NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - KERJASAMA PERTAMA

Anak panah buatan Luna yang menancap tepat di engsel lutut sang pemburu senyap membuat makhluk kurus itu tersungkur kaku di atas aspal pelataran SPBU. Namun, belum sempat Steve melangkah maju untuk menyelesaikan sasarannya, gesekan Dahan pepohonan peneduh di atas kepala mereka kembali berderit nyaring.

Dua bayangan hitam bertubuh meliuk—jenis 'Kunti Enoki'—meluncur turun dari kerimbunan pohon, sementara dua zombie terinfeksi cepat—'Toge Mentah'—menerobos keluar dari celah pintu kaca minimarket yang hancur, berlari kencang menerjang ke arah pelataran.

"Tiga kontak tambahan mendekat cepat! Dua dari dahan kanan, dua dari arah minimarket!" jerit Nancy dari atas bak truk seraya memantau pergerakan inframerah di layar tabletnya.

"Rapatkan barisan! Jangan biarkan mereka memecah posisi kita!" perintah Luna tegas seraya menarik tali busur recurve-nya tinggi-tinggi.

Steve melangkah dua meter ke depan, berdiri kokoh di barisan paling depan sebagai perisai utama kelompok. Pria berbadan tegap itu mencengkeram erat pegangan pipa besi tebalnya, menatap lurus dua 'Toge Mentah' yang meluncur kencang ke arahnya.

"Sini kalian, makhluk jelek!" seru Steve seraya memutar pinggulnya kencang.

BASHHH!

Ayunannya yang bertenaga memutar seratus delapan puluh derajat menghantam tepat pada rahang zombie terdepan. Benturan keras itu mematahkan leher lawan seketika, melemparkan tubuh terinfeksi itu melayang menghantam tiang dispenser pengisian BBM.

Di saat bersamaan, salah satu pemburu senyap yang baru turun dari pohon merayap cepat di atas tanah, mengincar posisi Onad yang berdiri di dekat kran buangan truk tangki.

"Aduh, Kunti! Muka Eke mahal, jangan disentuh!" jerit Onad kaget seraya mengelak tangkas ke kiri.

Dengan gerakan meliuknya yang lentur, Onad menyambar sebatang kunci inggris raksasa sepanjang setengah meter dari sabuk perkakasnya, lalu mengayunkannya menghantam tempurung lutut sang pemburu senyap.

PRANGGG!

"Rasakan itu paku tumit buatan Eke!" seru Onad seraya terkekeh riang dari balik kacamata merahnya.

Namun, zombie pemburu senyap kedua membalas melompat dari balik bayangan roda truk tangki, meluncur cepat menyasar bahu Endru yang sedang berlutut memegang jeriken.

"Endru, jam tiga!" teriak Nancy memperingatkan dari atas bak truk.

Endru mendongak cepat. Di dalam pecahan detik yang menentukan itu, rasa takut yang biasanya melumpuhkan sarafnya mendadak lenyap digantikan oleh ingatan petunjuk latihan Steve kemarin sore. *Putar pinggul, dorong bahu, salurkan tenaganya menembus target!*

Pemuda berkacamata tebal itu tidak lagi gemetaran. Ia menegakkan kuda-kudanya di atas lantai semen, memegang erat pegangan karet pipa besi hollow-nya dengan kedua telapak tangan, lalu mengayunkan besi itu dalam satu dorongan pinggul yang sangat presisi.

BASHHH!

Ujung pipa besi hollow Endru menghantam telak bagian pelipis pemburu senyap tersebut tepat di udara sebelum cakar makluk itu menggapai bahunya. Hantaman bertenaga itu memecahkan corong jamur di kepala zombie, melemparkannya tersungkur kaku di atas aspal berdebu.

Endru berdiri tegap dengan napas memburu, menatap pipa besi di tangannya dengan binar mata yang memancarkan rasa tidak percaya sekaligus kebanggaan murni.

"Aku... aku berhasil memukulnya!" bisik Endru dengan senyum lebar yang terkembang tulus.

"Kerja bagus, Endru! Pertahankan posisimu!" puji Steve terbahak senang seraya menahan ayunan zombie 'Toge Mentah' kedua menggunakan pipa besinya.

BSSST!

Sebuah anak panah meluncur deras melintasi bahu Steve, menembus tepat pada dahi zombie yang ditahan Steve tanpa melukai pria tegap itu sedikit pun. Luna yang berdiri di sudut atas roda truk tangki menarik anak panah berikutnya dengan kecepatan tembak yang sangat luar biasa.

"Nancy, bagaimana radar pergerakan di sekitar jalan utama?" panggil Luna seraya menyapu pengamatannya ke sekeliling pelataran.

"Sektor luar bersih, Luna! Tidak ada sinyal pergerakan tambahan dalam radius lima puluh meter!" sahut Nancy cepat seraya memeriksa pemetaan digital di tabletnya.

Steve memutar pipa besinya, menginjak dada zombie terakhir yang tersungkur di atas semen, lalu mengamati sekeliling pelataran SPBU yang kini kembali diliputi keheningan malam yang damai.

Tujuh bangkai zombie terinfeksi terkapar kaku di atas tanah, sementara kelima penyintas berdiri tegap di posisi peranan masing-masing tanpa ada satu pun yang mengalami luka gores atau gigitan.

Onad merosot terduduk di atas jeriken besi, menghembuskan napas panjang yang amat lega seraya mengusap peluh di keningnya pakai kain lap kotor.

"Gusti nu agung... jantung Eke rasanya mau melompat keluar dari dada!" jerit Onad seraya memanyunkan bibirnya dramatis.

"Tapi jujur ya, kerja sama kita tadi keren banget tahu! Kayak adegan di film-film aksi kelas atas!" lanjut Onad seraya mengedipkan sebelah matanya centil.

Steve tertawa kencang, melangkah mendekati Endru lalu menepuk punggung pemuda itu dengan bangga hingga Endru agak terdorong ke depan.

"Ayunan pipa besimu tadi telak sekali, Ndru!" puji Steve seraya menyunggingkan senyum khasnya.

"Kuda-kuda dan putaran pinggulmu pas banget! Kamu benar-benar sudah jadi petarung medis yang tangguh sekarang!" tambah Steve jujur.

Nancy melompat turun dari bak truk, berjalan cepat mendekati Endru seraya memegang kedua telapak tangan pemuda itu dengan pandangan perhatian yang amat hangat.

"Kamu luar biasa tadi, Endru. Aku sangat bangga padamu," bisik Nancy lembut dari balik kacamatanya, menyuntikkan gelombang kehangatan emosional yang membuat wajah Endru merona merah.

Endru menunduk malu seraya membetulkan posisi kacamatanya, namun sudut bibirnya menyunggingkan senyum bahagianya yang paling tulus. "Ini semua berkat latihan dari Steve dan dukungan dari kalian semua, Nancy."

Luna melompat turun dari atas roda truk tangki dengan gerakan yang amat anggun, melangkah mendekati empat rekannya. Mantan taruna itu menyapu pandangan ke wajah seluruh anggota timnya satu per satu. Keberhasilan menaklukan serbuan zombie tanpa jatuh korban sedikit pun menjadi bukti nyata bahwa lima individu terisolasi ini telah menjelma menjadi sebuah unit penyintas yang sangat solid.

"Kalian semua melakukan tugas peranan dengan sangat sempurna," kata Luna dengan vokal mantap dan penuh kehangatan kepemimpinan.

"Steve menahan garis depan, Nancy memberikan navigasi intelijen presisi, Endru dan Onad melindungi posisi logistik, dan kita menyelesaikan pertempuran ini tanpa ada satu pun anggota yang terluka," paparnya merangkum kemenangan pertama mereka.

Onad berdiri dari jerikennya, mengibaskan sarung tangan merahnya dengan gaya panggung yang kocak.

"Nah, karena monster-monster kotor itu sudah kita bikin jadi tumisan jamur, sekarang saatnya mobil ganteng Eke minum solar sepuasnya!" seru Onad riang.

Onad dan Endru dengan cepat kembali memasang selang spiral ke kran buangan truk tangki merah putih. Menggunakan pompa tangan rakitan buatan Onad, cairan solar jernih berwarna keemasan mulai mengalir deras menembus selang transparan, mengisi empat jeriken besi kapasitas lima puluh liter hingga penuh melimpah.

Setelah empat jeriken terisi penuh dan diikat kencang di bak belakang truk, Onad menyedot sisa solar langsung ke dalam tangki utama kendaraan tempurnya.

BRRRUMMM! BRRRUMMM!

Saat Onad memutar kunci kontak di dalam kabin pengemudi, raungan mesin diesel berturbo truk pick-up rakitan itu kembali melengking nyaring dan stabil, menyemburkan asap tipis yang menandakan kendaraan mereka telah siap kembali menembus jalanan.

"Mobil ganteng Eke sudah kenyang dan siap meluncur kapan saja, Komandan!" teriak Onad gembira dari balik jendela kabin.

Steve, Nancy, dan Endru melompat naik ke atas bak truk, disusul oleh Luna yang berdiri tegap di sudut barikade baja. Kemenangan sempurna tanpa korban di SPBU Distrik Barat ini tidak hanya mengisi kembali tangki bahan bakar mereka, tetapi juga menancapkan rasa percaya diri dan ikatan kekeluargaan yang tak teroyahkan di dalam jiwa kelima pahlawan ini.

"Kita bergerak menuju target logistik berikutnya," perintah Luna tegas seraya menatap lurus ke arah jalan raya di depan.

Dengan raungan mesin yang bertenaga dan semangat kebersamaan yang membara, truk berlapis baja itu kembali melaju melintasi Kota Mati Cordyceps, siap menyongsong setiap rintangan baru yang menanti di hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!