Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EXPLOSIVE RAGE
Siska yang emosinya udah di ubun-ubun langsung melotot ke arah lapangan samping. Dia berteriak, "Woi! Siapa sih yang main bola sampai kena kepala temen gue? Matanya ditaruh di mana, hah?! Nggak ada adab banget!"
Di tengah lapangan basket, Rian membeku. Dunianya seolah berhenti berputar pas dia liat Arini meringis kesakitan dari kejauhan. Insting pelindungnya yang selama ini cuma muncul lewat "penerawangan" kini meledak jadi aksi nyata.
"Yan! Itu Arini kenapa, Woii?" teriak gery
Tanpa jawab sepatah kata pun, Rian ngelempar bola basketnya asal—nggak peduli bola itu menggelinding ke mana—dan lari sekencang mungkin ngelewatin lapangan.
" Rin! Rin, hey! Kamu kenapa?" tanya Rian dengan napas terengah-engah. Wajahnya bener-bener nunjukin kawatir.
"Dia kena bola tadi, kepalanya terbentur keras banget! Parah banget sumpah!" sahut Siska penuh emosi, tangannya sibuk nyari minyak kayu putih di tas.
Rian nyentuh tangan Arini yang masih nutupin kepalanya dengan lembut banget, seolah takut Arini bakal pecah kalau ditekan. "Ada yang sakit ga? Pusing nggak? Aku cari pelakunya sekarang!" ucap Rian. Suaranya mendadak berubah jadi dingin, tajam, dan penuh ancaman.
"Nggak usah, Rian... aku nggak apa-apa, cuma kaget aja tadi," ucap Arini lirih. Dia nyoba nahan lengan Rian yang ototnya udah menegang karena nahan amarah.
Tapi Rian udah lost control. Matanya nemu bola futsal yang masih tergeletak di deket kaki Arini.
Dengan gerakan gesit, dia nyambar bola itu dan jalan cepat menuuju segerombolan siswa di lapangan samping yang lagi akting pura-pura nggak tau, padahal mereka semua lagi ketakutan.
"Rian! Rian, sudah nggak usah!" teriak Arini, tapi suaranya tenggelam sama deru amarah Rian.
"Aduh, bahaya nih! Bisa ribut besar, vibes-nya udah kayak mau tawuran. Rin, ayo samperin!" ajak Siska panik. Arini, Yusa, dan Siska pun lari ngejar Rian.
Rian berdiri tegak di depan sekelompok siswa kelas sebelas itu. Dia ngelempar bola futsal tadi ke tengah-tengah mereka dengan tenaga penuh. Bugh!
"Woi! Siapa yang lempar bola ini tadi?!" gertak Rian. Suaranya menggelegar, bikin suasana lapangan yang tadinya berisik langsung hening seketika.
Salah satu siswa maju dengan wajah pucat pasi, badannya gemetar "Ma... maaf, Yan. Gue... gue nggak sengaja, sumpah... tadi kepeleset pas nendang..." ucapnya terbata-bata.
Mata Rian berkilat penuh emosi. "Nggak sengaja? Kalau nggak sengaja, kenapa nggak langsung samperin korbannya dan minta maaf? Lo tahu nggak, bola lo itu kena kepala orang yang gue suka, anj—!"
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang siswa itu. Rian bener-bener blinded by rage. Dia menghujani siswa itu dengan pukulan sampai lawannya tersungkur dengan muka babak belur. Emosi yang udah dia tahan sejak liat Yusa caper di kantin tadi seolah nemu jalan keluarnya di sini.
"Rian, sudah! Stop!" Arini dateng dan langsung meluk lengan Rian dari belakang, berusaha sekuat tenaga narik cowok itu ngejauh. "Rian, aku nggak apa-apa! Tolong berhenti!"
Arini kemudian megang kedua sisi wajah Rian, maksa cowok itu buat natap matanya biar amarah nya reda. Pas mata mereka ketemu, napas Rian yang tadinya buru-buru perlahan mulai stabil.
Tapi telat. Kerumunan siswa tiba-tiba terbelah. Seorang pria paruh baya berkacamata maju dengan wajah merah padam. Pak Kepala Sekolah.
"Ada apa ini ramai-ramai?! Astaga, kamu kenapa sampai babak belur begini?" tanya beliau murka liat siswa yang terkapar di tanah.
"Ini... ini karena Rian, Pak," jawab siswa itu sambil ngeringis megangin lebamnya.
Kepala Sekolah natap Rian tajam banget. "Rian! Ikut bapak ke kantor sekarang juga!"
Arini panik, dia mau pasang badan. "Pak, tapi tadi dia yang—"
Rian nahan bahu Arini, menggelengkan kepala "Sudah, nggak apa-apa. Biar aku hadapi sendiri ya? Kamu masuk kelas aja, jangan sampai kena masalah juga," ucap Rian dengan nada yang balik lembut,
"Tapi, Rian... kamu begini karena ngebela aku," ucap Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Rin, udah. Nggak usah ikut campur. Daripada ikut kena masalah ke ruang Kepsek, mending masuk kelas sekarang. Ayo," ajak Yusa sambil narik tangan Arini, nyoba manfaatin keadaan buat misahin mereka.
Arini natap Yusa nggak suka.
Siska nengahin, "Heh, lu semua! Udah bubar, malah pada nonton lagi".
Arini terpaksa melangkah, tapi matanya terus natap punggung Rian yang jalan ngikutin Kepala Sekolah dari belakang. Yang akhirnya Arini mengikuti mereka
Suasana koridor menuju kantor Kepala Sekolah kerasa dingin. Arini jalan terburu-buru, bodo amat sama teriakan Siska atau tarikan Yusa.
Jantungnya deg-degan rasanya bersalah banget. Dia sampai di depan pintu kayu jati yang kokoh itu.
Setelah narik napas dalam buat ngumpulin keberanian, dia ngetok.
Tok! Tok! Tok! "Permisi, Pak..."
Di dalem ruangan yang bau kopi dan buku tua itu, Rian berdiri tegak depan meja besar. Ekspresinya datar, nggak ada takut-takutnya, padahal lagi di depan orang paling berkuasa di sekolah.
"Arini? Sedang apa kamu di sini?" tanya Kepala Sekolah heran.
"Saya mau menemani Rian, Pak," jawab Arini tegas,
Rian nengok, matanya membelalak kaget. "Rin, sudah... aku tidak apa-apa sendiri. Masuk kelas saja, aku nggak mau kamu terlibat," bisik Rian.
"Nggak mau, Rian! Aku mau nemenin kamu. Ini semua terjadi karena aku!" Arini tetep keukeuh. Dia berdiri di samping Rian, nunjukin kalau dia nggak bakal biarin Rian sendirian.
Kepala Sekolah menghela napas panjang. "Rian, apa yang kamu lakukan tadi bener-bener out of control. Kamu buat adik kelasmu babak belur. Bapak nggak bisa biarin kekerasan begini tanpa sanksi. Mulai besok, bapak jatuhkan sanksi skors selama satu minggu untukmu."
Hening. Rian cuma diem, nerima keputusan itu seolah udah dapet spoiler dari ramalannya sendiri.
"Pak, tolong jangan skor Rian!" seru Arini tiba-tiba, suaranya naik satu oktav karena panik. "Ini semua salah saya, Pak. Rian melakukan itu karena membela saya. Saya yang terkena bola tadi, dan Rian cuma refleks belain saya!"
Kepala Sekolah natap Arini serius. "Arini, lebih baik kamu nggak usah ikut campur. Keputusan bapak sudah bulat. Atau... kamu mau bapak skor juga bareng dia?"
Denger ancaman itu, Rian nggak bisa diem lagi. Dia langsung berdiri tegak, ngeraih pergelangan tangan Arini, dan narik lembut tapi kuat buat ngejauh dari meja itu. "Ayo, Rin, kita keluar. Permisi, Pak," ucap Rian singkat tanpa nunggu izin lagi.
Begitu di luar ruangan, Rian natap Arini "Kenapa kamu nekat banget sih, Rin? Aku nggak mau kamu kenapa-napa, apalagi kena masalah sama Kepsek."
"Aku nggak peduli, Rian! Aku merasa bersalah. Karena aku, kamu harus di skors" jawab Arini, air matanya mulai jatuh.
Rian senyum tipis, terus ngapus air mata Arini pakai ibu jarinya. "ini bukan salah kamu Jangan nangis. Seminggu itu sebentar. Lagian, aku sudah meramal ini bakal terjadi. Yang penting sekarang kamu aman, dan nggak ada yang berani macem-macem lagi sama kamu selama aku nggak ada."
Arini makin ngerasa kalau Rian bener-bener cowok paling heroic yang pernah dia temuin, meskipun caranya rada bar-bar. " Terima kasih ya, Rian. Maafin aku..."
"Sama-sama, Arini . Jangan minta maaf terus, mending sekarang aku antar kamu ke kelas ya?" ajak Rian sambil genggam tangan Arini erat, nggak peduli sama pandangan siswa lain di koridor.