Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.Kehormatan
Waktu berjalan tanpa kompromi, menggilas hari-hari yang penuh dengan peluh, air mata, dan rasa lapar yang tertahan.
Satu tahun telah berlalu sejak malam mencekam di UGD tempat Tera menyelamatkan pria bernama Sean, dan kini statusnya telah resmi berubah.
Lentera sudah lulus dan menyandang gelar dokter umum.
Namun, kota besar ini segera menunjukkan sisi paling kejamnya kepada orang-orang yang tidak memiliki privilese.
Di balik gemerlap gedung-gedung pencakar langit, ijazah kedokteran dengan predikat cum laude milik Lentera seolah kehilangan taringnya hanya karena satu hal, dia tidak memiliki koneksi atau jaringan keluarga berduit.
Sudah puluhan surat lamaran pekerjaan dikirimkan oleh Lentera ke berbagai rumah sakit swasta maupun klinik, tetapi hasilnya nihil.
Lowongan pekerjaan di rumah sakit besar di kota ini seperti sebuah klub eksklusif.
Kursi dokter baru sering kali sudah dipesan oleh anak, keponakan, atau kolega dari para pejabat rumah sakit sebelum lowongan itu sempat diumumkan ke publik.
Pagi itu, dengan sisa harapan yang membumbung, Tera mendatangi Rumah Sakit Medika Utama, sebuah rumah sakit swasta mentereng di pusat kota.
Ini adalah jadwal wawancara kerjanya yang kesekian kali. Di luar gedung, langit tampak mendung, seolah menggambarkan suasana hati Tera yang dibayangi kecemasan finansial keluarganya.
Tabungan dari hasil menjual sisa tanah di kampung sudah menipis, terkuras habis untuk biaya administrasi kelulusan dan sewa kontrakan kecil mereka.
Tanpa sepengetahuan Tera, Pak Hasyim dan Bu Sulis diam-diam mengikutinya.
Kedua orang tua itu tidak tega membiarkan anak tunggal mereka berjuang sendirian.
Dengan menumpangi angkutan umum, mereka tiba di rumah sakit tersebut beberapa saat setelah Tera masuk ke dalam.
Pak Hasyim mengenakan kemeja batik usang yang warnanya sudah memudar dan celana bahan yang tampak sedikit kekecilan.
Sementara Bu Sulis mengenakan jilbab kain sederhana dan sandal jepit yang bagian tumitnya sudah menipis.
Pakaian mereka tampak sangat lusuh dan kontras dengan kemegahan lobi Rumah Sakit Medika Utama yang berlantaikan marmer mengkilat.
Didorong oleh rasa cinta yang luar biasa kepada anaknya, Pak Hasyim memberanikan diri mendekati meja resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya orang tua dari dokter Lentera yang sedang wawancara di dalam. Kalau boleh tahu, apakah kami bisa bertemu dengan pemilik atau direktur rumah sakit ini?" tanya Pak Hasyim dengan suara bergetar namun sangat sopan.
Dia berpikir, jika dia bisa memohon langsung dan menceritakan betapa cerdasnya Lentera, sang pemilik rumah sakit mungkin akan memberikan kesempatan bagi anaknya.
Resepsionis itu memandang Pak Hasyim dan Bu Sulis dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
Bukannya menjawab dengan sopan, dia justru memanggil seorang pria bertubuh tambun yang kebetulan sedang lewat di lobi bersama rombongan manajemen.
Pria itu adalah Dokter Handoko, pemilik sekaligus komisaris utama Rumah Sakit Medika Utama.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Handoko dengan nada angkuh.
"Ini, Dok. Orang-orang ini tiba-tiba datang dan mengemis ingin bertemu dengan Dokter. Katanya mereka orang tua dari pelamar kerja yang sedang diwawancarai di dalam," jawab resepsionis itu sambil mencibir.
Dokter Handoko menghentikan langkahnya. Dia menatap pakaian lusuh Pak Hasyim dan tas kain kumal yang dipeluk oleh Bu Sulis. Senyum sinis langsung terukir di wajahnya yang congkak.
"Mau bertemu saya? Untuk apa? Memohon agar anak kalian diterima bekerja di sini?" cetus Dokter Handoko, suaranya sengaja dikeraskan hingga memancing perhatian para pengunjung lobi dan perawat yang berlalu-lalang.
"Benar, Pak Dokter," ucap Pak Hasyim sambil menundukkan kepalanya, mencoba mengabaikan tatapan mata orang-orang yang mulai berkerumun.
"Anak kami, Lentera, sangat cerdas. Dia lulusan terbaik dengan nilai tertinggi. Kami mohon, berikan dia kesempatan untuk mengabdi di rumah sakit ini."
Mendengar hal itu, Dokter Handoko justru tertawa terbahak-bahak.
Tawa yang diikuti oleh beberapa staf manajemen di belakangnya. Suara tawa yang terdengar sangat menyakitkan, seperti belati yang menyayat harga diri kedua orang tua tua tersebut.
"Lulusan terbaik? Hebat sekali!" sindir Dokter Handoko dengan nada sarkasme yang kental.
"Dengar ya, Pak Tua. Ini Rumah Sakit Medika Utama, bukan puskesmas gratisan di kampung halamanmu! Rumah sakit ini melayani orang-orang kaya, pejabat, dan ekspatriat. Semua dokter di sini berpenampilan necis, punya koneksi mumpuni, dan berasal dari keluarga terpandang."
Dokter Handoko melangkah satu tapak lebih dekat, menunjuk-nunjuk kemeja batik usang Pak Hasyim.
"Lihat kaca di sana! Berkaca dulu sebelum datang ke sini! Orang miskin seperti kalian ini tahu apa tentang dunia medis modern? Pakaian saja lusuh seperti pengemis, lalu dengan tidak tahu dirinya mengatakan anak kalian sudah lulus jadi dokter umum? Jangan-jangan ijazahnya hasil menembak atau beli!"
"Jaga bicara Anda, Dok! Suami saya tidak berbohong!" Bu Sulis akhirnya bersuara, air matanya menetes karena tidak tahan melihat suaminya dihina sedemikian rupa.
"Oh, berani melawan?" Dokter Handoko mendengus remeh.
"Security! Cepat usir dua orang miskin ini keluar dari lobi saya! Mengotori pemandangan saja. Dan cari tahu siapa nama anak mereka yang sedang interview di dalam. Langsung coret namanya dari daftar! Rumah sakit saya tidak menerima dokter yang punya latar belakang keluarga gembel seperti mereka!"
Dua orang petugas keamanan berbadan tegap langsung maju, mencengkeram lengan Pak Hasyim dan Bu Sulis dengan kasar, mencoba menyeret mereka keluar dari pintu lobi.
Kebetulan sekali, pada detik itu juga, Lentera baru saja keluar dari ruang wawancara yang terletak di koridor samping lobi.
Langkah kakinya mendadak terkunci saat mendengar keributan hebat di lobi utama.
Begitu matanya menangkap sosok ayah dan ibunya yang sedang diseret paksa sambil ditertawakan oleh Dokter Handoko dan stafnya, darah di dalam tubuh Tera seolah mendidih seketika.
Seluruh rasa hormatnya sebagai seorang junior di dunia medis lenyap tanpa bekas, digantikan oleh amarah yang membakar hingga ke ubun-ubun.
"Lepaskan kedua orang tua saya!" teriak Tera dengan suara menggelegar, menggema di seluruh penjuru lobi yang luas.
Lentera berlari dengan kecepatan tinggi, menepis kasar tangan para petugas keamanan hingga cengkeraman mereka pada ayah dan ibunya terlepas.
Dia langsung berdiri di depan Pak Hasyim dan Bu Sulis, memasang tubuhnya sendiri sebagai benteng pembatas.
Napasnya memburu, matanya merah menyala menatap tajam langsung ke arah Dokter Handoko.
"Jadi Anda yang bernama Dokter Handoko? Pemilik rumah sakit yang katanya terhormat ini?" tanya Tera dengan nada dingin yang menusuk.
"Oh, jadi kamu anak dari orang-orang gembel ini?" Dokter Handoko melipat tangannya di dada, menatap Tera dengan pandangan meremehkan.
"Bagus kalau kamu sudah keluar. Saya baru saja menyuruh staf saya untuk membuang berkas lamaranmu ke tempat sampah."
Tera tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh penghinaan yang membuat Dokter Handoko tertegun sejenak. Dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, Tera merenggut map dokumen tebal berisi ijazah, transkrip nilai, dan sertifikat prestasinya yang dipegang oleh seorang staf HRD di dekatnya.
Sreeek!
Lentera merobek kertas formulir lamaran kerjanya tepat di depan wajah Dokter Handoko, lalu melemparkan potongan-potongan kertas itu ke lantai marmer.
"Anda tidak perlu repot-repot membuangnya, karena saya sendiri yang mencabut lamaran pekerjaan saya dari rumah sakit busuk ini!" tegas Tera, suaranya lantang tanpa ada sedikit pun rasa takut.
"Kamu!, berani-beraninya kamu bertingkah lancang di depan saya?!" wajah Dokter Handoko memerah padam karena murka, merasa otoritasnya diinjak-injak oleh seorang dokter baru yang tidak punya apa-apa.
"Mengapa saya harus takut pada seorang pria tua yang mengenakan jas dokter tetapi tidak memiliki etika dan moral paling dasar manusia?!" balas Tera berapi-api.
"Anda boleh memiliki gedung megah ini, Anda boleh memiliki peralatan medis paling mahal di kota ini, tetapi Anda sama sekali tidak memiliki jiwa seorang penyembuh! Anda telah menghina ayah saya, seorang pria jujur yang keringatnya membiayai setiap lembar ilmu yang ada di kepala saya. Anda menghina ibu saya, wanita yang mengajarkan saya bahwa profesi dokter adalah tentang kemanusiaan, bukan tentang pamer kekayaan dan koneksi!"
Tera melangkah maju, membuat Dokter Handoko refleks mundur satu langkah karena terintimidasi oleh tatapan mata Tera yang begitu kuat.
"Ingat kata-kata saya hari ini, Dokter Handoko. Suatu hari nanti, rumah sakit megahmu ini akan memohon-mohon agar saya sudi menginjakkan kaki di sini, dan pada hari itu terjadi, saya yang akan meludahi lantai marmer Anda!" ucap Tera ketus.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Tera langsung berbalik.
Dia menggandeng tangan kanan ayahnya dan tangan kiri ibunya dengan sangat erat.
"Ayo, Bapak, Ibu kita keluar dari tempat terkutuk ini. Tempat ini tidak pantas menerima tetesan keringat dan doa-doa tulus kita."
Mereka berjalan keluar meninggalkan lobi rumah sakit dengan kepala tegak, meninggalkan Dokter Handoko yang berdiri mematung menahan malu di hadapan puluhan mata pengunjung dan stafnya sendiri yang kini berbisik-bisik.
Namun, begitu mereka tiba di area parkiran luar yang sepi di bawah rintik hujan yang mulai turun, pertahanan baja yang dipasang oleh Lentera era runtuh seketika.
Air matanya pecah, mengalir deras membasahi pipinya. Tera berlutut di atas aspal parkiran yang dingin, memeluk kedua kaki ayahnya dengan erat. Dia menangis histeris, begitu juga dengan kedua orang tuanya.
"Bapak, Ibu, maafkan Tera," isak Tera di sela-sela tangisnya yang memilukan.
"Maafkan Tera karena sampai detik ini Tera masih lemah. Tera belum bisa melindungi Bapak dan Ibu, Tera belum bisa membahagiakan kalian, justru membuat kalian harus menerima penghinaan kejam seperti ini"
Pak Hasyim ikut berlutut di atas aspal, merengkuh tubuh anak tunggalnya ke dalam pelukan dadanya yang hangat, disusul oleh Bu Sulis yang memeluk mereka berdua dari belakang.
Di bawah guyuran rintik hujan kota besar yang terasa dingin dan asing, ketiga orang itu saling menguatkan dalam tangis yang mendalam.
Mereka tahu perjalanan ini akan sangat berat, tetapi di dalam hati Tera, sebuah sumpah baru telah terukir dengan tinta darah dia akan membalas setiap tetes air mata orang tuanya dengan keberhasilan dan kesuksesan.
Mana komennya?, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.
sean anaknya siapa ini?
jd kangen dgn opa dan oma 🤭🤭