Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Perkara Pentol
Karman, Kardi, dan Yanto nyaris tersedak ludah mereka sendiri.
Bukan karena gertakan Gito yang galak, tapi karena rasa pentol itu yang memang kelewat nikmat.
Dagingnya empuk pol, kuahnya berasa ngaldu banget, dan teksturnya lumer di mulut.
Ketiga bocah itu saling pandang, lalu tanpa banyak omong, langsung menyikat habis sisa pentol di rantang.
Masa bodoh dari mana asal daging sapi ini. Kalaupun hasil curian, yang penting perut mereka kenyang dulu.
"Makan pelan-pelan," tegur Gito, sok menceramahi.
"Ibu juga nitip pesan. Bik Pon sama Mak Karman kan sering ngasih aku sama Mas Sigit sisa singkong rebus atau nasi kerak pas Nenek ngamuk. Nah, Ibu masak pentol daging ini khusus buat kalian berdua bawa pulang. Ibu bilang, jangan sampai bapak-bapak kalian tahu. Kalau sampai tahu, pasti malah dihabisin dewe, apalagi Bapakmu Karman, rakus tenan iku!"
Karman dan Kardi nyengir canggung. Bapak mereka, Kang Sardi, memang terkenal malas kerja tapi doyan makan. Mak Karman selalu mengalah demi anak-anak dan suaminya.
"Yowes, matur nuwun nang Ibumu yo, To. Ini rantangnya simpan disini aja dulu, nanti aku bawa pulang kalau sudah malam," bisik Karman sambil memeluk erat bagian bawah rantang yang masih berisi porsi utuh untuk ibunya.
Malam merayap perlahan. Suasana desa mulai sunyi.
Mak Karman sedang menimang anak bungsunya yang masih bayi saat Karman dan Kardi menyelinap masuk ke dalam kamar yang sempit. Dua bocah itu mengunci pintu dengan rapat, mematikan lampu tempel, dan membuka rantang susun itu dalam gelap.
"Mak, iki ada kiriman dari Budhe Sukma," bisik Karman, menyodorkan mangkuk seng berisi pentol daging sapi.
Mak Karman mengerutkan dahi. Di tengah temaram sinar bulan dari celah jendela, ia mencium aroma kaldu sapi yang sangat kuat. "Sukma? Istri Sutrisno? Ngasih makanan koyok ngene?"
"Iya, Mak! Pentol daging asli! Enak tenan!" Kardi ikut meyakinkan ibunya.
Rasa curiga sempat bersarang di benak Mak Karman, tapi perutnya yang keroncongan tak bisa diajak kompromi.
Seharian ia hanya makan nasi jagung campur parutan kelapa.
Perlahan, ia menyendok pentol itu. Menggigitnya sedikit.
Air mata Mak Karman seketika tumpah. Gurihnya daging sapi murni itu mengingatkannya pada masa kecilnya dulu sebelum menikah dengan Sardi yang pemalas.
Sudah bertahun-tahun lidahnya tak mengecap rasa seenak ini.
"Makan sing akeh, Mak," bisik Karman, ikut berkaca-kaca melihat ibunya menangis sambil mengunyah. "Budhe Sukma bilang, ini bales budi soal singkong rebus yang sering Mak kasih ke Sigit."
Hati Mak Karman mencelos. Selama ini ia mengira Sukma adalah ibu yang tak punya hati.
Tapi malam ini, lewat semangkuk pentol daging sapi, ia menyadari bahwa perempuan itu mulai berubah.
Esok harinya, musim panen jagung usai sudah. Warga desa mulai bersiap menyambut musim hujan.
Sukma memutuskan untuk tidak berdiam diri di rumah.
Pagi-pagi sekali, ia menggendong tenggok bambu di punggungnya, menggandeng Syaiful, dan mengajak Sinta mengekor di belakang.
"Kita mau ke mana, Bu?" Sinta bertanya lirih, tangannya menggenggam ujung daster ibunya erat.
"Cari kayu bakar sama daun pisang di kebon belakang. Sekalian jalan-jalan ben sehat," jawab Sukma riang.
Di tengah jalan setapak desa, Ningsih, istri Prapto yang terkenal bermulut ember, sedang bersandar di pagar bambu sambil memakan kuaci labu.
Matanya langsung menyapu penampilan Sukma yang jauh lebih bersih dan segar dari biasanya.
"Oalah, Mbakyu. Wes waras ta? Kok repot-repot nyari kayu bakar?" sindir Ningsih, tersenyum mengejek.
Bagi Ningsih, penampilan Sukma yang mulai bersih ini adalah bentuk pamer kekayaan dari uang ganti rugi sapi Kades Darman.
Sukma tak mempedulikan sindiran itu. Ia tahu Ningsih adalah jongos kesayangan Jamilah yang selalu siap menyebar gosip. "Iya, Ningsih. Nyari kayu sekalian cari keringat. Koen ndak ke sawah tah?"
Mata Ningsih membelalak, lalu ia mendekat dengan antusias. Hidungnya mengendus aroma gosip yang sedap.
"Eh, Mbakyu urung denger ta? Tadi subuh rumah Mbah Yem rame banget! Geger geden! Mak Karman dipukuli habis-habisan sama mertuanya. Kang Sardi malah nonton tok, malah ngasi gagang sapu ke emaknya!"
Langkah Sukma terhenti mendadak. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Dipukuli? Gara-gara apa?"
Ningsih menyemburkan kulit kuaci ke tanah. "Gara-gara makanan! Katanya Mak Karman ketahuan nyimpen pentol daging sapi enak tenan, terus dimakan dewe tanpa ngasih mertua sama suaminya. Sumi, ipare Mak Karman, sing ngadu! Dia ngintip Mak Karman makan pas tengah malam!"
Darah Sukma mendidih. Pentol daging sapi? Itu pasti pemberiannya semalam!
Tanpa banyak bicara, Sukma memutar balik arah tujuannya. Ia menyeret Syaiful dan Sinta kembali ke rumah.
"Sinta, kunci pintu! Jaga Syaiful! Ibu mau ke rumah Mbah Yem!" perintah Sukma tegas. Ia menyambar selendang batik usangnya dan berjalan setengah berlari menuju rumah Mbah Yem.
Sesampainya di sana, suara makian dan tangisan sudah terdengar memekakkan telinga.
"Menantu kurang ajar! Rakus! Wong lanangmu kerja keras, Koen malah nyolong daging sapi buat dimakan dewe!" Teriakan Mbah Yem bergema ke seluruh penjuru rumah.
Sukma mendobrak pintu dapur yang terbuat dari anyaman bambu. Brak!
Pemandangan di dalam sana membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Mak Karman meringkuk di lantai tanah, memeluk bayinya sambil menangis sesenggukan.
Wajahnya memar kebiruan, rambutnya acak-acakan. Sumi, sang kakak ipar, berdiri bersedekap dengan wajah puas.
Sementara Mbah Yem masih memegang gagang sapu lidi yang patah separuh.
Dan yang paling membuat Sukma muak, Kang Sardi duduk santai di lincah bambu sambil mengisap rokok klobot, tak peduli istrinya baru saja dihajar ibunya sendiri.
"Mbah Yem! Cukup!" bentak Sukma dengan suara menggelegar, membuat semua orang di ruangan itu tersentak kaget.
Mbah Yem melotot tajam. "Heh, Sukma! Koen lapo rene?! Iki urusan keluargaku! Ojo melu-melu!"
"Aku melu-melu karena pentol daging yang dimakan Mak Karman iku dari aku!" Sukma melangkah maju, membusungkan dadanya menantang Mbah Yem.
"Aku yang ngasih pentol itu khusus buat Mak Karman dan anak-anaknya. Sebagai balasan karena dulu Mak Karman sering ngasih makan anak-anakku pas lumbung gabahku dikunci sama mertuaku dewe!"
Sumi mencibir sinis. "Halah, alasan! Paling Koen juga nyuri daging iku dari pasar to?! Ojo sok pamer dadi wong sugih!"
"Cangkemmu dijogo, Sumi!" Sukma menunjuk wajah Sumi dengan telunjuknya yang gemetar menahan marah.
"Daging iku aku beli dari uang wesel suamiku! Aku ngasih ke Mak Karman karena dia pantas nerima! Dudu Koen, dudu Mbah Yem, apalagi laki-laki malas koyok Sardi iki!"
Tatapan Sukma beralih menusuk tajam ke arah Kang Sardi yang masih asyik merokok.
"Koen iku wong lanang opo dudu?! Istrimu dihajar emakmu dewe Koen cuma diam nonton?! Koen ndak bisa ngasih makan istrimu enak, pas istrimu dikasih orang malah mbok biarin dipukuli?!"
Wajah Sardi memerah padam. Harga dirinya sebagai laki-laki terinjak-injak di depan umum.
Ia membuang rokoknya dan bangkit berdiri, mengancam Sukma.
"Heh, wedokan kurang ajar! Koen wani ngatur-ngatur keluargaku?! Koen wae sing gowo pentol iku rene, gara-gara Koen bojoku dipukuli! Koen kudu ganti rugi biaya obat bojoku!"
Sardi melangkah maju, tangannya mengepal siap memukul.
Namun, sebelum kepalan tangan itu melayang, suara lengkingan tajam membelah keributan.
"Sardi! Mandek Koen!"
Kades Darman dan Carik Tejo muncul di ambang pintu dapur, didampingi Sigit yang napasnya terengah-engah. Bocah itu diam-diam berlari mencari bantuan saat melihat ibunya berlari menuju rumah Mbah Yem.
Di belakang aparat desa itu, berdiri Bu Siti, istri Kades yang merangkap sebagai Ketua PKK desa. Wajahnya merah padam menahan amarah melihat kondisi Mak Karman.
"Sardi! Koen wani mukul wong wedok nang ngarepku?!" Bu Siti maju menerjang, mengayunkan payung lidi miliknya ke lengan Sardi. Pukulan itu keras dan menyakitkan.
"Ampun, Bu Kades! Ampun!" Sardi mengaduh kesakitan, mundur ketakutan.
Mbah Yem dan Sumi langsung pucat pasi. Berurusan dengan Sukma mungkin hal biasa, tapi berurusan dengan istri Kades? Itu bunuh diri sosial di desa ini.
"Mbah Yem, Sumi, dan Sardi! Kalian semua ikut ke balai desa sekarang!" perintah Kades Darman tegas, matanya menatap tajam ke arah tiga pembuat onar itu.
Sukma menghela napas lega. Ia menoleh ke arah Sigit yang berdiri di pojok ruangan. Anak sulungnya itu menunduk dalam-dalam, tapi tangannya mengepal kuat menahan emosi.
Ibunya... ibunya benar-benar berdiri membela orang lain. Tidak egois. Tidak melarikan diri.
Sigit tak tahu harus bereaksi apa. Hatinya yang beku mulai merasakan kehangatan aneh, sebuah kepercayaan yang perlahan tumbuh menyuburkan hatinya.