Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga yang (ternyata) Hangat.
Sejak dokter memastikan bahwa kehamilanku berjalan baik, hari-hari di rumah terasa jauh lebih tenang.
Mual di pagi hari mulai berkurang.
Tubuhku juga sudah tidak terlalu lelah seperti di minggu-minggu awal.
Namun ada satu hal yang tidak berubah sama sekali.
Ashar.
Suamiku itu justru terlihat semakin sibuk mengawasi setiap gerak-gerikku.
Jika aku berdiri terlalu cepat, ia langsung menegur.
Jika aku mengangkat sesuatu yang sedikit berat, ia langsung mengambilnya dariku.
Jika aku berjalan terlalu cepat menuju dapur, ia bahkan ikut berdiri hanya untuk memastikan aku tidak terpeleset.
Awalnya aku merasa manis.
Namun setelah beberapa minggu…
aku mulai merasa seperti seseorang yang sedang diawasi kamera keamanan.
“Ashar,” kataku suatu siang ketika ia memperhatikanku menuang air minum.
“Iya?”
“Kamu tahu aku masih bisa menuang air sendiri, kan?”
Ia mengangguk.
“Tentu.”
“Lalu kenapa kamu menatapku seperti aku sedang melakukan eksperimen kimia berbahaya?”
Ia terlihat berpikir sebentar.
“Aku hanya memastikan kamu tidak pusing.”
Aku tertawa kecil.
“Menuang air tidak menyebabkan pusing.”
Ia hanya mengangkat bahu.
Namun sebelum aku sempat berkata lagi, bel rumah berbunyi.
Kami berdua menoleh bersamaan.
Ashar terlihat sedikit heran.
“Siapa ya?”
Aku mengangkat bahu.
“Mungkin paket.”
Namun ketika Ashar membuka pintu, suara yang terdengar dari luar membuatku langsung mengenalinya.
“Apa kabar, cucu keras kepala?”
Itu suara yang familiar.
Ashar terlihat terkejut.
“Kakek?”
Aku langsung berjalan ke ruang depan.
Dan benar saja.
Di depan pintu berdiri tiga orang yang pernah kutemui sebelumnya.
Kakek Ashar dengan rambut putihnya yang rapi.
Paman Ashar dengan wajah yang selalu terlihat tenang.
Dan Bibi yang tersenyum hangat seperti biasanya.
Ini adalah pertemuan kedua kami.
Pertemuan pertama terjadi beberapa bulan lalu.
Saat mereka datang bersama Ashar untuk melamarku.
Hari itu terasa sangat formal.
Penuh kecanggungan.
Dan aku hanya sempat berbicara sedikit dengan mereka.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Jauh lebih santai.
Kakek langsung tertawa begitu melihatku.
“Nah, ini dia menantuku.”
Aku membungkuk sedikit dengan sopan.
“Kek, Paman, Bibi… silakan masuk.”
Bibi langsung memelukku dengan lembut.
“Kami mendengar kabar baik.”
Aku tersenyum malu.
“Iya…”
Paman menepuk bahu Ashar.
“Kamu tidak memberi kabar lebih cepat.”
Ashar menggaruk lehernya.
“Aku… sedang sibuk.”
Kakek mendengus.
“Kamu selalu sibuk.”
Aku menahan tawa.
Karena itu memang terdengar sangat seperti Ashar.
Kami semua duduk di ruang tamu.
Ashar terlihat sedikit kaku.
Namun kakek justru sangat santai.
Ia menatap perutku dengan penuh perhatian.
“Jadi benar kamu sedang hamil.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya, Kek.”
Ia tersenyum lebar.
“Bagus sekali.”
Kemudian ia menoleh ke arah Ashar.
“Akhirnya kamu melakukan sesuatu yang benar.”
Aku hampir tertawa keras.
Ashar hanya menutup wajahnya sebentar dengan tangan.
“Kek…”
Namun kakek hanya tertawa.
Bibi kemudian bertanya dengan nada lembut.
“Bagaimana kondisi kamu sekarang, Mala?”
“Sudah jauh lebih baik.”
“Mualnya masih sering?”
“Kadang-kadang saja.”
Bibi mengangguk mengerti.
“Awal kehamilan memang seperti itu.”
Ia berbicara dengan sangat tenang, seolah benar-benar memahami kondisi yang sedang kualami.
Aku merasa nyaman berbicara dengannya.
Paman juga terlihat memperhatikanku dengan ramah.
“Kalau Ashar terlalu cerewet soal kesehatanmu, jangan sungkan menegurnya.”
Aku langsung tertawa.
“Sudah sering.”
Ashar memandangku dengan ekspresi tidak percaya.
“Sering?”
Aku mengangguk.
“Setiap hari.”
Kakek tertawa keras.
“Bagus.”
Obrolan kemudian mulai mengalir lebih santai.
Kami berbicara tentang banyak hal.
Tentang kehamilan.
Tentang rencana masa depan.
Tentang pekerjaan Ashar.
Namun ada satu hal yang mulai terasa jelas.
Entah kenapa…
keluarga Ashar justru lebih sering berbicara denganku dibanding dengan Ashar sendiri.
Bibi bertanya tentang makananku.
Paman bertanya tentang kegiatan harianku.
Kakek bahkan bercerita panjang tentang masa muda Ashar.
Ashar hanya duduk di sampingku dengan ekspresi pasrah.
Pada suatu titik ia berkata,
“Kalian bahkan tidak bertanya kabarku.”
Kakek menatapnya datar.
“Kamu baik-baik saja.”
Semua orang tertawa.
Kemudian paman mulai bercerita tentang masa kecil Ashar.
“Dulu dia anak yang sangat pendiam.”
Aku melirik Ashar.
“Masih.”
Paman tertawa.
“Sejak kecil dia jarang bercerita tentang perasaannya.”
Bibi mengangguk.
“Dia selalu menyimpan semuanya sendiri.”
Aku menatap Ashar sebentar.
Ia hanya tersenyum kecil.
Kakek kemudian berkata dengan nada lebih lembut.
“Karena itu kami sebenarnya khawatir.”
Aku sedikit terkejut.
“Khawatir?”
“Kami takut dia tidak tahu bagaimana menjalani pernikahan.”
Aku menatap Ashar lagi.
Ia terlihat sedikit canggung mendengar itu.
Paman melanjutkan.
“Bukan karena dia tidak baik.”
“Tapi karena dia terlalu tertutup.”
Aku mengangguk pelan.
Aku mengerti maksud mereka.
Ashar memang bukan tipe orang yang mudah membuka diri.
Bahkan setelah menikah pun, kadang aku masih harus menunggu lama sebelum ia menceritakan sesuatu yang sedang ia pikirkan.
Namun kemudian kakek tersenyum sambil menatapku.
“Tapi setelah bertemu kamu waktu lamaran dulu, kami sedikit lega.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Karena kamu terlihat sabar.”
Aku tertawa kecil.
“Kadang saja.”
Bibi memegang tanganku dengan lembut.
“Kami senang Ashar memilihmu.”
Kalimat itu terasa hangat.
Benar-benar hangat.
Beberapa saat kemudian suasana kembali penuh tawa.
Kakek bahkan mulai bercanda lagi.
Ia menunjuk Ashar.
“Dia dulu sangat takut berbicara dengan perempuan.”
Aku langsung menoleh.
“Benarkah?”
Paman tertawa.
“Sangat.”
Bibi mengangguk.
“Kalau ada perempuan yang menyapanya, dia langsung pergi.”
Aku tidak bisa menahan tawa.
Ashar terlihat sangat tidak nyaman.
“Itu sudah lama sekali.”
Kakek tertawa.
“Sekarang kamu bahkan sudah punya anak.”
Aku mengusap perutku sambil tersenyum.
Yang paling mengejutkanku adalah satu hal.
Keluarga Ashar ternyata sangat hangat.
Mereka tidak kaku seperti yang dulu kubayangkan.
Mereka juga tidak menilai atau menuntut banyak hal.
Mereka hanya ingin memastikan satu hal.
Bahwa kami baik-baik saja.
Dan bahwa Ashar tidak sendirian.
Menjelang sore mereka bersiap pulang.
Kakek berdiri lebih dulu.
Ia menatapku dengan penuh perhatian.
“Jaga kesehatanmu.”
“Iya, Kek.”
Kemudian ia menatap Ashar.
“Dan kamu…”
Ashar mengangkat alis.
“Apa?”
“Jangan terlalu panik.”
Aku tertawa kecil.
Paman menepuk bahu Ashar.
“Kamu beruntung.”
Ashar terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Karena istrimu jauh lebih mudah diajak bicara daripada kamu.”
Semua orang tertawa.
Ashar hanya menghela napas panjang.
Setelah mobil mereka pergi, rumah kembali sunyi.
Aku duduk di sofa sambil tersenyum.
Ashar menatapku.
“Apa?”
“Keluargamu menyenangkan.”
Ia terlihat sedikit terkejut.
“Benarkah?”
“Iya.”
Ia duduk di sampingku.
“Aku selalu khawatir kamu tidak akan nyaman dengan mereka.”
Aku menggeleng.
“Justru sebaliknya.”
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Terima kasih.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena kamu membuat semuanya terasa lebih mudah.”
Aku tersenyum.
Dan saat itu aku menyadari sesuatu yang sederhana.
Ashar mungkin bukan orang yang pandai menunjukkan perasaan.
Namun orang-orang yang membesarkannya…
ternyata adalah orang-orang yang penuh perhatian.
Mungkin selama ini Ashar hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan semua itu.
Namun sekarang…
kami sedang belajar bersama.
Sebagai suami dan istri.
Sebagai keluarga.
Dan sebentar lagi…
sebagai orang tua.