NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Bekas yang Tak Bisa Dilupakan

Sungai di belakang penginapan memang tidak bisa dibilang besar. Lebarnya hanya dua kali rentang tangan, meski airnya jernih sampai ke dasar berbatu. Di bawah cahaya bulan, permukaannya memantul dengan warna keperakan yang menyegarkan mata.

Adapun Huang Shen duduk di atas batu besar di tepinya. Kakinya menyentuh tanah, punggungnya lurus, matanya menatap aliran air yang tidak pernah berhenti.

Sementara dari balik pohon di sisi kiri, ada bunyi langkah yang nyaris tidak terdengar.

Yue Xin berdiri di tepi cahaya bulan. Rambutnya tidak diikat. Untuk pertama kalinya, dia terlihat seperti orang biasa yang kebetulan tidak bisa tidur.

“Kau juga tidak bisa tidur?” tutur Yue Xin.

Huang Shen tidak menjawab, dan karena itu Yue Xin memilih untuk duduk di sampingnya. Tentu saja tanpa meminta izin, apalagi menunggu undangan. Dia duduk dengan jarak yang cukup, meluruskan kakinya ke arah sungai dalam diam.

Mereka berdua tidak bicara untuk waktu yang cukup lama. Air sungai mengalir. Jangkrik berbunyi dari semak di seberang. Angin bergerak teratur di antara dedaunan.

Sejatinya Yue Xin tidak memaksa bicara. Dia hanya duduk di sana, seperti seseorang yang tahu kapan kehadiran lebih berguna dari kata-kata.

Tatkala bulan bergeser sedikit ke barat, Yue Xin akhirnya bersuara. “Aku dengar desas-desus tentang desa terakhirmu,” paparnya, nadanya tidak menghakimi. “Ada yang bilang anak itu iblis yang mengambil rupa manusia. Ada yang bilang dia korban yang salah tempat.”

Huang Shen hanya menatap air.

Keheningan pun berlanjut. Adapun Yue Xin tidak terburu-buru mengisi ruang itu.

“Dia sudah mati sejak awal,” Huang Shen akhirnya merespon. “Aku yang tidak mau melihatnya.”

Yue Xin tidak bertanya lebih lanjut. Dia tidak meminta penjelasan, tidak meminta detail ataupun menawarkan penghiburan yang dibuat-buat.

Setelah menarik nafas kesekian kalinya, dia berkata, “Guruku pernah bilang, jika pembunuh yang baik itu tidak punya ingatan. Semuanya terasa bersih tanpa ada yang tersisa.” Yue Xin menatap sungai. “Tapi aku pikir dia salah. Pembunuh yang baik justru yang masih mempunyai ingatan, dan memilih tetap bergerak meski terus membawanya.”

Huang Shen pun menatapnya. Matanya tidak berubah, tapi ada sesuatu di baliknya yang bergeser, sangat sedikit, nyaris tidak terlihat. Dia tidak setuju. Tapi juga tidak membantah.

Hingga mereka kembali membisu.

Maka malam itu terasa lebih ringan dari seharusnya, kendati tidak ada yang berubah.

Bunyi semak-semak dari kanan memecah ketenangan. Langkah yang tidak berusaha diam, disertai suara percikan air.

Xiao Feng muncul dari balik rumpun bambu dengan tiga ekor ikan di tangan kirinya, masih basah, dan ekspresi puas di wajahnya. “Kita bakar saja. Aku lapar,” celetuknya, sembari mengangkat ikan-ikan itu seperti harta jarahan.

Melihat itu, Yue Xin menghela napas. Mungkin merasa momennya dengan Huang Shen jadi terganggu.

Xiao Feng duduk di batu sebelahnya tanpa diundang, meletakkan ikan di atas batu datar, dan mulai membersihkannya dengan pisau kecil dari ikat pinggangnya. Tangannya bergerak cepat dan terlatih, berbeda dari cara bicaranya yang selalu terkesan asal.

“Kau bisa mancing?” kata Yue Xin, lebih kepada dirinya sendiri.

“Di Sekte Pedang Terbang, kolam ikannya besar. Senior selalu ambil yang paling besar. Maka aku belajar tangkap yang di sungai belakang,” beber Xiao Feng tanpa berhenti bekerja. “Memang lebih susah… tapi menurutku hasilnya justru lebih memuaskan.”

Daripada menonton, alhasil Yue Xin mencari kayu bakar di sekitar pohon terdekat tanpa diminta. Huang Shen duduk dengan kesibukannya sendiri, menatap Xiao Feng yang menyiapkan ikan dengan gerakan yang tidak ragu.

Api dinyalakan di antara tiga batu. Xiao Feng memasang ikan pada ranting lurus yang sudah dia siapkan, meletakkannya di atas nyala api dengan sudut yang tepat.

“Sialnya lagi, sungai di sekteku dulu memiliki arus yang lebih deras,” kata Xiao Feng sambil mendecak beberapa kali. “Tentu ikannya lebih banyak, tapi masalahnya seniorku selalu ambil jatahku padahal mereka sudah mengambil kolam. Alhasil aku sering makan lebih sedikit dari seharusnya, dan itu salah satu alasan aku keluar.”

Yue Xin duduk kembali, menatap api. “Alasan lainnya?”

“Hmm… mungkin karena terlalu banyak upacara. Tiap pagi harus hormat ke patung pendiri sekte tiga kali. Tiap malam harus tulis jurnal kultivasi dalam aksara kuno yang bahkan pengajarnya tidak fasih. Dan pantangan makan ikan air tawar di hari ganjil itu, aku tidak pernah mengerti alasannya.” Xiao Feng membalik ikan dengan tenang. “Aku tanya senior, katanya tradisi. Aku tanya pengajar, katanya kebijaksanaan leluhur. Tidak ada yang bisa jelaskan semua omong kosong itu.”

Huang Shen mengambil ranting yang disodorkan Xiao Feng. Ikan pertama sudah matang.

Mereka makan tanpa banyak bicara. Xiao Feng sesekali berbicara, tapi lebih pelan dari biasanya, seperti dia juga merasakan bahwa malam ini bukan malam untuk terlalu ramai. Api kecil masih terus menghangatkan mereka dan sungai terus mengalir.

Untuk pertama kalinya, ada kehangatan di antara mereka bertiga, kehangatan yang tidak diakui oleh siapa pun, tapi dirasakan semua.

Keesokan paginya, langit sudah terang tatkala mereka kembali ke warung yang sama di dekat penginapan. Yue Xin memesan air dan bubur. Xiao Feng memesan semua yang tersedia di papan menu dengan cara yang membuat pemilik warung terlihat terkejut senang. Sementara Huang Shen duduk di meja paling ujung, memesan nasi dan lauk tanpa bumbu berlebih.

Warung itu ramai tapi tidak gaduh. Suara mangkuk, suara orang bertukar kabar, asap dari dapur yang menguar ke langit-langit.

Seorang pria paruh baya pun mendekati meja Huang Shen. Jubahnya hitam dengan lambang naga melingkar di dada, benangnya berwarna merah tua. Wajahnya tidak menonjol, tapi cara bergeraknya berbeda dari orang biasa. Setiap langkahnya tepat, tidak ada gerakan yang terbuang.

Level Jiwa Baru.

Huang Shen merasakannya tanpa perlu mengukur. Selisih itu seperti berdiri di tepi jurang dan melihat ke bawah.

Pria itu berhenti di depan mejanya. “Kau Huang Shen?” suaranya datar, bukan pertanyaan sungguhan.

Huang Shen hanya terus menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku utusan dari Sekte Iblis Hitam,” kata pria itu. “Kami punya kontrak untukmu.”

Di meja sebelah, Xiao Feng berhenti mengunyah. Yue Xin tidak bergerak, meski dua orang itu nampak waspada.

Adapun Gerbang Iblis dalam Darah di dada Huang Shen tidak menyala, tapi seluruh perhatiannya tertuju pada pria di depannya.

Utusan itu pun merogoh lipatan jubahnya dan meletakkan sebuah gulungan di atas meja. Kertasnya berwarna abu-abu gelap dan diikat tali merah. “Bukan untuk menjemputmu,” lanjutnya. “Kami hanya ingin melihat seberapa jauh kau bisa melangkah.”

Huang Shen menatap gulungan itu.

Andaikata ini jebakan, pria itu tidak akan datang sendiri ke warung ramai di pagi hari. Tapi kontrak dari Sekte Iblis Hitam bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, lantaran nama sekte itu tidak pernah muncul tanpa harga yang harus dibayar.

Huang Shen mengambil gulungan itu. Sementara utusan itu tidak tersenyum, tidak membungkuk apalagi menambahkan embel-embel kecuali satu kalimat sebelum berbalik. “Kami akan mengawasi.”

Langkahnya keluar dari warung sama seperti saat masuk. Tepat, tidak terburu-buru, tidak meninggalkan jejak yang tidak perlu.

Yue Xin dan Xiao Feng mendekat ke meja Huang Shen. Xiao Feng masih memegang sumpit dengan ekspresi antara penasaran dan khawatir.

“Kau akan menerimanya?” tanya Yue Xin.

Huang Shen tidak menjawab. Matanya tertuju pada gulungan di tangannya.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
black_rose: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!