NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

BAB 32: Asing di Antara Darah dan Debu

Bandara Changi, Singapura, selalu menjadi persimpangan bagi mereka yang berkuasa. Di Terminal VIP yang eksklusif, keheningan yang mahal menyelimuti ruangan. Langit di luar kaca raksasa mulai meredup, memantulkan lampu-lampu landasan pacu yang berkelip seperti permata dingin.

Aurelius Renzo berdiri tegak, jubah wol hitamnya tersampir sempurna di bahunya. Di sampingnya, Maximilian—atau Max—berdiri dengan postur yang sangat mirip dengan ayahnya. Bocah berusia lima tahun itu mengenakan setelan jas kecil berwarna abu-abu arang, tangannya menggenggam tas ransel kulit mini dengan wajah yang datar, hampir tanpa ekspresi. Yoto berdiri dua langkah di belakang mereka, memegang koper-koper perak yang berisi rahasia kekaisaran Hohenzollern.

"Pesawat sudah siap, Tuan Muda," lapor Yoto dengan nada rendah.

Aurelius mengangguk singkat. "Ayo, Max. Kita pulang ke Berlin. Tempat ini terlalu lembap untuk seleraku."

Namun, tepat saat mereka akan melangkah menuju garbarata pribadi, sebuah langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan. Aurelius tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma melati yang samar namun tajam itu adalah hantu yang selalu mengejarnya.

"Aurelius! Tunggu!"

Hana Asuka muncul, napasnya sedikit memburu. Di belakangnya, Kaito Tanaka menyusul dengan wajah yang sulit dibaca—antara rasa bersalah dan kecemburuan yang ditekan habis-habisan. Kaito melangkah maju, mencoba menunjukkan otoritasnya sebagai suami dengan berdiri tepat di samping Hana.

Aurelius berhenti. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya menolehkan kepalanya sedikit, memberikan profil samping wajahnya yang tajam dan tak berperasaan.

"Nona Asuka. Tuan Tanaka," ucap Aurelius, suaranya sedingin es yang membeku di puncak Alpen. "Aku tidak tahu bahwa Terminal VIP ini sekarang terbuka untuk siapa saja yang ingin melakukan perpisahan dramatis."

Kaito berdehem, mencoba mengatur suaranya. "Kami hanya ingin memastikan keberangkatanmu lancar, Tuan Hohenzollern. Bagaimanapun, kolaborasi perusahaan kita di masa depan bergantung pada hubungan baik ini."

Hana tidak mendengarkan Kaito. Matanya tertuju sepenuhnya pada bocah kecil yang berdiri di samping Aurelius. Max menatap Hana dengan mata abu-abu yang tajam—mata yang sama persis dengan mata Aurelius saat pria itu sedang menghakimi lawannya.

"Kau..." Hana berbisik, suaranya bergetar. "Kau pasti Maximilian."

Hana mencoba melangkah maju, tangannya secara naluriah terangkat seolah ingin menyentuh pipi Max. Ia melihat bayangan Ren di wajah anak itu, namun ia juga melihat bayangan Sophia di garis rahangnya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam dada Hana; anak ini seharusnya bisa menjadi anaknya jika takdir tidak begitu kejam.

Max mundur satu langkah, bersembunyi sedikit di balik jubah ayahnya. Ia menatap Hana dengan tatapan menyelidik yang terlalu dewasa untuk usianya.

"Ayah," suara Max terdengar jernih namun dingin, memecah kesunyian. "Siapa mereka? Mereka terlihat sangat akrab denganmu, tapi kenapa Bibi ini menatapku seolah aku adalah barang yang hilang?"

Pertanyaan Max seperti belati yang menghujam jantung Hana. "Bibi". Sebutan itu adalah pembatas yang paling nyata.

Aurelius menunduk, meletakkan tangannya di bahu kecil Max. Sentuhan itu adalah satu-satunya kelembutan yang ia tunjukkan, namun matanya tetap tertuju pada Hana dan Kaito dengan kebencian yang murni.

"Mereka hanyalah orang asing yang tahu posisi mereka, Nak," jawab Aurelius dengan nada yang sangat datar. "Hanya orang-orang dari masa lalu yang mencoba mencari relevansi di masa sekarang. Jangan biarkan mereka mengganggumu."

Hana tersentak. "Orang asing? Aurelius, kau benar-benar ingin menghapus semuanya?"

Aurelius akhirnya berbalik sepenuhnya, menatap Hana langsung ke matanya. "Apa yang perlu dihapus, Nona Asuka? Tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing. Kau punya suamimu, kau punya kerajaan Tanakamu. Dan aku punya putraku. Garis sudah ditarik lima tahun lalu."

Kaito, yang merasa harga dirinya diinjak-injak, menarik lengan Hana sedikit lebih keras. "Hana, ayo pergi. Dia benar. Kita tidak punya urusan lagi di sini. Biarkan mereka kembali ke Eropa."

Hana menepis tangan Kaito dengan kasar. Ia menatap Max lagi, mengabaikan ketegangan antara kedua pria itu. "Maximilian, namaku Hana. Aku... aku dulu mengenal ayahmu dengan sangat baik."

Max tidak terkesan. Ia menatap tangan Hana yang baru saja ditepis oleh Kaito, lalu menatap wajah Kaito yang memerah. "Jika kau mengenal Ayah, kau pasti tahu bahwa Ayah tidak suka orang asing yang membuang-buang waktunya. Dan Paman di sampingmu terlihat seperti orang yang sangat tidak bahagia. Ayah bilang, kita tidak boleh bicara dengan orang-orang yang auranya penuh kebohongan."

Kata-kata Max membuat Yoto sedikit tersedak karena terkejut, sementara Kaito tampak seolah-olah baru saja ditampar di depan umum.

Aurelius memberikan senyum tipis—senyum predator yang puas. "Max selalu punya insting yang bagus, bukan? Dia bisa mencium bau busuk dari sebuah sandiwara bahkan dari jarak jauh."

"Aurelius, cukup!" Hana berteriak, air mata mulai menggenang. "Jangan racuni pikiran anak ini dengan kebencianmu! Dia tidak bersalah dalam hal ini!"

"Dia tidak bersalah, Hana. Itulah sebabnya aku melindunginya dari orang-orang sepertimu," sahut Aurelius. Ia memberikan isyarat pada Yoto. "Bawa koper ke dalam. Kita berangkat sekarang."

Aurelius menggandeng tangan Max, menuntunnya berjalan melewati Hana dan Kaito tanpa menoleh lagi. Punggung mereka terlihat seperti benteng yang tak tergoyahkan.

Hana jatuh terduduk di kursi tunggu VIP, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Isakannya mulai terdengar, memecah kesunyian bandara. Kaito berdiri di sampingnya, merasa seperti orang asing yang paling nyata. Ia ingin memeluk istrinya, namun ia tahu bahwa jika ia menyentuh Hana sekarang, Hana akan semakin membencinya.

"Dia membenciku, Kaito..." tangis Hana pecah. "Dia menganggapku orang asing. Dan anak itu... dia menatapku dengan tatapan yang sama."

Kaito menatap ke arah pintu garbarata yang sudah tertutup. "Mungkin itu yang terbaik, Hana. Biarkan dia menjadi kaisar di dunianya, dan kau tetaplah menjadi ratu di sini. Kita sudah memilih jalan ini. Kita tidak bisa berbalik lagi."

Di dalam pesawat jet pribadi Hohenzollern, suasana sangat sunyi. Max duduk di kursi kulitnya yang besar, menatap keluar jendela saat pesawat mulai lepas landas meninggalkan lampu-lampu Singapura.

Aurelius duduk di seberangnya, menyesap wiski tanpa es. Pikirannya masih tertuju pada pertemuan tadi. Ia melihat betapa Hana hancur, dan sebagian kecil dari dirinya—bagian yang ia sebut sebagai "Ren"—merasa sakit. Namun, bagian kaisarnya merasa puas. Ia harus menyakiti Hana agar ia tidak lagi merasa tersakiti.

"Ayah," panggil Max pelan.

Aurelius menurunkan gelasnya. "Ya, Max?"

"Wanita itu... dia punya kunci yang sama dengan yang Ayah bawa di saku jas Ayah, kan?" tanya Max dengan polos namun tajam.

Aurelius tertegun. Ia tidak menyangka Max memperhatikan detail sekecil itu. Kunci bengkel yang ia genggam di saku jasnya—kunci yang seharusnya ia buang tadi.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Aku melihat kalungnya. Ada kunci kecil di sana. Bentuknya sangat kuno, sama seperti milik Ayah," Max menatap ayahnya dengan mata abu-abu yang seolah bisa menembus segala rahasia. "Ayah bilang dia orang asing. Tapi Ayah tidak pernah menyimpan barang milik orang asing di saku jas Ayah."

Aurelius terdiam lama. Ia menatap putranya, melihat kecerdasan yang melampaui usianya. Ia menyadari bahwa Max bukan hanya mewarisi darahnya, tapi juga kutukannya: kemampuan untuk melihat kebenaran di balik setiap kebohongan.

"Dia adalah bagian dari cerita yang sudah berakhir, Max," ucap Aurelius akhirnya. "Terkadang, kita menyimpan barang dari cerita lama hanya untuk mengingatkan kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama di bab selanjutnya."

Max mengangguk perlahan, seolah mengerti sesuatu yang sangat berat. "Kalau begitu, aku harap Ayah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Ayah terlihat sangat sedih saat melihatnya, meskipun Ayah mencoba bicara dengan dingin."

Aurelius tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap awan gelap yang menyelimuti pesawat mereka. Di dalam kegelapan itu, ia menyadari bahwa sejauh apa pun ia terbang ke Eropa, dan sedingin apa pun ia memperlakukan Hana, ia tidak akan pernah benar-benar bisa melarikan diri dari bayang-bayang wanita itu.

Pernikahan di Tokyo, kematian Sophia di Berlin, dan reuni berdarah di Singapura hanyalah bab-bab dalam buku yang sama. Dan sekarang, saat pesawat itu membelah langit malam, Aurelius tahu bahwa perang yang sesungguhnya—perang untuk menjaga kewarasannya dan masa depan putranya—baru saja memasuki tahap yang paling berbahaya.

Di Singapura, Hana masih menangis. Di jet pribadi, Aurelius masih membeku. Dan di antara mereka, Maximilian kecil mulai menyadari bahwa dunia orang dewasa adalah labirin yang terbuat dari cinta yang salah tempat dan janji yang dikhianati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!