NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Pertama di Hutan Kematian

Trang! Trang! Trang!

Tiga bilah pedang berlapis es menebas leher, bahu, dan pinggang Zian secara bersamaan. Bunga api memercik terang di tengah gelapnya Hutan Kematian.

"Mati kau, Sampah!" teriak murid di tengah sambil menekan gagang pedangnya sekuat tenaga. Wajahnya menyeringai buas, menunggu kepala Zian menggelinding jatuh ke tanah.

Namun, seringai di wajah ketiga murid Sekte Bintang Es itu langsung membeku.

Pedang mereka berhenti total saat menyentuh kulit Zian. Tidak ada darah yang menyembur keluar. Jangankan memotong tulang, menebus permukaan kulit Zian saja pedang sihir itu gagal total. Suara benturannya justru terdengar seperti pedang kayu yang dipukulkan secara kasar ke balok baja murni.

"Kalian menyebut mainan ini pedang?" Suara Zian mengalun sedingin es, menembus telinga mereka. "Bahkan ranting pohon busuk terasa lebih tajam dari ini."

"A-apa yang terjadi?!" Murid di kiri membelalakkan matanya sampai mau keluar. Tangannya gemetar hebat menahan getaran keras dari benturan pedangnya sendiri. "Kenapa pedangku tidak bisa melukainya?!"

"Sihir es macam apa ini? Rasanya cuma seperti ditiup angin malam," ejek Zian. Matanya menatap tajam murid di sebelah kanannya.

"Tangan kosong menahan pedang pusaka sekte?!" murid di kanan menjerit panik. Dia buru-buru menarik pedangnya untuk mundur mengambil jarak, tapi usahanya terlambat.

Tangan kanan Zian melesat maju secepat kilat. Lima jarinya mencengkeram wajah murid itu dengan sangat kuat.

"Tadi kau menyuruhku bersujud, kan?" bisik Zian tepat di telinga pemuda itu.

Tanpa menunggu balasan, Zian mengayunkan lengan kanannya ke bawah dan membanting kepala murid itu ke tanah berbatu dengan tenaga penuh.

Brak!

Tanah hutan langsung retak berantakan. Tengkorak murid itu amblas dan hancur seketika. Tubuhnya kejang sesaat sebelum akhirnya diam tak bernyawa. Dia tewas tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan sedikit pun.

"Kakak Ketiga!" teriak murid di tengah dan di kiri bersamaan. Wajah mereka langsung berubah pucat pasi.

"Monster! Dia bukan Zian yang cacat!" teriak murid di kiri sambil melangkah mundur dengan kaki bergetar hebat. "Dia menyembunyikan kekuatannya!"

"Jangan panik, bodoh! Mundur dan gunakan Formasi Badai Es!" perintah murid di tengah. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras di dahinya.

Keduanya langsung melompat mundur sejauh belasan langkah. Mereka membuang pedang mereka ke tanah lalu menyatukan kedua telapak tangan. Energi kultivasi berwarna biru terang menyala dari tubuh mereka. Suhu udara di sekitar Zian seketika anjlok drastis. Ratusan jarum es berukuran besar terbentuk dan melayang di udara, membidik tubuh Zian dari berbagai sudut tajam.

"Hahaha! Lihat wajah ketakutan lalat-lalat ini, Bocah! Ini baru hiburan yang pantas untuk mataku!" Suara serak leluhur Asura mendadak tertawa puas di dalam kepala Zian.

"Diam. Kau berisik. Aku sedang menikmati wajah ketakutan mereka," batin Zian datar tanpa mengubah ekspresinya.

"Mati kau jadi landak es, Cacat!" teriak murid di tengah dengan nada putus asa.

Wush! Wush! Wush!

Ratusan jarum es tajam melesat sangat kencang seperti hujan badai menghantam posisi Zian berdiri.

Trang! Trang! Trang!

Zian sama sekali tidak menangkis atau menghindar dari serangan itu. Dia justru berjalan santai dengan tangan di bawah, menerobos hujan jarum es yang mematikan itu secara langsung. Jarum-jarum sihir tersebut hancur berkeping-keping begitu membentur dada, lengan, dan wajah Zian. Potongan esnya langsung berubah menjadi uap air dingin yang sama sekali tidak melukainya. Kepadatan Tulang Asura miliknya membuat kulit dan otot Zian seribu kali lipat lebih keras dari perisai sihir mana pun.

"Hanya ini kebanggaan Sekte Bintang Es yang selalu diagungkan itu?" Zian terus berjalan mendekat dengan langkah pelan yang mencekam. "Pantas saja Lin Yue sangat angkuh dan sombong. Ternyata dia hanya merasa hebat karena menjadi ratu di antara kumpulan sampah tidak berguna seperti kalian."

"Mustahil! Kau sama sekali tidak mengeluarkan energi kultivasi sedikit pun!" Murid di tengah mulai kehilangan akal sehatnya. Dia memundurkan langkahnya panik sampai punggungnya menabrak batang pohon. "Kau... kau pasti memakai jimat pelindung tingkat tinggi, Hah?!"

"Jimat? Otakmu terlalu sempit untuk memahami kekuatan murni," balas Zian dingin.

Zian tiba-tiba menekuk lututnya sedikit, lalu melesat maju membelah angin. Tanah di bawah pijakannya amblas ke dalam. Dalam sekejap mata, dia sudah berpindah dan berdiri tepat di depan murid di kiri.

"T-tolong, a-aku tidak bermaksud..." murid di kiri tergagap dengan wajah ketakutan luar biasa.

Bugh!

KRAK!

Tinju kanan Zian meluncur sangat keras menghantam dada pemuda itu. Pukulan murni tanpa energi itu langsung menghancurkan tulang rusuk dan meremukkan organ dalamnya berkeping-keping. Tubuh pemuda itu terlempar ke udara, menabrak pohon besar hingga batangnya roboh. Mulutnya memuntahkan banyak darah sebelum akhirnya tewas terkapar.

Kini hanya tersisa murid yang berada di tengah. Kakinya benar-benar lemas tak bertulang. Dia jatuh terduduk di atas hamparan dedaunan kering. Pakaian seragam kebanggaannya sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang mampu dia keluarkan.

"J-jangan bunuh aku..." pemuda itu memohon sambil menangis terisak. Rasa arogansinya menguap tak berbekas digantikan rasa takut akan kematian. "Aku salah! Tolong lepaskan aku, Tuan Muda Zian! Aku masih punya keluarga di rumah!"

Zian berjongkok santai di depan pemuda itu. Matanya menatap tajam tanpa memancarkan sepercik pun belas kasihan.

"Tadi kau tertawa paling keras waktu melihatku muncul," kata Zian pelan. "Sekarang kau menangis memohon? Mental murid sekte elit ternyata serapuh ranting kering."

"A-aku hanya ikut-ikutan! Nona Lin Yue yang mencuci otak kami! Dia bilang kau cuma sampah cacat yang pantas dibuang kapan saja. Kami percaya saja pada kata-katanya, Tuan!" pemuda itu bersujud menempelkan dahinya ke tanah berulang kali. "Tolong, ampuni nyawa anjingku ini!"

"Di mana Lin Yue dan Tian Ao sekarang?" tanya Zian tanpa memedulikan tangisan pemuda di depannya.

"M-mereka sedang berada di Penginapan Teratai Emas di pusat kota! Mereka sedang merayakan batalnya pertunangan itu malam ini, Tuan! Besok pagi Nona Lin Yue akan pergi ke ibu kota untuk ikut ujian masuk sekte utama! Aku bersumpah aku tidak bohong sedikit pun!"

Zian mengangguk pelan. "Merayakan kesombongan mereka di saat ayahku muntah darah? Bagus sekali."

"K-kau akan melepaskanku, kan, Tuan Muda? Aku sudah memberitahu semuanya dengan jujur!" pemuda itu menatap wajah Zian dengan penuh harap.

"Aku tidak pernah berjanji akan melepaskanmu," bisik Zian tepat di depan wajah pemuda itu.

Zian mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram leher pemuda itu dengan erat, lalu mengangkat tubuhnya ke udara dengan sangat mudah. Pemuda itu meronta-ronta panik mencoba melepaskan diri. Dia memukul-mukul lengan Zian berulang kali, tapi lengannya terasa sakit seperti memukul tiang baja pejal. Napasnya mulai terputus di tenggorokan.

"Sampaikan salamku pada penjaga neraka. Bilang padanya, tidak lama lagi aku akan mengirim Lin Yue untuk menemanimu," kata Zian tanpa ekspresi.

Krak!

Zian mematahkan leher pemuda itu dengan satu sentakan tangan tanpa ragu sedikit pun. Dia lalu melempar mayat ketiga itu ke tumpukan semak belukar begitu saja, layaknya membuang sebuah kantong sampah.

Hutan kembali menjadi sunyi. Hanya terdengar suara rintik hujan malam yang mulai mereda di atas dedaunan.

Zian berdiri tegak di tengah cipratan darah musuhnya. Dia merasakan otot-otot di sekujur tubuhnya menjadi semakin panas dan berdenyut. Pertarungan singkat tadi tidak menguras tenaganya sama sekali. Sebaliknya, hal itu justru membuat insting Tulang Asura di dalam tubuhnya semakin haus. Fisiknya menuntut tekanan yang lebih besar dan lawan yang jauh lebih keras untuk memecahkan batas kekuatannya.

"Anak-anak sekte ini terlalu lembek untuk dijadikan latihan," gumam Zian sambil mengusap sisa darah yang menempel di punggung tangannya. "Aku tidak bisa naik ke Ranah Prajurit kalau hanya memukul bantal empuk. Aku butuh lawan yang lebih mematikan."

Namun, sebelum Zian sempat melangkah lebih dalam ke sarang monster di hutan itu, telinganya yang tajam mendadak menangkap suara desingan angin. Gerakannya sangat cepat dan terkoordinasi. Suara itu bukan datang dari arah dalam hutan, melainkan menyebar rapi mengepung posisinya dari atas pohon.

Brak! Brak! Brak!

Lima sosok berpakaian serba hitam melompat turun secara bersamaan dan menghantam tanah dengan keras. Mereka memakai topeng kain hitam dan mendarat dengan sempurna, mengepung Zian rapat dalam sebuah formasi tempur bersudut lima. Di dada seragam gelap mereka, samar-samar terlihat sulaman lambang api berwarna emas yang tidak asing.

Mereka tidak membawa pedang ringan seperti para murid sekte tadi. Masing-masing dari mereka memegang senjata yang sangat berat dan buas. Ada yang memegang kapak raksasa ganda, palu godam berduri tebal, dan tombak baja raksasa. Aura membunuh yang mereka pancarkan jauh lebih kental, tebal, dan sangat berbau anyir darah. Mereka bukan murid sekte manja yang baru belajar bertarung, mereka adalah pembunuh bayaran elit yang tangan dan senjatanya sudah sering mencabut nyawa kultivator lain.

Pria bertopeng yang memegang kapak raksasa tepat di hadapan Zian memancarkan fluktuasi energi kultivasi yang sangat menekan paru-paru. Dia adalah seorang kultivator Ranah Perwira tingkat menengah.

"Ternyata laporan penjaga rendahan itu benar adanya. Kau memang bersembunyi di sini, Tikus Cacat," kata pria pemegang kapak itu dengan suara serak yang berat. Dia menyandarkan kapak raksasanya di bahu dengan lagak sangat santai. "Tuan Muda Tian Ao menyuruh kami menyeretmu pulang dalam keadaan hidup."

"Oh?" Zian melirik kelima pembunuh bayaran itu satu per satu dengan tenang. Tangannya tidak meraih senjata apa pun untuk bersiap. "Membawa mayatku saja belum tentu kalian berlima mampu, apalagi membawaku hidup-hidup."

Pria berkapak itu tertawa meremehkan dari balik topengnya. "Tuan Muda Tian Ao secara khusus berpesan agar kami mematahkan kedua kakimu terlebih dahulu supaya kau lebih mudah diseret ke kota. Jangan khawatir, Cacat, kami akan melakukannya dengan perlahan supaya kau bisa puas menikmati rasa sakitnya."

Mendengar ancaman langsung itu, senyum sedingin es justru kembali mengembang di wajah Zian. Urat-urat di leher dan lengannya perlahan menonjol keluar, merespons bahaya dengan antusiasme yang mengerikan.

"Tian Ao benar-benar sangat repot mengirimkan paket samsak tinju baru jauh-jauh ke dalam hutan malam ini," kata Zian sambil mengepalkan kedua tangannya hingga berbunyi gemeretak nyaring memecah kesunyian. Matanya menatap buas ke arah kelima pembunuh elit itu. "Ayo maju. Coba patahkan kakiku, kalau kapak tumpul kalian itu tidak hancur lebih dulu saat menyentuh kulitku."

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!