Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Darah pembuka jalan
Surga Pertama - Dataran Es Ujung Dunia.
Tabir dimensi robek dengan suara seperti kain sutra tua yang dikoyak paksa. Dari dalam celah gelap gulita itu, dua sosok terlempar keluar, menghantam permukaan tanah yang keras dengan bunyi debum yang berat.
Tidak ada awan warna-warni. Tidak ada nyanyian burung bangau abadi. Tidak ada energi kehidupan yang melimpah ruah menyambut mereka.
Yang menyambut kedatangan Shen Yu dan Lin Xue di Alam Atas hanyalah padang es hitam legam yang membentang tanpa batas, dan badai salju kosmik yang melolong seperti ribuan hantu kelaparan.
"Ugh..." Shen Yu memuntahkan darah segar yang langsung membeku sebelum menyentuh tanah es.
Dia berusaha menopang tubuhnya dengan Sabit Penebas Langit, namun tangannya bergetar hebat. Gravitasi di tempat ini... puluhan ribu kali lipat lebih berat daripada di Benua Tengah. Bukan hanya tarikan fisik, tetapi Hukum Alam di sini begitu padat dan purba hingga terasa seperti ada gunung besi yang menindih langsung di atas Dantian nya.
Ranah Nirwana Puncak nya, yang di dunia fana bisa membelah lautan dengan satu jentikan jari, kini ditekan habis-habisan hingga ia merasa seperti manusia biasa yang baru belajar bernapas.
[Ranah Ditekan: Dewa Fana (Mortal Immortal) Tahap Awal]
"Guru!" Lin Xue merangkak mendekat. Keadaannya tidak jauh lebih baik. Wajahnya sepucat kertas. Mahkota teratainya telah memudar, masuk kembali ke dalam lautan kesadarannya untuk melindungi jiwanya dari hawa dingin yang menggerogoti.
"Jangan gunakan Qi-mu, Xue'er," desis Shen Yu, mencengkeram pergelangan tangan Lin Xue saat gadis itu mencoba mengalirkan energi penyembuh. "Ruang di sini... menyedot energi. Jika kau melepaskan Dao Kehidupan-mu sekarang, kau akan menjadi suar di tengah malam."
Shen Yu mendongak, menatap langit kelabu yang menjatuhkan butiran salju sebesar kepalan tangan. Ini bukan salju air. Ini adalah Kalpa Angin Salju sisa-sisa Dao yang telah mati dan membeku dari dewa-dewa kuno yang gugur.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap raksasa memecah lolongan badai.
Tiga ekor Elang Es bermata merah turun dari balik kabut salju, mendarat sepuluh tombak di depan Shen Yu dan Lin Xue. Di punggung masing-masing elang, duduk seorang kultivator berjubah perak dengan lambang pedang patah di dada kiri mereka.
Mereka adalah pasukan patroli perbatasan dari Aliansi Asal Leluhur, anjing penjaga Surga Pertama.
"Lihat ini," salah satu kultivator perak itu menyeringai, matanya memindai Shen Yu dan Lin Xue dengan tatapan merendahkan. "Tabir di Ladang Pil Sektor Timur robek, dan ternyata ada dua ekor tikus yang berhasil merangkak naik."
Kultivator kedua menatap Lin Xue. Matanya melebar saat instingnya mendeteksi aroma samar dari jiwa gadis itu. "Aroma ini... Murni sekali! Ini bukan Qi fana biasa. Ini adalah kayu bakar kualitas tertinggi! Jika kita menyerahkannya pada Raja Dewa Ye, kita berdua bisa mendapat imbalan Pil Penunda Kehancuran!"
"Bagus. Bunuh yang laki-laki. Potong anggota geraknya, lalu bawa yang perempuan hidup-hidup," perintah kultivator pertama yang berada di ranah Dewa Fana Tahap Puncak.
Shen Yu perlahan berdiri. Dia menarik Lin Xue ke belakang punggungnya.
Di dunia fana, menghadapi musuh seperti ini hanyalah masalah satu lirikan mata. Tapi di sini, ruang terlalu padat. Dia tidak bisa memanipulasi Ketiadaan untuk memotong jarak. Dia tidak bisa merobek dimensi. Dia benar-benar terdesak.
Namun, wajah Shen Yu tidak menunjukkan kepanikan. Hanya ada kedinginan absolut yang jauh lebih membekukan daripada salju kosmik di sekitar mereka.
"Kalian menyebut duniaku sebagai Ladang Pil," suara Shen Yu pelan, serak, namun mematikan. "Jadi di sinilah tempat para petani sombong itu bersembunyi."
"Banyak bicara untuk seekor babi yang baru keluar dari kandang!"
Kultivator perak ketiga melesat dari punggung elangnya. Dia menghunus pedang yang memancarkan Dao Beku, menusuk langsung ke arah jantung Shen Yu dengan kecepatan kilat.
Dengan perhitungan pertempuran yang brutal, Shen Yu memutar tubuhnya sedikit ke kiri.
JLEB!
Pedang musuh menembus bahu kanan Shen Yu, darah keluar membasahi salju.
"Guru!" jerit Lin Xue.
"Hahaha! Tikus lemah, kau bahkan tidak bisa menghindari tebasan paling dasarku!" tawa kultivator itu.
"Menghindar?" Shen Yu menyeringai tepat di depan wajah musuhnya. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Tangan kiri Shen Yu mencengkeram erat bilah pedang yang menancap di bahunya, mengunci pergerakan musuh.
"Aku tidak menghindar... agar aku tidak perlu repot mengejarmu."
Mata kultivator itu membelalak ngeri saat melihat mata kiri Shen Yu berubah sepenuhnya menjadi hitam legam.
Pada jarak sedekat ini, kepadatan ruang Alam Atas tidak lagi menjadi masalah. Tangan kanan Shen Yu, yang dilapisi Api Ketiadaan terkonsentrasi seukuran kuku, menembus langsung dada kultivator perak itu.
CRASH!
Shen Yu meremukkan jantung dan Dantian musuhnya dalam satu remasan. Tidak ada ledakan. Hanya suara daging yang dikoyak kehampaan. Kultivator itu mati seketika, matanya mendelik tak percaya bahwa "tikus fana" berani menukar luka untuk sebuah pembunuhan instan.
Shen Yu mencabut pedang dari bahunya dengan kasar, lalu menendang mayat itu hingga terlempar ke arah dua rekannya yang terpaku kaget.
"Siapa selanjutnya?" Shen Yu mengangkat wajahnya. Darahnya sendiri menetes dari dagunya, bercampur dengan senyum kejam seorang tiran sejati.
Di dunia ini, kekuatan mungkin telah ditekan, namun kekejaman dan insting membunuh Shen Yu tidak akan pernah pudar.
"K-Keparat! Dia menggunakan Teknik iblis! Bunuh dia bersama-sama!" raung pemimpin patroli.
Keduanya menyerang serentak, memanggil rantai es dari bawah tanah untuk mengikat kaki Shen Yu.
"Xue'er, Pinjami aku matamu!" perintah Shen Yu.
Lin Xue yang berada di belakangnya segera memahami. Meski Qi-nya ditekan, koneksi jiwa dari Kultivasi Ganda mereka di masa lalu masih ada. Lin Xue memancarkan seutas Dao Kehidupan ke dalam lautan kesadaran Shen Yu, menajamkan persepsi waktu Shen Yu selama sedetik.
Sedetik itu sudah cukup.
Shen Yu memutar Sabit Penebas Langit-nya. Dia tidak menebas musuhnya, melainkan menebas rantai es yang mengikatnya, memanfaatkan daya tolaknya untuk melontarkan dirinya sendiri ke udara.
Di udara, Shen Yu melempar sabitnya seperti bumerang hitam. Sabit itu berputar dengan putaran Ketiadaan, memenggal leher kultivator kedua, sebelum kembali ke tangan Shen Yu.
Saat Shen Yu mendarat, pemimpin patroli yang tersisa kini gemetar hebat. Dua rekannya mati dalam kurang dari lima tarikan napas oleh seseorang yang baru saja naik dari Alam Bawah.
Pemimpin itu memutar elangnya, bersiap lari untuk melaporkan anomali ini pada Raja Dewa Ye.
"Mau lari?" Shen Yu menghentakkan kakinya. Sabit di tangannya memanjang, rantai hitam melesat dari gagangnya dan melilit leher elang es tersebut, menariknya jatuh menghantam bumi.
Kultivator itu terlempar. Sebelum dia bisa berdiri, kaki Shen Yu sudah menginjak dadanya hingga tulang rusuknya remuk.
"T-Tunggu! Aku berasal dari Aliansi Asal Leluhur! Jika kau membunuhku, Raja Dewa Ye akan mengejarmu sampai ke ujung Tiga Puluh Tiga Surga!" ancam pria itu, darah merembes dari mulutnya.
"Raja Dewa Ye?" Shen Yu memiringkan kepalanya. "Katakan padanya di neraka, Kaisar Malam akan segera datang untuk menagih sewa Ladang Pil-ku."
KRAK.
Shen Yu menginjak leher pria itu hingga patah.
Padang es kembali sunyi, hanya menyisakan suara badai. Shen Yu terbatuk hebat, berlutut sambil memegangi bahunya yang terus mengeluarkan darah. Luka dari pedang Alam Atas ternyata sangat sulit disembuhkan; ada hukum yang mencegah dagingnya menyatu.
Lin Xue segera bergegas, merobek ujung gaun pengantinnya yang telah kotor oleh lumpur es, dan membalut luka Shen Yu dengan erat. Tangan gadis itu gemetar, bukan karena dingin, tapi karena melihat kekejaman realitas baru mereka.
"Mereka menyebut duniaku Ladang Pil," gumam Lin Xue, menatap tiga mayat di atas salju. "Dan mereka memburu kita seperti hewan peliharaan yang lepas."
Shen Yu berdiri, mengambil cincin penyimpanan dari ketiga mayat tersebut, serta merampas jubah perak mereka yang tebal untuk menahan hawa dingin kosmik. Dia memakaikan satu jubah perak itu ke tubuh Lin Xue, mengancingkannya hingga ke leher untuk menutupi aura teratainya.
"Kita berada di dasar rantai makanan sekarang, Xue'er," kata Shen Yu, suaranya tenang. Dia menatap hamparan padang es hitam yang tak berujung. Di kejauhan, siluet sebuah kota raksasa yang melayang rendah tertutup badai salju.
"Tapi rantai makanan dibuat untuk dipanjat. Dan jika perlu... kita akan mencekik leher mereka dengan rantai itu."
Shen Yu mengulurkan tangannya. Lin Xue menyambutnya.
...1. Dewa Fana (Mortal Immortal): Baru melepas tubuh fana. (Titik awal Shen Yu dan Lin Xue saat baru menembus robekan langit)....
...2. Dewa Sejati (True Immortal): Telah memadatkan hukum alam ke dalam tulang mereka....
...3. Raja Dewa (Immortal King): Mampu menciptakan wilayah tata surya kecil di dalam lautan kesadaran mereka....
...4. Kaisar Surga (Heavenly Emperor): Mengendalikan aliran waktu dan nasib jutaan dunia di bawahnya....
...5. Penguasa Purba (Primordial Sovereign): Mereka yang menyatu dengan Dao itu sendiri, makhluk-makhluk yang tertidur menanti akhir dari alam semesta....
💪💪💪