NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: CAHAYA DI PUNCAK IJEN

Langit di atas Puncak Ijen tidak pernah benar-benar hitam. Di sana, warna biru elektrik dari api abadi beradu dengan kepekatan kabur belerang yang menyesakkan dada. Di tengah kawah yang mendidih dan angin yang mampu merobek kulit, seorang wanita duduk bersila di atas sebongkah batu lancip.

Ia adalah Serena Arrinra. Sepuluh tahun lalu, ia mendaki gunung ini sebagai seorang putri yang hancur, melarikan diri dari kudeta berdarah yang menewaskan keluarganya. Kini, di usianya yang ke-27, ia bukan lagi gadis rapuh yang menangis di pelukan dayang. Tubuhnya atletis, dibalut pakaian ninja hitam yang menyatu dengan bayangan malam, dengan rambut panjang yang diikat kencang.

"Konsentrasi, Serena. Jangan biarkan petir itu mengendalikanmu. Kamulah yang memerintahnya," sebuah suara parau bergema di balik kabut.

Itu adalah Guru Ki Ageng, petapa tua yang telah melatihnya selama satu dekade.

Serena tidak menjawab. Napasnya teratur, seirama dengan detak jantung bumi di bawahnya. Di telapak tangannya, percikan listrik mulai meloncat-loncat. Bunyinya seperti ribuan lebah yang marah. Cring! Crakk!

"Aku tidak merasakannya sebagai beban lagi, Guru," ucap Serena tenang, matanya masih terpejam. "Aku merasakannya sebagai bagian dari aliran darahku."

"Kalau begitu, buktikan. Lepaskan Jurus Kilat Langit Ketujuh," tantang Ki Ageng.

Serena membuka matanya. Pupil matanya yang semula hitam berubah menjadi perak berkilau. Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata manusia biasa, ia melesat. Tubuhnya berubah menjadi garis cahaya biru.

BOOM!

Sebuah pohon tua yang sudah membatu di pinggir kawah hancur berkeping-keping sebelum suara ledakannya sempat terdengar. Serena sudah berdiri di sisi lain kawah, pedang Raijin miliknya masih tersarung, namun sisa-sisa listrik masih menari di gagangnya.

Ki Ageng berjalan mendekat, terbatuk kecil karena debu belerang. "Kecepatanmu sudah melampaui batas manusia, Serena. Tapi ingat, pedang dan petir hanyalah alat. Yang akan menyelamatkan Kekaisaran Ser bukanlah senjatamu, tapi kebijakan hatimu."

Serena menunduk dalam, menghormati sang guru. "Arrinra memanggilku, Guru. Setiap malam, aku mendengar jeritan rakyat dalam mimpiku. Ibukota yang dulu indah kini pasti telah menjadi sarang tikus-tikus berdasi dan jenderal haus darah."

"Kau benar. Kekaisaran Ser yang luasnya mencapai 2.001.103 Km^2 itu kini sedang sekarat. Luasnya wilayah hanya berarti luasnya penderitaan jika dipimpin oleh tangan yang salah," balas Ki Ageng sambil mengelus jenggot putihnya.

"Apakah aku sudah siap? Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk belajar bersembunyi," tanya Serena ragu.

Ki Ageng terkekeh, suara tawanya memantul di dinding kawah. "Bersembunyi? Tidak, kau sedang ditempa. Seperti pedang yang harus dibakar dan dipukul ribuan kali sebelum menjadi tajam. Pergilah. Turunlah dari gunung ini. Gunakan ilmu bela dirimu untuk melindungi yang lemah, dan gunakan ilmu petirmu untuk menghanguskan ketidakadilan."

Serena melangkah menuju bibir jurang, memandang ke arah timur di mana Ibukota Arrinra berada, jauh di balik cakrawala.

"Guru, jika aku menjadi pemimpin... apakah aku akan tetap menjadi ninja?"

"Ninja bekerja di balik bayangan agar dunia bisa melihat cahaya, Serena. Jadilah pemimpin yang seperti itu. Jangan haus akan pujian, tapi hauslah akan kesejahteraan rakyatmu."

Serena menarik napas panjang, menghirup aroma belerang untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas segalanya, Guru. Aku berjanji, saat aku kembali ke puncak ini suatu saat nanti, Arrinra tidak akan lagi menangis."

"Satu hal lagi, Serena," potong Ki Ageng. "Hati-hatilah. Di kota itu, musuhmu bukan hanya manusia dengan pedang. Ada kegelapan yang lebih tua, sihir hitam yang lahir dari keserakahan. Dan di tengah semua itu, kau mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak pernah aku ajarkan di gunung ini."

"Apa itu, Guru?"

"Cinta yang membumi. Cinta yang akan membuatmu mengerti mengapa kau harus berjuang."

Serena mengernyitkan dahi, tidak terlalu mengerti. Baginya, cinta adalah kelemahan yang sudah ia buang sepuluh tahun lalu. "Aku hanya butuh keadilan, bukan cinta. Pamit, Guru!"

Dengan satu sentakan kaki, Serena melompat dari tebing setinggi ratusan meter. Bukannya jatuh, tubuhnya justru memelesat seperti meteor perak ke arah lembah. Ia berlari di atas pucuk-pucuk pohon dengan kecepatan yang mustahil.

Dalam perjalanannya turun, ia melewati desa-desa kecil di kaki gunung. Di sana, ia mulai melihat kenyataan pahit. Ia melihat para pemungut pajak kerajaan merampas sekarung beras terakhir dari seorang janda tua.

"Tolong, Tuan! Ini untuk cucu saya!" tangis wanita tua itu di depan sebuah gubuk reot.

Prajurit itu tertawa, seragamnya yang berwarna emas kusam tampak kontras dengan kemiskinan di sekitarnya. "Kaisar butuh biaya untuk pesta ulang tahunnya di Arrinra. Beras ini bahkan tidak cukup untuk membayar satu botol anggurnya! Cepat serahkan!"

Prajurit itu mengangkat tangannya, hendak menampar si janda. Namun, sebelum tangannya mendarat, sebuah desingan angin kencang menerjang.

Zrakkk!

Prajurit itu terlempar lima meter ke belakang, dadanya hangus sedikit, pakaiannya robek. Ia gemetar hebat, melihat seorang wanita berpakaian hitam berdiri di depan si janda tua dengan posisi rendah, siap menyerang.

"Si-siapa kau?! Beraninya melawan prajurit resmi Kekaisaran Ser!" teriak prajurit itu sambil mencabut parangnya.

Serena berdiri perlahan. Wajahnya tertutup cadar hitam, hanya matanya yang berkilat perak menatap tajam. "Aku adalah badai yang akan menyapu bersih sampah sepertimu."

"Cih! Hanya ninja bayaran rupanya! Serang dia!" teriak jenderal kecil itu kepada dua anak buahnya.

Kedua prajurit itu merangsek maju. Serena tidak bergerak hingga mereka hanya berjarak satu jengkal. Dengan gerakan bela diri yang lincah, ia menangkap pergelangan tangan lawan pertama, memutarnya hingga bunyi krak terdengar, lalu menggunakan punggung kakinya untuk menghantam rahang lawan kedua.

Semua terjadi dalam hitungan detik.

"Kembalikan beras itu," ucap Serena dingin. Suaranya rendah namun mengandung getaran listrik yang membuat bulu kuduk berdiri.

Prajurit yang tersisa ketakutan setengah mati. Ia melemparkan karung beras itu dan lari tunggang langgang menuju kuda mereka. "Kau akan menyesal! Arrinra akan mengirim pasukan untuk memburumu!"

Serena mengabaikan ancaman itu. Ia membantu wanita tua itu berdiri. "Ambil ini, Kek. Simpanlah di dalam tanah, jangan biarkan mereka melihatnya lagi."

"Terima kasih, pendekar... Siapa namamu?" tanya janda itu dengan suara gemetar.

Serena menatap ke arah Ibukota Arrinra yang mulai terlihat di kejauhan, menara-menara istananya mencuat seperti taring serigala di ufuk barat.

"Namaku tidak penting sekarang, Nek. Tapi sebentar lagi, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa Arrinra telah kembali ke tangan yang sah."

Dengan kecepatan kilat, Serena menghilang dari pandangan, meninggalkan debu yang beterbangan. Hatinya membara. Kekaisaran seluas dua juta kilometer persegi ini telah menjadi neraka bagi rakyatnya sendiri. Peta politik telah berubah, pengkhianatan ada di mana-mana, dan ia tahu, masuk ke Ibukota Arrinra sama saja dengan masuk ke mulut singa.

Namun, ia adalah Serena Arrinra. Ia adalah petir yang tertunda. Dan malam ini, badai itu benar-benar akan dimulai.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!