NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piknik Kantor dan Musuh Bersama

Sabtu pagi di Kebun Raya Bogor seharusnya menjadi pelarian yang menenangkan dari hiruk-pikuk tumpukan dokumen di kantor. Namun bagi Sinta, hamparan rumput hijau dan pepohonan rindang itu justru terasa seperti medan perang yang penuh dengan ranjau darat. Udara pegunungan yang sejuk gagal mendinginkan suhu tubuhnya yang mendidih karena gelisah.

Penyebabnya sederhana, namun mematikan: Family Gathering tahunan perusahaan. Peraturan tahun ini sangat spesifik—setiap karyawan wajib membawa pasangan atau anggota keluarga inti. Bagi dunia, Sinta adalah kekasih Adrian, sang manajer divisi yang tampan dan karismatik. Namun, di atas kertas negara yang tersimpan rapi di laci apartemennya, Sinta adalah istri sah dari Jingga, pria ketus yang sekarang sedang berdiri lima meter darinya sambil menggandeng Luna.

"Sinta, kamu melamun? Air mukamu pucat sekali," suara bariton Adrian memecah lamunan Sinta. Adrian mengusap bahu Sinta lembut, sebuah gestur sayang yang biasanya membuat Sinta merasa aman, namun kali ini justru membuatnya ingin menghilang ke dalam tanah.

"Eh? Enggak, Mas Adrian. Cuma sedikit pusing, mungkin karena perjalanan tadi," jawab Sinta sambil memaksakan senyum paling manis yang ia punya.

Di seberang sana, mata Sinta tidak sengaja bertubrukan dengan mata Jingga. Pria itu mengenakan kaos polo navy yang senada dengan dress bunga-bunga milik Luna. Jingga tampak kaku, lebih kaku dari biasanya. Setiap kali Luna tertawa dan bergelayut di lengannya, Jingga akan melempar tatapan tajam ke arah Sinta—tatapan yang seolah berkata, 'Lu liat kan betapa menderitanya gue sekarang?'

Sinta membalasnya dengan pelototan singkat sebelum kembali fokus pada Adrian. Mereka berempat, bersama puluhan karyawan lainnya, berkumpul di area clover lawn untuk pembukaan acara oleh Pak Direktur.

"Baik, semuanya! Sebelum kita mulai lomba-lomba seru, kita akan melakukan ice breaking berpasangan!" teriak pembawa acara dengan semangat yang menyakitkan telinga. "Silakan berdiri berhadapan dengan pasangan masing-masing!"

Sinta berdiri berhadapan dengan Adrian. Tangan Adrian melingkar di pinggangnya. Di saat yang sama, tepat di sebelah kiri mereka, Jingga dan Luna melakukan hal yang sama. Posisi mereka begitu dekat hingga Sinta bisa mencium aroma parfum maskulin Jingga yang bercampur dengan bau sabun bayi yang biasa dipakai Luna.

"Jingga, lihat deh, Sinta dan Pak Adrian serasi banget ya?" celetuk Luna dengan polosnya. Luna adalah tipe wanita yang terlalu baik untuk disakiti, dan itu membuat rasa bersalah Sinta berlipat ganda.

Jingga berdeham, suaranya terdengar seperti gesekan amplas. "Iya, serasi. Seperti sandal jepit yang beda sebelah."

Sinta mendengus pelan. "Maksud kamu apa, Jingga?"

"Oh, maksud saya... unik," ralat Jingga cepat saat melihat dahi Adrian berkerut. "Maksud saya, hubungan yang dinamis antara atasan dan bawahan itu unik."

Adrian tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan yang memercik di antara bawahannya itu. "Jingga memang selalu punya cara unik untuk memuji, ya. Kamu sendiri dan Luna juga terlihat sangat harmonis."

Permainan pertama dimulai. Mereka harus menjepit balon di antara dahi pasangan dan berjalan menuju garis finis. Sinta dan Adrian bergerak dengan elegan, namun Sinta terus-menerus terdistraksi oleh suara gaduh di sampingnya. Jingga dan Luna terus menjatuhkan balon mereka karena Jingga tampak enggan menempelkan dahinya terlalu dekat.

"Jingga! Ayo dong, fokus! Masa kita kalah sama Sinta dan Pak Adrian?" rengek Luna lucu.

"Sabar, Lun. Ini balonnya licin," gerutu Jingga. Matanya melirik Sinta yang sedang tertawa kecil menanggapi candaan Adrian. Ada gurat kekesalan yang aneh di wajah Jingga saat melihat tangan Adrian menyeka keringat di pelipis Sinta.

Setelah sesi ice breaking yang melelahkan fisik dan mental, acara dilanjutkan dengan makan siang prasmanan. Di sinilah bencana berikutnya terjadi. Meja makan diatur secara melingkar, dan entah karena konspirasi alam atau kecerobohan panitia, label nama mereka berempat diletakkan di satu meja panjang yang sama.

Sinta duduk di antara Adrian dan Luna. Jingga duduk tepat di depan Sinta.

"Sinta, ini cobain rendangnya. Katanya ini menu andalan di sini," Adrian meletakkan sepotong daging ke piring Sinta.

"Makasih, Mas," gumam Sinta.

"Eh, Jingga, kamu nggak mau makan udangnya? Kamu kan suka banget udang asam manis," Luna hendak mengambilkan udang untuk Jingga.

"Nggak usah, Lun. Gue... maksud aku, lagi nggak pengen udang," tolak Jingga cepat.

Sinta hampir tersedak nasinya. Dia tahu persis kenapa Jingga menolak. Semalam, di apartemen, mereka baru saja berdebat hebat soal siapa yang menghabiskan stok udang di kulkas, dan berakhir dengan Jingga yang alergi ringan karena makan udang yang sudah tidak segar. Sinta adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa saat ini di punggung Jingga pasti ada gatal-gatal yang tersembunyi di balik kaos mahalnya itu.

"Kenapa? Kamu sakit, Jingga?" tanya Adrian memperhatikan wajah Jingga yang agak memerah.

"Enggak, Pak. Cuma gerah saja," Jingga melonggarkan kerah kaosnya.

Sinta menendang kaki Jingga di bawah meja. Sebuah kode agar pria itu berhenti bertingkah aneh sebelum ada yang curiga. Namun, sialnya, tendangan Sinta meleset. Alih-alih mengenai tulang kering Jingga, kakinya justru mendarat di sepatu pantofel mahal milik Adrian.

"Aduh," Adrian tersentak.

"Eh! Maaf, Mas! Ada semut... iya, tadi ada semut besar lewat di bawah meja, aku kaget," bual Sinta dengan wajah merah padam.

Jingga hampir saja menyemburkan air mineral yang sedang diminumnya. Dia menunduk, mencoba menyembunyikan senyum kemenangan melihat Sinta yang gelagapan.

Suasana makan siang itu terasa seperti sedang duduk di atas bom waktu. Luna terus bercerita tentang betapa romantisnya Jingga saat menjemputnya tadi pagi, sementara Adrian sesekali membicarakan rencana liburan mereka berdua ke Bali bulan depan. Sinta merasa seperti penipu ulung. Dia mendengarkan rencana liburan Adrian, padahal setiap malam dia melihat Jingga memakai celana pendek longgar dan kaos kutang sambil berebut remote TV dengannya.

Puncaknya adalah saat sesi pengumuman "Pasangan Terkompak" berdasarkan poin permainan tadi pagi.

"Dan pemenangnya adalah... Pasangan Pak Adrian dan Mbak Sinta!" teriak MC.

Semua orang bertepuk tangan. Adrian berdiri dan dengan bangga merangkul bahu Sinta. Sinta terpaksa berdiri, mencoba mengabaikan tatapan tajam Jingga yang seolah ingin melubangi kepalanya.

"Selamat ya, Sinta, Pak Adrian," ucap Luna tulus sambil menyalami mereka.

Saat giliran Jingga yang menyalami, dia menggenggam tangan Sinta sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada tekanan yang tidak biasa dalam jabat tangan itu. "Selamat, Sin. Akting... maksud saya, kekompakan kalian memang luar biasa. Benar-benar terlihat seperti sudah hidup bersama bertahun-tahun."

Sinta menarik tangannya dengan kasar. "Terima kasih, Pak Jingga. Semoga Bapak juga bisa lebih 'kompak' dengan pasangannya, biar nggak kalah terus."

Adrian tertawa, menganggap itu hanya sekadar gurauan antar rekan kerja. "Sudah, sudah. Yuk, kita foto bareng dulu di depan pohon beringin itu. Katanya kalau foto di sana hubungannya bakal awet."

Mereka berempat berjalan menuju pohon besar di tengah kebun. Sinta berdiri di samping Adrian, sementara Jingga di samping Luna. Namun, fotografer kantor mulai mengatur posisi agar terlihat lebih estetik.

"Pak Adrian dan Mbak Sinta di tengah ya. Mas Jingga dan Mbak Luna agak mepet ke kiri. Yak, lebih dekat lagi! Mas Jingga, rangkul dong Mbak Luna-nya, jangan kaku begitu!" perintah fotografer.

Jingga merangkul Luna, namun matanya tetap tertuju pada tangan Adrian yang kini berpindah ke pinggang Sinta, menarik wanita itu hingga menempel di dadanya. Sinta bisa merasakan jantungnya berdegup kencang—bukan karena cinta pada Adrian, tapi karena rasa takut yang luar biasa jika salah satu dari mereka mengeluarkan kata-kata yang salah.

Di tengah sesi foto, sebuah suara melengking memecah suasana.

"LHO! SINTA! JINGGA! Kok kalian ada di sini barengan?!"

Sinta dan Jingga serentak menoleh. Jantung Sinta rasanya berhenti berdetak. Di sana, di antara kerumunan pengunjung umum Kebun Raya, berdirilah Jeng Lastri—ibunda Jingga—lengkap dengan kacamata hitam dan topi pantai lebarnya.

Dunia Sinta mendadak runtuh. Jika Ibu Jingga mendekat dan memanggil mereka "Anak-Menantu" di depan Adrian dan Luna, maka karir, hubungan, dan hidup mereka benar-benar akan tamat hari ini juga.

Jingga langsung melepaskan rangkulannya dari Luna dan berdiri tegak, wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu di siang bolong. Sementara Sinta, dia hanya bisa membeku, berdoa agar bumi tiba-tiba terbelah dan menelannya bulat-bulat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!