Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Dermaga tua di pesisir Utara itu tampak seperti hantu di tengah kabut yang merayap. Kayu-kayunya yang lapuk berderit setiap kali dihantam ombak dingin, menciptakan irama yang mencekam di tengah keheningan malam. Kapal motor kecil yang membawa Archello Ezzvaro dan Gabriel akhirnya merapat dengan bantingan pelan.
Ezzvaro, yang wajahnya kian pucat akibat kehilangan darah, mencoba berdiri sambil tetap merangkul pinggang Gabriel dengan tangan kanannya yang sehat. Di ujung dermaga, sesosok pria berjubah hitam berdiri tegak, memegang lampu senter yang berkedip tiga kali.
Ezzvaro merogoh pistol di balik pinggangnya, jemarinya yang dingin bersiap menarik pelatuk. "Tetap di belakangku, Gaby," bisiknya parau.
Namun, pria berjubah itu tidak mengangkat senjata. Ia justru membuka penutup kepalanya, menampakkan wajah pria paruh baya dengan sorot mata yang teduh namun tegas. "Nona Gabriel? Tuan Ezzvaro? Saya diperintah oleh Tuan Besar Batistuta untuk menjemput Anda."
Gabriel tersentak. "Kakek?"
Belum sempat ia mencerna keadaan, ponsel satelit yang dibawa pria itu berdering. Ia memberikannya kepada Gabriel. "Ini untuk Anda, Nona."
"Gaby? Sayang? Kau aman?" Suara di seberang sana adalah suara yang sangat Gabriel kenali—suara kakeknya, sang patriark keluarga Batistuta yang selama ini memilih tinggal di pengasingan mewahnya di Swiss. Rupanya, kabar penyerangan brutal Fank Manafe dan pelarian maut mereka telah sampai ke telinganya lebih cepat dari peluru yang mengejar mereka.
"Kakek... Vavo terluka, dan Fank... dia ingin membunuh kami," isak Gabriel pecah seketika.
"Kekek tahu, Sayang. Kekek sudah mendengar semuanya. Fank Manafe sudah kehilangan akal sehatnya," suara kakeknya terdengar berat dan penuh wibawa. "Dengarkan Kakek baik-baik. Kekek dan Ibumu sudah menyiapkan segalanya. Kalian tidak bisa tinggal di Eropa. Jangkauan Fank terlalu luas di sini. Bersembunyilah dulu hingga dua atau tiga tahun ke depan, Sayang. Jaga dirimu, jaga pria yang rela mati untukmu itu, dan yang paling penting... jaga cucu kami."
Gabriel tertegun. "Kakek tahu soal bayi ini?"
"Kekek tahu segalanya tentang darah daging Batistuta. Sekarang, pergilah. Orang kepercayaan Kakek akan memberikan identitas baru untuk kalian. Jangan hubungi siapa pun sampai keadaan benar-benar aman. Kakek akan membereskan kekacauan bisnis ini dari sini."
Panggilan terputus. Pria berjubah itu, yang bernama Arthur, menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Ezzvaro. Di dalamnya terdapat dua buah paspor dengan sampul biru tua yang elegan.
"New Zealand?" Ezzvaro membaca nama negara yang tertera di sana dengan dahi berkerut.
"Iya, Tuan," sahut Arthur tenang. "Selandia Baru adalah tempat yang paling sulit dijangkau oleh jaringan intelijen Manafe Group. Di sana, Anda sudah memiliki sebuah rumah di pinggiran Queenstown, menghadap ke pegunungan. Identitas Anda sekarang adalah Arlo dan Brianna, pasangan arsitek dari Kanada yang sedang menjalani cuti panjang."
Ezzvaro menatap paspor itu, lalu menatap Gabriel. New Zealand. Ujung dunia. Tempat di mana tidak ada gedung pencakar langit Manafe, tidak ada konspirasi bisnis, dan tidak ada peluru yang mengincar punggung mereka.
"Kita berangkat sekarang, Nona. Pesawat jet pribadi sudah menunggu di pangkalan udara kecil sepuluh menit dari sini," desak Arthur.
Ezzvaro merangkul Gabriel lebih erat. "Kau siap, Gaby? Meninggalkan semuanya? Karirmu, kemewahan mu... identitasmu?"
Gabriel menatap mata Ezzvaro, lalu mengelus perutnya yang masih rata. "Selama aku bersamamu dan bayi ini, aku tidak butuh nama Batistuta atau Manafe. Aku hanya ingin kita hidup, Vavo."
Perjalanan menuju pangkalan udara terasa seperti mimpi buruk yang mulai memudar. Mereka melewati jalanan setapak yang dikelilingi hutan pinus. Ezzvaro terus berusaha tetap sadar meskipun rasa nyeri di lengannya mulai membuat pandangannya kabur. Gabriel duduk di sampingnya, terus menggenggam tangan Ezzvaro, sesekali membisikkan kata-kata semangat.
Sesampainya di pangkalan, sebuah jet pribadi sudah menyalakan mesinnya. Arthur membantu Ezzvaro naik ke tangga pesawat. Begitu pintu jet tertutup rapat dan pesawat mulai bergerak di landasan pacu yang gelap, barulah Gabriel benar-benar merasa bisa bernapas.
Di dalam kabin jet yang mewah, seorang perawat pribadi yang sudah disiapkan oleh kakek Gabriel segera menghampiri mereka.
"Mari saya tangani luka Anda, Tuan Arlo," ucap perawat itu dengan ramah, memanggil Ezzvaro dengan nama barunya.
Ezzvaro merebahkan tubuhnya di kursi kulit yang lebar. Gabriel duduk di sampingnya, membiarkan perawat itu membersihkan kembali luka tembak di lengannya. Kali ini, dengan peralatan medis yang lengkap, peluru yang menyerempet itu bisa ditangani dengan benar.
"Untung saja tidak mengenai tulang," gumam perawat itu sambil menjahit luka Ezzvaro.
Ezzvaro hanya memejamkan mata, merasakan jemari Gabriel yang mengusap rambutnya. "Gaby..."
"Ya, Vavo?"
"Setelah ini... tidak ada lagi Direktur Ezzvaro. Hanya ada Arlo, pria yang akan belajar memotong kayu dan menjagamu di pegunungan," bisiknya lemah dengan senyum tipis.
Gabriel terkekeh kecil di tengah harunya. "Dan Brianna akan belajar memasak untukmu, meskipun mungkin makanannya akan sedikit gosong pada awalnya."
Mereka berdua tertawa kecil, sebuah tawa yang murni di tengah kelelahan yang luar biasa.
Di bawah mereka, daratan Eropa perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan Samudera Atlantik yang luas. Mereka sedang menuju ke tempat di mana matahari terbit lebih awal, tempat di mana mereka bisa membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh keserakahan Fank Manafe.
"Tidurlah, Brianna," ucap Ezzvaro lembut, menggunakan nama baru Gabriel. "Saat kau bangun nanti, kita sudah berada di dunia yang berbeda."
Gabriel mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Ezzvaro yang sudah dibalut perban bersih. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak lagi merasa dikejar. Ia merasa dilindungi oleh cinta yang begitu besar, hingga mampu memindahkan mereka ke ujung bumi.
Di rahimnya, sang calon pewaris yang 'terbuang' itu ikut terlelap dalam ketenangan, tidak tahu bahwa kehadirannya telah memicu perang besar yang mungkin akan mengubah peta kekuasaan dunia di masa depan. Namun untuk saat ini, yang ada hanyalah desis mesin pesawat dan janji setia di antara dua hati yang baru saja lolos dari maut.
🌷🌷🌷