NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.5 Shared Sense

Malam itu asrama Akademi Luminiella sudah sangat sepi. Koridor-koridor panjang diredupkan, hanya menyisakan cahaya samar dari obor dinding yang berjarak jauh. Kamar Cae terletak di ujung sayap utara, ruangan kecil dengan satu jendela menghadap taman dalam. Jendela itu terbuka sedikit, membiarkan angin malam masuk membawa aroma bunga malam dan embun.

Cae duduk bersila di atas tikar lantai. Jubah tidur abu-abunya sedikit terangkat karena angin. Rambut biru tuanya terlepas dari ikatan, jatuh menutupi bahu. Di depannya ada mangkuk kecil berisi teh herbal yang sudah mulai dingin. Uap tipis masih naik dari permukaan, tapi ia tidak minum. Hanya memandang teh itu bergoyang pelan setiap kali ia bernapas.

Ely dan Nyx duduk di hadapannya. Ely bersandar ke dinding, kakinya dilipat santai, katana diletakkan di samping kanan. Nyx duduk dengan lutut ditekuk ke dada, ekornya melingkar di sekitar kaki. Telinganya berdiri tegak, menangkap setiap suara kecil: derit kayu lantai, suara napas pelan dari kedua temannya, hembusan angin dari celah jendela.

Cae menatap mangkuk tehnya. Jari-jarinya mengelilingi pinggir mangkuk. Ia menarik napas pelan, lalu bicara.

“Aku ingin coba sesuatu malam ini,” katanya. Suaranya kecil, tapi jelas di tengah keheningan. “Shared Sense. Teknik berbagi perasaan dan mana yang aku baca di buku angin dasar. Kalau berhasil, kita bisa merasakan apa yang dirasakan satu sama lain. Bukan hanya mana dan emosi, tapi juga indra. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan fisik, apa yang didengar. Semuanya, selama koneksi aktif.”

Ely menoleh. Matanya tenang. “Risikonya?”

“Tidak besar kalau kita hati-hati,” jawab Cae. “Mantra-nya sederhana. Cuma butuh kita saling bergenggaman dan fokus. Tapi kalau salah satu dari kita panik, aliran mana bisa terganggu. Bisa terasa seperti sakit kepala ringan atau pusing sebentar.”

Nyx memiringkan kepala. Ekornya bergerak lebih cepat sedikit. “Aku mau coba. Aku ingin tahu apa yang kalian rasakan. Kalau aku bisa merasakan kalian… aku tidak akan takut lagi.”

Cae tersenyum kecil. Ia meletakkan mangkuk teh di samping. “Baiklah. Kita coba. Duduk lebih dekat.”

Mereka menggeser posisi. Sekarang mereka duduk sangat dekat, lutut hampir bersentuhan. Cae mengulurkan kedua tangannya. Ely menggenggam tangan kanan Cae. Nyx menggenggam tangan kiri Cae. Tangan mereka bertiga bertemu di tengah lingkaran kecil yang mereka buat. Genggaman itu hangat. Kuat. Tapi lembut.

Cae menutup mata. Ia mulai mengucapkan mantra kecil. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

“Angin yang lembut… alirkan mana di antara kami. Biarkan hati dan indra kami terhubung. Shared Sense.”

Angin kecil mulai berputar di antara mereka. Bukan angin kencang. Hanya hembusan sepoi yang membelai rambut dan kulit. Cahaya hijau samar muncul dari telapak tangan Cae, lalu menyebar ke tangan Ely dan Nyx. Cahaya itu berdenyut pelan, seperti detak jantung kecil.

Tiba-tiba mereka merasakan sesuatu.

Ely merasakan ketakutan kecil di hati Nyx. Rasa takut kalau suatu saat ia akan kehilangan orang-orang yang ia sayangi lagi. Tpi di balik ktakutan itu ada kehangatan. Rasa aman karena ada Ely dan Cae di sisinya. Ia juga mrasakan apa yang Nyx lihat: cahaya lampu minyak yang samar, bayangan di dinding, dan sedikit kilauan bulan dari celah jendela. Ia merasakan dingin angin di kulit Nyx, dan detak jantungnya yang sedikit cepat.

Nyx merasakan kekhawatiran di hati Cae. Kekhawatiran tentang tugas proyek. Kekhawatiran tentang nilai. Tapi lebih dalam lagi, ada rasa kesepian yang sudah lama ia simpan. Nyx juga merasakan apa yang Cae dengar: suara angin di luar jendela, suara napas pelan dari Ely, dan suara jantungnya sendiri yang terdengar lebih jelas. Ia merasakan dingin tikar di telapak kaki Cae, dan sedikit getaran di tangan Cae yang gemetar.

Cae merasakan ketenangan di hati Ely. Ketenangan yang dalam. Ketenangan yang lahir dari pengalaman hidup di Bumi dan di dunia ini. Tapi di balik ketenangan itu ada rasa tanggung jawab yang berat. Cae juga merasakan apa yang Ely lihat: cahaya lampu minyak yang samar, wajah Nyx yang tersenyum kecil, dan sedikit kilauan mata Nyx. Ia merasakan dingin gagang katana di samping Ely, dan detak jantung Ely yang teratur dan kuat.

Mereka diam beberapa saat. Genggaman tangan tidak dilepas. Angin kecil terus berputar di antara mereka. Cahaya hijau samar berdenyut pelan.

Nyx membuka mata pertama. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum. “Aku… aku merasakan kalian. Aku bisa melihat apa yang kalian lihat. Aku bisa mendengar apa yang kalian dengar. Kalian benar-benar ada di sini. Kalian tidak akan pergi.”

Ely membuka mata. Ia tersenyum tipis. “Kau juga ada di sini. Kami merasakanmu. Kami melihat apa yang kau lihat. Kami mendengar apa yang kau dengar.”

Cae membuka mata terakhir. Air mata mengalir pelan di pipi kirinya. Ia cepat mengusapnya dengan punggung tangan. “Aku… aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Kalian… kalian seperti keluarga. Aku bisa merasakan ketenangan Ely. Aku bisa merasakan kehangatan Nyx. Aku bisa melihat cahaya lampu dari mata kalian. Aku bisa mendengar napas kalian lebih jelas dari napasku sendiri.”

Nyx mengangguk cepat. Ia menggeser posisi lebih dekat. Ekornya menyentuh lutut Cae. “Kita sudah seperti keluarga. Dari dulu.”

Ely mengangguk pelan. Ia melepaskan genggaman tangan perlahan. Tapi tangannya tetap berada di dekat tangan mereka. “Kita bisa gunakan ini di proyek. Shared Sense bisa membantu kita mengerti kebutuhan satu sama lain saat bertarung. Buff akan lebih tepat. Teknik berpedang akan lebih sinkron. Dan kita bisa merasakan apa yang lawan rasakan. Itu keuntungan besar.”

Cae mengangguk. Ia tersenyum kecil. Senyum yang lemah tapi tulus. “Besok malam kita coba lagi. Tapi kli ini kita tambah latihan teknik berpedang. Aku… aku ingin belajar dari Ely. Nyx juga ingin, kan?”

Nyx mengangguk antusias. “Iya! Aku ingin bisa melindungi kalian juga dengan pedang, bukan hanya buff.”

Ely tersenyum tipis. Ia mengusap rambut Nyx pelan. “Baiklah. Besok malam kita mulai. Aku akan ajari kalian gerakan dasar yang efisien. Tidak perlu kuat. Yang penting tepat dan tidak buang tenaga.”

Cae merasa dada terasa lebih ringan. Rasa sesak yang selama ini ada mulai hilang. Ia tahu… ia tidak lagi sendirian. Ia punya Ely. Ia punya Nyx. Ia punya saudari yang tidak terikat darah.

Ia mnatap mereka berdua. Ely yang tenang. Nyx yang skarang lebih tinggi tapi tetap sama. Mereka sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang tidak bisa ia lepaskan.

Ia tersenyum kecil. Senyum yang tulus.

Malam masih panjang. Tapi kali ini, ia tidak merasa takut.

Karena ia punya mereka.

Dan mreka punya dia.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!