Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.6 Sabotase di Hari Demonstrasi
Hari demonstrasi tiba dengan langit yang cerah tanpa awan. Lapangan utama Akademi Luminiella dipenuhi siswa dan guru dari berbagai jurusan. Panggung kayu sederhana dibangun di tengah, dikelilingi pagar rendah dari tali putih. Bendera-bendera kecil berwarna biru muda berkibar di tiang-tiang bambu, lambang angin melingkar terlihat jelas di setiap kain. Udara pagi masih segar, tapi sudah mulai terasa hangat karena matahari yang naik cepat.
Caeril berdiri di sisi panggung bersama Ely dan Nyx. Jubah akademinya terasa lebih kaku dari biasa, mungkin karena ketegangan yang menumpuk sejak malam tadi. Ia menggenggam gulungan catatan kecil di tangan kiri, jari-jarinya sedikit memutih karena terlalu erat. Napasnya pelan, tapi terasa pendek. Ia menatap lapangan di depan. Puluhan siswa duduk di bangku kayu panjang, beberapa berbisik, beberapa menulis catatan. Guru Lumina berdiri di panggung, jubahnya bergerak pelan ditiup angin.
Ely berdiri di sebelah kanan Cae. Katana bersarung tergantung di pinggang, tangan kanannya menyentuh gagangnya secara refleks. Ia tidak terlihat tegang. Matanya menatap ke depan dengan tenang, tapi ada kewaspadaan kecil di dalamnya. Nyx berdiri di sebelah kiri Cae. Tubuhnya lebih tinggi dari sebelumnya, membuat ia terlihat lebih seimbang di antara mereka bertiga. Ekornya melengkung pelan, telinganya berdiri tegak, menangkap suara-suara di sekitar.
Guru Lumina mengangkat tangan. Suaranya menggema di lapangan.
“Kelompok berikutnya: Caeril Fulvus bersama dua anggota luar akademi. Tema: Kolaborasi Sihir Buff dan Teknik Berpedang yang Digabungkan dengan Sihir Menyerang dalam Praktik Nyata.”
Caeril menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju. Ely dan Nyx mengikuti di belakang. Mereka naik ke panggung. Cahaya matahari pagi menyilaukan sedikit, membuat Cae menyipitkan mata. Ia bisa mendengar bisik-bisik dari penonton. Beberapa suara terdengar sinis. “Beastkin lagi?” “Petualang luar?” “Mereka pikir bisa menang dengan trik murahan?”
Cae mengabaikan suara itu. Ia menatap Guru Lumina. Guru itu mengangguk pelan. “Mulai.”
Cae mengangkat tangan kanan. Angin kecil mulai berputar di sekitar telapak tangannya. Gentle Gale yang sudah mulai terbentuk. Ia bicara dengan suara yang jelas, meskipun sedikit gemetar.
“Kami akan menunjukkan kolaborasi tiga jenis kekuatan: buff dari Ely, buff malam dari Nyx, dan sihir menyerang angin dari saya. Semua digabungkan dalam praktik nyata.”
Ely melangkah maju. Ia mengeluarkan katana dari sarung. Cahaya matahari memantul di bilahnya. Ia mengambil posisi dasar. Kaki kiri maju, kaki kanan belakang, tubuh sedikit condong ke depan. Gerakan itu sederhana, tapi penuh keseimbangan.
Cae mengulurkan tangan. Angin berputar lebih cepat. Gentle Gale menyentuh tubuh Ely. Gerakan Ely menjadi lebih cepat. Tebasan vertikal pertama terasa mulus, tanpa hambatan. Nyx mengangkat tangan kanan. Cahaya perak samar muncul di telapaknya. Buff malam aktif. Peningkatan indra pendengaran membuat Ely bisa mendengar hembusan angin di sekitar pedangnya lebih jelas. Ia bisa merasakan kapan angin membantu atau menghambat.
Ely melanjutkan. Tebasan horizontal. Tusukan lurus. Gerakan kaki. Setiap gerakan terasa lebih efisien. Buff dari Cae membuatnya lebih cepat. Buff dari Nyx membuatnya lebih peka terhadap lingkungan. Sihir menyerang dari Cae berupa hembusan angin tajam yang mengikuti setiap tebasan Ely. Angin itu tidak hanya mempercepat, tapi juga menambah kekuatan tebasan.
Penonton mulai diam. Bisik-bisik berhenti. Beberapa siswa mencondongkan tubuh ke depan. Guru Lumina mengangguk pelan. Matanya tidak lepas dari gerakan mereka.
Tapi tiba-tiba sesuatu terjadi.
Buff Ely melemah. Gerakan pedangnya terasa lambat. Nyx merasa indra pendengarannya terganggu. Suara-suara di sekitar menjadi kabur. Cae merasakan aliran mana-nya terputus sejenak. Angin yang tadi berputar di sekitar Ely mulai berantakan.
Cae langsung sadar. Ada sabotase. Mantra kecil dari luar lapangan. Ia menoleh ke arah penonton. Matanya menyipit. Ia melihat Varian de Luthaine berdiri di baris belakang, tangan kanannya tersembunyi di balik jubah. Jari-jarinya bergerak pelan, membuat pola kecil.
Cae menahan emosi. Ia tidak ingin menunjukkan kepanikan. Ia menutup mata sejenak. Fokus. Ia mengingat mantra Shared Sense. Ia mengulurkan tangan ke arah Nyx dan Ely. “Shared Sense,” bisiknya.
Angin kecil berputar lagi. Cahaya hijau samar muncul. Koneksi terbentuk. Cae merasakan apa yang Nyx rasakan: indra pendengaran yang terganggu, tapi Nyx sudah mulai memfilter suara-suara itu. Nyx merasakan apa yang Cae rasakan: aliran mana yang terputus, tapi Cae sudah mulai menariknya kembali. Ely merasakan apa yang mereka rasakan: ketegangan di udara, tapi ia tetap tenang.
Nyx membuka mata. Ia menatap ke arah Varian. “Dia,” bisiknya. “Di baris belakang. Mantra sabotase dari jarak jauh.”
Ely mengangguk. Ia melangkah maju. Katana masih di tangan. Ia tidak menarik bilahnya. Hanya memegang sarung. Ia menatap Varian langsung. Tatapannya dingin. Varian mulai merasa tidak nyaman. Ia menurunkan tangan. Mantra sabotase terputus.
Buff Ely kembali normal. Gerakan pedangnya cepat lagi. Ia melanjutkan demonstrasi. Tebasan terakhir: gerakan vertikal yang diikuti hembusan angin tajam dari Cae. Angin itu menyapu lapangan, membuat debu beterbangan kecil. Penonton terdiam. Beberapa bertepuk tangan pelan.
Guru Lumina mengangkat tangan. “Selesai.”
Trio turun dari panggung. Guru Lumina menatap mereka. “Presentasi kalian bagus. Meskipun ada gangguan. Aku akan investigasi siapa pelakunya.”
Caeril mengangguk. “Terima kasih, Guru.”
Mereka berjalan menjauh dari lapangan. Nyx berjalan di tengah. Ekornya melengkung pelan. Telinganya masih berdiri tegak. Ely berjalan di sebelah kanan. Nyx di sebelah kiri. Cae merasa dada terasa lebih ringan. Ia tahu… mereka berhasil. Karena mereka bertiga.
Cae menoleh ke Nyx. “Kau baik-baik saja?”
Nyx mengangguk. “Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Tapi sekarang… aku tidak takut lagi. Karena kalian ada.”
Ely mengangguk pelan. “Kita sudah membuktikan. Kita lebih kuat bersama.”
Cae tersenyum kecil. Senyum yang tulus. “Terima kasih. Kalian berdua… kalian sudah seperti keluarga bagiku.”
Mereka berjalan keluar dari lapangan. Angin sore berhembus lagi. Daun-daun bergesekan. Suara itu sekarang terasa seperti dukungan.
Mereka tahu… rival tidak akan berhenti. Tapi ikatan mereka semakin kuat.
Dan itu sudah cukup.