NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Medioker? No!

Suasana restoran privat itu begitu elegan dengan pencahayaan temaram, namun bagi Nathaniel, udara di sekitarnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Ia duduk tegak, mempertahankan postur formalnya, sementara Noah tampak berusaha mencairkan suasana dengan senyum ramahnya yang khas.

"Noah, bagaimana rasanya menjalankan bisnis automotive di usia muda? Tantangannya pasti berbeda dengan industri ritel kami," tanya William sambil memotong steaknya dengan santai.

Noah segera meletakkan garpunya, tampak antusias. Ia menjelaskan rintangan tentang rantai pasokan global, tren kendaraan listrik, hingga keseruan mengelola tim desainer yang idealis. Penjelasannya lugas, menunjukkan bahwa ia memang bukan sekadar "anak pemilik" yang berpangku tangan.

William mengangguk-angguk, tampak terkesan. Namun, senyumnya kemudian beralih ke arah Nathaniel yang duduk di sampingnya.

"Ayahmu beruntung, Noah. Anaknya mau secara sukarela mewarisi takhta," ucap William dengan nada suara yang dalam. Ia kemudian melirik Nathaniel dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.

"Berbeda dengan anak laki-lakiku yang satu ini. Dia malah mau menjadi lentera buat adiknya. Padahal, Nathaniel ini sudah sangat siap dan mahir untuk menjadi penerusku kapan pun aku mau pensiun."

Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Noah. Ia sempat mengira Nathaniel hanyalah asisten kepercayaan atau manajer senior yang overprotektif, namun penegasan William yang menyebut Nathaniel sebagai "anak laki-laki" dan "penerus" benar-benar memperjelas posisi pria itu di dinasti Sinclair.

Nathaniel tertegun. Ia menundukkan kepala sejenak, menatap piringnya dengan perasaan yang berkecamuk. "Tuan William terlalu berlebihan. Saya hanya menjalankan tugas saya sebaik mungkin," jawab Nathaniel rendah hati, meski hatinya terasa hangat sekaligus terbebani oleh ekspektasi sebesar itu.

Alessia yang duduk di seberang mereka menyenggol lengan Noah pelan sambil berbisik jenaka, "Hati-hati, Noah. Sainganmu untuk mendapatkan pujian Ayah itu levelnya sudah expert."

Noah tertawa canggung, namun matanya kini menatap Nathaniel dengan rasa hormat yang baru. "Saya mengerti sekarang kenapa Sinclair Mall begitu kokoh. Memiliki 'lentera' seperti Kak Nathaniel memang sebuah keunggulan yang tidak dimiliki Maverick Automotive."

Rosetta tersenyum, menyadari betapa William sengaja menegaskan posisi Nathaniel malam ini, sebuah pesan tersirat bagi Noah agar tidak main-main, baik dalam bisnis maupun jika ia memiliki niat pribadi terhadap Alessia. Di meja itu, Nathaniel bukan sekadar karyawan; dia adalah pilar utama yang tak tergoyahkan.

———

Suasana di lorong toilet yang tenang itu mendadak terasa dingin. Nathaniel berhenti melangkah, membiarkan pantulan dirinya di cermin besar menatap Noah yang berdiri dengan raut wajah serius. Kata-kata Noah barusan bukan sekadar pengakuan, tapi sebuah tantangan terbuka.

"Kak... aku menyukai Alessia," ucap Noah tanpa ragu.

Nathaniel memutar tubuhnya perlahan, melipat tangan di depan dada. Tatapannya tajam, menyelidik setiap inci kejujuran di wajah pria muda itu. "Lalu, apa kamu serius dengannya?" tanya Nathaniel, suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Iya. Aku pernah menyukainya beberapa tahun lalu saat kami masih di Amerika, dan aku bahkan pernah mengutarakannya secara langsung. Tapi... dia menolakku saat itu," jelas Noah dengan helaan napas pendek, seolah mengenang kegagalan yang masih terasa sedikit perih.

Alis Nathaniel bertaut. Ini informasi baru baginya. Alessia tidak pernah bercerita soal pernyataan cinta Noah di masa lalu. "Menolak karena apa?" tanya Nathaniel dingin.

Noah tersenyum tipis, sebuah senyum kecut yang penuh rasa hormat. "Katanya, dia belum bisa memercayai pria mana pun selain Ayah dan Kakaknya. Dia bilang, standar pria yang bisa menjaganya sudah dipatok terlalu tinggi oleh kalian berdua."

Noah terdiam sejenak, menatap Nathaniel lurus-lurus. "Setelah melihat bagaimana Tuan William menjaganya, dan bagaimana Kak Nathaniel menjadi 'lentera' yang selalu berdiri di depannya untuk menghalau badai... aku jadi sadar. Pantas saja Alessia memiliki standar yang setinggi itu. Sulit sekali menyaingi dedikasi kalian."

Nathaniel terdiam. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya mendengar alasan penolakan Alessia, namun di saat yang sama, ia merasakan beban tanggung jawab yang semakin besar. Alessia menjadikannya tolok ukur, sebuah cermin bagi pria mana pun yang ingin mendekatinya.

"Kalau kamu sudah tahu standarnya setinggi itu, kenapa masih mencoba?" tanya Nathaniel, kali ini tanpa nada sinis, melainkan sebuah pertanyaan tulus antar pria.

Noah menegakkan bahunya. "Karena aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang ketiga yang dia percayai. Aku tidak akan menyerah hanya karena standarnya tinggi, Kak."

Nathaniel menepuk bahu Noah sekali, cukup keras hingga Noah sedikit tersentak. "Buktikan lewat tindakan, bukan hanya lewat presentasi desain atau pujian di meja makan. Karena jika kamu mengecewakannya sekali lagi seperti kejadian kemarin... aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak punya kesempatan kedua."

Nathaniel melangkah pergi meninggalkan Noah yang terpaku, menyisakan keheningan di lorong itu. Di balik wajah kaku Nathaniel, ia kini tahu bahwa perjuangan Noah tidak akan mudah, karena ia sendiri tidak akan pernah menurunkan standar itu barang seinci pun.

Langkah kaki Nathaniel di koridor restoran yang sunyi itu mendadak melambat. Pengakuan Noah barusan seolah menjadi kunci yang membuka kotak pandora dalam ingatannya. Bayangan masa lalu yang selama ini ia kunci rapat kembali menghantamnya dengan keras.

Kejadian itu terjadi sekitar empat tahun lalu, saat Alessia masih duduk di bangku kuliah S1. Nathaniel teringat sore itu, ketika ia menjemput Alessia di area kampus dan mendapati gadis itu duduk di bangku taman sendirian. Bahunya berguncang hebat, wajahnya yang biasanya ceria sembab oleh air mata.

"Dia selingkuh, Kak... Dia bilang aku terlalu sibuk dengan urusan Sinclair sampai tidak punya waktu untuknya," isak Alessia saat itu, suaranya parau karena terlalu lama menangis.

Amarah yang dingin dan tajam seketika menyulut dada Nathaniel. Baginya, melihat Alessia menangis adalah sebuah penghinaan terhadap segala upaya perlindungan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Tanpa banyak bicara, ia menanyakan keberadaan pria itu.

Nathaniel menemukan pria itu di sebuah kafe dekat kampus, sedang tertawa bersama wanita lain seolah tidak ada hati yang baru saja ia hancurkan. Tanpa peringatan, Nathaniel melangkah maju. Tidak ada kata-kata formalitas, tidak ada negosiasi bisnis. Pukulan pertama mendarat tepat di rahang pria itu, disusul cengkeraman kuat pada kerah kemejanya yang membuat suasana kafe seketika tegang.

"Jika kamu tidak bisa menjaganya dengan hormat, jangan pernah berani menyentuh dunianya," desis Nathaniel saat itu, suaranya sangat rendah hingga hanya pria itu yang bisa mendengarnya di tengah keributan.

Kejadian itu berakhir dengan pria tersebut yang memohon ampun dan menghilang dari kehidupan Alessia selamanya. Sejak saat itu, Nathaniel bersumpah bahwa tidak akan ada lagi pria "medioker" yang boleh mendekati adiknya. Standar yang ia tetapkan bukan sekadar gengsi, tapi zirah untuk melindungi hati Alessia.

Nathaniel mengembuskan napas panjang, tersadar dari lamunannya. Ia menatap Noah yang masih berdiri di sana dengan ambisi di matanya.

"Dengarkan aku, Noah," ucap Nathaniel pelan namun sangat tajam. "Aku sudah pernah menghancurkan satu pria yang membuat Alessia menangis. Jangan biarkan dirimu menjadi yang kedua."

Tanpa menunggu balasan Noah, Nathaniel berbalik dan berjalan menuju meja makan keluarga Sinclair. Wajahnya kembali menjadi topeng porselen yang kaku, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia akan selalu menjadi benteng terakhir bagi Alessia, apa pun taruhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!