga oleh seorang pria yang kini tengah dikuasai oleh kemurkaan iblis.

"Sialan! Sialan! Sialan!" teriak Tristan Enver menggelegar, suaranya serak dan pecah di antara napasnya yang memburu tak beraturan.

Pria berusia pertengahan dua puluhan itu berdiri di tengah reruntuhan apartemennya dengan dada naik turun dan urat-urat leher yang menegang tegang.

Bayangan singkat dari layar video call beberapa menit lalu—di mana ia melihat kekasihnya, Ester Alba, mendesah di bawah kungkungan seorang pria asing berwajah dingin—terus berputar-putar di kepalanya seperti adegan dari neraka paling kejam.

Tristan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, netranya menyalang merah penuh darah.

Wanita yang amat ia cintai... Kekasih yang selama ini ia jaga setengah mati... Beraninya gadis itu berselingkuh darinya?!

Beraninya Ester mengkhianati seorang Tristan Enver yang telah mendedikasikan segalanya untuk hidupnya?!

Tristan merosot jatuh ke lututnya di antara serpihan kaca, namun amarah di dadanya sama sekali tidak mereda.

Selama ini, ia telah mengorbankan begitu banyak hal demi Ester.

Pria itu bahkan dengan tegas menolak perjodohan bisnis bergengsi yang diatur oleh kedua orang tuanya, menolak puluhan wanita dari kalangan elit sosial yang datang menggoda dan menawarkan segalanya, semata-mata demi mempertahankan satu nama: Ester Alba.

Gadis itu adalah cinta pertamanya sejak mereka duduk di bangku high school.

Gadis yang selalu ia hormati di hadapan orang banyak, yang ia perlakukan bagai ratu dalam dunianya yang keras, dan yang selalu ia yakini akan menjadi pelabuhan terakhirnya.

Dan sekarang... balasan apa yang ia terima? Pengkhianatan busuk di atas ranjang pria lain!

"Kau milikku, Ester..." bisik Tristan penuh geram, suaranya berubah menjadi desisan iblis yang menakutkan.

"Aku sudah melakukan segalanya untukmu! Aku bahkan membiarkan ayahmu tetap hidup dengan membiayai rumah sakitnya! Dan kau... kau berani bermain-main di belakangku?!"

Seketika, tatapan Tristan berubah tajam. Ia bangkit berdiri dengan langkah gontai namun cepat menuju kamar tidurnya.

Pria itu membuka lemari pakaian besar, menarik koper kulit hitam berukuran besar dari bagian atas, dan membantingnya di atas tempat tidur.

Tanpa memedulikan kerapian, Tristan menyambar pakaian-pakaiannya dari gantungan, melemparkannya secara asal ke dalam koper.

Ponselnya bergetar di saku celana, namun ia mengabaikannya. Yang ada di dalam kepala Tristan saat ini hanya satu: penerbangan tercepat pertama menuju New York City.

Ia tidak akan pernah membiarkan Ester jatuh ke tangan pria lain.

Ester adalah miliknya—mutlak milik Tristan Enver seorang.

Wanita itu tidak boleh pergi ke mana pun, dan pria keparat yang berani menyentuh miliknya akan merasakan akibat paling mengerikan dari kemarahan seorang Enver.

...ΩΩΩΩΩΩ...

Jauh dari kekacauan badai di Boston, suasana di dalam kamar apartemen studio Ester di New York justru diselimuti oleh kehangatan malam yang sunyi dan aroma sisa keintiman.

Lampu tidur memancarkan pendar kuning temaram, menerangi ranjang sempit yang kini dipenuhi selimut tebal.

Dominic Qiel Ashford berbaring telentang dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar, sementara kepala Ester bersandar nyaman di atas dada bidang pria tersebut.

Jari-jari lentik Ester perlahan merayap di atas kulit dada Dominic, membuat pola-pola tak kasat mata di sana.

Suasana hening cukup lama, hingga Dominic menghela napas berat, memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang serak.

"Ester..." panggil Dominic pelan, menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap puncak kepala gadis itu.

"Pria di dalam telepon tadi... siapa dia sebenarnya?"

Ester tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan beberapa detik berlalu untuk membangun ketegangan emosional yang tepat.

Jantungnya berdetak dalam ritme yang terkontrol; ia tahu ini adalah momen paling krusial—saat di mana ia harus merangkai kebohongan terbesar dalam hidupnya tanpa boleh ada celah sedikit pun.

Ester mendongak, memperlihatkan manik mata cokelatnya yang tampak berkaca-kaca, dipenuhi oleh kepedihan palsu yang begitu meyakinkan.

"Namanya Tristan Enver, Tuan..." jawab Ester lirih, suaranya bergetar halus seolah-olah menyebut nama itu saja sudah membawa teror tersendiri baginya.

Dominic mengerutkan keningnya dalam-dalam. Nama 'Enver' bukanlah nama asing di telinga seorang Ashford.

Itu adalah salah satu keluarga terpandang di Boston yang memiliki pengaruh besar di bidang logistik dan properti.

"Dia... kekasihku," lanjut Ester dengan nada suara yang makin melemah, menyembunyikan wajahnya kembali di ceruk leher Dominic.

"Hubungan kami sudah berjalan sejak aku berusia 18 tahun. Tapi... dia bukan pria baik, Tuan. Dia adalah pria pemarah, kasar, dan sangat mengerikan."

Dominic merapatkan dekapannya, sebelah tangannya mengusap rambut cokelat bergelombang Ester dengan penuh kelembutan.

"Kasar? Apa maksudmu?"

"Dia mengekang setiap langkahku..." suara Ester mulai tersendat, menciptakan isak tangis tertahan yang sangat natural.

"Dia melarangku bergaul, mengontrol ponselku, memaki-makiku setiap kali aku terlambat mengangkat teleponnya, dan mengancam keselamatan hidupku jika aku berani meninggalkannya. Bahkan... biaya rumah sakit ayahku yang sekarat di Boston, dialah yang menanggungnya selama ini... namun dengan cara menggunakannya sebagai rantai untuk mengikatku agar tetap menjadi bonekanya."

Mendengar pengakuan itu, rahang Dominic mengeras seketika.

Darahnya mendidih seketika.

Sebagai seorang pria yang menjunjung tinggi kehormatan dan perlindungan, tidak ada hal yang lebih dibenci Dominic selain pria pengecut yang menggunakan kekuasaan dan uang untuk menyiksa serta mengancam wanita lemah.

"Jadi... pria itu menerormu selama ini?" tanya Dominic tajam, suaranya bergetar menahan amarah.

"Iya..." cicit Ester, air matanya kini benar-benar menetes membasahi kulit dada Dominic.

"Bahkan... dialah yang sebenarnya merancang agar aku bisa bekerja sebagai guru privat di kediaman Ashford. Dia pikir dengan memasukkanku ke lingkungan keluarga kaya, aku bisa mencari uang tambahan untuknya... tapi dia tidak pernah tahu bahwa di sanalah aku justru menemukan pria yang benar-benar bisa membuatku merasa dilindungi."

Ester mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Dominic dengan tatapan pemujaan yang luar biasa dalam.

"Dan malam ini... dengan mengangkat teleponnya dan membiarkannya mendengar suara kita... aku sengaja melakukannya, Tuan," aku Ester dengan suara berbisik penuh keberanian palsu.

"Aku lelah menjadi tawanan dalam sangkar emasnya. Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin dia tahu bahwa aku sudah bukan miliknya lagi... bahwa aku sudah sepenuhnya menjadi milikmu."

Deg.

Pengakuan itu menghantam dada Dominic seperti hantaman petir yang manis. Gelombang kepemilikan dan rasa tanggung jawab yang masif langsung membuncah di dalam diri pria 32 tahun itu.

Dominic tidak tahu sama sekali... bahwa semua cerita pilu tentang teror Tristan itu hanyalah setengah kebenaran yang dibumbui oleh manipulasi tingkat tinggi.

Ester dengan sengaja merahasiakan satu hal besar: bahwa rencana penyusupannya ke dalam keluarga Ashford bukanlah kecelakaan, melainkan sebuah ambisi terencana sejak dua tahun lalu. Keluarga Ashford memang menjadi target utama Ester—pilihan mutlak yang ia cari untuk melepaskan diri dari neraka Boston.

Dan tentu saja, Ester tidak mungkin mengatakan kebenaran gila itu.

Di dalam hatinya, Ester tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

Ia mencintai Dominic?

Mungkin tidak sepenuhnya dalam arti romantis yang suci, namun Ester sudah berada di tahap di mana ia telah menyerahkan segalanya, mengikat nasibnya pada pria ini, dan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan Ashford.

Ia tidak akan pernah melepaskan genggaman yang sudah mulai ia kuasai.

Dominic mengangkat dagu Ester dengan ujung jemarinya, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang amat lembut, penuh rasa hormat dan perlindungan di bibir gadis itu.

"Jangan takut, Ester..." bisik Dominic tegas, menatap manik mata gadis itu tanpa ragu.

"Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang di dunia ini—termasuk berandalan bernama Tristan Enver itu—yang berani menyentuhmu atau mengancammu lagi. Kau berada di bawah perlindungan mutlak seorang Dominic Ashford. Biarkan dia datang ke New York. Aku akan menghadapinya secara langsung."

Ester memejamkan matanya, merasakan kehangatan pelukan itu.

Di balik kelopak matanya yang terpejam, sebuah senyuman kemenangan yang sangat dingin terukir sempurna di bibirnya.

Semuanya berjalan tepat di atas jalur yang ia inginkan.

Tristan sedang dalam perjalanan menuju perangkap mautnya sendiri di New York, sementara Dominic telah sepenuhnya masuk ke dalam telapak tangannya sebagai perisai pelindung yang tak terkalahkan.

1
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗🤗
Isma Nayla
kasihan Ester walaupun caranya salah dalam masuk kekeluarganya Dominic semoga bila Dominic mengetahuinya rencana Ester sebelumnya dom2 tidak meninggalkan Ester /Whimper//Sob/
Rosdianah 🌷: huhu😭
total 1 replies
Yusry Ajay
wahhh dominic cemburu 🤗🤗
Isma Nayla
terima kasih Thor sudah up banyak2 hari ini 🙏
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
Rosdianah 🌷: huhu love setaman-tamannya kak 🤭🫶
total 1 replies
Isma Nayla
lagi Thor 🤭
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
Rosdianah 🌷: hehhe siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
keren ceritamu Thor,sangat menarik dan tak terduga.
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Lilla Ummaya
Ditunggu updatenya
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
JR Rhna
bukan susahpun utk tegaskan bahawa dia tak pernah tidur dengan Florence
Isma Nayla
kalau sampai domdom nikahi si flo lebih baik Ester pergi saja Thor./Right Bah!/
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🤭
total 3 replies
Isma Nayla
terima kasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🫶
total 1 replies
Isma Nayla
lanjut thor
berasa sedikit bacanya 🤭
Isma Nayla
keren...
makasih Thor sudah up 🙏
Rosdianah 🌷: maaf ya author nggak pernah double up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Isma Nayla
yang ini kok belum up Thor 😭
Rosdianah 🌷: huhu bentar kak
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjut thor
Yusry Ajay
selalu semangat Thor 💪💪
Yusry Ajay
lanjut Thor makin seru nih 🤗🤗
Lilla Ummaya
Karyamu slalu keren .. ditunggu updatennya soon kaa😍
Lilla Ummaya: Thor ko lama updatenya
total 4 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪😁
Yusry Ajay
uda Dominic ma Ester aja Thor 😁😁
Rosdianah 🌷: bisa di atur🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!