NovelToon NovelToon
Menikahi Duke Misterius

Menikahi Duke Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:JAEMIN NCT / Cinta Seiring Waktu / Barat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.

Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.

Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.

.

.

.

.

terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

.

.

.

Sore itu turun dengan perlahan, membawa warna keemasan yang lembut di atas langit kota Vincent.

Cahaya matahari yang mulai meredup menelusup di antara bangunan-bangunan megah, menciptakan bayangan panjang di jalanan yang mulai sepi. Udara terasa lebih dingin, lebih tenang… seolah kota itu sendiri sedang menarik napas setelah hari yang panjang.

Namun, bagi Bella—

Tidak ada yang benar-benar terasa tenang.

Ia berdiri di depan cermin kamarnya, memperhatikan pantulan dirinya sendiri.

Gaun yang ia kenakan hari ini sederhana. Rambutnya tertata rapi, tidak terlalu mencolok. Segalanya… terlihat biasa saja.

Tapi matanya—

Menyimpan sesuatu yang berbeda.

Hari-hari terakhir ini telah mengubah banyak hal.

Undangan yang menghilang.

Tatapan yang berubah.

Bisikan yang semakin jelas terdengar.

Dan yang paling mengganggu—

Perasaan yang tak kunjung ia pahami.

Bella menghembuskan napas pelan.

“Aku hanya akan keluar sebentar,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Ia tidak ingin terkurung di dalam rumah.

Tidak hari ini.

Tidak saat pikirannya terasa sesak seperti ini.

Langkahnya membawanya ke salah satu bagian kota yang jarang ia kunjungi.

Bukan karena tempat itu buruk.

Tapi karena tempat itu… tidak terlalu “layak” bagi seorang wanita dari kalangan bangsawan untuk berkeliaran sendirian.

Sebuah jalan yang dipenuhi toko-toko kecil, kedai minuman, dan beberapa bangunan yang terlihat lebih tua dari pusat kota.

Di sinilah Vincent menunjukkan sisi lainnya.

Sisi yang tidak penuh kemewahan.

Sisi yang lebih… nyata.

Bella berjalan pelan, membiarkan dirinya tenggelam dalam suasana yang berbeda itu.

Untuk sesaat… ia merasa lebih bebas.

Tidak ada tatapan penuh penilaian.

Tidak ada bisikan sinis.

Hanya orang-orang yang sibuk dengan hidup mereka sendiri.

Dan itu… terasa menenangkan.

Sampai—

Suara keributan memecah ketenangan itu.

Bella berhenti.

Alisnya mengernyit, mendengar suara seseorang yang berbicara dengan nada tinggi di ujung jalan.

Rasa penasarannya muncul.

Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Seorang pria berpakaian lusuh berdiri di depan sebuah kedai kecil, wajahnya terlihat panik.

Di depannya—

Berdiri seseorang yang sangat Bella kenal.

Melvin Blastorios.

Tubuhnya tegap seperti biasa. Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Dan itulah yang membuat suasana di sekitarnya terasa… tidak wajar.

“Aku sudah bilang, aku akan membayarnya!” pria itu berkata dengan suara gemetar.

Melvin tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap pria itu.

Dalam diam.

Tatapan yang… tidak bisa Bella jelaskan.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Tapi… dingin.

Sangat dingin.

“Sudah berapa lama?” tanya Melvin akhirnya, suaranya rendah.

Pria itu menelan ludah.

“A-aku… hanya beberapa hari—”

“Berapa lama?”

Nada suaranya tidak berubah.

Tapi tekanan di dalamnya… terasa jelas.

“Dua… dua minggu…”

Melvin mengangguk pelan.

“Dan kau pikir aku akan percaya bahwa kau baru akan membayarnya sekarang?”

Pria itu mulai terlihat semakin panik.

“Aku hanya butuh waktu! Aku bersumpah, aku tidak berniat—”

“Tentu saja kau tidak berniat,” potong Melvin.

Ia melangkah mendekat.

Perlahan.

Dan setiap langkahnya… membuat pria itu mundur.

Bella berdiri beberapa meter dari sana.

Tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Ia hanya… melihat.

Dan entah kenapa—

Dadanya mulai terasa tidak nyaman.

“Masalahnya bukan pada niatmu,” lanjut Melvin pelan.

“Tapi pada pilihanmu.”

Pria itu menggeleng cepat.

“Aku tidak punya pilihan lain!”

Melvin berhenti tepat di depannya.

Lalu… ia sedikit memiringkan kepala.

“Semua orang selalu punya pilihan.”

Hening.

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

Bella merasa suasana di sekitarnya berubah.

Seolah udara menjadi lebih berat.

Lebih… menekan.

“Dan kau memilih untuk berhutang,” lanjut Melvin.

“Lalu memilih untuk menghindar.”

Ia tersenyum tipis.

Tapi senyum itu—

Tidak hangat.

Sama sekali tidak.

Pria itu gemetar.

“Maafkan aku… aku benar-benar tidak—”

Melvin mengangkat tangannya sedikit.

Menghentikan pria itu.

“Sudah terlambat untuk meminta maaf.”

Suaranya tetap rendah.

Tapi sekarang—

Ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang membuat Bella… tanpa sadar menahan napas.

Melvin menoleh sedikit.

Seorang pria lain—yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana—langsung mendekat.

Bella baru menyadarinya sekarang.

Ada orang lain di sini.

Dan mereka semua… seolah menunggu perintah.

“Bawa dia,” kata Melvin singkat.

Pria itu langsung memohon.

“Tidak! Tolong! Beri aku waktu lagi—”

Tangannya ditarik.

Ia mencoba melawan, tapi sia-sia.

Melvin tidak bergerak.

Tidak juga menatapnya lagi.

Seolah pria itu… sudah tidak penting.

Bella merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Apa yang sedang terjadi ini?

“Aku akan membayarnya! Aku bersumpah—!”

Teriakan itu menggema.

Tapi Melvin hanya berdiri di sana.

Diam.

Tenang.

Dan sama sekali… tidak terpengaruh.

“Aku punya keluarga—!”

Kalimat itu—

Membuat Melvin berhenti.

Untuk sesaat.

Ia menghela napas pelan.

Lalu berkata tanpa menoleh—

“Seharusnya kau memikirkan itu lebih awal.”

Dan itu saja.

Pria itu dibawa pergi.

Suasana kembali sunyi.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Bella masih berdiri di tempatnya.

Tubuhnya terasa kaku.

Pikirannya… kacau.

Ini… bukan Melvin yang ia kenal.

Atau… mungkin—

Ini adalah Melvin yang sebenarnya.

“Berapa lama kau akan berdiri di sana, Nona Winston?”

Suara itu.

Membuat Bella tersentak.

Perlahan… ia menoleh.

Dan mendapati—

Melvin sudah menatapnya.

Sejak kapan?

Bella bahkan tidak menyadarinya.

“Aku…” suaranya sedikit tertahan.

Ia mencoba mengatur napasnya.

“Aku tidak sengaja melihat—”

“Tidak masalah.”

Melvin memotongnya dengan santai.

Seolah kejadian tadi… bukan sesuatu yang besar.

Ia berjalan mendekat.

Dan kali ini—

Bella merasakan sesuatu yang berbeda.

Langkahnya sama.

Sikapnya sama.

Tapi aura itu…

Tidak.

Tidak sama seperti sebelumnya.

“Sepertinya Anda menemukan sisi yang tidak terlalu menyenangkan dari saya,” katanya ringan.

Bella tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatapnya.

Mencoba memahami.

Mencoba… menerima.

“Itu… siapa?” tanyanya akhirnya.

Melvin berhenti beberapa langkah di depannya.

“Orang yang membuat kesalahan.”

Jawaban yang singkat.

Terlalu singkat.

“Apa yang akan terjadi padanya?” tanya Bella lagi.

Melvin mengangkat bahu.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

Tatapan mereka bertemu.

Dan kali ini—

Bella merasakan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang membuat jantungnya berdebar… bukan karena ketertarikan.

Tapi karena—

Kekhawatiran.

“Tergantung apakah dia belajar dari kesalahannya… atau tidak.”

Bella menelan ludah.

Jawaban itu…

Tidak benar-benar menjawab.

Dan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.

“Anda…” ia ragu sejenak.

“Melakukan ini… sering?”

Melvin tersenyum kecil.

“Apakah itu penting?”

Bella terdiam.

Ia ingin berkata tidak.

Tapi…

“Itu penting,” jawabnya pelan.

Melvin menatapnya lebih lama.

Seolah menilai sesuatu.

Lalu—

Ia tertawa kecil.

Bukan tawa yang hangat.

Tapi juga bukan yang dingin.

Hanya… datar.

“Kalau begitu… mungkin Anda tidak seharusnya berada di sini, Nona Winston.”

Bella mengernyit.

“Apa maksud Anda?”

Melvin mendekat satu langkah lagi.

Dan sekarang—

Jarak mereka terlalu dekat.

Cukup untuk membuat Bella menyadari setiap detail wajahnya.

Cukup untuk membuatnya… merasa tidak bisa mundur.

“Dunia saya,” katanya pelan,

“tidak seindah pesta dansa.”

Bella terdiam.

“Terlalu banyak hal yang tidak pantas untuk dilihat oleh seseorang seperti Anda.”

Nada suaranya tidak menghakimi.

Tidak juga mengejek.

Tapi—

Ada batas di sana.

Batas yang jelas.

Dan untuk pertama kalinya—

Bella merasa… ia berdiri di sisi yang berbeda dari pria itu.

“Lalu… kenapa Anda tetap mendekati saya?” tanyanya tanpa sadar.

Melvin tidak langsung menjawab.

Tatapannya berubah.

Sedikit lebih dalam.

Sedikit lebih… sulit dibaca.

“Itu pertanyaan yang bagus.”

Hening.

Angin sore berhembus pelan.

Membawa keheningan di antara mereka.

Dan di dalam keheningan itu—

Bella akhirnya menyadari sesuatu.

Pria ini—

Bukan sekadar misterius.

Bukan hanya menarik.

Bukan hanya berbeda.

Dia…

Berbahaya.

Sangat berbahaya.

Dan anehnya—

Alih-alih menjauh…

Satu bagian dari dirinya—

Justru semakin tertarik.

Bella menatapnya.

Lebih lama dari yang seharusnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Dengan jelas.

Tanpa ragu.

Ia mengakui dalam hatinya sendiri—

“Pria ini… berbahaya.”

Dan mungkin…

Ia sudah terlambat untuk mundur.

1
Del Rosa
semangat ya author...
cerita nya keren👍👍👍
Black Swan
Hai kak aku sudah mampir, semangat terus💪
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut
@RearthaZ
siap kak
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!