Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SANG BINTANG
Hubungan antara Anela dan Rico berubah… pelan-pelan.
Tidak langsung romantis.
Tidak juga benar-benar santai.
Lebih seperti dua orang yang masih hati-hati, tapi sudah mulai menurunkan senjata.
Dan tanpa direncanakan—
Ziyo mulai menjadi bagian dari perubahan itu.
Sore itu Anela kembali ke lapangan kecil tempat Rico melatih anak-anak.
Ziyo sudah lebih dulu turun dari mobil bahkan sebelum Anela sempat mematikan mesin.
“Ma! Aku mau main sama abang-abang!”
Anela tertawa kecil.
“Pelan!”
Ziyo sudah berlari ke lapangan.
Rico yang sedang memegang bola langsung menoleh.
Begitu melihat Ziyo, ekspresinya berubah hangat.
“Hey, jagoan datang.”
Ziyo berhenti beberapa langkah dari Rico.
Menatapnya dengan rasa ingin tahu khas anak kecil.
“Om ini yang tinggi banget itu ya?”
Anela menahan tawa dari bangku pinggir lapangan.
Rico menunduk sedikit agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Iya. Kamu Ziyo kan?”
Ziyo mengangguk.
“Kamu pemain basket?”
“Lumayan.”
“Bisa slam dunk?”
Rico tertawa kecil.
“Kadang.”
Ziyo terlihat semakin kagum.
“Ma! Dia bisa slam dunk!”
Anela hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Ia memperhatikan interaksi mereka.
Ada sesuatu yang membuatnya sedikit tegang.
Karena ini pertama kalinya dunia Rico dan dunia Ziyo benar-benar bertemu.
Dan itu bukan hal kecil baginya.
Latihan berjalan seperti biasa.
Anela duduk di bangku sambil memperhatikan.
Sesekali Rico mengajari anak-anak dribble.
Sesekali ia tertawa bersama mereka.
Ziyo, yang paling kecil di lapangan, berkali-kali mencoba meniru gerakan Rico.
Sering gagal.
Sering jatuh.
Tapi selalu bangun lagi.
Rico beberapa kali menghampirinya.
Menunduk.
Memegang bola kecil itu dengan sabar.
“Begini, Zi. Bola jangan dipukul keras. Rasain aja.”
Ziyo mencoba lagi.
Kali ini lebih baik.
Matanya berbinar.
“Aku bisa!”
Rico mengangkat tangan untuk high-five.
Ziyo menepuknya dengan bangga.
Anela memperhatikan dari jauh.
Dadanya terasa hangat… sekaligus waspada.
Karena ia tidak terbiasa melihat pria lain begitu dekat dengan anaknya.
Setelah latihan selesai, anak-anak mulai pulang satu per satu.
Langit sudah mulai gelap.
Ziyo masih duduk di pinggir lapangan, memegang bola kecil.
Rico duduk di sebelahnya.
Anela berjalan mendekat.
Ia berhenti beberapa langkah dari mereka tanpa langsung ikut duduk.
Ziyo menatap Rico.
“Om.”
“Ya?”
“Kamu tinggal di sini?”
Rico tersenyum kecil.
“Enggak.”
“Di mana?”
“Di apartemen.”
Ziyo berpikir sebentar.
“Om punya anak?”
Pertanyaan itu membuat Rico sedikit terdiam.
Anela juga ikut menegang.
Rico menggeleng pelan.
“Belum.”
Ziyo terlihat lega entah kenapa.
“Kalau punya anak nanti, ajarin basket juga ya.”
Rico tertawa pelan.
“Pasti.”
Ziyo kemudian menunjuk tinggi badan Rico.
“Kenapa Om tinggi banget?”
Rico berpura-pura berpikir keras.
“Mungkin karena waktu kecil makan sayur.”
Ziyo langsung menoleh ke Anela.
“Ma… aku mau makan sayur juga!”
Anela akhirnya tertawa.
“Oke, oke.”
Sunyi kecil jatuh setelah itu.
Ziyo tiba-tiba berdiri di depan Rico.
Menatap wajahnya lama sekali.
Anela sedikit bingung.
“Zi?”
Ziyo menunjuk Rico.
“Om ini yang sering datang ke rumah ya?”
Rico dan Anela langsung saling menatap.
Anela sedikit kaget.
“Kamu lihat?”
Ziyo mengangguk serius.
“Waktu malam.”
Anela menghela napas.
Anak kecil memang sering lebih peka dari yang kita kira.
Ziyo menatap Rico lagi.
“Om temannya Mama?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi terasa besar.
Anela menatap Rico sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Iya. Teman Mama.”
Ziyo mengangguk puas.
“Oke.”
Ia lalu kembali memantulkan bola kecilnya.
Seolah jawaban itu sudah cukup.
Anela akhirnya duduk di bangku.
Rico masih memperhatikan Ziyo yang bermain beberapa meter dari mereka.
Sunyi cukup lama.
Lalu Rico berkata pelan,
“Dia lucu.”
Anela tersenyum kecil.
“Iya.”
“Ayahnya…?”
“Sudah lama tidak ada.”
Rico menoleh padanya.
Anela tidak menjelaskan lebih jauh.
Dan Rico tidak memaksa.
Itu justru membuat suasana terasa lebih nyaman.
Ziyo tiba-tiba berlari kembali.
“Ma! Lihat!”
Ia mencoba menembak bola ke ring kecil.
Bola memantul di papan… lalu masuk.
“MASUK!”
Ziyo melompat kegirangan.
Rico berdiri spontan.
“Nice shot!”
Ia mengangkat Ziyo sedikit ke udara.
Anela langsung berdiri refleks.
“Rico—”
Tapi Ziyo sudah tertawa keras.
“Lagi! Lagi!”
Rico menurunkannya dengan hati-hati.
Saat itu Anela melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Wajah Rico… benar-benar lembut.
Tidak ada aura playboy.
Tidak ada sikap menggoda.
Hanya seorang pria yang terlihat tulus menikmati kebahagiaan anak kecil.
Dan entah kenapa—
itu membuat dada Anela terasa sedikit sesak.
Rico akhirnya menoleh padanya.
Seolah sadar ia sedang diperhatikan.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Lalu Rico berkata pelan,
“Aku gak akan ganggu hidup kalian.”
Anela sedikit mengernyit.
“Kenapa bilang begitu?”
Rico melirik Ziyo.
“Karena aku tahu itu yang paling kamu jaga.”
Sunyi.
“Aku cuma… pengen jadi seseorang yang gak bikin hidup kamu lebih susah.”
Nada suaranya berbeda dari biasanya.
Lebih jujur.
Lebih rapuh.
Dan untuk pertama kalinya—
Anela melihat sisi Rico yang tidak percaya diri seperti pria yang selalu terlihat kuat di luar.
Ia melihat seseorang yang benar-benar peduli dengan apa yang ia miliki.
Ziyo berlari lagi.
“Kita main lagi!”
Rico tersenyum.
“Siap.”
Anela duduk kembali di bangku.
Memperhatikan mereka berdua bermain di lapangan kecil itu.
Dan di dalam hatinya muncul satu pikiran yang pelan… tapi nyata.
Mungkin—
pria ini bukan ancaman bagi dunianya.
Mungkin justru…
ia mulai menjadi bagian darinya.
--------