Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Yue Chan
Sinar matahari sore yang keemasan menyapu permukaan danau di bawah kaki gunung, menciptakan pantulan cahaya yang berkilauan seperti ribuan permata yang pecah.
Di sebuah Manor yang tenang, dikelilingi oleh barisan pohon sakura yang mulai menggugurkan kelopaknya, Jian Yi duduk dengan santai di atas sebuah batu besar yang permukaannya halus.
Jian Yi menatap riak air danau dengan pandangan menerawang. "Apa kau ingat dengan janjimu untuk bertemu lagi dengan Yue Chan?"
Lu Feng, yang sedang sibuk membersihkan sisa debu di jubahnya, mendongak. "Yue Chan? Wanita dari Akademi Cahaya Langit yang pernah kita ajari dulu itu?"
Jian Yi mengangguk, lalu menoleh dengan tatapan menghina yang tajam. "Kau ini pikun atau tolol?! Tidak mungkin kau lupa padanya. Sebelum kita pergi karena dikejar Sekte Iblis Darah, kau kan menaruh hadiah untuknya di kamarnya secara diam-diam. Sok romantis sekali."
Lu Feng tersenyum lebar, sebuah seringai nakal muncul di wajahnya. Namun, tiba-tiba tangannya bergerak ringan, memukul kepala Jian Yi dengan bunyi yang cukup nyaring.
PLAK!
"Jangan menghinaku juga dong. Kau jahat sekali pada sahabatmu sendiri, Yi," ucap Lu Feng sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat, bibirnya mencebik seperti anak kecil.
Jian Yi merasa perutnya mual melihat akting menjijikkan itu. Tanpa ragu, ia membalas dengan tamparan keras ke pipi Lu Feng.
PLAK!
"Uek! Jangan pasang wajah seperti itu di depanku, keparat! Menjijikkan!" seru Jian Yi sambil mengusap tangannya ke celana seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Lu Feng memegang pipinya yang memerah, lalu malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kau memang tidak mau kalah dariku ya?" Ia kemudian menghela napas, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. "Ya, tentu saja aku ingat. Wanita yang dulu menyukaiku itu, kan?"
"Kenapa malah balik bertanya padaku? Jawab saja sendiri," sahut Jian Yi ketus.
Lu Feng sebenarnya ingin melempar Jian Yi ke tengah danau saking kesalnya, namun ia mengurungkan niatnya.
Ia mengambil pipa rokoknya, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asap ke udara sore. "Haaah ... Mungkin saja dia sudah menikah, kan? Lagi pula dia hanya tahu aku sudah mati. Tubuhku sekarang berbeda. Walaupun sekarang aku masih tampan, tapi tubuh di kehidupan sebelumnya jauh lebih tampan melebihimu, Jian Yi."
Jian Yi memasang wajah datar, benar-benar tidak percaya orang ini masih bisa menyombongkan diri di tengah situasi melankolis. "Lalu?"
"Yah, aku hanya berharap dia bahagia saja. Mungkin sekarang dia berumur 34 atau 35 tahun. Sudah jadi bibi-bibi, mungkin?" gumam Lu Feng pelan.
Tanpa mereka sadari, dari jarak yang sangat jauh di balik rimbunnya pohon sakura, seseorang sedang memperhatikan mereka.
Di balik pakaian sutra yang indah, sesuatu mulai bercahaya. Sebuah resonansi energi yang hangat merayap keluar.
Semakin langkah kaki orang itu mendekat ke arah dua pemuda tersebut, cahayanya semakin terang benderang.
"A-apa itu dia?" bisik sosok itu lirih, suaranya bergetar antara keraguan dan harapan yang meluap.
Lu Feng berdiri dari duduknya. Ia mengepalkan tangannya, mengangkatnya tinggi ke arah langit yang mulai meredup. "Aku ingin tidur."
"Aku kira kau akan berkata hal yang luar biasa, ternyata hanya kata-kata biasa," ejek Jian Yi.
Lu Feng tersenyum tipis. Ia menurunkan kembali tangannya, berniat berbalik. "Ayo kita kemba—"
Kata-katanya terputus seketika. Sebuah tangan yang lembut namun sangat kuat mencengkeram pergelangan tangan kanannya.
DEG!
Lu Feng dan Jian Yi serentak merinding. Bulu kuduk mereka berdiri.
Sebagai pendekar berpengalaman, mereka bahkan tidak menyadari ada pergerakan atau hawa keberadaan orang ini.
Ini berarti orang di belakang mereka adalah pendekar ranah tingkat tinggi yang kekuatannya jauh di atas mereka saat ini.
Lu Feng berbalik dengan cepat, berniat melepaskan tangannya dengan sentakan Qi.
Namun, tangannya terkunci rapat, tak mau lepas sedikit pun. Matanya melotot lebar ketika melihat sosok yang berdiri di depannya.
Seorang wanita dengan kecantikan yang luar biasa berdiri di sana. Ia mengenakan gaun putih tulang yang elegan dengan aksen biru dan emas yang mewah.
Rambut hitam panjangnya dihiasi mahkota emas tipis dengan permata biru yang senang berkilau tertimpa cahaya senja.
Parasnya yang abadi seolah menolak untuk menua, memancarkan aura keanggunan seorang dewi.
"Y-Yue Chan! Ups! Maksudnya ... S-siapa kau, Bibi?" Lu Feng terkejut karena lidahnya terpeleset menyebut nama itu secara spontan.
Wanita itu memang Yue Chan. Matanya berkaca-kaca menatap Lu Feng. "Akhirnya aku menemukanmu, Lu Feng. Dan pasti orang di sebelahmu ini adalah Jian Yi."
"Aku dulu percaya kau telah mati," lanjut Yue Chan dengan suara yang bergetar hebat. "Tapi beberapa tahun kemudian, ketika belati kayu kecil pemberianmu ini tiba-tiba menyala dan bergetar, aku sadar ... kau pasti masih hidup di suatu tempat."
Lu Feng tampak panik luar biasa. Ia menatap Jian Yi meminta pertolongan, namun Jian Yi justru pura-pura melihat burung terbang. "B-bagaimana ini? B-bibi, aku memang bernama Lu Feng, tapi sepertinya bibi salah orang. Nama Lu Feng kan pasaran!"
"B-betul, Bibi. Kami hanya remaja berumur 15 tahun yang sedang mengalami masa pubertas. Mana mungkin kami kenal Bibi yang secantik ini," timpal Jian Yi, mencoba berakting bodoh.
Yue Chan terdiam sejenak, senyum tipis yang pedih muncul di bibirnya. Ia mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya—sebuah belati kayu kecil yang tampak sangat tua namun dirawat dengan sangat baik. Itu adalah belati yang dulu Lu Feng ukir sendiri dengan susah payah dari dahan pohon ginkgo tempat mereka biasa berlatih.
Di bilahnya, terukir tulisan tangan yang berantakan namun tegas:
"Berhenti menjadi kaku, Gadis Kaku. Dunia ini luas, dan pedangmu harus bisa menari, bukan hanya memukul. Teruslah berlatih sampai kita bertemu lagi."
Di tangan satunya, Yue Chan menggenggam sebuah kantung kain kecil berisi bunga persik kering.
Aroma manis yang samar menyeruak—aroma yang dulu Yue Chan sangat sukai namun selalu ia sangkal karena sifat kakunya.
Yue Chan menatap Lu Feng tepat di matanya, sebuah tatapan yang menembus hingga ke dalam jiwa. "Belati ini tidak pernah berbohong, Lu Feng. Jadi, berhentilah berakting sebelum aku benar-benar menyeretmu kembali ke Akademi."
Lu Feng terdiam membatu. Rahasianya yang ia simpan rapat-rapat selama tujuh tahun (dan satu kehidupan) akhirnya runtuh di hadapan belati kayu yang ia buat sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗕𝗖𝗥𝗜𝗕𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁