NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Upah yang Tak Terduga

“Permisi, Pak?” Siman memberanikan diri. Rasa gugup bercampur rasa ingin tahu tentang akiknya menyelimuti dirinya.

Pak Jitomo mengangkat kepalanya, sorot matanya yang tajam menelisik Siman dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Ada apa, Nak? Mau servis motor? Dari mana kau, kok pakaiannya begini? Biasanya nggak ada tukang rongsok mampir di bengkel ini.” Suaranya sedikit keras, namun nadanya tidak terdengar merendahkan, hanya... jujur. Atau Siman saja yang kepikiran itu nada menghina.

Wajah Siman memerah, malu. Baju kerjanya memang sudah agak kotor, bekas kemarin menjajakan gorengan. "Saya… saya Siman, Pak. Tinggal di daerah rel sana, pinggir kali." Ia menunjuk arah permukiman kumuhnya. "Bukan, bukan mau servis motor. Motor saya mana ada. Ini, Pak, saya mau tanya, ada lowongan pekerjaan mungkin? Yang part-time saja, Pak, jadi kuli bantu angkut-angkut." Siman langsung ke intinya, tidak bertele-tele.

Pak Jitomo mengerutkan kening. “Oh, Siman. Udah bolak-balik saya bilang di depan toko, kalau nggak ada. Setiap kali tukang sampah lewat juga suka nanya-nanya hal yang sama. Apa sudah tuli telinganya?” kata Pak Jitomo, menghela napas. Dia kembali fokus pada layar laptop, tampaknya sedang mengerjakan sesuatu yang penting.

"Saya sudah tanya teman, Pak. Tapi tidak ada." Siman tetap bersikeras, merasa tak enak karena menyita waktu Pak Jitomo. Namun kakinya seolah terpaku di tempat, tidak bisa beranjak, sebuah sensasi aneh. Akik di jarinya mulai berdenyut, lebih kuat dari sebelumnya, dan memanas. Hatinya tidak berkehendak untuk menyerah. Ada sebuah suara dari dalam diri Siman untuk tidak pernah menyerah. Siman akhirnya tersentak. Itu dia! Sensasi itu adalah dorongan semangat. Ini dia kekuatan dari akik itu.

“Sekarang lagi kosong, Nak. Cari di tempat lain aja, ya.” Pak Jitomo menyahut, masih sibuk dengan pekerjaannya, bahkan tak menoleh sedikit pun. "Lagipula orang di sana sudah tidak punya kerjaan. Anak muda sekarang nggak kuat fisik. Baru disuruh angkat ban aja langsung sakit punggung, kayak punya maag."

Pundak Siman merosot. Rasa percaya diri yang baru saja tumbuh sedikit runtuh. Mungkinkah akik ini hanya halusinasi belaka? Ia melirik akiknya. Cahaya di dalamnya masih ada, memudar di balik rona biru pekatnya.

Dengan berat hati, Siman membalikkan badan, hendak beranjak pergi. Mungkin memang takdirnya masih harus menjadi penjuang untuk dirinya sendiri. Murni sudah memperingatinya untuk jangan cari-cari kesibukan yang lain. Ini benar, ia akan kembali keliling lagi. Mungkin toko kelontong yang baru dibuka itu.

Namun, baru beberapa langkah ia melangkah, suara Pak Jitomo kembali terdengar, memecah kebisingan bengkel.

“Siman! Tunggu sebentar!”

Siman membeku. Jantungnya berdebar kencang. Ia segera berbalik, tatapannya penuh harap, menatap Pak Jitomo yang kini berdiri tegak di ambang meja kerjanya. Akik di jarinya terasa bergetar, lebih kencang lagi, sensasi kehangatannya kian menyengat.

"Kenapa, Pak?" tanya Siman, sedikit terkesiap. Wajah Pak Jitomo kini tampak lebih ramah, bukan lagi seperti sosok dingin yang tadi mengusirnya. Matanya menyiratkan sesuatu yang Siman tak bisa mengerti.

Pak Jitomo menatap Siman lagi, kali ini dari atas ke bawah, seolah baru pertama kali melihatnya. Ia menghela napas panjang, seperti baru saja membuat keputusan berat. "Dengar, Nak. Kebetulan hari ini ada pekerjaan yang butuh cepat diselesaikan, tapi karyawan saya pada sakit semua. Dan mereka pulang ke kampung untuk liburan. Cuma, kerjaan ini butuh kamu harus angkat ban besar di sana, di gudang sana." Pak Jitomo menunjuk gudang gelap di belakang bengkelnya. “Tumpukan ban motor besar ada banyak sekali, yang motor mogok ada tujuh, butuh digeser-geser. Butuh yang fisik kuat."

Siman langsung tegak. Wajahnya menunjukkan semangat. "Siap, Pak! Angkat ban, angkut mesin, saya kuat, Pak! Dari dulu saya sering bantu orang tua angkat-angkat galon. Insya Allah kuat!" Jawab Siman, percaya diri.

"Oke, kalau begitu. Kerja seminggu ini, nanti kamu akan saya kasih honor harian sesuai tenaga kerjamu." Pak Jitomo tersenyum kecil. "Dan mulai sekarang, jangan manggil saya Pak. Manggil saya bos saja."

"Siap, Bos!" Siman tersenyum lebar, senyum tulus yang sudah lama tidak ia sunggingkan. Akiknya terasa lebih hangat lagi, bahkan ia merasa jantungnya sendiri ikut berdenyut seirama dengan detak di dalam akik itu.

Ia melangkah ke arah gudang gelap dengan semangat baru. Akik di jarinya adalah satu-satunya 'kawan' yang ia miliki di bengkel itu. Satu minggu bekerja? Lumayan. Seumur-umur dia tak pernah dapat pekerjaan seprestisius ini di bengkel Pak Jitomo. Bahkan sekadar satu jam saja. Setelah bergulat dengan ban-ban yang besar dan berat, memindahkannya satu per satu dengan peluh bercucuran, Siman merasakan tubuhnya lelah, namun hatinya dipenuhi perasaan lega yang membuncah.

Lima hari berlalu, Siman bekerja dengan giat, lebih giat dari kuli mana pun yang pernah dilihat Pak Jitomo. Pagi hingga sore ia habiskan di Roda Sakti, membantu angkat ban, menyortir baut, atau sekadar membersihkan lantai bengkel. Setiap kali lelah mendera, akik di jarinya seolah memberinya suntikan energi. Ia mulai berpikir bahwa kekuatan akik ini bukan hanya keberuntungan, tapi juga semacam pemicu semangat bagi dirinya. Apapun itu, ini terasa seperti takdir yang ia butuhkan.

Hari ketujuh pun tiba, saatnya gajian. Siman membersihkan diri setelah seharian berkutat dengan oli dan debu. Dengan gugup ia menghampiri meja Pak Jitomo, takut-takut gaji yang akan ia terima tidak sesuai ekspektasinya. Baginya, satu juta rupiah saja sudah seperti harta karun.

Pak Jitomo tersenyum sambil menyerahkan segepok amplop putih tebal. “Ini gaji kamu, Siman. Cukup buat seminggu makan lah ya? Semoga kamu betah dan nanti kamu bisa masuk di bengkel saya secara rutin."

"Berapa ini, Bos?" tanya Siman, gemetar saat menerima amplop itu. Akiknya berdenyut kencang.

"Buka saja. Nanti kamu kaget," balas Pak Jitomo, tertawa kecil. Siman bergegas kembali ke bangku kerjanya, membuka amplop itu dengan perlahan. Matanya terbelalak saat melihat nominal uang di dalamnya.

Jauh di atas ekspektasinya. Hampir lima juta rupiah. Angka itu jauh lebih besar dari apa yang ia kira. Cukup untuk satu bulan, bahkan lebih jika diirit! Siman nyaris menangis di tempatnya. Ia menatap akiknya. Kini kehangatannya meluruh, berganti dengan perasaan damai.

Ia tidak pulang naik angkot, Siman memilih berjalan kaki, memandang bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit malam. Angin berembus sepoi-sepoi, membawa serta kelegaan yang luar biasa. Akiknya ia cengkram, memantulkan cahaya redup rembulan.

"Aku... aku tidak percaya ini." Siman berbisik, memandangi akik itu seolah benda mati itu bisa menjawab. "Mungkinkah... kamu yang membantuku?"

Percikan air dingin menyentuh pipi Siman, memutus lamunan panjangnya. Dia tahu, ini bukan hujan yang menenangkan, melainkan atap yang kembali bocor. Retakan menganga di dinding kamar mereka, membentang seperti urat nadi tua yang sewaktu-waktu bisa pecah. Tepat di bawahnya, ember penampung air telah penuh dan meluap, membanjiri sebagian lantai papan yang sudah lapuk.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!