Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Lena, Pengasuh Baru
Kata-kata ‘kamu cuma sementara di sini' yang diucapkan oleh Krisna cukup pedas bagi Raisa. Dan, gadis itu pun menyadari posisinya hanya pengganti ibunya.
“Iya,” Raisa menyahut cepat. “Saya tahu posisi saya.”
Krisna tidak membalas.
Dari luar terdengar suara motor berhenti di halaman.
Bik Sum muncul lagi, kali ini dengan wajah sedikit tegang. “Permisi Den Krisna ... yang kemarin wawancara, Mbak Lena, sudah datang.”
Krisna mengangguk. “Silakan tunggu di ruang tengah.”
“Iya, Den.”
Krisna menatap Raisa. “Kamu tetap di sini saja sama Ezio,” perintahnya.
Raisa mengangguk, tanpa menatapnya. “Iya.” Nada suaranya terdengar dingin.
Krisna melangkah pergi menuju ruang tengah. Langkahnya mantap, tapi pikirannya sedikit terganggu.
Di ruang tengah, Lena berdiri dengan pakaian sederhana. Tidak berdandan berlebihan, tidak pula terlihat memelas. Ia menunduk sopan saat melihat Krisna.
“Selamat siang, Pak Krisna,” katanya.
“Siang,” jawab Krisna singkat. “Silakan duduk, Lena.”
Mereka mulai berbicara—tentang jam kerja, tanggung jawab, gaji, dan ekspektasi. Lena menjawab tenang, tidak berlebihan, tidak berputar-putar. Tapi, hati Lena luar biasa bahagia karena diterima bekerja sebagai pengasuh Ezio.
“Alhamdulillah, aku tidak sia-sia melamar,” batinnya.
Namun di sela percakapan itu, suara tawa kecil kembali terdengar dari arah dapur kering.
Krisna refleks menoleh.
Lena juga mendengarnya. Ia tersenyum kecil. “Bayinya kelihatannya ceria, Pak.”
“Iya,” jawab Krisna pelan.
“Biasanya bayi rewel kalau nggak cocok sama orang baru,” lanjut Lena, jujur. “Tapi kalau bisa ketawa begitu, berarti dia merasa aman.”
Krisna terdiam.
Kata itu lagi.
Aman.
Ia kembali teringat cara Raisa menggendong Ezio. Tanpa instruksi. Tanpa teori. Tanpa SOP.
Hanya naluri seorang gadis.
Wawancara selesai. Krisna meminta Lena menunggu sebentar.
Ia berdiri, melangkah kembali ke dapur kering.
Raisa masih di sana, duduk di kursi, Ezio setengah tertidur di pelukannya.
“Pengasuh barunya ... tampaknya baik,” kata Krisna pelan.
“Syukurlah,” jawab Raisa dengan keningnya mengernyit. Ya, ia merasa aneh, kenapa pria itu harus kasih tahu ke dirinya.
“Kamu … akan pulang jam enam lagi?” tanya Krisna.
“Iya,” Raisa menjawab singkat.
Krisna mengangguk. “Terima kasih sudah bantu hari ini. Nanti, kamu tidak perlu repot bantu mengasuh Ezio.”
Raisa menoleh sebentar, menatapnya sekilas. “Mmm ... sama-sama.”
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
Krisna menghela napas kecil. Untuk hari ini, ia sadar satu hal: Ia mungkin sudah memilih pengasuh untuk anaknya.
Tapi ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling membuat anaknya tenang … bukan bagian dari rencana hidupnya sama sekali.
***
Krisna meninggalkan dapur kering dengan langkah mantap, kembali ke ruang tengah tempat Lena menunggu. Wajahnya sudah kembali ke ekspresi yang ia kenal baik—dingin, terkendali, dan berjarak. Keputusan sudah diambil, dan seperti biasa, ia memilih berdiri di balik logika.
Lena bangkit begitu melihat Krisna mendekat. Tangannya saling bertaut di depan perut, senyumnya rapi, matanya berbinar penuh harap.
“Apakah kamu bisa langsung bekerja?” tanya Krisna tanpa basa-basi, nadanya datar tapi mengandung rasa ingin tahu.
Lena mengangguk cepat. “Oh, tentu bisa, Pak Krisna. Saya siap bekerja kapan pun.” Ia tersenyum lebar. “Siang ini pun juga bisa.”
Krisna memperhatikannya sejenak. Antusiasme itu terlihat tulus—atau setidaknya, meyakinkan. Ia mengangguk pelan.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Saya minta kamu bekerja hari ini juga. Kebetulan saat ini yang mengurus anak saya bukan orang yang berpengalaman dalam mengurus bayi.”
Nada suaranya terdengar tenang, tapi ada tekanan di tiap kata. Seolah kalimat itu bukan sekadar informasi—melainkan penegasan.
“Kalau begitu,” lanjutnya sambil berdiri, “ikut saya.”
Lena bangkit dengan wajah berseri-seri. Dadanya terasa lapang. Statusnya sebagai janda beranak satu, yang selama ini sering menjadi beban stigma, hari ini terasa seperti keunggulan. Setidaknya, ia merasa lebih pantas dibandingkan siapa pun yang belum pernah melahirkan.
“Terima kasih, Pak,” katanya, suaranya lembut dan penuh keyakinan.
Mereka berjalan menuju dapur kering.
Di sana, Raisa berdiri menghadap jendela, Ezio tertidur pulas di gendongannya. Sinar siang masuk lembut, menyentuh pipi bayi itu. Raisa mengusap punggung kecil itu pelan, nyaris tanpa suara. Wajahnya datar, tapi tubuhnya refleks melindungi.
Krisna masuk lebih dulu.
“Raisa,” panggilnya singkat.
Raisa menoleh setengah, lalu kembali menatap Ezio. “Ya?”
Krisna tidak menanggapi nada ketus itu. Ia menoleh ke Lena, lalu menunjuk bayi di pelukan Raisa.
“Lena,” katanya, “ini anak saya. Namanya Ezio.”
Lena tersenyum hangat, melangkah lebih dekat. “MasyaAllah … ganteng sekali, mirip Pak Krisna.”
Krisna melanjutkan, suaranya tetap dingin, sengaja mengarahkannya pada Raisa. “Saya harap kamu amanah mengurus anak saya. Dan pastinya, dengan pengalamanmu sebagai ibu, kamu bisa sangat paham mengurusnya.”
Tatapan Krisna melintas sekilas ke wajah Raisa—tajam, mengukur.
Raisa menangkapnya.
Ia tidak membalas dengan kata-kata. Hanya alisnya yang terangkat tipis, seolah berkata ya sudah, lagi pula aku bukan pengasuh anak kok.
“InsyaAllah, Pak,” jawab Lena mantap. “Saya sangat handal mengurus anak.”
Ia lalu menoleh pada Raisa, senyumnya melembut, nada suaranya dibuat seramah mungkin. “Duh, cah ganteng,” ujarnya sambil mendekat. “Sekarang sama Mbak, yuk.”
Tangannya terulur, hendak mengambil Ezio.
Raisa memandang Lena sekilas. Wajah itu ia kenal—warga kampung sebelah, sering terlihat di pasar, terkenal ramah dan pandai berbasa-basi. Raisa menggeser posisi tubuhnya sedikit, memudahkan Ezio berpindah.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ezio tetap tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari perpindahan pelukan. Kepala kecilnya kini bersandar di dada Lena, napasnya tetap teratur.
Raisa melepaskan pegangan, meluruskan punggung. Tangannya terasa ringan—dan entah kenapa, kosong.
“Kalau begitu,” katanya santai, nyaris acuh, “saya lanjut ngerjain yang lain.”
Ia berbalik tanpa menoleh ke arah Krisna. Nada suaranya biasa saja, tapi langkahnya tegas. Tidak ada pamit yang dibuat-buat. Tidak ada penjelasan.
Krisna mengerutkan kening, menatap punggung Raisa yang menjauh.
Lena menggeser Ezio ke posisi lebih nyaman, lalu menoleh ke Krisna dengan senyum kecil yang sopan. “Maaf, Pak,” katanya lembut. “Kamar Ezio ada di mana? Biar saya pindahkan.”
Krisna mengalihkan pandangannya dari Raisa. “Kamar tamu,” jawabnya singkat. “Di sebelah kanan lorong.”
“Baik, Pak.”
Lena melangkah pelan menuju kamar tamu. Gerakannya hati-hati, terlatih—atau setidaknya terlihat begitu. Krisna mengikutinya beberapa langkah, lalu berhenti di ambang pintu dapur.
Raisa sudah tidak terlihat.
Ada perasaan aneh yang singgah—singkat, tapi menusuk. Krisna menepisnya cepat.
Ini keputusan yang rasional, katanya dalam hati. Pengasuh berpengalaman. Selesai.
Di kamar tamu, Lena meletakkan Ezio di ranjang kecil dengan penuh perhatian. Ia membetulkan selimut, menepuk pelan dada bayi itu.
Ezio bergeliat kecil. Matanya bergetar, seolah hendak terbuka.
Lena buru-buru mengayun pelan, berbisik, “Ssst … tidur, Nak.”
“Dan mohon kerjasamanya ya, jangan mempersulit pekerjaan saya di sini. Tapi, setidaknya mulai siang ini ... saya bisa dekat dengan ayahmu, Nak,” batin Lena, luar biasa senang.
Bersambung ... ✍️
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊