(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 110: Langit Emas Benua Tengah
Operasi penyusupan Sekte Langit Asura ke Paviliun Awan Angin baru saja akan dimulai, namun langit tidak mengizinkannya.
Tepat di tengah hari yang cerah, langit biru di atas seluruh Dunia Tianyun dari perbatasan es Kerajaan Yan hingga istana hangat Kerajaan Zhao mendadak terbelah oleh retakan spasial raksasa sepanjang ribuan mil. Suara robekan dimensi itu terdengar seperti kain sutra kosmik yang dikoyak secara paksa, memekakkan telinga miliaran manusia fana di bawahnya.
Cahaya keemasan yang menyilaukan membanjiri bumi. Bukan sinar matahari, melainkan pancaran Qi murni yang begitu pekat hingga membuat burung-burung fana jatuh pingsan dari udara.
Dari balik celah dimensi yang menganga itu, armada raksasa perlahan turun menembus awan. Ratusan kapal spiritual raksasa, kereta perang yang ditarik oleh naga banjir tingkat Nascent Soul, dan pulau-pulau melayang kecil menutupi cahaya matahari. Panji-panji raksasa berkibar pongah: Pedang Menyilang milik Sekte Langit Absolut, Tungku Api milik Klan Kuno Yao, dan Teratai Darah milik Klan Kuno Xiao.
Bagi umat manusia fana di Dunia Tianyun, hari ini adalah hari kiamat. Dewa-dewa sejati telah turun dari langit.
Di atas geladak utama Kapal Roh Teratai Darah yang memimpin armada Klan Xiao, udara terasa membekukan jiwa. Ratusan elit penjaga Klan Xiao menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tidak ada yang berani menatap apalagi bernapas terlalu keras di hadapan sosok yang berdiri di anjungan kapal.
Di sana, berdiri seorang wanita cantik dengan gaun merah darah yang berkibar ditiup angin dimensi. Wajahnya yang dulunya selalu dihiasi senyum menggoda yang mematikan, kini memancarkan kebekuan es abadi. Matanya yang berwarna zamrud tampak kosong dan mati.
Ia adalah Xiao Mei.
Dua belas tahun telah berlalu sejak insiden berdarah di Reruntuhan Bintang Jatuh. Pengorbanan Jian Wuhen dan hancurnya tubuh pemuda berjubah hitam oleh jarum Nirvana Leluhur Yao telah mengubah Xiao Mei sepenuhnya. Kesedihan dan amarah memicu garis keturunan Yin Kehancurannya untuk berevolusi secara ekstrem.
Kini, ia telah menembus ranah Awal Soul Transformation. Ia bukan lagi sekadar bupati bayangan; ia adalah salah satu monster muda terkuat di Benua Tengah.
"Nona Muda..." seorang tetua tingkat Puncak Nascent Soul memberanikan diri melangkah maju, menangkupkan tangannya dengan gemetar. "Kita telah berhasil menembus penghalang Dunia Tianyun. Faksi-faksi lain juga telah mengambil posisi di berbagai penjuru benua fana ini. Turnamen Pemilihan Kuota akan segera dimulai."
Xiao Mei tidak menoleh. Ia menatap daratan fana di bawahnya dengan tatapan hampa.
"Biarkan faksi lain berebut tanah kotor ini seperti anjing kelaparan," suara Xiao Mei sedingin angin musim dingin, memancarkan aura Yin yang membuat darah sang tetua nyaris membeku. "Klan Xiao hanya akan mengambil nyawa manusia fana sesuai kuota minimum. Siapa pun dari anggota klan kita yang berani memperkosa atau menyiksa semut-semut fana di bawah sana... akan kucabut Inti Jiwanya sendiri."
"B-Baik, Nona Muda!" Tetua itu segera mundur dengan keringat dingin. Ia tahu betul, sejak hari itu, Nona Mudanya telah berubah menjadi tiran es yang tidak segan membunuh tetuanya sendiri.
Xiao Mei ditinggalkan sendirian di anjungan. Tangannya yang seputih salju mencengkeram erat pagar kayu kapal hingga hancur menjadi serbuk.
Dunia Rahasia Dewa Kuno, batin Xiao Mei dengan penuh kebencian.
Alasan armada raksasa ini turun ke dunia fana adalah kesepakatan biadab antara para Leluhur tingkat Nirvana (termasuk kakeknya sendiri dan Leluhur Yao). Untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan kuota masuk ke Reruntuhan Dewa Kuno Dunia Rahasia yang baru saja ditemukan di Benua Tengah, mereka menjadikan Dunia Tianyun sebagai arena permainan catur berdarah.
Setiap sekte dan klan ditugaskan untuk menguasai wilayah fana dan "memanen" energi spiritual dari jiwa-jiwa di dunia ini. Siapa yang paling banyak menaklukkan dan memanen, merekalah yang akan mendapatkan kuota.
Sebuah turnamen pembantaian.
Mata Xiao Mei memerah, menahan air mata yang telah mengering selama dua belas tahun terakhir. Ingatannya kembali ke saat di mana kakeknya Leluhur Xiao berdiri diam, menolak untuk mengangkat jari saat Leluhur Yao menghancurkan tubuh Lin Xuan di depan matanya.
Kakek menolak menyelamatkannya demi stabilitas klan. Demi politik kotor ini, Xiao Mei menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik cadar dan kepalsuan diplomatik yang selama ini ia mainkan di Benua Tengah, Xiao Mei diam-diam telah menyerahkan hatinya secara utuh kepada sang Asura berjubah hitam itu. Pemuda yang sedingin kematian, namun selalu berdiri paling depan saat sekutunya terancam. Kematian Lin Xuan telah membunuh sebagian dari jiwa Xiao Mei.
"Tuan Bayangan..." bisik Xiao Mei lirih ke arah angin dunia fana, membiarkan satu tetes air mata merah darah jatuh membasahi pipinya. "Aku membenci dunia yang membunuhmu ini. Aku akan merebut warisan Dewa Kuno itu, dan aku akan meruntuhkan Klan Yao dengan tanganku sendiri untuk membalaskan dendammu."
Ratusan mil di bawahnya, di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao.
Seluruh istana berada dalam kepanikan massal. Pelayan menjerit, prajurit fana menjatuhkan senjata mereka saat melihat kapal-kapal raksasa melayang di atas awan, menutupi matahari. Raja Zhao dan Zhao Tian berlari keluar dari Aula Militer, menatap langit dengan keputusasaan mutlak.
Ini bukan lagi sekadar utusan dengan seruling. Ini adalah kiamat.
Namun, di tengah kepanikan itu, Zhao Xuan (12 tahun) berdiri diam di tengah taman bunganya. Ia tidak menatap langit dengan ketakutan.
Zhao Xuan perlahan mengangkat tangan kirinya. Cincin Jiwa Kuno di jari telunjuknya bereaksi dengan sangat keras, berdenyut panas memancarkan cahaya merah terang yang hanya bisa dilihat oleh mata asuranya. Cincin itu meresonansi dengan Qi pekat yang bocor dari kapal-kapal di langit.
Mata hitam Zhao Xuan menyipit tajam. Fluktuasi Qi raksasa dari langit itu... ia sangat mengenalinya.
Panji Pedang Menyilang. Tungku Api. Teratai Darah.
Zhao Xuan tersenyum. Bukan senyum seorang anak fana, melainkan senyuman monster yang paling mengerikan dari kehidupannya yang lampau.
"Jadi, segel dunia ini tidak retak secara alami. Kalian yang merusaknya untuk bermain-main di tanah kelahiranku," gumam Zhao Xuan.
Tiba-tiba, insting asuranya menangkap sebuah fluktuasi Qi spesifik dari kapal berpanji Teratai Darah yang berlabuh di arah timur. Fluktuasi Yin Kehancuran yang sangat kuat dan familiar, kini berada di ranah Soul Transformation.
Xiao Mei? Jantung Zhao Xuan berdetak satu ritme lebih cepat. Bawahan kesayanganku yang cengeng itu... dia telah menembus Soul Transformation. Dan dia ada di dunia ini sekarang.
Zhao Xuan mengepalkan tangannya. Ingatan tentang jarum Nirvana Leluhur Yao dan darah Jian Wuhen yang menguap di depan matanya kembali membakar Dantian-nya yang kosong. Dendam yang telah tertidur selama dua belas tahun kini disiram oleh lautan minyak.
Mereka datang ke dunianya untuk mencari kuota. Mereka datang untuk memburu manusia fana.
Zhao Xuan membalikkan badannya, berjalan pelan kembali ke dalam paviliunnya yang gelap. Cincin Jiwa Kuno di tangannya semakin menyala terang, seakan menanti untuk menyedot darah dewa-dewa palsu yang baru saja turun.
"Kalian salah memilih arena berburu, anjing-anjing Benua Tengah," bisik Zhao Xuan dalam kegelapan. "Kalian pikir kalian adalah pemain catur di langit Tianyun? Tidak."
Zhao Xuan meraih sebuah jubah hitam baru yang disembunyikan di balik lemarinya.
"Kalian mengantarkan leher kalian langsung ke dalam kandang Asura."