Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah mendapatkan pengakuan dari korban itu, Nathan pun merasa tidak terima.
Di ruangan tersebut suasana mendadak menjadi tegang. Nathan langsung meminta agar anak yang menjadi biang onar itu segera dipanggil juga, karena ia ingin tahu apa sebenarnya motif mereka melakukan hal itu.
Lima menit kemudian, akhirnya Genta dan dua temannya dipanggil ke ruang guru.
Ketiga anak itu datang dengan wajah menunduk, apalagi saat mengetahui di ruangan itu ada orang tua yang mendampingi kedua pihak.
Suasana terasa semakin menekan ketika mereka berdiri di hadapan Pak Irwan, Nathan, serta ibu Edo yang sejak tadi menatap tajam ke arah mereka.
Pak Irwan menatap wajah ketiga anak itu dengan serius. "Genta, Bapak ingin mendengar penjelasan dari kalian. Edo sudah mengatakan apa yang terjadi kemarin.
Genta menelan ludah. Sekilas ia melirik ke arah Darrel, namun anak itu membalas tatapannya dengan dingin.
“Bapak tanya sekali lagi. Apa benar kalian yang memukul Edo?” lanjut Pak Irwan. "Dan mendengar kabar dari Ibu Diana ini udah kali keduanya kamu menuduh Darrel."
Tidak ada jawaban, anak itu masih menunduk ketakutan. Ruangan itu semakin terasa sunyi. Nathan yang sejak tadi menahan emosinya akhirnya ikut bersuara.
“Kalau memang kalian yang melakukannya, lebih baik kalian jujur sekarang,” katanya dengan nada berat. “Jangan sampai kalian menuduh anak saya lagi atas perbuatan yang tidak ia lakukan.”
Genta semakin menundukkan kepalanya. Dua temannya terlihat gelisah, karena untuk kali ini mereka benar-benar keterlaluan.
Ibu Edo juga tidak bisa menahan diri. “Kenapa kalian melakukan itu pada anak saya?” tanyanya dengan suara bergetar.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Akhirnya Pak Irwan menghela napas panjang.
“Genta,” panggilnya lagi, “Edo sudah menyebut nama kalian. Jadi Bapak ingin mendengar langsung dari mulutmu.”
Genta menggenggam tangannya erat. “Aku… aku cuma ingin memberi pelajaran pada Edo, Pak,” ucapnya pelan.
“Pelajaran apa?” tanya Pak Irwan.
Genta terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Karena kemarin dia tidak mau memberi contekan saat pelajaran bahasa Indonesia dari Bapak.”
Ucapan itu membuat semua orang di ruangan terkejut.
Pak Irwan menggeleng pelan, tampak kecewa. "Oh jadi karena, kemarin kalian menjawab tugas-tugas dengan asal."
Mereka hanya terdiam, tidak berani untuk mengelak seperti kejadian sebelumnya.
"Jangan seperti itu, seharusnya kamu belajar bukan malah mengandalkan temanmu," kata Pak Irwan dengan tegas. "Dan karena itu kalian sampai memukul teman sendiri?”
Genta tidak menjawab.
Nathan menatap Darrel sekilas. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia menyadari bahwa anaknya benar-benar tidak bersalah. Namun suasana di ruangan itu masih belum sepenuhnya tenang.
Karena meskipun kebenaran sudah terungkap, luka yang ditinggalkan oleh tuduhan itu… belum tentu bisa langsung hilang.
"Dan aku harap, Bapak bisa tegas dengan kenakalan mereka, masih kecil saja sudah belajar licik!" cetus Nathan yang merasa tidak terima.
"Benar, sekali, dan aku sebagai ibu dari Edo tidak terima, tolong panggilkan juga orang tua mereka agar dia tahu kelakuan anaknya seperti apa," timpal ibu Edo.
“Baik, Bu. Baik, Pak,” kata Pak Irwan. “Untuk kali ini sekolah tidak akan memberikan toleransi lagi kepada mereka. Saya akan memanggil orang tua mereka untuk datang ke sini.”
"Lebih cepat lebih baik," sahut Nathan.
"Iya Pak," sahut Pak Irwan.
Setelah masalah itu selesai dipecahkan, ketiga anak tersebut diminta untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan mereka lagi. Namun hukuman dari sekolah tetap akan berjalan sebagaimana mestinya.
Setelah itu anak-anak kembali masuk ke dalam kelasnya.
Namun sebelum benar-benar masuk ke kelas, langkah Darrel tiba-tiba berbelok menuju ke arah kantin. Seolah ia ingin bercerita bahwa nasihat Andin tadi pagi—kebenaran akan terungkap dengan sendirinya—benar-benar terjadi.
Dan untuk saat ini, Darrel benar-benar memegang kata-kata perempuan itu.
Sesampainya di kantin, Darrel langsung menghampiri Andin yang sedang merapikan beberapa piring di meja.
“Mbak Kantin,” panggilnya dengan wajah yang terlihat jauh lebih lega.
Andin menoleh. “Loh, Adek. Bukannya sudah masuk jam pelajaran?”
Darrel tersenyum kecil. “Mbak benar. Kebenaran akhirnya ketahuan juga.”
Andin berhenti sejenak dari pekerjaannya. Ia menatap anak itu dengan penasaran, juga bahagia.
“Benarkah?” tanyanya.
Darrel mengangguk. “Edo akhirnya jujur. Dia bilang kalau yang memukulnya bukan aku.”
Mendengar itu, Andin menghela napas lega.
“Syukurlah… Mbak sudah bilang kan, kebenaran itu tidak akan bisa disembunyikan selamanya.”
Darrel tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, dadanya terasa jauh lebih ringan, mungkin karena ia merasa bersama Andin ia seperti menemukan sosok yang selama ini tidak pernah hadir.
"Mbak, makasih banyak ya, sudah nguatin aku," kata Darrel.
"Harus dong, kamu anak baik dan berani," sahut Andin, dan kalimat itu benar-benar membuat Darrel tambah semangat.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di ruang guru, para orang tua juga mulai meninggalkan ruangan setelah urusan mereka selesai.
Nathan keluar dari ruang guru dengan langkah tenang, meskipun pikirannya masih dipenuhi banyak hal.Tanpa sadar langkahnya membawa dirinya melewati koridor yang mengarah ke halaman belakang sekolah—tempat kantin berada.
Saat melewati area itu, langkah Nathan tiba-tiba melambat. Dari kejauhan terdengar suara seorang anak yang sangat ia kenal.
“Kalau bukan karena Mbak, mungkin aku masih dianggap bersalah.”
Nathan berhenti. "Itu suara Darrel."
Tanpa sadar ia menoleh ke arah kantin. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Darrel sedang berbicara dengan seorang perempuan yang berdiri di balik meja kantin.
Perempuan itu membelakangi arahnya. Nathan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun entah kenapa, suara perempuan itu terasa begitu familiar di telinganya.
“Yang penting sekarang semuanya sudah jelas,” kata perempuan itu lembut.
Nathan mengernyitkan dahi.
Suara itu…
Langkahnya tanpa sadar maju satu langkah mendekat. Namun sebelum ia bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas, Darrel tiba-tiba bergerak sedikit hingga menutupi pandangannya.
Nathan berhenti di tempatnya. Ada sesuatu di dalam hatinya yang terasa aneh, seolah-olah… ia pernah mengenal suara itu dengan sangat baik.
Nathan menatap ke arah kantin sekali lagi.
Sementara itu, di balik meja kantin, Andin masih berdiri tanpa menyadari bahwa seseorang dari masa lalunya… sedang berdiri tidak jauh dari sana, bahkan jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa langkah saja.
Bersambung .....