Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 pernikahan
Vaelora Morwene, gadis berusia dua puluh delapan tahun yang akrab dipanggil Lora, memiliki kulit seputih salju, hidung mancung, dan wajah oval karismatik ala bangsawan. Auranya mengingatkan pada Ratu Elizabeth—anggun, tenang, berwibawa. Tatapannya setajam elang, penuh kecerdasan dan ketegasan. Namun semua keistimewaan itu terpaksa ia redupkan karena status sosialnya yang hanya seorang pegawai bank rendahan, tanpa kuasa dan tanpa pengaruh.
Meski begitu, takdir seakan memberinya keberuntungan ketika ia berhasil berpacaran dengan Elvino Morrix, anak bungsu keluarga kaya raya. Ayah Elvino adalah pemilik Morrix Holdings Corporation, perusahaan nomor satu di Indonesia dengan jutaan aset dan kekayaan tak terbatas. Namun, beredar isu miring yang mengatakan bahwa seluruh harta dan perusahaan itu telah dialihkan kepada seorang anak angkat yang diangkat langsung oleh ayah Elvino sesaat sebelum pria itu meninggal karena kanker hati stadium akhir satu tahun lalu.
“Kamu terlihat begitu menakjubkan, sayang. Sepertinya benar, kamu memang memiliki aura Ratu Elizabeth. Dengan gaun mahal dan makeup tipis itu, aura ratumu seketika terpancar. Bahkan ibu yang berada di dekatmu merasa segan dan ingin hormat kepadamu,” ucap Lestari Prameswari, ibu Lora.
Lestari adalah mantan istri Fauzi Rahardian, pemilik dealer beras serta puluhan lahan sawah di desa, orang terkaya sekaligus paling disegani di kampung mereka. Namun semua itu tak pernah menjamin kehidupan Lora sebagai anaknya. Fauzi mencampakkan Lestari begitu saja saat Lora baru berusia lima tahun. Dengan bangga ia membawa gundiknya yang tengah hamil besar ke rumah, menceraikan Lestari tepat di hadapan Lora dan wanita itu. Mereka diusir tanpa belas kasihan, bahkan nafkah sepeser pun tak pernah diberikan kepada Lora.
Sejak saat itu, hanya Lestari yang berjuang kesana-kemari, bekerja sebagai tukang cuci keliling. Ia menelan hinaan demi hinaan dan fitnah yang disebarkan oleh gundik ayah Lora, demi membesarkan putrinya dengan penuh pengorbanan.
Namun di tengah kebahagiaan hari itu, kakak pertama Vino, Sinta Morrix, berjalan mendekat dengan wajah kesal yang nyaris tak mampu menahan amarahnya. Sejak awal, ia memang tidak pernah menyukai Lora sejak adiknya berpacaran enam bulan lalu. Bahkan pernikahan ini pun ditentang keras olehnya karena dianggap Lora sama sekali tidak setara dengan keluarganya. Kalau saja bukan karena rengekan dan bujukan Vino yang bersikeras ingin menikahi Lora, semua ini mungkin tak akan pernah terjadi.
“Hei, gadis rendahan. Apa kamu tahu ke mana perginya adikku? Sebentar lagi acara pernikahan kalian akan dimulai, tapi keberadaannya sama sekali tidak ditemukan. Kalian berdua tidak merencanakan ini untuk mempermalukanku dan suamiku di acara ini, bukan? Nama besar keluarga Morrix sudah dipertaruhkan karena adikku menikah dengan wanita rendahan sepertimu. Mau ditaruh di mana mukaku jika ternyata pernikahan ini batal? Rekan bisnis dan semua kolegaku ada di sini sekarang,” hardik Sinta berdiri tepat di hadapan Lora.
“Tidak ada... maksud kakak apa? Vino sama sekali tidak bersamaku. Bahkan sejak aku keluar dari ruangan makeup dan duduk di sini, dia tidak mengunjungiku sama sekali. Aku pikir dia bersama kakak,” jelas Lora kebingungan.
“Apa maksudmu? Sejak pagi tadi dia bahkan tak terlihat sama sekali keberadaannya di rumah. Aku pikir dia sudah berada di sini untuk makeup dan mempersiapkan diri untuk menikah denganmu, mengingat tempramentalnya yang buruk saat mengancamku agar bisa menikah dengan gadis rendahan sepertimu,” ujar Sinta.
Ucapan itu membuat jantung Lora berdegup tak karuan. Tangannya gemetar saat meraih ponsel dan mencoba menelpon Vino, berharap pria itu hanya terlambat karena macet atau mungkin terjadi sesuatu yang tak terduga.
Tuut… tuuut…
Suara panggilan yang tak terhubung menggema dari ponselnya sebelum akhirnya suara operator terdengar.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi.”
Lora terus mengulang panggilannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Larasati yang memperhatikannya ikut panik, membayangkan bagaimana nasib pernikahan putrinya itu.
Namun berulang kali Lora menghubungi, berulang kali pula suara operator itu terdengar, membuat kakinya mendadak lemas.
“Ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi,” gumam Lora pelan.
“Apa maksudmu? Tidak usah bermain-main denganku, Lora. Aku bahkan sudah menurunkan standar dan harga diriku untuk menerimamu masuk ke keluarga Morrix,demi adik kesayanganku itu. Cepat temukan Vino! Jika acara ini hancur dan pernikahanmu batal, bukan hanya harga dirimu yang akan kubuat hancur, tapi juga hidupmu, Lora. Jangan berani-beraninya mempermalukan keluarga Morrix,” ancam Sinta sebelum pergi dengan wajah penuh amarah.
Tubuh Lora semakin gemetar. Kepalanya terasa pusing, napasnya memburu. Semua tatapan tamu di luar sana seakan berubah menjadi tekanan yang menghimpit dadanya.
“Sekarang bagaimana, Lora? Sebenarnya ke mana perginya Vino? Kenapa di acara sepenting ini dia bisa menghilang tanpa kabar begitu saja?” ucap Larasati yang tak habis pikir.
“Vino tidak mengatakan apa pun kepadaku, Bu. Aku dan dia juga tidak mempunyai masalah apa pun,” Lora menggigit jarinya, berusaha menahan tangis. “Tapi... tapi kenapa dia seperti ini sekarang? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?”
Ia kembali menelpon, meski jelas panggilan itu tak pernah tersambung.
Dan di dalam hati kecilnya, untuk pertama kalinya, rasa takut mulai berubah menjadi firasat buruk yang tak mampu ia sangkal..
Di tengah kepanikan itu, sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari Avelyn Morwene, adik tiri Lora—anak dari gundik ayahnya. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu kini tengah menempuh pendidikan di kampus swasta di kota yang sama dengan Lora.
Jantung Lora berdegup tak karuan saat membuka pesan tersebut.
📩 “Maaf sekali, Kak. Sepertinya calon suamimu tidak akan bisa datang ke pernikahan kalian. Dia terlalu nyaman di dalam pelukanku setelah bergulat semalaman denganku, menghabiskan malam yang begitu indah yang tidak pernah bisa aku lupakan.”
Sekejap, ponsel itu terhempas dari tangannya. Dunia Lora seperti berhenti berputar. Tangannya gemetar saat kembali meraih ponsel itu, dan napasnya tercekat ketika melihat foto yang terlampir.
Vely dan Vino berada di atas ranjang hotel. Tubuh Vino bertelanjang dada, sementara Vely menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Pria itu masih terlelap dalam pelukan wanita yang tak lain adalah adik tirinya sendiri.
Air mata Lora jatuh tanpa mampu ia bendung. Ia menutup wajahnya, tubuhnya bergetar hebat. Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya berubah menjadi mimpi buruk paling memalukan dalam hidupnya.
Lestari segera mengambil ponsel Lora dan melihat semuanya. “Ya ampun, sayang… apa-apaan ini? Jadi alasan Vino tidak ada di sini karena dia sedang berduaan dengan Vely di hotel?” ucap Lestari, suaranya bergetar menahan amarah.
Ia memeluk tubuh putrinya erat, seolah ingin melindunginya dari dunia yang baru saja menghancurkan hatinya. Lestari tahu, bukan hanya pernikahan yang gagal—harga diri Lora, harapan, dan kepercayaannya telah diinjak-injak tanpa ampun.
Namun di tengah kerapuhan itu, suara riuh terdengar dari arah altar. Seorang pria dewasa berlarian sambil memegang mainan tembakan balon dengan wajah penuh kegembiraan. Beberapa orang mengejarnya, namun pria itu terus berlari hingga memasuki ruangan tempat Lora berada.
Tubuhnya tak sengaja menabrak Lora dan Lestari hingga pelukan mereka terlepas.
Sontak mata Lora terbelalak saat melihat pria yang tiba-tiba menimpanya itu.
“Devon?” gumam Lora lirih, menatap mantan kekasihnya yang kini berada begitu dekat di hadapannya.
Namun bukannya menunjukkan keterkejutan atau rasa bersalah, pria itu justru tertawa lepas. Tatapannya polos, kosong dari kenangan masa lalu di antara mereka. Ia mengambil pistol balon yang terlepas dari genggamannya, lalu bangkit dengan senyum cerah.
Tangannya menyentuh mahkota di kepala Lora.
“Apa kamu adalah queen? Hehe, yeay! Epon ketemu queen, queen!” ucapnya sambil bertepuk tangan riang, bersorak seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Seorang pria berpakaian seperti pelayan datang tergopoh-gopoh dengan napas terengah-engah.
“Tuan Devon, Tuan tidak boleh berlarian seperti itu. Ini adalah pesta pernikahan Tuan Vino dan istrinya. Bukankah Tuan Devon sudah berjanji akan menjaga sikap agar Nona Sinta tidak memarahi dan memukul Tuan Devon lagi!” ucap pria itu panik.
“Nenek lampir… Epon takut nenek lampir!” seru Devon tiba-tiba, lalu bersembunyi di balik tubuh Lora seperti anak kecil yang ketakutan.
Lora semakin tidak memahami situasi yang terjadi di hadapannya. Hatinya masih hancur, tetapi kebingungan baru kini menghantam pikirannya.
“Tunggu, kenapa kamu menyebut nama calon kakak iparku kepadanya? Apa hubungan calon kakak iparku dengan dia?” tanya Lora dengan kening berkerut.
Pria itu menunduk hormat sebelum menjawab, “Tuan Devon adalah adik angkat dari Nona Sinta. Dia adalah pewaris resmi perusahaan Morrix Holdings Corporation. Tetapi enam bulan yang lalu, dia mengalami kecelakaan. Kerusakan parah pada otaknya membuat memorinya kembali ke usia lima tahun. Itulah sebabnya sikapnya seperti ini sekarang.”
“Lebih sederhananya… jiwa anak kecil berusia lima tahun berada di dalam tubuh pria dewasa berusia tiga puluh tahun,” lanjutnya pelan.
Lora menutup mulutnya rapat. Dadanya kembali terasa sesak.Begitupun dengan Lestari yang sama terkejutnya .
Di hari ia dikhianati dan dipermalukan, takdir justru mempertemukannya kembali dengan masa lalu—dalam kondisi yang bahkan lebih menyakitkan dari yang pernah ia bayangkan.
Namun dalam situasi itu Lora tidak menyia- nyiakan kesempatan untuk membalas Elvino yang sudah tega mengkhianatinya . Lora menarik lembut tangan Devon dan mengandengnya.
"Apa kamu mau menjadi King untuk Queen yang kehilangan King nya ini anak manis?. "ucap Lora membuat Lestari dan kepala pelayan tersebut terbelalak mendengarnya.
.
.
.
💐💐💐 Bersambung 💐💐💐
Hai Guys Autor kembali lagi dengan karya baru yang nggak kalah seru pantengin terus yaa beri semangat Autor untuk terus menemani hari-hari kalian semua❤😘
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤