"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Singgah di Rumah Pribadi
Satria menatap telapak tangan yang terulur di hadapannya itu dengan pandangan sedingin es batu selama dua detik. Dengan gerakan yang sangat formal dan kaku khas militer, Satria menerima jabat tangan tersebut. Sentuhan tangan mereka terasa sangat kaku, karena Satria segera menarik kembali tangannya begitu norma kesopanan terpenuhi.
"Sore. Kabar saya baik. Mari kita langsung menuju tempat parkir mobil, di luar sudah mulai hujan deras," ucap Satria pendek tanpa membalas senyuman manis dari Ingrid. Ia langsung berbalik badan, mengambil alih dua koper besar milik orang tuanya dengan cekatan, lalu berjalan memimpin di depan dengan langkah tegap militernya.
Ingrid yang mendapatkan sambutan sedingin kutub utara itu sempat tertegun sejenak di tempatnya berdiri, senyum ayunya agak menyusut. Namun, Bu Reni segera mengusap bahu Ingrid sembari berbisik lirih. "Jangan berkecil hati ya, Ingrid. Satria itu memang wataknya kaku dan dingin seperti es balok sejak dulu, persis seperti bapaknya. Tapi hatinya sangat baik kok."
Ingrid kembali tersenyum manis, matanya menatap lekat-lekat punggung tegap berseragam Mayor milik Satria yang berjalan jauh di depan mereka. "Iya, tidak apa-apa, Bude. Ingrid mengerti kok."
Sementara di dalam mobil SUV hitam yang mulai membelah kemacetan jalan tol dari arah bandara menuju pusat kota, Satria fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Di dalam benaknya, kehadiran Ingrid tidak lebih dari sekadar tamu keluarga. Fokus utama di dalam hati dan kepalanya malam itu masih tetap mutlak tertuju pada satu nama: Keisha, si gadis barbar yang sore ini mungkin sedang asyik menikmati cokelat dari laki-laki lain di kampus, memicu letupan cemburu kaku yang kian mengusik ketenangan sang Mayor.
***
Gumpalan awan hitam sore itu kian pekat menggantung di atas langit ibu kota, menumpahkan butiran air hujan yang berdentam ritmis di atas atap mobil SUV hitam milik Satria. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat merayap sebelum akhirnya Bu Reni yang duduk di kursi baris kedua memajukan tubuhnya, menopang lengan di sandaran kursi depan tempat suaminya, Ayah Isa, berada.
"Satria, Ibu ini beneran sudah tidak tahan ingin cepat-cepat memeluk Rafka," ujar Bu Reni dengan binar mata kerinduan yang amat kentara. "Kangennya sudah sampai ke ubun-ubun. Oh iya, Ibu juga sengaja membawa oleh-oleh spesial dari Yogyakarta untuk Jeng Dania dan Mas Farrel. Ada bakpia patuk legendaris yang masih hangat sama kain batik tulis halus. Bagaimana kalau kita mampir sebentar dulu ke rumah besan sebelum ke rumahmu? Ibu mau mengantarkan oleh-oleh ini sekalian menjemput cucu Ibu."
Mendengar permintaan ibunya, jemari kokoh Satria yang mencengkeram kemudi tampak mengetat samar. Sepasang mata tajamnya melirik ke arah kaca spion tengah. Di baris paling belakang, Ingrid tampak duduk dengan tenang sembari merapikan tas kecilnya, sesekali melemparkan senyuman manis ke arah depan.
Sebenarnya, ada sebuah misi penting yang sejak tadi berkecamuk di dalam kepala sang Mayor. Satria ingin terlebih dahulu bicara secara empat mata kepada kedua orang tuanya mengenai niat sucinya. Ia ingin menjelaskan secara resmi bahwa ia secara tidak langsung sudah mengutarakan niat untuk meminang Keisha, adik iparnya sendiri. Satria sadar, memboyong kedua orang tuanya langsung ke rumah mertua tanpa adanya pengondisian awal dan pembicaraan internal keluarga besarnya sendiri bisa memicu bom waktu canggung, apalagi kini ada Ingrid di tengah-tengah mereka.
"Ibu, Ayah," sahut Satria dengan suara beratnya yang tenang namun penuh wibawa. "Sebaiknya kita terlebih dahulu ke rumahku saja. Perjalanan dari bandara cukup melelahkan, dan barang bawaan Ibu serta Ayah sangat banyak. Kita rapikan koper-koper dulu di rumah, setelah itu baru kita bersama-sama menuju rumah Ayah Farrel untuk makan malam. Atau, besok saja kita datang ke sana."
Ayah Isa yang sejak tadi menyimak langsung mengangguk setuju, memahami garis komando tak tertulis dari anak laki-lakinya. "Benar kata Satria, Bu. Kita bersihkan badan dulu saja di rumah Satria. Kasihan juga Ingrid kalau harus langsung ikut berputar-putar membawa koper besar."
Ingrid yang namanya disebut langsung menyahut dengan nada suara yang teramat lembut dan sopan. "Iya, Bude. Ingrid ikut bagaimana baiknya Kak Satria dan Pakde saja. Ingrid juga sekalian mau merapikan pakaian."
Bu Reni akhirnya mengalah. "Ya sudah kalau begitu. Kita ke rumahmu dulu, Satria."
***
Satu jam membelah kemacetan, SUV hitam itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elite di daerah Jakarta Timur. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah berdesain minimalis modern yang megah, dengan pagar besi hitam menjulang tinggi dan halaman depan yang ditumbuhi rumput hijau rapi.
Begitu mesin mobil mati, gerbang kecil di samping garasi terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian daster rapi berlari kecil membawa payung besar untuk menyambut mereka. Itu Bik Nini, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun setia menjaga rumah pribadi Satria sejak almarhumah Vania masih ada.
"Selamat sore, Bapak, Ibu ... Den Satria," sapa Bik Nini dengan membungkuk hormat penuh kesopanan begitu Satria membukakan pintu mobil untuk orang tuanya. "Aduh, mari-mari masuk, Bu. Di luar masih gerimis."
"Sore, Bik Nini. Wah, rumahnya resik sekali ya, selalu rapi kalau Satria yang tinggal," puji Bu Reni sembari melangkah masuk ke dalam area teras yang luas.
Sementara Satria sibuk menurunkan koper-koper besar dari bagasi belakang bersama Ayah Isa, Ingrid melangkah turun dari mobil dengan gerakan yang sengaja dibuat seanggun mungkin. Begitu kedua kakinya menapak di lantai teras dan matanya menyapu seluruh arsitektur rumah mewah berlantai dua milik Satria, gadis itu seketika terpaku.
Mulutnya agak terbuka, matanya bergerak takjub menatap pilar-pilar kokoh, dinding marmer yang berkilau, serta jejeran mobil di dalam garasi. Rumah ini beneran luar biasa mewah, sangat jauh berbeda dengan rumah joglo sederhana miliknya di kampung halaman di Yogyakarta. Di dalam benak Ingrid, sosok Satria tidak hanya naik kasta menjadi seorang perwira gagah, melainkan juga seorang pria mapan dengan kekayaan yang luar biasa.
Ingrid membalikkan tubuhnya perlahan, memandang ke arah Satria kembali. Tatapan mata indahnya sore itu penuh dengan makna tersirat—sebuah binar kekaguman yang bercampur dengan ambisi samar yang mulai tumbuh di dasar hatinya. Laki-laki sekokoh dan semapan Satria beneran merupakan sosok suami idaman sejati bagi perempuan mana pun.
"Bik Nini, tolong bantu Ingrid bawakan koper kecilnya ke kamar tamu di lantai bawah," perintah Satria datar tanpa melirik ke arah Ingrid sedikit pun. Ia berjalan melewati gadis itu begitu saja sembari memanggul dua koper besar milik ibunya dengan tenaga yang luar biasa.
"Baik, Den," sahut Bik Nini cekatan.
Bersambung...