Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Bengkel Geri dan Rahasia Baut Karatan
Della tidak menghabiskan mie ayamnya. Rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki membuat perutnya mual, bukan karena makanan, tapi karena pesan WhatsApp dari Geri yang masih menyala di layar HP-nya.
"Sha, cabut yuk. Gue nggak enak perasaan," ajak Della sambil buru-buru merogoh dompet.
"Yah, pangsit gue belum habis, Del! Lo kenapa sih? Gelisah mulu kayak dikejar debt collector," gerutu Sasha, namun ia tetap ikut berdiri setelah melihat wajah Della yang pucat pasi, benar-benar seputih tahu sutra.
Saat mereka berjalan menuju parkiran, gerimis Sukabumi berubah menjadi hujan rintik yang konsisten.
Della mendekati Scoopy-nya. Benar saja, jok belakang motornya terlihat sedikit melesat ke bawah, seolah baru saja diduduki beban berat, padahal Sasha belum naik. Dan bau itu... bau tanah makam itu masih tertinggal di sana, samar-samar di antara wangi parfum jeruk milik Sasha.
"Loe yang bawa, Del?" tanya Sasha sambil memakai helm.
"Iya, gue aja." Della memacu motornya turun ke arah Cisaat. Tujuannya cuma satu: Bengkel Modif "Liem Performance" milik Geri.
Bengkel Geri adalah perpaduan antara kekacauan dan seni. Di dindingnya berjajar ban-ban motor, berbagai macam knalpot, dan kalender bengkel tahun 2017 yang gambarnya sudah agak pudar.
Saat Della sampai, Geri sedang sibuk menyemprotkan cairan pembersih ke rantai sebuah motor trail.
"Nah, datang juga si 'Beban Berat'," celetuk Geri tanpa menoleh, mengenali suara mesin Scoopy Della yang khas.
Geri berdiri, mengelap tangannya yang berlumuran oli hitam ke kain perca.
Matanya yang sipit langsung tertuju ke arah spion kiri motor Della. Ia diam sejenak, ekspresinya yang biasanya penuh candaan berubah menjadi serius.
"Sasha, lo mending ke depan deh, jajan seblak dulu sana. Gue mau bongkar motor Della, kayaknya ada baut yang... bermasalah," ujar Geri, memberikan kode mata yang hanya dimengerti oleh Della.
Sasha, yang memang sudah lapar lagi, cuma mengangkat bahu. "Ya udah, jangan lama-lama ya! Gue mau update Path dulu, sinyal di sini lumayan."
Setelah Sasha menjauh, Geri langsung menarik Della ke sudut bengkel yang lebih gelap.
"Del, jujur sama gue. Loe habis dari mana sebelum ke mie ayam?" tanya Geri setengah berbisik.
"Cuma dari kampus, Ger. Terus lewat jalan pintas yang lewat pemakaman Cina itu, soalnya macet banget di jalur utama. Kenapa sih?"
Geri tidak menjawab. Ia mengambil senter kecil dan menyorot ke bagian bawah mesin Scoopy Della. "Loe lihat ini."
Della membungkuk. Di antara kabel-kabel mesin dan baut-baut yang seharusnya bersih karena baru diservis, terlilit serumpun rambut hitam panjang yang sangat kasar. Bukan itu saja, di bagian shockbreaker belakang, ada bekas telapak tangan kecil seukuran tangan anak kecil atau wanita yang tercetak dari lumpur merah pekat.
"Gue tadi liat dari jauh pas loe lewat, Del. Gue kira gue salah lihat karena efek kacamata gue kotor," kata Geri sambil mengambil tang untuk menarik rambut itu. "Tapi ini bukan rambut manusia biasa. Baunya amis banget, kayak bangkai tikus yang direndam air hujan."
Della merinding. "Ger, di spion kiri gue... dari tadi ada cowok pakai jaket hujan transparan."
Geri berhenti menarik rambut itu. Ia menatap spion kiri Della yang masih basah oleh sisa hujan.
Dengan gerakan perlahan, Geri mengambil obeng.
"Del, spion loe ini bukan spion biasa lagi. Lihat baut pengikatnya."
Della mendekat.
Baut yang mengunci spion kiri itu tidak lagi berwarna perak. Baut itu telah berkarat total secara instan, dan di sela-selanya, ada cairan hitam kental yang merembes keluar seperti darah yang membusuk.
"Motor loe nggak cuma berat karena tumpangan, Del," bisik Geri, wajahnya mendadak tegang. "Baut ini... ini baut mati. Sesuatu sudah mengunci dirinya di motor loe lewat spion ini. Kalau dipaksa lepas sekarang, gue takut motor lo yang hancur... atau loe-nya."
Tiba-tiba, lampu bengkel Geri berkedip-kedip. Suara radio yang tadinya memutar lagu Indie mendadak berubah menjadi suara statis yang berisik, dan di tengah suara statis itu, terdengar suara tarikan nafas berat yang basah tepat di belakang telinga Della.
Della menahan napas, tubuhnya kaku seperti baut yang berkarat paksa.
Suara napas di telinganya terdengar seperti seseorang yang sedang tersedak air berat, basah, dan sangat dekat.
"Ger..." bisik Della, matanya melirik ke arah cermin spion kiri.
Geri yang tadinya memegang tang, tiba-tiba menjatuhkan alatnya.
Prang!
Bunyi besi beradu dengan lantai semen bengkel itu memecah kesunyian yang mencekam.
Suara statis dari radio mendadak hilang, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan.
"Jangan nengok belakang, Del. Tetap liat gue," perintah Geri dengan suara rendah yang gemetar. Tangannya perlahan merogoh saku celana kargo yang penuh noda oli, mengambil sebuah kunci pas besar. Bukan untuk menyerang, tapi untuk berjaga-jaga.
Geri melihatnya.
Di pantulan kaca spion kiri yang berkarat itu, sosok pria berjaket hujan transparan itu tidak lagi duduk di jok. Sosok itu berdiri membungkuk tepat di belakang Della, wajahnya yang tertutup tudung basah berada hanya beberapa sentimeter dari pundak Della. Air menetes dari ujung jaketnya, menggenang di lantai bengkel, tapi anehnya, air itu berwarna keruh seperti air galian tanah.
Tiba-tiba, suara cempreng Sasha memecah suasana dari depan bengkel.
"Woy! Ini seblaknya pedas gila! Del, Geri, mau nggak? Kalau kelamaan gue abisin nih!"
Begitu suara Sasha terdengar, sosok di spion itu menghilang dalam sekejap.
Tekanan udara di sekitar Della yang tadinya berat mendadak terasa ringan kembali. Aroma tanah makam itu memudar, menyisakan bau bensin dan oli yang tajam.
Geri mengusap keringat dingin di dahinya dengan lengan baju. "Sialan. Hampir copot jantung gue."
Della hampir jatuh terduduk kalau saja tidak berpegangan pada stang motornya. "Ger, dia... dia mau apa?"
"Gue nggak tahu, Del," Geri mendekati spion kiri itu lagi, kali ini dia tidak berani menyentuh bautnya. "Tapi ada yang aneh. Lo lihat jaket hujannya tadi? Itu model jaket hujan tahun 90-an. Model plastik transparan yang ada garis kuning di lengannya. Sekarang udah jarang yang pakai."
Della teringat sesuatu. "Tunggu, Ger. Tadi pas kita di kedai mie ayam, bapaknya bilang: 'Penumpang itu nggak suka tempat kering.' Makanya dia muncul terus pas hujan atau gerimis?"
Geri terdiam sebentar, otaknya yang biasa berpikir logis soal mesin mulai dipaksa berpikir di luar nalar. "Bisa jadi, Dan Sukabumi lagi musim hujan, Del. Lo nggak bakal aman kalau terus-terusan di jalanan."
"Tapi gue harus kuliah, Ger. Gue harus nganter Sasha juga."
"Gini aja," Geri mengambil selotip hitam (lakban kabel) dari meja kerjanya.
Dengan cepat, dia menutup permukaan kaca spion kiri Della sampai tertutup rapat. "Jangan dibuka.
Sampai gue nemu cara buat ngelepas baut karatan ini tanpa ngerusak motor lo, lo jangan pernah melihat spion kiri. Kalau lo nggak liat dia, mungkin dia nggak bisa 'masuk' lebih jauh ke pikiran loe."
Della menatap spionnya yang sekarang jadi hitam legam. "Terus gimana kalau ada angkot mau nyalip dari kiri?"
"Pake perasaan, atau suruh Sasha jadi tukang parkir dadakan tiap loe mau belok," canda Geri, meski matanya tidak tertawa sama sekali.
Sasha muncul dari balik tumpukan ban sambil mengunyah kerupuk seblak. "Eh, kok spionnya dilakban? Mau gaya thailook ya? Norak ih, Del!"
Della hanya tersenyum tipis, pura-pura tenang. "Lagi tren tahu, Sha. Biar nggak silau kena lampu mobil dari belakang."
"Dih, makin aneh aja loe," Sasha mencibir sambil naik ke jok belakang.
"Yuk ah, cabut! Gue mau ke Toko Kain subuh besok bareng nyokap, laper lagi gue pikirin belanjaan."
Della menyalakan mesin Scoopy-nya.
Suaranya masih halus, tapi dia tahu, di bawah jok yang diduduki Sasha, serumpun rambut hitam masih terlilit di mesinnya.
"Hati-hati, Del," bisik Geri saat Della mulai menarik gas. "Kalau bau tanah itu muncul lagi, langsung gas pol. Jangan berhenti di tempat sepi."
Della mengangguk.
Dia memacu motornya keluar dari bengkel.
Saat melewati jalan raya Cisaat yang mulai gelap, Della merasa aman karena spion kirinya sudah tertutup lakban.
Dia tidak perlu melihat "dia" lagi.
Namun, baru berjalan lima ratus meter, Della merasakan sesuatu yang aneh.
Tangan Sasha yang biasanya memegang pinggang Della atau sibuk main HP, kini terasa sangat dingin.
Dinginnya menembus jaket varsity Della.
Della melirik ke bawah, ke arah tangan yang melingkar di perutnya.
Bukan tangan Sasha yang berkulit kuning langsat yang dia lihat.
Melainkan jemari yang pucat kebiruan, dengan kuku-kuku yang kotor penuh tanah, dan ujung lengan jaket hujan transparan yang basah.
Dia tidak lagi di dalam spion.
Dia sudah memegang Della.