Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenang Sebelum Prahara
Cahaya subuh yang pucat merayap masuk ke dapur kediaman Gendis, namun sosok wanita itu sudah berdiri tegap di depan kompor. Tangannya yang lentik, yang semalam sempat bergetar karena tamparan Indra, kini dengan stabil membalikkan omelet di atas teflon.
Tidak ada air mata. Tidak ada bengkak yang tersisa setelah ia mengompres pipinya dengan es batu selama berjam-jam di kesunyian kamar tamu.
Ketika Indra turun dengan langkah ragu, wajahnya tampak seperti pria yang baru saja kalah judi. Ia mendekati meja makan, menatap punggung Gendis dengan rasa bersalah yang mencekik.
"Pagi, Mas. Kopinya sudah siap," ujar Gendis tanpa menoleh. Suaranya datar, namun tetap sopan, seolah-olah insiden tamparan semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
Indra terpaku. Ia mengharapkan makian, piring pecah, atau setidaknya aksi diam seribu bahasa. Namun, Gendis justru menyajikan sarapan dengan ketenangan seorang suci.
"Sayang, soal semalam... aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf, aku...."
Gendis berbalik, memberikan senyum tipis yang begitu tenang hingga membuat bulu kuduk Indra meremang.
"Sudahlah, Mas. Mungkin kita berdua memang sedang stres. Makanlah, nanti kopinya dingin."
Indra duduk dan mulai makan dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa lega karena berpikir Gendis telah memaafkannya, namun di sisi lain, ia merasa ngeri.
Ketenangan Gendis terasa tidak manusiawi. Ia merasa istrinya sedang memakai topeng porselen yang bisa pecah kapan saja, namun ia terlalu pengecut untuk menggali lebih dalam.
Setelah Indra berangkat ke kantor dengan sejuta kecemasan, Gendis kembali melakukan rutinitas "pemulihan diri". Hari ini, tujuannya adalah sebuah salon elit di Grand Indonesia. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Ia memutuskan untuk menyambung rambut bob sebahunya dengan hair extension kualitas tertinggi dari Eropa.
Rambut hitamnya kini menjuntai panjang hingga ke pinggang, ditata dengan gelombang beach waves yang sempurna, memberikan kesan feminin namun sangat berkuasa. Saat ia keluar dari salon, setiap mata di mal itu tertuju padanya.
Gendis mengenakan dress sutra berwarna emerald yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna nude. Ia terlihat seperti seorang dewi yang baru saja turun ke bumi, bukan lagi wanita rumah tangga yang terabaikan.
Sore harinya, ia memenuhi undangan minum teh di sebuah kafe mewah dengan teman-teman sosialitanya. Di meja bundar yang dipenuhi kudapan manis dan teh aromatik, Gendis menjadi pusat pembicaraan.
"Gendis! Ya ampun, kamu cantik sekali! Apa rahasianya? Indra pasti memanjakanmu habis-habisan ya?" seru salah satu temannya, seorang istri pengusaha properti.
Gendis hanya tersenyum anggun, menyesap tehnya perlahan. "Hanya sedang ingin merawat diri saja. Kadang kita harus ingat untuk mencintai diri sendiri sebelum orang lain melakukannya, kan?"
Ia tidak menceritakan sedikit pun tentang pengkhianatan Indra. Ia tidak menceritakan tentang memar di hatinya atau tentang wanita bernama Cindy. Baginya, menceritakan masalah rumah tangga adalah tindakan yang tidak elegan.
Jika ia ingin menghancurkan Indra, ia tidak akan melakukannya dengan cara bergosip. Ia akan melakukannya dengan bukti hukum, skandal publik yang terencana, dan kehancuran total di hadapan hukum.
Saat Gendis melangkah keluar dari kafe menuju area valet, sebuah mobil SUV hitam yang sangat ia kenali sudah terparkir di sana. Baskara bersandar di pintu mobilnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku.
Tatapannya yang dingin langsung terkunci pada sosok Gendis yang kini berambut panjang. Ada kilat kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di matanya.
Gendis menghela napas, lalu berjalan menghampiri pria itu. "Kamu mengikutiku lagi, Baskara?"
Baskara menegakkan tubuhnya, mendekat hingga Gendis bisa mencium aroma maskulinnya yang kuat.
"Aku tidak mengikutimu. Aku menjagamu. Aku lihat apa yang terjadi di wajahmu tadi pagi, Gendis. Meskipun kamu menutupinya dengan riasan tebal, aku tahu."
Gendis terdiam sesaat, lalu menatap Baskara dengan tegas.
"Dengar, Baskara. Aku menghargai bantuanmu. Tapi untuk saat ini, aku tidak punya waktu untuk urusan cinta atau romansa picisan. Aku sedang berperang. Fokus utamaku adalah menyelamatkan harga diriku sebagai seorang istri dan menghancurkan mereka yang menginjak-injaknya."
Baskara menatap Gendis dengan intensitas yang dalam. Ia tidak tersinggung. Sebaliknya, ia justru mengangguk mengerti.
"Aku tahu, Dis. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku siaga. Kapan pun kamu butuh bantuan untuk memindahkan aset, mencari pengacara paling kejam, atau bahkan jika kamu hanya butuh seseorang untuk berdiri di belakangmu saat kamu menjatuhkan Indra, aku ada di sini."
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Gendis lirih.
"Karena aku berhutang masa remaja padamu. Dan karena aku ingin melihatmu berdiri di puncak dunia, bukan di bawah kaki pria seperti Indra," jawab Baskara dengan suara rendah yang tulus.
Gendis mengangguk kecil. "Terima kasih. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan ini dengan caraku sendiri."
Gendis pulang ke rumah, mendapati Indra sudah menunggunya dengan wajah yang semakin gelisah. Indra telah mencoba menghubungi Cindy sepanjang sore, namun ia merasa jijik setiap kali teringat bagaimana Cindy adalah penyebab keretakan yang membuat Gendis berubah menjadi sosok yang begitu tak terjangkau.
Pesan-pesan manja dari Cindy mulai ia abaikan. Indra kini terobsesi untuk mengembalikan Gendis ke dalam pelukannya.
Namun bagi Gendis, setiap perhatian Indra adalah sampah. Ia melihat Indra yang mulai memujanya lagi dengan perasaan puas yang dingin.
Ia sedang menyusun "bom waktu" di dalam folder laptopnya: bukti transfer uang perusahaan yang digunakan Indra untuk menyewa apartemen Cindy, foto-foto mesra mereka, dan data medis yang membuktikan Indra melakukan kekerasan dalam rumah tangga semalam.
Semua ini akan ia rilis ke dewan direksi kantor Indra dan ke media sosial tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Hari di mana Indra berencana mengadakan pesta besar untuk menunjukkan citra keluarga bahagianya.
"Aku akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya, Indra. Kamu dan wanita harammu itu," bisik Gendis di depan cermin, sambil menyisir rambut panjang barunya yang memukau.
Permainan mental ini baru saja dimulai, dan Gendis sudah memegang kendali penuh atas papan caturnya.