MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 6, Part 1 [THE FIRST CITY]
Notifikasi besar muncul, terpampang jelas dihadapan mereka:
[WELCOME TO THE FIRST CITY]
Mereka berjalan lebih dalam.
Setiap orang yang mereka temui adalah NPC.
Beberapa dari mereka terlihat memakai armor lengkap, layaknya seorang Player. Beberapa juga berpakaian santai seperti warga sipil.
Seorang pria paruh baya lalu melambaikan tangan pada mereka. “Baru sampai ya? Selamat datang di kota kecil kita.”
Red berhenti. “Ini bukan lagi kota tapi ini Surga Paman.”
Pria itu tertawa ringan. “Lantai enam, memang sering disebut sebagai Keajaiban oleh Para Pendatang.”
Meriel bingung dan balik bertanya: “Para Pendatang? Keajaiban?”
“Iya, Pendatang seperti kalian. Tidak semua orang bisa mencapai lantai 6, bahkan untuk terus menaiki puncak menara pun tidak, Nak,” jawab pria itu santai. “Di sini kita bisa hidup normal. Ada pekerjaan, ada rumah, ada keamanan.”
Red dan Kaela saling menatap. Setelah berbicara cukup panjang, mereka mendapatkan informasi soal gedung yang berada di pusat kota, mereka lalu kesana. Saat berdiri didepan gedung tersebut, tertulis:
[FIRST CITY ADMINISTRATION CENTER]
Bangunan itu sangat besar, terbesar dari semua bangunan yang pernah mereka lihat sejak berada di dalam menara. Kubah nya menjulang tinggi. Pilar-pilar marmer menopang atap. Lambang Menara terukir jelas di atas pintu utama.
Meriel membaca pelan. “Ini mungkin pusat informasi atau tempat khusus.”
Kaela mengangguk. “Coba kita masuk.”
Interior bangunan itu sangat banyak dan megah. Dinding dipenuhi dengan informasi. Di tengah ruangan berdiri kristal besar berwarna biru transparan yang berdenyut pelan.
Begitu mereka semakin dekat dengan meja salah satu resepsionis, tiba-tiba notifikasi muncul.
[SYSTEM UPDATE — FLOOR 6 REACHED]
New Features Unlocked:
Floor Return Scroll
Special Job Advancement
Fatigue System Activated
Property Ownership Access
Side Quest Board
Merchant Tier B Access
Red membaca keras-keras. “…Fatigue System?”
Seketika sebuah bar baru muncul di sudut layar mereka.
FATIGUE: 18%
“Kelelahan?” Kaela mengerutkan kening.
Mereka lalu membuka jendela sistem dan membaca maksud dari fitur baru itu: Fatigue mencerminkan kondisi fisik dan mental Player.
Fatigue yang tinggi akan menurunkan akurasi, serangan critical, refleks, serta resistensi. Fatigue maksimum dapat menyebabkan pingsan atau bahkan kematian permanen, meski HP dan MP masih tersedia.
Red terdiam. “Jadi… walaupun darah masih penuh… kita tetap bisa mati?”
“Kesulitan di Menara semakin meningkat.” Merial dan Kaela, kompak mengomentari.
Saat mereka masih sibuk berdiskusi dan memahami setiap fitur yang baru saja terbuka.
Seorang petugas administrasi menegur mereka:
“Apakah kalian tidak ingin mengambil Job?.”
Mereka kebingungan. NPC itu lalu mengambil tangan Red dan menaruhnya ke sebuah kristal yang berwarna biru. Cahaya terang lalu menyelimutinya.
[JOB AVAILABLE]
Silakan pilih jalur spesialisasi:
Tanker
Warrior
Assassin
Archer
Craftsman
Healer
Mage
Support
Meriel berdecak kagum sekaligus bingung. “Bukankah kita sudah memakai armor dan senjata dari Job ini? Bahkan beberapa skillnya sudah ada yang bisa digunakan.”
Petugas itu lalu menjelaskan. “Di lantai enam, memilih Job, baru bisa dilakukan secara definitif. Penggunaan Armor, Weapon bahkan Item Spesial sekalipun adalah Fitur Trial dari Menara, begitupun dengan skill-skill yang sudah dibuka dan telah digunakan. Sehingga, para Player yang sudah memilih Job nya secara permanen (definitif), tidak perlu lagi menyesuaikan diri saat bertarung.”
“Kalau Jobnya sudah dipilih dan kemudian berubah pikiran, apakah masih bisa diubah?” Red bertanya.
“Secara teknis bisa saja, tapi konsekuensinya, poin skill akan direset begitupun dengan skill yang sudah terbuka. Tapi itu perlu misi khusus agar bisa mengubah Jobnya lagi,” jawab Sang NPC yang bertugas sebagai administrator.
Ruangan menjadi senyap. Kaela lalu menatap pilihan di hadapannya.
Assassin.
“Ini adalah Role yang kugunakan selama ini,” ucap Kaela dalam hati.
Red yang dari tadi, tangan nya melekat pada kristal, terlihat belum memutuskan apa-apa. Namun, secara mengejutkan Kaela langsung maju dan memilih Job Assassin.
Cahaya merah menyelimuti tubuhnya. Notif bermunculan. Skill baru terbuka. Role Assassin terpilih.
Skill poin lalu menyesuaikan otomatis, STR (Kekuatan) dan ACC (Accuracy) menjadi yang tertinggi.
Melihat hal itu, Red tidak mau kalah dan yakin memilih Tanker. DEF (Pertahanan) dan HP langung meningkat.
Setelah Kaela dan Red selesai mengambil job. Meriel masih belum memilih, seakan ada yang mengganjal di pikirannya. Mereka lalu memandangi Meriel, seolah bertanya ada apa.
Meriel hanya tersenyum tipis, paham dengan tatapan itu. “Aku hanya butuh waktu guys, mungkin belum sekarang.”
Setelah semua proses selesai, petugas lalu memberikan sebuah gulungan.
“Selamat atas pemilihan Job nya, sebagai hadiah atas Job yang kalian pilih. Menara memberikan hadiah: Return Scroll (5 pcs). Gulungan ini bisa dipakai untuk kembali ke tempat, dimana kalian terakhir berteleportasi. Dan hanya bisa digunakan untuk kembali atau pergi ke lantai yang sudah ditaklukan,” tutur Sang NPC.
Red yang penasaran, langsung membuka gulungan itu.
BLLLLUUUFFFFFF.......
Ia kembali ke lantai 5.
Red yang kembali ke Lantai 5, kaget dan langsung berteriak. "TIIIIDDAAKKKK......!!!!"
Dia melihat sekeliling—pintu kuil Minotaur masih tertutup. Sekitarnya sepi, tak berpenghuni.
"Sial... Minotaur itu kayaknya sudah respawn lagi, bisa mati aku kalau nekat masuk sendirian."
Red lalu mengambil keputusan untuk tetap berada di depan pintu kuil sambil menunggu Marva datang.
Marva akhirnya sampai di Safe zone. Dari kejauhan, beberapa Player mulai melihat ke arahnya. Mereka mengenalinya— Sang Pemenang GVG sekaligus Pengguna Item Langkah.
"Hei! Itu Marva!"
"Sang Pendekar Pedang Api balik!"
Dalam hitungan detik, belasan Player telah mengerumuninya. Wajah-wajah kagum dan penuh harap terlihat jelas diwajah mereka.
"Rameh banget disini, mungkin mereka bisa kujadikan teman" suara Aquarius mula memancing keributan.
"Siapa tadi yang berbicara?"
"Padahal Marva sendiriankan? Teman-temannya ke mana?"
Marva yang sudah tidak tahan, kali ini berbicara tegas pada Aquarius. "Sekali lagi kamu mengeluarkan suara tanpa kusuruh dan berbicara tidak penting akan kubuang kau!!!!"
"Hahahahaha, mau buang aku? Kamu yang rugi," jawab Aquarius yang tidak takut sama sekali.
"Bos daripada buang dia, lebih baik bungkam saja," Leo memotong.
"Eh, jangan ikut campur kamu api sialan!" Aquarius mulai panik.
"Maksud mu Leo?" tanggap Marva.
"Ia Bos, daripada buang dia. Masukkan saja dia ke inventory, walaupun kami Item Langkah. Ingat kami tetap item yang bisa disimpan dan tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi kalau sudah masuk ke inventory," jawab Leo menjelaskan.
"Oh gitu, aku baru tahu. Ide yang menarik Leo, btw terima kasih atas nasihat jitunya," Marva lalu tertawa jahat, seolah-olah telah menyiapkan ide terselubung.
"Hehehehe, nggak kok Bos. Aku cincin yang penurut, jangan ya, jangan. Aku nggak akan ribut lagi!" kepanikan Aquarius menjadi nyata.
Marva lalu menghela napas. "Oke Aquarius, mari buat perjanjian. Perbaiki altar itu, lalu pergi dari diri dan jangan bicara apa-apa."
"Deal Bos!" jawab Aquarius.
Marva lalu berjalan menuju altar retak di tengah safe zone tanpa menghiraukan yang lain. Masih sama seperti saat pertama kali dia liat—batu tua dengan retakan di permukaannya, memancarkan cahaya redup yang nyaris padam. Aquarius lalu memakai skill nya.
[HEALING WATER]
Altar selesai diperbaiki. Dari tengahnya, air menyembur ke atas—tapi tidak seperti air biasa. Air itu membentuk portal vertikal, semacam cerobong air yang menjulang ke langit-langit gua. Aliran tebus sampaikan ke dinding atas. Terlihat menciptakan arus air yang menghubungkan antara lantai bawah dan juga atas. Para player lalu bersorak dan lagi-lagi menyorak kan nama Marva.
"Mudah kan Bos, skill ku ini tidak hanya menyembuhkan atau menambah HP tapi bisa merestorasi semua barang rusak sekalipun," jawab Aquarius dengan nada sombong.
Tidak ingin berlama-lama disitu, Marva deluan masuk kedalam portal air dan membawanya ke lantai atas. Melihat hal itu, beberapa Player langsung berebut mau masuk.
"Sampai jumpa lagi guys," ucap Aquarius saat terangkat naik bersama Marva.
Para player ada yang notice bahwa cincin Marva dan membuat keributan lagi.
"HEY, CINCIN ITU?!"
"CINCIN NYA BERBICARA!"
Kali ini, Marva bener-benar tidak tahan. "Open the Inventory!"
"Bos! Bentar, bentar, aku in......."
Ring Of AQUARIUS telah disimpan.
Marva segera melanjutkan perjalanan ke Lantai 5 karena dia sudah pernah kesini dan tahu jalannya. Saat tiba di depan Kuil Minotaur, dia mendengar suara yang sangat familiar.
"Loh, kok kamu disini Red?" Marva kaget.
"LEAD! Akhirnya, kamu sampai juga!" jawab Red berkaca-kaca.
Red lalu menjelaskan dengan malu-malu, dia iseng buka Return Scroll dan tiba-tiba kembali ke Lantai 5 sendirian.
"Eh bentar, Return Scroll? Apa itu?" Marva balik bertanya.
Dengan semangat Red menceritakan semua nya pada Marva. "Jadi begitu Lead, Lantai 6 adalah Surga. Kita harus tinggal disitu, tidak perlu menaiki menara ini lagi. Kita punya kehidupan disana."
Marva penasaran dengan semua cerita yang disampaikan oleh Red. Dia mulai berfikir, apakah lantai 6 memang sebagus itu, sampai-sampai membuat Red untuk tidak lagi mau melanjutkan pendakian menuju puncak menara.
Mereka akhirnya sampai didepan pintu Lantai 6, tertulis jelas didepan pintu gerbang itu: FIRST CITY, yang masih asing buat Marva. Mereka lalu melihat Kaela dan Meriel sedang duduk di depan gerbang, menyiratkan bahwa Kaela dan Meriel sudah menunggu mereka.
Kaela langsung berdiri saat melihat Marva. "Va! Senang melihatmu kembali!" Kaela segera berlari lalu memeluknya erat-erat.
[BERSAMBUNG]