Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
Langit siang di atas Istana Aurelius berwarna kelabu pucat ketika Duke Alaric Ravens melangkah melewati pintu utama istana dengan wajah yang lebih dingin dari biasanya.
Jubah hitamnya menjuntai tegas, lambang serigala perak di dadanya berkilau di bawah cahaya matahari yang masih enggan muncul sepenuhnya. Para penjaga istana menunduk hormat dalam diam. Mereka sudah mendengar kabar tentang duel kenaikan peringkat yang akan diumumkan hari ini.
Namun sedikit yang tahu alasan sebenarnya di baliknya.
Alaric tidak datang sebagai seorang ayah yang marah karena penghinaan putrinya saja, tapi ia datang sebagai pilar kerajaan yang menuntut pertanggungjawaban.
Pintu aula utama dibuka lebar.
Di ujung ruangan, duduk di atas takhta emas yang diukir dengan lambang matahari, adalah Kaisar Aurelius.
Kaisar Victor Aurelius
Sosok yang dikenal bijak namun tak kenal kompromi dalam urusan kehormatan dan disiplin kerajaan.
Tatapannya tenang ketika melihat Alaric mendekat. Jelas pertemuan ini bukan antara kakak dan adik tapi antara Duke dan Kaisar.
"Duke Ravens," ucap Kaisar penuh wibawa. "Kudengar ada kekacauan di akademi."
Alaric berhenti beberapa langkah dari takhta.
Menunduk hormat.
"Kekacauan itu sudah berlangsung lama, Yang Mulia," jawan Alaric.
Aula menjadi sunyi. Beberapa bangsawan yang hadir saling pandang.
Kaisar menyilangkan tangan. "Jelaskan."
Suara Alaric rendah, terkontrol, tetapi setiap katanya seperti bilah pedang yang diasah tajam.
"Sejak kapan akademi kesatria yang dibanggakan kerajaan ini membiarkan murid saling menghina dan menjatuhkan? Sejak kapan guru menutup mata ketika muridnya merendahkan sesama? Dan lebih buruk lagi ... sejak kapan kepala akademi membiarkan itu terjadi dengan alasan kesetaraan?" ujar Alaric tegas.
Beberapa pejabat tampak gelisah, karena jika Alaric sudah membuat laporan ke kaisar, maka akan ada 'pembersihan'.
Alaric melanjutkan tanpa ragu. "Seberapa hebat mereka sehingga berani sekali menghina anggota keluarga Duke, keluarga kerajaan sendiri dengan mengatasnamakan kesetaraan?"
Nada suaranya mengeras dan melanjutkan, "Tetapi saat keluarga bangsawan tinggi melakukan sedikit saja kesalahan, kita langsung dicap penjahat paling kejam. Diadili tanpa belas kasihan. Dipermalukan di depan umum."
Kaisar tidak menyela. Ia mendengarkan. Dan semakin lama, sorot matanya semakin gelap.
"Kesetaraan bukan berarti kebebasan untuk menghina dan menjatuhkan," lanjut Alaric. "Kesetaraan berarti disiplin yang sama. Standar yang sama. Rasa hormat yang sama tanpa memandang status."
Alaric menatap lurus ke mata Kaisar.
"Jika akademi telah kehilangan itu, maka kita sedang membesarkan generasi kesatria yang hanya kuat di mulut, tetapi rapuh di medan perang. Bagaimana bisa mereka menghadapi peperangan nantinya?"lanjut Alaric.
Hening panjang menyelimuti aula.
Kaisar berdiri perlahan. Jubah emasnya bergeser pelan di atas lantai marmer.
"Kau tidak berbicara sebagai seorang ayah yang tersinggung?" tanya pelan.
"Tidak, Yang Mulia. Aku bicara sebagai kesatria yang telah mengabdikan hidupnya untuk kerajaan ini," jawab Alaric tanoa ragu.
Alaric menunduk sekali lagi.
Kaisar menghela napas. "Kalau begitu agar adil ... mari kita uji para calon kesatria di akademi."
Dan pengumuman itu mengguncang ibu kota.
Kaisar menyuruh ajudannya menyampaikan di hadapan seluruh akademi dan para kesatria kerajaan.
"Mulai tahun ini," suara sang ajudan kaisar menggema di lapangan utama akademi, "ujian kenaikan peringkat akan dilakukan dengan sistem adu tanding dengan kesatria kerajaan!"
Riuh langsung pecah.
"Jika kalian menang, kalian akan langsung dinaikkan menjadi kesatria kerajaan!" lanjut sang ajudan.
Sorak sorai membahana. Para murid akademi saling menatap penuh percaya diri. Sebagian bahkan tersenyum sinis, merasa kesempatan emas ada di depan mata.
"Tetapi," lanjut sang ajudan, suaranya berubah tajam, "jika kalian kalah ... kalian akan diturunkan ke peringkat paling rendah. Tanpa pengecualian!"
Hening.
Para murid saling pandang.
Namun kepercayaan diri masih terlihat di wajah mereka.
Sebagian bahkan berbisik, "Kita hanya melawan kesatria biasa."
Tak satu pun menyadari badai yang sedang menunggu.
Sampai hari ujian tiba.
Arena besar kerajaan dipenuhi penonton.
Bangsawan tinggi duduk di tribun utama.
Kesatria kerajaan duduk berjajar di pinggir arena.
Kesatria Ravens dengan seragam resmi mereka hadir dalam barisan terhormat.
Keluarga kerajaan sendiri menyaksikan dari tempat khusus anggota kerajaan. Termasuk Duke Ravens bersama Evan berdiri di samping ayahnya.
Wajah Evan tenang. Namun ada kilat tajam di matanya.
Di tengah arena, berdiri satu orang.
Tinggi.
Tegap.
Rambut cokelat gelapnya bergerak indah tertiup angin. Pedang panjang tergantung di pinggangnya. Tatapannya dingin, penuh perhitungan.
Rowan Desmond
Kesatria aktif nomor satu di Kerajaan Aurelius.
Kakak sepupu Elara dan Evan.
Dan murid Duke Alaric Ravens dalam seni berpedang.
Ketika nama Rowan diumumkan sebagai satu-satunya lawan tanding ... arena langsung membeku.
Wajah para murid memucat seketika. Bisik-bisik panik terdengar.
"Rowan Desmond?"
"Kesatria nomor satu di Aurelius?"
"Itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berpedang."
"Dia bahkan menjadi Ketua Kesatria Kerajaan di usia yang masih sangat muda."
Namun itu nyata.
Ujian kali ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah penghakiman.
Rowan melangkah ke tengah arena dengan tenang. Tatapannya menyapu para murid yang berdiri di sisi lain.
"Siapa yang pertama?" tanya Rowan dingin.
Seorang murid maju dengan langkah kaku. Ia mencoba terlihat berani. Pedangnya diangkat.
"Mulai!" teriak wasit.
Dentang baja beradu.
Namun perbedaan kelas langsung terlihat.
Gerakan Rowan bersih.
Efisien.
Tanpa celah.
Tiga langkah.
Dua tebasan.
Satu dorongan.
Pedang murid itu terlempar.
Ujung pedang Rowan berhenti tepat di lehernya.
"Selesai!" seru wasit.
Hening.
Murid pertama kalah dalam waktu kurang dari satu menit.
Yang kedua maju.
Keringat sudah membasahi pelipisnya bahkan sebelum duel dimulai.
Lima gerakan.
Satu putaran cepat.
Tubuh murid itu segera terhempas ke tanah.
Kalah lagi.
Yang ketiga mencoba menyerang lebih agresif.
Rowan hanya tersenyum tipis.
Satu langkah menyamping.
Gagang pedangnya menghantam perut murid itu.
Lalu satu tebasan ringan menjatuhkan pedangnya.
Kalah lagi.
Satu per satu mereka maju.
Satu per satu mereka tumbang.
Tidak ada yang mampu menyentuh Rowan lebih dari dua kali tebasan.
Bangsawan di tribun mulai berbisik.
Kesatria kerajaan menyilangkan tangan dengan wajah puas.
Kesatria Ravens tersenyum tipis mengagumi bagaimana keponakan Duke Alaric itu semakin hebat dalam berpedang.
Evan memandangi arena dengan tatapan dingin.
Ia tahu.
Inilah jawaban yang dibutuhkan. Hakim di sini bukanlah Evan sebagai saudara kembar Elara, bukan Alaric sebagai sang ayah, atau kaisar sendiri. Melainkan kakak yang sangat mencintai adik-adiknya.
Akhirnya, murid terakhir terjatuh.
Rowan berdiri di tengah arena, napasnya bahkan tidak terengah sedikit pun.
Ia menghantamkan ujung pedang ke lantai. Lalu berseru dengan suara lantang yang menggema ke seluruh penjuru.
"Apa ini para calon kesatria kerajaan yang berani menjelek-jelekkan dan mencap adikku, Putri dari Duke sebagai orang gagal dan tidak pantas menjadi kesatria?!" seru Rowan.
Sunyi.
Wajah-wajah para murid membeku.
"Jika kalian berani menjelek-jelekkan seseorang," lanjut Rowan tajam, "setidaknya kalian harus bisa menjatuhkanku dalam duel baru bisa besar kepala untuk mencemooh orang lain!"
Tatapan Rowan menyapu mereka satu per satu. "Harga diri kalian tidak lebih dari mulut kotor saja! Itu yang mau menjadi kesatria Aurelius?! Kalian menganggap enteng menjadi kesatria rupanya!"
Suara gemuruh setuju terdengar dari barisan kesatria kerajaan.
"Benar! Disangka menjadi kesatria kerajaan hanya leha-leha saja," salah satu bawahan Rowan berseru.
"Kualitas akademi benar-benar hancur tahun ini!" teriak yang lain.
Rowan menyarungkan pedangnya dan berkata, "Daripada menjelek-jelekkan orang lain, lebih baik kalian benahi dulu latihan kalian! Memalukan kualitas calon kesatria hanya seperti ini."
Suara cemooh kini terdengar jelas dari para kesatria resmi, atas turunnya kualitas calon-calon kesatria.
Para murid yang sebelumnya sombong kini hanya bisa menunduk gemetar.
Dan kemudian ...
Kaisar berdiri.
Semua langsung terdiam.
Kaisar Victor Aurelius melangkah ke depan balkon.
"Mulai hari ini," suara Kaisar menggema keras, "seluruh murid yang gagal akan diturunkan ke peringkat paling rendah."
Desahan terkejut terdengar.
"Dan akademi ini akan dilatih langsung oleh kesatria kerajaan. Termasuk Rowan Desmond!" umum Kaisar.
Rowan menunduk hormat.
Kaisar melanjutkan, suaranya lebih berat. "Kesatria adalah pilar kerajaan. Tidak boleh ada keserakahan. Tidak boleh ada kesombongan. Disiplin adalah harga mati."
Tatapan Kaisar menyapu seluruh arena. "Jika kesatria saja sudah lemah, siapa yang akan melindungi rakyat?"
Hening.
"Melawan satu orang saja kalian tidak mampu. Bagaimana bisa melawan monster dengan kekuatan berkali-kali lipat?" ujar Kaisar tajam.
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam harga diri mereka.
"Dan mulai hari ini," lanjut Kaisar, "semua guru dan kepala akademi yang membiarkan kesombongan ini merajalela akan dicabut dari jabatan mereka."
Beberapa guru yang hadir memucat drastis.
"Tidak ada tempat bagi mereka yang menutup mata terhadap penghinaan terhadap keluarga kerajaan. Atau terhadap sesama bahkan jika rakyat kecil sekali pun," ujar Kaisar.
Kalimat itu seperti hukuman mati sosial.
Karier mereka selesai.
Nama mereka tercemar.
Dan bagi sebagian bangsawan ... itu lebih buruk dari kematian.
Rowan menatap para murid terakhir kali.
"Bangun," kata Rowan dingin. "Jika kalian masih ingin menjadi kesatria, mulai besok kalian akan berlatih sampai tangan kalian berdarah. Jika tidak berkenan, silahkan mengundurkan diri dari akademi. Aku tidak butuh kesatria yang tidak memilki jiwa kesatria."
Para murid hanya bisa menunduk.
Di tribun, Alaric berdiri perlahan. Tatapannya bertemu dengan Rowan.
Tak perlu kata-kata.
Pesan telah sampai.
Keadilan telah ditegakkan.
Dan di suatu tempat di kediaman Ravens, seorang gadis berambut hitam yang belum mengetahui semua ini sedang berjalan menuju masa depan yang baru.
Sementara akademi lama yang meremehkannya baru saja runtuh harga dirinya di tengah kemarahan sang kakak.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜