NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

Keheningan menyergap seketika. Tubuh Nadira membeku mendengar pangkuan Bima.

"A-apa maksudmu, Mas?" tanya Nadira, menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.

Bima menghela napas panjang, sebelum menjawab, "Aku nggak bisa bawa anakmu ikut tinggal bersama kita, Dira. Biarkan saja dia di sini bersama ayahnya. Kamu bisa ikut bersamaku."

Nadira terpaku. Ia menatap putrinya yang memeluk tubuh Arga dengan penuh pertimbangan.

"Bagaimana, Nadira? Aku sudah sampai di sini, kamu nggak akan tiba-tiba menggagalkan rencana kamu, kan? Lagian, kamu juga sudah diceraikan," bujuk Bima.

"Tapi, Mas... kenapa kamu harus bohong soal statusku?" desak Nadira masih sulit menerima jika dia harus meninggalkan putrinya.

Bima meraih tangan Nadira. "Karena aku masih lajang. Orangtuaku akan sangat marah kalau tau aku menikahi seorang janda beranak satu. Mengertilah. Ada aturan dalam keluarga kami!" kata Bima, suaranya lembut namun tegas.

"Astaga, bagaimana ini? Aku tidak ingin pergi tanpa Nadira. Tapi, bukannya ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu sejak lama?"

"Pergi dari Mas Arga dan memulai hidup baru bersama Mas Bima?" batinnya.

Lagi, ia melirik ke arah Andini yang terisak kecil. Nadira, menghela napas berat lalu mengangguk penuh keyakinan.

"Baik, Mas. Aku setuju. Aku akan meninggalkan Andini dan tetap ikut bersamamu," putus Nadira.

Senyuman Bima mengembang. "Kamu memang istri yang aku cari, Nadira. Aku janji, aku akan selalu membahagiakanmu. Aku mencintaimu," kata Bima sambil mengusap pipi Nadira.

Nadira menoleh ke arah Arga dan putrinya. Lidahnya kelu, tidak tahu harus memberi penjelasan seperti apa. Bukankah mereka sendiri sudah melihat dan mendengarnya?

"Pergilah, jika itu keputusan kamu, Dira. Andini, aku akan menjaganya dengan baik!" tegas Arga sambil memalingkan wajah.

Rahang dan kepalan tangannya mengeras. Jauh di lubuk hatinya, dia marah pada keputusan Nadira. Bukan ia tidak ingin mengurus Andini sendiri, tapi bagaimana di mata Nadira, Andini tidak lebih berharga daripada harta!

"Aku titip Andini, Mas. Aku akan sering menemuinya."

Hati Arga bergetar, seolah bisa merasakan rasa sakit yang kini dirasakan putrinya.

Nadira berlutut di depan putrinya. "Ibu pergi dulu. Tapi Ibu akan sering menemuimu."

"Ibu kenapa harus pergi ninggalin Andini dan Ayah? Ibu jangan pergi. Andini mau tinggal bareng Ibu dan Ayah," isak gadis itu dengan tubuh gemetar.

Nadira bangkit dan mengusap puncak kepala putrinya. "Enggak bisa, Dini. Ibu dan Ayah sudah berpisah. Ibu akan menikah dengan Ayah baru kamu, Ayah Bima. Ibu tidak bisa terus bersama ayahmu. Ibu capek jadi Miskin."

"Tidak papa. Sekarang kamu mungkin belum mengerti. Tapi setelah dewasa, kamu juga pasti mengerti. Cari suami yang kaya, ya. Jangan terjebak pada pernikahan bersama pria miskin jika kamu tidak ingin menderita."

"Nadira, Ayo. Masih ada banyak hal yang perlu kita urus," sela Bima, bosan tinggal di sana terlalu lama.

Nadira memeluk tubuh putrinya sesaat. "Sudah jangan nangis. Nanti ibu belikan mainan dan ponsel untukmu, supaya kita tetap bisa mengobrol," bisik Nadira.

Perempuan itu kemudian berbalik dan melangkah pergi bersama Bima.

"Ibu...," panggil Andini lirih.

"Ayah, kenapa Ayah tidak menghentikan Ibu? Andini mau sama Ibu. Kenapa kita tidak bisa tinggal bersama saja? Kenapa ibu harus pergi?"

Arga berlutut dan memeluk tubuh putrinya yang bergetar. "Maafkan Ayah, ya. Semua ini salah ayah. Ayah yang tidak bisa membahagiakan kalian, jadi ibumu pergi meninggalkan kita."

Suara mobil di luar rumah terdengar dan semakin jauh. Kini, tidak ada lagi keluhan Nadira dengan caci makinya. Hanya ada isak tangis Andini yang harus segera dia atasi.

"Andini mau sesuatu? Jajan?" tawar Arga, membujuk.

Andini menggeleng. "Dini hanya ingin Ibu, Ayah."

"Ayah, ayo bujuk ibu pulang," lirih gadis itu sambil menggoyangkan lengan ayahnya.

Arga menggeleng pelan dan menggendong tubuh putrinya. Ia membawa gadis itu masuk ke dalam kamar yang kini terasa dingin dan hampa. Nadira bahkan tidak membawa barang-barangnya yang sudah dikemas.

Andini berbaring di atas ranjang sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya yang kini basah oleh air mata. Gadis itu terus menangis, menggumamkan ibunya, dan Arga hanya membiarkannya sampai dia benar-benar tenang.

Tak lama, isak tangis itu terhenti. Andini terlelap membawa rasa sedihnya ke alam mimpi.

"Maafkan Ayah, Andini. Ayah yang gagal mempertahankan rumah tangga ini tetap utuh," bisik Arga sambil menekan sudut matanya yang berair.

Tatapannya tertuju pada kaki yang masih diikat kain. Rasa sakit itu tak sebanding dengan sakit di hatinya karena harus melihat Andini hancur.

Beberapa menit kemudian...

Arga tengah menjemur pakaian di luar, saat mendengar suara Andini dari dalam rumah.

"Ibu!"

"Ibu mana? Andini mau Ibu!"

Ia segera meletakkan pakaiannya dan berlari masuk dengan langkah sedikit pincang, lalu menarik tubuh Andini ke dalam pelukannya.

"Ayah, mana Ibu? Andini mau sama Ibu. Kenapa Ibu ninggalin kita? Kenapa ibu ninggalin Andini?" isak tangis Andini semakin menjadi.

Arga, tak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan hati putrinya. Ia memilih membawa gadis itu keluar rumah, pergi ke warung, berharap bisa mengalihkan perhatian Andini.

"Andini, mau es krim? Kita beli es krim, ya?" tawar Arga.

Andini meronta dalam pelukan ayahnya. "Andini mau ibu, Ayah. Mana ibu?"

Arga tidak mengatakan apapun. Ia berjuang keras menahan air matanya yang hendak jatuh. "Tuh, lihat... di sini ada banyak es krim. Andini mau yang rasa apa?"

"Andini mau ibu, Ayah. Kenapa Ibu harus pergi?"

Suara isak tangis Andini yang keras membuat pemilik warung merasa iba. Perempuan paruh baya yang memiliki tubuh berisi itu mendekat. Melihat wajah Arga yang putus asa, ia berinisiatif mengambil alih Andini.

"Andini main sama Sari di dalam, ya. Dia baru saja beli pensil warna baru. Kalian bisa belajar menggambar di dalam," bujuk perempuan itu sambil membawa Andini masuk bertemu putrinya.

"Sari, ajak Andini main."

"Andini kenapa, Bu?"

"Sudah. Ajak saja main. Nanti ibu buatkan kue untuk kalian. Main dulu, ya." Perempuan paruh baya itu tersenyum tulus ke arah Andini dan Sari lalu bergegas pergi, menghampiri Arga yang duduk di bangku sambil menyandarkan punggung di tiang rumah.

"Arga, ada apa? Nadira beneran pergi ninggalin kalian?" tanya perempuan itu.

Ia tahu dari ucapan Nadira yang sering membicarakan Arga yang tidak bertanggungjawab. Padahal, semua warga tahu bagaimana pria itu berjuang mencari nafkah.

"Iya, Mbak. Saya dan Nadira sudah cerai," sahut Arga berusaha tegar.

"Astaghfirullah. Nadira sampai hati meninggalkan putrinya."

"Sudah, tidak papa. Semoga nanti kamu cepat dapat ganti, istri yang baik dan Sholehah. Yang sayang sama kamu dan Andini."

Arga tersenyum kecut. "Siapa yang mau nikah dengan pria seperti saya, Mbak? Duda, punya anak, tukang kuli lagi," jawab Arga merasa rendah diri.

"Tidak ada yang tahu nasib seseorang, Arga. Siapa tahu, tiba-tiba ada bidadari yang jatuh dari surga, dikirim khusus buat kamu dan Andini," kata perempuan itu mencoba bergurau.

Arga tertawa pahit. "Ya, semoga saja. Yang penting, dia bisa jadi ibu buat Andini," pungkas Arga.

"Nanti, kalau misalkan kamu sibuk, kamu titipkan saja Andini di sini. Biar Sari ada temen juga, nggak bakal kelayapan anak itu kalau ada temennya," ujar pemilik warung.

"Makasih, Mbak. Tapi, pasti saya akan sering merepotkan Mbak."

"Alah, nggak usah dipikirin. Kamu fokus saja kerja buat masa depan anak kamu." Pemilik warung itu menepuk pundak Arga lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

"Ayo, siapa yang mau bantu ibu buat kue, sini!"

Suara perempuan paruh baya itu terdengar sampai keluar. Arga tersenyum lirih, sedikit merasa lega karena isak tangis putrinya sudah mereda.

Malam harinya...

Andini dan Arga berbaring di atas ranjang yang sama, sambil menatap langit-langit kamar yang temaram.

"Bu, kira-kira Ibu lagi apa ya di rumah barunya?" gumam gadis itu sambil memeluk boneka kesayangannya.

"Mungkin sedang berbahagia karena sudah tinggal di rumah besar dan punya suami kaya," sahut Arga sekenanya.

"Berarti ibu benar-benar nggak akan pulang, ya, Ayah?" Mata gadis itu kembali berkaca-kaca.

"Kamu ingin tinggal bareng ibu?"

Andini terdiam sejenak sebelum menggeleng lemah. Ia memeluk lengan ayahnya dan tersenyum tipis. "Ibu sudah bahagia di sana kan, Ayah. Sudah ada Ayah baru yang menjaga ibu."

"Sementara di sini, Ayah sendirian. Kalau Andini pergi ikut ibu, siapa yang akan jagain ayah?"

"Nanti siapa yang akan bantuin Ayah cari barang pas Ayah lupa kalau Andini juga ikut pergi?"

Arga tersenyum bangga. Ia mengusap pipi putrinya dengan ibu jari. "Kamu anak yang hebat, Andini. Ayah janji, Ayah akan berjuang lebih keras supaya kamu bisa hidup dengan baik."

"Mbak Yuni bilang, Andini tidak kehilangan ibu. Andini hanya harus terbiasa tanpa Ibu," gumam gadis itu berusaha tegar.

Arga mengangguk dan menarik tubuh putrinya ke depan dada. "Kamu tenang saja, Ayah siap jadi ayah sekaligus ibu buat kamu."

Andini tertawa kecil, meskipun terdengar getir. Ia perlahan memejamkan mata, dan terlelap karena rasa lelah yang mendera.

Sementara itu, setelah memastikan putrinya tidur, Arga menjauh, turun dari ranjang dengan perlahan. Ia merasakan sekujur tubuhnya berat, seolah memukul beban yang begitu berat. Kepalanya berdenyut nyeri.

Pria itu pergi ke dapur dan mencari stok obat yang selalu dia minum setiap kali sakit kepala. Setelah itu ia kembali ke kamar, dan segera memejamkan mata, berharap esok dia akan sehat untuk mengais rezeki lagi.

Namun, saat jam tengah malam...

"Ibu, jangan tinggalin ayah dan Andini," racau Andini.

Kepergian ibunya sampai terbawa mimpi.

Tubuh gadis itu terlonjak dan seketika membuka mata saat merasakan sisi ranjangnya bergerak. Ia menoleh dan melihat tubuh ayahnya bergetar hebat.

"Ayah? Ayah kenapa?" tanya Andini yang hanya ditanggapi geraman tertahan.

Ia menyentuh lengan ayahnya dan merasakan rasa panas yang terasa membakar. Andini panik, tangisnya langsung pecah.

"Ayah?! Ayah demam? Ayah, Andini harus apa?"

Ketakutan menyergap.

"Ayah jangan tinggalin Andini sendirian... Ibu sudah pergi, kalau Ayah pergi juga, Andini sama siapa?" Andini memeluk tubuh ayahnya sambil terisak-isak.

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!