Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi di Tengah Debu Perang
Satu tahun delapan bulan telah berlalu.
Di kamp militer wilayah Utara yang gersang, debu dan aroma mesiu adalah udara sehari-hari bagi Matthias. Wajah sang Duke kini tampak lebih dewasa; janggut tipis menghiasi rahangnya yang tegas, dan matanya yang ice blue tampak lebih dingin, ditempa oleh kerasnya strategi perang yang tak kunjung usai.
Matthias sedang duduk di dalam tenda komandonya, menatap peta taktis yang sudah ia hafal di luar kepala. Di luar, suara angin gurun menderu, bersahutan dengan suara beberapa prajurit yang sedang beristirahat di sekitar api unggun.
Tiba-tiba, sebuah melodi lembut menyelinap masuk ke celah tendanya. Suara denting piano yang sangat presisi, diikuti oleh beat elektronik yang tertata sangat rapi—begitu simetris hingga terasa seperti detak jantung yang tenang.
Matthias mengernyitkan kening. "Hans, suara apa itu?"
Hans, yang setia mendampinginya selama dua tahun ini, masuk membawa laporan logistik. "Oh, itu lagu terbaru yang sedang meledak di seluruh dunia, Yang Mulia. Judulnya 'Plumes of the Same Flight'. Katanya, ini mahakarya dari produser misterius bernama Nin."
Matthias terdiam. Nama itu. Nin.
"Para prajurit sangat menyukainya," lanjut Hans sambil tersenyum tipis. "Mereka bilang lagu ini adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan mereka sebelum maju ke garis depan. Romantis, tapi sangat... tertata. Banyak yang bilang Nin adalah seorang jenius yang punya jiwa yang sangat dalam."
"Berikan aku pemutar musiknya," perintah Matthias pendek.
...Pertemuan Melalui Frekuensi...
Hans menyerahkan sebuah alat pemutar musik kecil milik salah satu sersan. Matthias memasang earphone ke telinganya. Begitu musik dimulai, dunianya yang bising oleh suara meriam mendadak hening.
Denting piano itu... Matthias mengenalnya. Itu adalah gaya yang sama dengan puzzle perak yang pernah mereka susun bersama. Setiap transisi nadanya begitu bersih, seolah-olah sang pencipta lagu tidak membiarkan ada satu desah napas pun yang keluar dari jalurnya.
Lalu, liriknya terdengar:"I'll love you 'til the day that I die... Til the day that I die..." "Birds of a feather, we should stick together, I know..."
Matthias memejamkan matanya rapat-rapat. Dia bisa merasakan aroma mawar dan stroberi menyergap indranya. Dia bisa melihat wajah Shaneen yang sedang fokus di depan monitor, atau wajahnya yang kesal saat merapikan sendok.
Lagu ini bukan sekadar musik. Ini adalah surat cinta yang disamarkan dalam bentuk frekuensi.
"Nin..." bisik Matthias. Suaranya serak oleh kerinduan yang selama ini ia tekan di bawah seragam militernya. "Jadi selama ini, kau bicara padaku lewat melodi ini?"
Matthias tertawa rendah, sebuah tawa pahit sekaligus bangga. Dia tidak menyangka bahwa "singa kecil"-nya telah menaklukkan dunia dengan kesedihan yang ia tinggalkan. Lagu itu telah menjadi fenomena global, diputar di setiap stasiun radio dari London hingga Paris, namun hanya Matthias yang tahu rahasia di balik setiap ketukannya.
"Yang Mulia? Anda baik-baik saja?" tanya Hans melihat tuannya terdiam cukup lama.
Matthias melepas earphone-nya, namun matanya kini berkilat dengan semangat yang baru. Semangat untuk segera mengakhiri perang ini.
"Hans, berapa lama lagi sisa masa tugas kita di sini?"
"Menurut jadwal, tiga bulan lagi, Yang Mulia. Jika pelabuhan sudah aman, kita bisa pulang tepat saat musim panas kedua berakhir."
Matthias berdiri, merapikan pedangnya dengan gerakan yang sangat berwibawa. "Percepat semuanya. Aku ingin kita menyelesaikan pengepungan ini dalam dua minggu. Aku sudah terlalu lama membiarkan wanitaku menyanyi sendirian di seberang sana."
Hans tertegun. Motivasi Matthias mendadak melonjak drastis. Hanya karena sebuah lagu, Sang Jenderal siap meratakan musuh secepat kilat.
Di Sisi Lain Elysium Estate
Sementara itu, di studionya yang kini jauh lebih besar dan canggih, Shaneen duduk menatap grafik penjualan lagunya yang memecahkan rekor. Namun, dia tidak tersenyum.
Dia hanya menatap sebuah foto kecil yang ia ambil diam-diam saat Matthias sedang berkuda di hari libur itu—foto yang ia simpan di dalam laci yang terkunci rapat.
"Kau mendengarnya tidak, Matthias?" gumam Shaneen pelan. "Kau bilang kau ingin menjadi satu-satunya kekacauan dalam hidupku. Tapi sekarang, kau malah menjadi keheningan yang paling menyiksaku."
Shaneen merapikan pigura foto itu hingga posisinya tegak lurus sempurna dengan pinggiran meja. Dia sudah menunggu dua tahun. Dan dia tidak keberatan menunggu sedikit lagi, asalkan saat Matthias pulang nanti, pria itu masih memiliki hati yang utuh untuk ia "berantakan"-kan lagi.