NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Kebencian Menguasai

Rumah sakit penuh dengan teman-teman Randy dan beberapa cewek penggemar Randy yang menunggu di ruang tamu. Mama Randy buru-buru datang dan langsung masuk ke ruang IGD dengan muka cemas.

“Gak apa-apa kamu, Rand?” tanya mamanya Randy dengan cemas.

“Barusan di rontgen, anak ibu nggak apa-apa kok, Bu, cuma memar otot,” kata dokter jaga yang menangani Randy. “Dari hasil rontgen menunjukkan tidak ada yang patah atau retak.”

“Oh syukurlah,” kata mamanya Randy lega. “Tumben-tumbenan kamu main bola, Rand? Biasanya nggak pernah.”

“Tadi dadakan, Ma,” jawab Randy pelan. “Nggantiin main, ada yang mendadak sakit.”

“Ini saya kasih brace buat engkel, dipakai terus ya?” kata dokter sambil memberikan brace engkel ke Randy yang segera memasangnya. “Biasanya sih 1–2 minggu sembuh, tapi ingat kata dokter tadi, jangan buat main bola dulu satu atau dua bulan meskipun sudah sembuh, ya?”

Dan Randy mengangguk mengiyakan.

“Dan saya kasih obat penahan sakit, diminum kalau perlu saja,” kata dokter melanjutkan. “Dan ini ada vitamin buat otot, diminum sehari tiga kali supaya recovery-nya cepat.”

“Ah anak ini begitu keluar IGD, pasti banyak cewek yang mengerubutinya, pasti cepat juga recovery-nya, Dok,” kata mama Randy sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya.

“Sungguh beruntung kau,” ujar dokter sambil tersenyum.

“Terima kasih ya, Dok,” kata mama Randy. “Kami pamit pulang dulu.”

“Terima kasih, Dok,” kata Randy. “Lebih beruntung di sliding tackle nggak retak tulang daripada cuma dikerubutin cewek-cewek, Dok.”

Mama Randy dan dokter jaga cuma bisa tersenyum lebar mendengar Randy yang sudah bisa bercanda. Akhirnya Randy dan mamanya keluar dari ruang IGD dan segera diserbu cewek-cewek ‘penggemar’ Randy.

“Bagaimana, Rand?” tanya Tatia cemas. Gina juga tampak cemas. “Ada yang retak, Rand?”

“Tenang-tenang, semua,” kata Randy sambil berjalan terpincang-pincang. “Cuma memar otot kok. Pada nggak usah ngirimin Krispy Kreme atau Dunkin Donuts. Paling seminggu dua minggu sembuh, kata dokter tadi.”

“Hore…!” jawab cewek-cewek itu ribut.

“Jadi, dua minggu lagi bisa main bola lagi, Rand?” tanya Hartawan. “Mutiara tersembunyi nih, diam-diam Randy mainnya kayak Thom Haye.”

“Eh, sementara jangan main bola dulu ya, paling nggak sebulan-dua bulan,” kata mama Randy dengan cemberut.

“Tenang, Tant, tapi omong-omong Randy mainnya cakep kok,” tukas Hartawan buru-buru. “Dua gol tadi yang berkat jasa Randy semua.”

“Mending motret-motret aja, Rand,” celetuk Tatia. “Nggak bahaya, daripada main bola, bikin cemas semua orang.”

“Udah ya, Tante dan Randy mau pulang dulu,” jawab mamanya Randy. “Sudah ditunggu taksi, dan Randy biar istirahat.”

“Hati-hati ya, Rand,” kata Hartawan. “Oh ya, nanti gue bilang Pak Trimo, sementara motor titip di parkiran dulu sampai lu sembuh.”

“Trims, Wan,” jawab Randy sambil melambaikan tangan dan berjalan terpincang-pincang. “Bye semua.”

Kemudian Randy menuju taksi bersama mamanya yang segera mengantar mereka pulang.

Di rumahnya, Adolf sudah mendapat kabar bahwa Randy tidak apa-apa, hanya memar otot dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

“Hari ini kau tidak apa-apa. Besok-besok kalau kita ketemu lagi, kau bakalan apa-apa, Rand,” kata Adolf sambil menyeringai mirip Dr. Hannibal Lecter di film lawas Silence of the Lambs.

Adolf adalah mahasiswa semester 4 di jurusan manajemen di fakultas ekonomi. Sebelum Randy masuk sebagai mahasiswa baru, Adolf adalah idola kampus. Semua cewek di kampus itu mengidolakannya. Bahkan dia pernah ditawari suatu produk untuk jadi bintang iklan.

Setelah Randy masuk, semua seolah-olah berubah, dan semua cewek mengelu-elukannya termasuk teman seangkatannya. Singkat kata, Adolf bagaikan sepah dibuang sejak si Randy, si manis itu, datang. Maka tak heran jika Adolf begitu benci dan ingin mencelakai Randy.

Kemudian kesempatan itu datang tanpa disangka-sangka, ketika dia bermain bola untuk tim fakultas teknik yang akan berhadapan dengan tim fakultas ekonomi, menggantikan Julius yang mendadak sakit flu.

Kesempatan itu datang waktu dia berada di belakang Randy yang tengah menggiring bola. Adolf mendapat kartu merah dan harus diusir dari lapangan. Tapi dia puas berhasil melakukan sliding tackle terhadap mahasiswa yang paling dibencinya di seantero kampus itu.

“Tolong pantau si anak mami itu terus, Bro,” kata Adolf kepada Boris, anak arsitek yang teman dekat Adolf. “Gue bakal bikin dia nggak bisa jalan.”

Di kamarnya, Randy menahan nyeri di engkelnya yang memar. Sebisa mungkin dia tidak minum obat penahan nyeri yang tadi diberikan oleh dokter, karena meski dia bukan anak kedokteran, dia paham bahwa obat penahan nyeri biasanya dari paracetamol yang berefek tidak baik bagi hatinya.

Untuk mengusir rasa nyeri, dia melihat-lihat Instagram-nya yang dipenuhi foto-foto indah hasil jepretannya sendiri, lalu membuka akun Shutterstock. Saldonya sudah ada $720, hasil dari beberapa bulan. Not bad.

Dari hasil Shutterstock, Randy sudah berencana mengambil beberapa foto di Taman Nasional Komodo, yang sudah diimpikan sejak lama. Randy sudah sering melihat komodo baik di TV, YouTube, atau melihat langsung di kebun binatang, tapi melihat komodo asli di habitatnya sangat menarik hatinya.

Kemudian dia beralih ke WhatsApp. Ternyata WhatsApp-nya penuh dengan pesan-pesan dari beberapa teman, dan kebanyakan para cewek, dan ada beberapa dari nomor yang tak dikenalnya. Semua menanyakan kondisinya, namun Randy sedang nggak mood membalas mereka semua, karena kakinya terasa cenut-cenut, dan dia sedang dilema, perlu minum obat penahan sakit itu atau tidak.

Akhirnya dia putuskan minum, sekali saja. Itu pun karena terpaksa banget, karena rasa sakit yang menjalar di kakinya itu.

Perhatian berlebihan dari para cewek itu semakin membuat Adolf panas, apalagi Tatia yang pernah dekat dengannya, kemudian menjauh dan selalu caper ke Randy.

Keesokan harinya di kampus, Randy duduk di taman sendirian, karena lokasi kantin agak jauh, dan dia tidak mau memaksakan kakinya yang belum sembuh itu. Tiba-tiba datang Adolf mendekat bersama dua temannya.

“Hey anak mami, lu pikir udah merasa kecakepan karena banyak cewek yang mengidolakan lu ya?” kata Adolf. “Cedera lu ini baru permulaan, Rand. Gue bakal bikin lu nggak bisa jalan lagi!”

“Maksud lu apa sih?” tanya Randy dengan wajah heran.

“Nggak usah berlagak pilon,” ketus Adolf sambil menatap Randy dengan tajam.

“Gue nggak paham maksud lu,” jawab Randy sambil balas menatap mata Adolf. “Tapi kalau lu macam-macam sama gue, gue nggak akan tinggal diam!”

Adolf dan dua temannya hanya mendengus dan meninggalkan Randy seorang diri di taman dengan perasaan heran.

“Kenapa sih anak itu?” kata Randy dalam hati. “Dia pikir gue takut?”

Di tengah kegalauannya, tiba-tiba Randy teringat, bukankah dia punya kemampuan gaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit?

Sekejap dia memfokuskan diri dan memposisikan tangannya di atas kakinya yang cedera itu tanpa menyentuhnya.

Tidak ada reaksi apa-apa.

Apakah kemampuan yang diberikan oleh kakek buyutnya itu sudah musnah?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!