Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Di ruang kerjanya, Arya nampak tersenyum puas ketika asisten pribadinya, Irsyad, memberitahukan informasi yang sangat bagus dan sesuai dengan yang dia inginkan. Yakni tentang apa yang terjadi pada perusahaan Daffa.
"Sepertinya rencana kita berjalan lancar," kata Arya santai, menyandarkan punggungnya ke kursi.
Irsyad mengangguk. "Ya, perusahaan Hartawan sedang dalam masalah besar. Para investor mulai menarik dana mereka. Hanya satu investor yang masih bertahan, yaitu Pak Adrian."
Arya menyipitkan matanya. "Pastikan Pak Adrian tidak terburu-buru percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daffa. Buat dia semakin ragu."
"Saya mengerti, Pak. Akan saya atur segalanya," jawab Irsyad dengan penuh keyakinan sebelum keluar dari ruangan.
Sementara itu, di kantor Hartawan, Daffa tengah berusaha mati-matian mendapatkan kembali kepercayaan investor. Dia menghubungi banyak pihak, menjadwalkan pertemuan, dan menyusun strategi untuk meyakinkan Pak Adrian agar tetap bekerja sama dengan perusahaannya.
"Mira, pastikan kita bisa bertemu Pak Adrian secepatnya. Aku harus berbicara langsung dengannya sebelum dia berubah pikiran," kata Daffa tegas.
Mira mengangguk cepat. "Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi asistennya untuk menjadwalkan pertemuan."
Daffa menghela napas berat, merasa tertekan oleh situasi ini. Dia tidak tahu bahwa semua ini bukan kebetulan. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang berada di balik kehancuran perusahaannya seseorang yang diam-diam mengendalikan semuanya dari balik layar.
Beberapa saat kemudian, Daffa masih duduk di kursinya, kepalanya tertunduk dalam, pikirannya berkecamuk mencari jalan keluar bagi perusahaannya. Tekanan demi tekanan membuatnya nyaris kehabisan napas. Mira kembali masuk ke ruangannya dengan ekspresi sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
"Pak, saya sudah berhasil membuat janji dengan Pak Adrian. Beliau bersedia menemui Bapak besok sore," kata Mira, memberikan informasi yang sedikit melegakan.
Daffa mendongak, sorot matanya menampakkan kelelahan, tetapi ada secercah harapan yang muncul. "Terima kasih, Mira. Itu kabar baik. Aku butuh waktu untuk membujuknya."
Mira mengangguk, lalu segera kembali ke tempatnya. Namun, belum sempat Daffa menarik napas lega, Vicky masuk dengan wajah lebih serius dari sebelumnya, membawa setumpuk dokumen di tangannya.
"Pak, ini data yang saya kumpulkan mengenai proyek yang gagal itu," ujar Vicky sambil meletakkan dokumen-dokumen di atas meja Daffa.
Daffa meraih dokumen-dokumen itu dengan cepat dan mulai membaca. Semakin jauh ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Lalu matanya membelalak. "Penggelapan dana?" desisnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.
Vicky mengangguk, ekspresinya muram. "Ya, Pak. Sejumlah besar dana proyek ini telah diselewengkan oleh oknum internal. Akibatnya, pembayaran gaji pekerja tersendat, dan mereka pun akhirnya mogok kerja. Ini penyebab utama proyek kita gagal."
Daffa mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Siapa yang bertanggung jawab atas ini?" tanyanya dengan nada dingin yang menyiratkan amarah terpendam.
"Dari hasil investigasi awal, beberapa nama mencuat, termasuk kepala bagian keuangan dan beberapa manajer proyek. Mereka memanipulasi laporan keuangan dan mengalihkan dana ke rekening-rekening pribadi," jelas Vicky.
Daffa membanting dokumen ke meja dengan kasar. "Sial! Mereka pikir bisa bermain-main dengan uang perusahaan dan menghancurkan segalanya?!" Suaranya bergetar menahan marah. "Kita harus segera bertindak sebelum semuanya semakin parah. Laporkan mereka ke pihak berwajib dan segera kumpulkan bukti lebih banyak. Aku ingin mereka dihukum seberat-beratnya!"
Vicky mengangguk cepat. "Baik, Pak. Saya akan segera menangani hal ini."
Daffa mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menenangkan pikirannya. "Untuk saat ini, prioritas utama kita adalah menyelamatkan kepercayaan investor. Besok setelah bertemu Pak Adrian, aku ingin masalah penggelapan dana ini diselesaikan. Aku tak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos."
Vicky menatap bosnya dengan kagum.
Walaupun situasi genting, Daffa tetap tegar. "Baik, Pak. Saya akan segera mengurusnya."
Setelah Vicky keluar, Daffa menutup matanya sesaat. Ini bukan sekadar ujian bisnis, tetapi pertarungan untuk mempertahankan segalanya.
Jika dia gagal, semuanya akan runtuh. Dan itu bukan pilihan.
Ia mengembuskan napas panjang, menatap dokumen di hadapannya dengan tatapan penuh tekad. Besok adalah hari penentu. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Di tempat tinggalnya yang baru, Raya diperlakukan bak ratu. Perlakuan kedua orang tua Arya yang begitu hangat membuatnya merasa tidak enak hati. Dia tidak terbiasa dengan perhatian dan kenyamanan semacam ini. Karena itu, dia memutuskan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Saat tiba di dapur, dia melihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk memasak, ditemani oleh beberapa pelayan lainnya. Wangi rempah-rempah yang sedang dimasak memenuhi udara. Raya tersenyum dan melangkah mendekat, kemudian menyapa dengan suara lembut, "Ibu, boleh saya membantu?"
Wanita paruh baya yang bernama Bi Ratna menoleh dengan terkejut, begitu pula para pelayan lainnya. Salah satu dari mereka buru-buru menunduk hormat dan berkata, "Tidak usah, Nona Raya. Ini sudah tugas kami. Anda silakan istirahat saja."
Raya tersenyum canggung. "Tapi saya ingin membantu. Saya tidak bisa hanya duduk diam menerima perlakuan istimewa seperti ini. Saya terbiasa melakukan semuanya sendiri."
Bi Ratna menatapnya dengan lembut. "Kami paham, Nona, tapi ini sudah menjadi tanggung jawab kami. Jika Bu Atika tahu kami membiarkan Anda bekerja, kami bisa dimarahi."
Baru saja Bi Ratna selesai bicara, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Bu Atika, ibu Arya, muncul dengan ekspresi terkejut saat melihat Raya berada di dapur.
"Raya? Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?"
tanyanya dengan lembut namun tegas.
Raya sedikit menunduk, merasa seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang. "Saya hanya ingin membantu, Ma. Saya tidak terbiasa diam saja."
Bu Atika tertawa kecil, lalu menghampiri Raya dan menggandeng tangannya dengan penuh kasih sayang. "Nak, mulai sekarang anggap rumah ini rumahmu sendiri. Kamu adalah calon ibu dari cucu kami. Kami ingin kamu nyaman. Biarkan kami yang mengurus semuanya."
Raya masih ragu, tetapi melihat tatapan hangat dari Bu Atika, dia mengangguk perlahan. "Baik, Ma. Tapi saya benar-benar tidak terbiasa diperlakukan seperti ini."
"Aku mengerti, tapi lama kelamaan kamu akan terbiasa," kata Bu Atika dengan suara lembut. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita duduk santai di taman belakang? Aku ingin mengenalmu lebih dekat."
Raya menatap Bu Atika sejenak, kemudian tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Ma."
Mereka pun berjalan beriringan menuju taman belakang. Sementara itu, para pelayan di dapur berbisik satu sama lain, terkesan dengan sikap rendah hati calon nyonya mereka yang baru.
Di taman belakang, angin sepoi-sepoi mengayun lembut dedaunan, menciptakan suasana yang begitu menenangkan. Baru beberapa menit Raya dan Bu Atika duduk di bangku taman, beberapa pelayan datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan aneka kue. Mereka dengan cekatan menyajikannya di meja kecil di antara mereka berdua.
"Silakan, Nyonya Atika, Nona Raya," ucap salah satu pelayan dengan sopan, meletakkan cangkir di hadapan Raya dan Bu Atika.
Raya tersenyum kecil, mengangguk sebagai tanda terima kasih. Dia melirik sekilas ke arah Bu Atika yang sedang mengamati dirinya dengan tatapan lembut.
"Nak Raya," panggil Bu Atika tiba-tiba, membuat Raya mengangkat wajahnya. "Aku penasaran, bagaimana awal mula kau bertemu dengan Arya?"
Pertanyaan itu membuat Raya terdiam sejenak.
Tangannya yang hendak meraih cangkir teh pun terhenti di udara. Dia tak bisa langsung menjawab.
Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berputar.
Bagaimana jika cerita yang ia sampaikan
bertentangan dengan apa yang Arya katakan? Apa yang akan terjadi jika kebenaran terbongkar?
Raya menelan ludah, jantungnya mulai berdegup kencang.
Seolah merasakan kegelisahan Raya, Bu Atika tersenyum lembut. "Apa ada yang salah, Nak?"
Raya tersadar dari lamunannya. Dia berusaha tersenyum, namun perasaan was-was tetap menyelimuti dirinya.
Pikiran Raya melayang kembali ke malam sebelum mereka tiba di rumah ini.
Di dalam kamar vila tempatnya menginap, Arya menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dengar baik-baik, Raya," kata Arya, nada suaranya dingin dan tegas. "Orang tuaku tidak boleh tahu siapa dirimu sebenarnya."
Raya mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Jangan pernah bilang kalau kau seorang janda dan anak yang kau kandung bukan anakku," lanjut Arya tanpa basa-basi.
Mata Raya membulat. "Apa?! Aku tidak bisa berbohong soal itu!"
Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Kalau kau tidak ingin hidupmu semakin sulit, lebih baik kau menurut. Percayalah, ini bukan hanya demi aku, tapi juga demi dirimu sendiri. Demi kerja sama kita dan rencanamu yang ingin balas dendam ke keluarga mantan suamimu."
Raya menelan ludah. "Bagaimana kalau mereka tahu yang sebenarnya?"
Arya menyeringai. "Mereka tidak akan tahu jika kau bisa memainkan peranmu dengan baik. Aku butuh kau untuk tetap dalam cerita ini sampai waktunya tiba. Mainkan peranmu sebagai wanita milikku dan anak dalam kandunganmu adalah anakku."
Raya mengepalkan tangannya di pangkuannya. Ia ingin membantah, tapi kata-kata Arya terasa begitu menekan, seolah tidak memberinya pilihan lain.
Kembali ke masa sekarang, Raya menghela napas perlahan. Dia menatap Bu Atika yang masih menunggu jawabannya. Dengan senyum yang dipaksakan, Raya pun berkata, "Aku... bertemu Mas Arya secara kebetulan. Saat itu aku dalam keadaan sulit dan Mas Arya menolongku."
Bu Atika mengangguk, matanya berbinar.
"Begitu rupanya. Arya memang bukan tipe pria yang mudah jatuh hati, tapi jika dia sudah memilih seseorang, pasti ada alasan yang kuat."
Raya hanya bisa tersenyum samar. Dalam hatinya, ia merasa telah masuk ke dalam permainan yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Tapi tak mengapa, sebab anaknya butuh tempat tinggal yang layak.